Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 30 lahiran


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Melisa buru-buru turun dan dibantu berjalan. Datanglah seorang suster dengan kursi roda untuk tempat duduk Melisa.


Xana langsung memesan dokter spesialis khusus dan segera melakukan pemeriksaan. Dokter itu keluar dan menghampiri Xana sejenak.


"Nona, wanita ini akan segera melahirkan." Doker itu mengatakannya sambil terbata-bata.


"Segera laksanakan! Cepat!" Xana panik.


"Baik,"


Xana dengan kedua ajudan dibelakangnya yang senantiasa menjaga Xana kemudian pergi untuk menanyakan biaya.


Sementara di ruang operasi, Melisa sudah gemetaran.


Di usianya yang begitu sangat muda akan segera melahirkan seorang anak. Apa ia dan tubuhnya sanggup?


"Nona, anda.... Masih anak remaja ya?" Dokter itu sudah terkejut sejak tadi.


"I-iya... Akhh..!! Bisakah kita mulai saja?" Melisa sudah tidak tahan.


Rasanya tubuhnya seperti akan remuk. Dari atas kepala hingga ujung kaki badannya sakit semua. Ia merasakan itu tetapi bagian perut menjadi pusat fokusnya.


"Ibu, dengarkan saya, tarik nafas lalu keluarkan sembari menekan bayinya keluar ya?" Dokter memberi arahan.


"Iya iya! Uwaaaaakkhhhh!!" Pekik Melisa kesakitan.


Sementara Xana yang menunggu di luar di kabari oleh suster bahwa proses ini dapat menghilangkan nyawa Melisa.


Xana bingung sekaligus gugup, bagaimana jika Melisa benar-benar meninggal? Bagaimana dengan anaknya kelak?


Melisa berusaha sekuat mungkin, Dokter pun tak berhenti memberi arahan. Melisa merasa seperti nyawanya akan keluar dari tubuhnya.


Sakiiitttt..... Sakiittt...


Tulangnya terasa seperti dipatahkan secara bersamaan dan diremuk. Sakit dimana-mana membuat Melisa tak tertahankan pekikannya.


"Sedikit lagi! Ayo! Sedikit lagi!" Dokter itu memberi aba-aba yang membuat Melisa semakin semangat berjuang.


Sementara Xana yang masih khawatir dan berdoa sebisanya. Melisa telah berhasil mengeluarkan bayinya. Bayi itu menangis dengan keras.


Xana mendengarnya sudah terduduk rubuh dan ajudannya membantu mendudukkannya di kursi.


"Bagaimana dengan Melisa? Apa anaknya selamat? Apa dia baik-baik saja?" Pertanyaan itu muncul dibenaknya dengan rasa cemas.


"Nona, minum dulu," ajudannya memberi minuman mineral.


Setelah meneguk minuman itu, seorang suster dengan menggendong bayi di tangannya keluar.

__ADS_1


"Bagaimana sus?" Xana segera menghampiri.


"Syukurlah, anaknya selamat. Ibunya sedang pingsan dan perlu penanganan lebih lanjut." Jelas suster tersebut.


"La- lalu anak ini?" tanya Xana lagi.


"Kami akan memindahkan dia sementara hingga kondisi sang Ibu pulih dan bisa memberi ASI" jelas suster itu lagi.


"Oh, ya sudah. Terima kasih ya Sus." Suster itu pergi.


Tidak lama setelahnya Melisa keluar dengan kasur dorong yang di dorong oleh suster diiringi dokter. Xana pun mencegat Dokter itu dan membiarkan suster membawa Melisa.


"Bagaimana dengan Melisa,Dok?" tanya Xana.


"Kritis, usia wanita itu masih terlalu muda dan rahim yang.... Yeah begitulah. Saya tidak bisa memastikan dan memberi harapan, kita sama-sama berdoa saja." Jelas Dokter itu.


"Astaga, Melisa...." Xana langsung Shock berat.


Mau bagaimana pun Melisa sudah ia anggap adik. Tetapi ia tak rela Melisa begini dengan anak yang bahkan belum mengerti apa-apa.


"Dok,tolong berusaha semaksimal mungkin!" Pinta Xana.


"Pasti, saya akan berusaha semampu saya" jawab Dokter itu lalu pergi.


"Ajudan, kamu beli saja dulu baju untuk bayi dengan perlengkapan lainnya di toko sekitar sini!" Perintah Xana.


"Baik, Nona. Tetapi.... Apa tugas ini tidak diberi kepada pelayan wanita saja? Saya pria lajang," ajudan itu sedikit malu-malu.


"Ya sudah! Kamu ajak siapa kek! Yang penting lengkap+cepet! Ni duitnya, ingat Cepet!!" Perintah Xana lagi.


Ajudan itu pergi. Kini tinggal satu ajudan lagi menjaga Xana.


Xana pergi melihat ruangan bayi, belum ada namanya. Ia harus menunggu Melisa sadar dulu untuk memberi nama.


Tiba-tiba seseorang suster datang menghampiri Xana dan ajudannya.


"Bu, saya ingin meminta nama untuk bayi yang tadi baru lahir," suster itu menjelaskan.


"Ah, itu.... Bisakah kita menunggu Melisa untuk bangun dulu?" tanya Xana.


"Hemmm, baiklah. Tapi sampai jam 12 malam nanti belum ada keputusan nama saya harus mendapatkan nama," pinta suster itu.


"Baik," jawab Xana.


Kini Xana menghampiri ruangan Melisa. Sudah sepi, Dokter sudah memeriksanya dan sedang beristirahat.


"Mel, lo harus hidup." Xana memegang tangan Melisa.

__ADS_1


"Lo ga boleh tinggalin anak lo sendiri! Dia bahkan belum liat muka lo dan dapet ASI dari Lo Mel!" Xana menitikkan air mata.


Ini pertama kalinya Xana menangis dengan perkara seperti ini. Xana sendiri tidak menyadarinya.


"Mel, anak lo belum dikasih nama, lo musti kasih nama segera Mel !!" Xana membentak.


Selesai mengunjungi Melisa yang tak kunjung siuman itu ia kembali melihat bayi tadi. Betapa imut dan lucunya bayi itu tidur.


"Sekarang dah malem, jam 9 lagi. Kalo ga segera beri nama terpaksa gue beneran yang kasih," Xana memikirkannya berkali-kali.


"Nona, sebaiknya anda makan dan istirahat dulu," pinta ajudan.


Benar juga, sejak tadi siang pergi kemari Xana belum memakan apapun dan istirahat. Ia kesana kemari untuk memastikan keduanya baik-baik saja.


"Iya, tolong pesankan saya makanan cepat saji saja ya?" Pinta Xana.


"Baik," ajudan itu pergi.


Alat bayi telah sampai tadi sore, tetapi bayi tersebut belum boleh disentuh, dan Melisa yang belum sadarkan diri tambah membuat dirinya khawatir.


"Kalo beneran gue yang disuruh buat ngasih nama, gue kasih nama apa anjir?!" Xana sontak kaget disertai bingung.


Di sisi lain, Lea yang di asrama ingin menghubungi Xana karena minggu depan ada pengumuman sekaligus acara kelulusan.


"Kira-kira Xana lagi ngapain ya sekarang? Gue telpon ganggu gak? Ah, kenapa malah jadi pikiran gini sih?" Lea khawatir.


Lea segera meraih ponselnya dan mencari kontak Xana. Segera Lea menelpon Xana dan ingin menanyakan kabarnya.


Xana mendapati ponselnya berdering.


"Lea? Ngapain dia?" Xana bingung.


"Ya,halo Lea. Kenapa malem-malem nelpon?" tanya Xana di telpon.


"Eh, jadi gini seminggu lagi ada acara kelulusan sekaligus pengumuman."jelas Lea.


"Oh, itu. Yaudah nanti gua dateng kok, tenang aja." Lea menjelaskan.


"Oke! Betewe lo lagi ngapain nih? Nonton? Makan? Mau tidur?" Tanya Lea.


"Gue... Lagi nungguin adek gue siuman, dia habis ngelahirin," Xana menjelaskan dengan singkat.


"Woah! Udah lahiran?! Gue kasih hadiah deh ntar wkwkwk! Betewe kenapa ko belum siuman?" Lea bertanya tanpa dosa.


Sebenarnya ada sedikit gumpalan di hati Xana mendengar ucapan Lea. Mau bagaimanapun Melisa adalah adik angkatnya sekarang. Xana baru menyadari bahwa ia kurang melindungi Melisa. Makanya banyak yang kurang ajar.


"Apaan si, namanya juga lahiran, ga gampang kali," tukas Xana cemberut.

__ADS_1


"Lah? Lo marah Xana? Yaelah maafin gue... Biasanya juga lo gitu kan?" Lea berusaha membujuk dirinya.


-Bersambung...


__ADS_2