
"Bella?"
"Yaudah, besok aku tunggu ya jam delapan. Kamu jangan telat. See you"
Putri mengatupkan mulutnya rapat-rapat saat membaca pesan singkat yang baru masuk ke ponsel Tahta. Nafasnya seketika sesegukan tidak beraturan, rasa sesak pun menyeruak di dadanya,
Pikiran Putri mulai melayang jauh, membayangkan hal tidak-tidak yang berhubungan dengan Tahta dan sosok perempuan itu. Putri menarik nafas dalam, ia memejamkan matanya, mencoba mengusir pikiran buruknya
"Sayang, ayo. Kok diem aja?". Tanya Tahta saat menghampiri Putri
Tahta menautkan kedua alisnya saat melihat Putri sedang memandang lurus ke depan, ia pun baru menyadari kalau istri kecilnya itu sedang menggenggam ponselnya
"Loh, ada apa, sayang? Ada yang nelfon ya? Atau ada yang chat?". Tanya Tahta dengan tangan yang ia angkat untuk merebut ponsel yang ada ditangan Putri,
Namun dengan cepat Putri menjauhkan tangannya dari Tahta, membuat Tahta tidak bisa menggapai ponselnya
"Ini, dia siapa, kak?". Tanya Putri sambil menunjukkan layar ponselnya kearah Tahta
"Itu, temen aku". Jawab Tahta
"Temen? Temen kakak dikampus?".
"Bukan, dia kenalan aku. Maksudnya belum lama kenal, aku dikenalin sama Panji".
Putri memicingkan matanya mendengar jawaban Tahta
"Baru kenal? Tapi udah sedekat ini kayaknya pake aku kamu?".
"Engga, sayang. Dia ke aku emang pake aku kamu, tapi aku ngga kayak gitu".
Tahta terlihat mengusap kasar wajahnya sebelum melanjutkan ucapannya
"Gini, gini. Aku itu baru seminggu kenal sama dia, dan udah beberapa kali dia dateng ke kafe..."
"Dia bilang ke aku, kalo dia tertarik sama bisnis kopi. Dan dia minta bantuan aku buat bimbing dia ke bisnis ini..."
"Dia mau buka kafe juga dengan beli nama dan merk dagang kita".
"Engga, aku ngga setuju".
Putri meletakkan ponsel Tahta ditempat semula dan duduk ditepi ranjang, Tahta pun mengikuti istrinya. Ia raih kedua tangan yang tampak lebih kecil dari ukuran tangannya
"Kamu marah?". Tanya Tahta
"Engga, aku cuma heran..."
"Biasanya kamu selalu bilang ke aku kalo ada orang yang mau ajak kerjasama, tapi kenapa kamu ngga cerita soal cewek itu? Bella?". Tanya Putri
"Aku baru mau cerita ke kamu, sayang. Baru dua hari yang lalu Bella kepikiran buat buka kafe".
"Hah? Haha, bisa mendadak gitu, ya? Kenal udah seminggu tapi baru dua hari yang lalu Bella kepikiran itu?..."
"Jadi tujuan kak Panji kenalin Bella ke kamu itu apa, kalo dari awal niat Bella bukan buka bisnis kopi?". Tanya Putri
"Aku ngga tau apa niat Panji, yang aku tau Bella mau buka bisnis kopi ya aku bantu".
"Engga, aku ngga setuju kamu kerjasama sama dia".
"Kenapa? Kan menguntungkan juga buat kafe kita".
"Engga, aku gak mikirin soal keuntungan kafe. Aku takut Bella ada niat lain..."
"Karna feeling aku bilang Bella itu mau deketin kamu".
"Ya ampun, jadi kamu cemburu?". Tanya Tahta sambil tertawa kecil,
"Loh, emang salah kalo aku cemburu? Kamu bikin aku overthinking tau ngga..."
"Gini deh, setiap ada yang ajak kamu kerjasama, kamu selalu bilang ke aku, dan semua itu cowok..."
"Dan sekarang, Bella cewek pertama yang ajak kamu kerjasama tapi kenapa kamu ngga cerita ke aku?..."
"Kamu mau nutupin soal Bella? Mungkin kalo aku gak baca chat tadi kamu ngga akan terus terang gini, iya kan?".
Tahta tersenyum mendengar rentetan ucapan Putri, raut wajah istrinya saat ini terlihat sangat menggemaskan dimatanya, bibir mengerucut dan kedua alis yang saling bertautan, membuat Tahta ingin mencubit pipinya dengan gemas
"Istri aku, juara satu urusan overthinking". Ucap Tahta
"Ih! Kamu jujur deh sama aku, kamu punya rencana selingkuh kan sama Bella, Bella, itu?". Tanya Putri
"Rencana kerjasama bisnis, cintaku. Bukan rencana selingkuh". Jawab Tahta sambil tersenyum
"Ngga usah bohong. Terus kenapa kamu nutupin soal Bella? Sengaja kan biar aku ngga tau?..."
"Oh iya, aku juga tau kenapa akhir-akhir ini kamu semangat banget ke kafe, pasti mau ketemu dia kan?".
"Hahahaha, ampun deh anaknya pak Ibrahim kalo udah overthinking semuanya dibahas".
"Tinggal jawab, iya apa engga?".
"Engga, istriku, engga. Itu semua ngga bener..."
"Dengerin aku ya. Aku minta maaf karna ngga cerita soal Bella ke kamu. Jujur, aku mau cerita kalo Bella udah sepakat dan tanda tangan, makanya dia ngajak aku ketemuan buat ngebahas itu".
"Aku ikut. Besok aku bimbingan siang".
"Yaudah, iya. Kamu ikut".
"Kenapa? Kamu ngga suka aku ikut? Bilang aja ngga mau diganggu kan?".
"Sayang, udah. Kalo kamu masih ngomel ngga mau berhenti, mending kita selesain disini". Ucap Tahta sambil mengusap tempat tidur mereka
"Ngga mau".
"Yakin?".
"Hmm, kamu udah bikin aku kesel, bikin aku cemburu, jadi malam ini ngga aku kasih jatah, wle". Ucap Putri sambil nenjulurkan lidahnya
"Eh? Mana boleh begitu?".
"Bodo amat". Putri pun bangun dari duduknya
"Ngga ada jatah, siap-siap deh ngga bisa tidur, hahaha". Sambung Putri
"Dih, sini kamu". Ucap Tahta sambil mencoba meraih pinggang Putri, namun Putri menyingkir dengan cepat
Merasa dipermainkan, Tahta tersenyum tipis lalu bangun dari duduknya dengan cepat dan langsung menghampiri Putri
Putri yang sempat terkejut dengan pergerakan Tahta buru-buru menghindar, alhasil mereka pun kejar-kejaran kesana-kemari didalam kamar. Sampai Tahta berhasil menangkap Putri dan ia bopong seperti karung beras dibahunya
Putri tertawa terpingkal sambil memberontak, namun Tahta memeluk kedua pahanya dengan erat, ia tidak membiarkan Putri turun dari bahunya
"Uh! Nakal, nih, nakal". Ucap Tahta menepuk-nepuk gemas bokong Putri
"Bodo amat, tetap ngga ada jatah. Jangan harap". Ucap Putri dengan raut wajah meledek
"Bener-bener mau nyiksa aku, ya? Awas aja ya kamu". Ucap Tahta sambil membaringkan Putri diatas ranjang, ia kungkung tubuh Putri dibawahnya
__ADS_1
"Jangan deket-deket, aku takut". Ucap Putri sambil mendorong wajah Tahta dengan telapak tangannya
"Takut? Emangnya aku setan?..."
"Kalo kamu ngga mau ngasih jatah, biar aku yang ngambil jatah dari kamu".
"No! Jangan berharap". Ucap Putri sambil menyilangkan kedua tangannya diatas dada
"Yaudah, tutupin aja yang atas, aku mau ngambil jatah yang dibawah". Ucap Tahta sambil menyingkap rok dari gaun tidur yang dipakai Putri, membuat Putri terkejut dan menjerit
"Hush, berisik. Kalo bang Dewa atau Raja denger, dikira aku ngapa-ngapain kamu". Ucap Tahta
"Hahaha, emang kenapa kalo suami ngapa-ngapain istrinya?". Tanya Putri
"Oh? Berarti aku boleh ngambil jatah, dong?". Tanya Tahta sambil tersenyum
"Eh, engga! Enak aja! Minggir, aku mau bobo". Ucap Putri yang kembali berusaha menyingkirkan Tahta dari atas tubuhnya
"Jangan berharap bisa bobo". Ucap Tahta
Setelah menyingkap rok dari gaun tidur istrinya, Tahta menahan tawa saat melihat cela na da lam yang dipakai Putri, cela na da lam berwarna pink yang dipenuhi dengan gambar hello kitty di sekitarnya
"Woy, sayang, hahahahahahahaha". Tawa Tahta pecah,
"Ini, hahahaha, aku baru liat kamu pake cela na da lam bergambar? Hello Kitty, lagi, ya ampun hahaha".
"Ih, aku baru beli, tau!".
"Oh, hahaha, kapan belinya? Aku ngga tau?".
"Tadi sama Nindi, pulang dari toko buku".
"Hmm, bikin gagal fokus, hahahaha".
Tahta pun bangun dari posisinya dan berbaring miring menghadap istri kecilnya
"Apa motivasi kamu beli cela na da lam bergambar?". Tanya Tahta
"Haha, kok motivasi, sih? Aku beli karna lucu aja, untung muat di aku". Jawab Putri
"Haha, ada-ada aja ya kamu".
"Eh, kakak jangan kasih tau kak Dewa sama kak Raja soal cela na da lam aku ini".
"Ya ngga mungkin lah, sayang! Aneh kamu. Tapi emang lucu sih, makin gemes liatnya".
"Apanya?".
"Ini nya". Ucap Tahta saat menyentuh area inti Putri dari luar pakaiannya
"Uhm, tangannya nakal". Ucap Putri sambil menutup mulut dengan punggung tangannya
"Yakin ngga mau ngasih aku jatah?". Tanya Tahta
"Yakin- ahh..."
Putri mende sah saat jari-jari Tahta menyentuh langsung ke area intinya, ia tidak menyadari pergerakan tangan Tahta yang tiba-tiba sudah ada dibalik cela na da lam nya
Tahta mulai memainkan jarinya, ia masukkan jari terpanjang yang ada ditangannya kedalam lubang kecil dan hangat milik istrinya, membuat Putri meracau sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar
"Hayo, yang kekeuh ngga ngasih jatah malah pasrah gini, enak, ya?". Tanya Tahta sambil tersenyum menggoda
"Nyebelin..."
"Aku...eunghh...kalah...terus...sshh..."
"Um, basah banget, sayang". Ucap Tahta
"Kak, please...aahh...udahan..."
"Lang...sung...a...ja".
"Langsung apa?". Tanya Tahta sambil tersenyum
"Buruan...eungh...ngga...kuat".
"Nanti, buru-buru banget". Ucap Tahta
Tahta bangun dari posisinya dan mengambil posisi bersimpuh dikedua paha Putri, ia lepaskan cela na da lam Hello Kitty tersebut dan ia buka paha Putri lebar-lebar
"Ini favorite aku". Ucap Tahta sebelum menenggelamkan wajahnya diantara paha Putri
"Ughh...ka...kak". Putri kembali meracau sambil mere mas kepala Tahta yang diapit kedua pahanya
Tahta telah melanjutkan aksinya dengan permainan mulut dan lidahnya, membuat Putri menggelinjang hebat
Tahta sangat menikmati cum buan-nya pada area inti istrinya itu yang merupakan bagian paling favorite-nya pada tubuh Putri yang tidak pernah ia lewatkan sekalipun. Dan aksinya saat ini merupakan ritual wajib sekaligus pemanasan sebelum permainan inti mereka
😝
Pukul enam pagi Putri baru terbangun dari tidurnya, ia menyingkirkan lengan Tahta yang melingkari pinggangnya dan segera memakai gaun tidurnya yang ada diujung tempat tidur mereka
"Aaargh..."
"Gila, kayaknya pinggang gue patah". Batin Putri sambil meregangkan otot-otot ditubuhnya
"Ini kak Tahta yang makin kuat apa badan gue yang makin jompo?..."
"Ini sih beneran, gue harus olahraga"
Tin tin
Tin tin
"Ish, siapa sih itu berisik banget?"
Putri melangkahkan kakinya menuju jendela kamar, ia sedikit menyingkap gordyn untuk melihat suasana didepan rumahnya
"What? Nagita dateng se-pagi ini? Ngapain, coba?"
Putri tertawa kecil sambil duduk bersandar pada meja, ia masih memperhatikan Nagita yang berada di dalam mobilnya,
"Dia lagi nunggu kak Raja? Kenapa ngga masuk aja?"
Tidak berselang lama, sosok Raja muncul, Putri pun berdiri tegak, ia sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Raja dan kekasihnya itu,
Pasalnya Nagita tidak terlihat turun dari mobil dan Raja hanya berdiri diluar pintu kemudi yang tertutup
"Ada apa sih..."
"Duh, jiwa kepo gue meronta-ronta"
Masih asik memperhatikan Raja dan Nagita, tiba-tiba Putri tercengang saat Nagita terlihat melemparkan sebuah beberapa lembar kertas kearah wajah Raja
"Ya Tuhan". Batin Putri sambil membungkam mulut dengan tangannya
"Berani banget?"
__ADS_1
Raja terlihat berjongkok untuk mengambil lembaran kertas tersebut, sedangkan Nagita pergi dengan mobilnya
"Kasihan banget kakak gue..."
"Bisa-bisanya dia perlakuin kak Raja kayak gitu?"
Putri menghela nafas panjang saat melihat Raja kembali masuk kedalam rumah
"Aku ngga tau kamu bahagia atau engga sama pacar kamu yang sekarang..."
"Tapi semoga yang aku liat ini cuma kesalah pahaman aja, kamu harus bahagia sama pacar kamu"
---
"Yeay, habis". Ucap Dewa sambil tersenyum
"Kenyang banget, kak". Ucap Putri
"Bagus, bocil yang lagi masa pertumbuhan makannya harus banyak. Siapa tau bisa tinggi". Ucap Tahta
"Ish, ngeledek. Aku sumpahin kamu bantet kayak aku". Ucap Putri
"Mana bisa?". Tanya Tahta dengan raut wajah meledek
"Ngaku bantet, lagi, hahaha". Sambung Tahta
"Oh iya, Raja kemana? Ngga keliatan?". Tanya Tahta pada Dewa
"Pengadilan, katanya ada kasus". Jawab Dewa, Tahta mengangguk paham
"Ayo, kita jadi temuin selingkuhan kamu ngga?". Tanya Putri menatap Tahta
"Hah? Tahta selingkuh?". Tanya Dewa
"Iya, namanya Bella". Jawab Putri dengan raut wajah sedih
"Gue tonjok lu, Ta". Ucap Dewa menatap tajam mata Tahta
"Engga, woy. Istri spek bidadari gini ngga mungkin gue selingkuhin". Ucap Tahta
"Jadi dia ini selingkuh atau engga? Kalo bener selingkuh biar kakak hajar habis-habisan". Ucap Dewa pada Putri
"Eh, hehehe. Engga, kak, engga. Bercanda kok". Ucap Putri sambil menahan tawa
"Kamu nih, pengen liat aku bonyok?". Tanya Tahta
"Hehe, ngga gitu..."
"Yaudah ayo, keburu macet, kan sekalian anter aku ke kampus". Ucap Putri sambil membersihkan mulutnya dengan tisu
"Kak, aku berangkat ya".
Cup, cup. Putri mendaratkan kecupannya dikedua pipi Dewa
"Hati-hati". Ucap Dewa mengusap kepala Putri, lalu kembali menatap tajam kearah Tahta
"Ngapain lu ngeliatin gue? Pengen gue cium?". Tanya Tahta
"Najis..."
"Inget, aja, berani selingkuhin Putri habis lu ditangan gue". Ucap Dewa
"Tenang aja bro, gue ini cinta mati sama adek lu". Ucap Tahta sambil merangkul leher Putri dan membawanya pergi meninggalkan ruang makan
Dua puluh menit kemudian, Putri dan Tahta sudah tiba disebuah restoran cepat saji yang ada disisi jalan, tempat mereka akan bertemu dengan Bella, wanita yang dicurigai Putri memiliki niat tersembunyi dan perasaan khusus pada Tahta dengan dalih mengajak suaminya itu berbisnis bersama
"Mending gue ngumpet dulu kali, ya? Biar tu cewek kaget liat gue? Hehe"
"Bella masih lama, kak?". Tanya Putri
"Katanya sebentar lagi nyampe, kejebak macet". Jawab Tahta, Putri mengangguk paham
"Aku ke toilet dulu ya, nanti aku susul ke meja kakak".
"Yaudah, kalo ada apa-apa di toilet telfon aku". Ucap Tahta mengusap kepala Putri
"Ok".
Mereka pun berpisah dipintu masuk restoran tersebut, Tahta duduk disalah satu meja yang kosong, sementara Putri berjalan menuju toilet
"Bisa-bisanya ngajak suami gue ketemuan diluar? Kalo mau bahas kerjasama kenapa gak di kafe aja?..."
"Gue yakin ada apa-apa sih ini. Karna feeling istri itu kuat, ngga pernah salah"
Setelah sedikit berdandan dan menata rambutnya, Putri keluar dari toilet, ia berjalan perlahan-lahan sambil menengok kearah meja dimana suaminya duduk, dan benar saja, Tahta sudah bersama seorang wanita yang tidak lain adalah Bella
"Oh, itu orangnya?..."
"Boleh sombong ngga sih? Cantikan gue kemana-mana, ups". Batin Putri sambil menahan tawa
"Tuh kan, udah mulai nempel ke suami gue, pake senderan dibahu kak Tahta segala..."
"Untung kak Tahta nolak, haha..."
"Ok, mari menjalankan aksi"
Putri berjalan anggun menghampiri meja Tahta dan Bella, ia pun segera menarik kursi tepat disebelah Tahta, membuat Bella tercengang akan kedatangannya
"Huhu, sayang, aku kejepit pintu, sakit banget". Ucap Putri dengan raut wajah sedih sambil menunjukkan jari telunjuknya,
Tahta pun meraih tangannya dengan cepat
"Ya ampun, sayang. Kok bisa kejepit sih? Ngga hati-hati tutup pintunya?". Tanya Tahta sambil mengusap dan sesekali meniup-niup jari telunjuknya
"Haha, pelakor? Go away!". Batin Putri menatap Bella
"Iya, aku ngga hati-hati". Ucap Putri mengangguk lemah
"Ini sakit banget, sayang".
"Udah ya, nanti ngga sakit lagi, kok". Tahta menaruh tangan Putri didalam genggamannya
"Eum, maaf. Ini siapa?". Tanya Bella pada Tahta
"Ini-"
"Putri, istrinya Tahta". Jawab Putri sambil tersenyum semanis mungkin
---
Nah, aku mau spill si jutek lagi nih, siapa lagi kalo bukan neng pipi alias Vivi, bestie nya Putri, eh ralat, mantan bestieeeee
oh iya, ngaku deh, kalian geli ngga sih kalo baca adegan++ Putri sama Tahta? jujur aku selalu baca ulang chapter yang aku upload dan aku geli sendiri baca adegan itu. Kayak, kok bisa ya gue nulis begitu? Kadang aku skip deh, ngga aku baca, malu sendiri woy WKSWWSKKW
tapi tanpa adegan++ kayaknya kurang menarik ya, mereka kan pasutri, wong sama Raja banyak banget plusplus nya, hehe
__ADS_1