Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 33 RENCANA PEMBALASAN


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Xana dimana ia akan mengungkapkan jati dirinya. Sherly yang selama ini membully Xana dan selalu mencoba menjauhkan Xana dari Kak Petra, Kakaknya. Hari ini dia akan melihat siapa orang yang selama ini dia panggil "wanita rendahan" itu.


"Kak Sean~ udah siap belum nih?" tanya Xana yang langsung menghampiri kakaknya.


Xana terkejut hingga melotot karena Kak Sean sedang memakai pakaiannya. Tubuh berbidang Kak Sean tampak jelas dari mata kepala Xana sendiri. Xana yang langsung salah tingkah dan memerah hanya berusaha pura-pura tidak tahu.


"Kenapa? Toh kamu tiap hari melihat beginian di rumahmu, bahkan saat tidur pun kau suka pegang-pegang perut-"Ucapan Kak Sean langsung di tutup Xana. Xana menutup mulut Kak Sean dengan kedua tangannya segera.


"Ih, Kakak ini ya! Nakal banget! Kan aku begitu juga karena kebiasaan dari kecil! Jadi kebawa- bawa..." Xana tampak memerah padam.


Hehe~ Kak Sean memang suka menggoda Xana. Bahkan sampai sekarang ia sengaja melambatkan memakai pakaiannya. Ketampanan Kak Sean yang tidak bisa dipungkiri itu membuat Xana pangling jika itu kakaknya.


"Astaga, kenapa Kakak harus ganteng banget sih? Gimana nanti kalau aku jadi suka kakak?" Xana dengan polosnya bertanya.


Xana memang suka ceplas ceplos bicaranya, tetapi Kak Sean mengerti itu.


"Kalau kamu suka ya suka, kenapa sungkan? Toh Kakak juga suka Xana," Kak Sean tersenyum begitu menawan.


Aku dapat melihat matanya yang menyipit karena tersenyum dan gigi nya yang tertata rapi terbuka manis. Kenapa kakakku semanis ini?!


"UAKH!! Aku tertampar rasanya, tapi ya memang aku suka kakak sih, hehe. Dah yok, nanti Mama nunggunya lama lagi," ajak Xana sembari mengalihkan pembicaraan.


"Baik".


Di bawah, semua anggota keluarga telah berkumpul. Seperti biasa, Xana dan Kak Sean adalah yang terakhir turun. Kak Petra pun mulai angkat bicara.


"Kak! Kenapa kita tidak punya adik yang lain saja sih? Mereka turun udah kayak pengantin baru ketemu setelah bertahun-tahun!" Seru Kak Petra.


"Minta sama Ibu mu saja Xana, aku sih cukup Baby Xana," jawab Kak Albert. Kak Albert telah dapat bersosialisasi.


"Maaa!! Minta adek, tapi yang cewek!" Teriak Kak Petra sembari tertawa.


"Aduh, Mama takut dimarahi Xana nih," Mama tersenyum.


Haahh~ Candaan ini yang kurindukan. Sudah berapa lama tidak merasakan kehangatan yang telah biasa aku rasakan? Rasanya kalau begini sih aku semakin bakalan kangen sama kalian semua....


"Kak Petra sama Kak Albert dah siap? Nanti kita abis sarapan langsung berangkat loh," tanya Xana yang kemudian duduk di samping Kak Petra.


"Sudah, tapi masih ngikutin rencana kamu kan?" Tanya Kak Petra.


"Tentu, harus sesuai rencana, semuanya sudah aku atur dengan matang, dan perkiraanku juga sangat jarang meleset." ujar Xana tersenyum licik.


Seperti slogan lamanya, jika Xana sudah geram dia pasti telah memikirkan sejuta rencana di kepalanya untuk menghancurkan orang tersebut.

__ADS_1


"Nice, Mama Papa juga senang karena bisa ikut antisipasi rencana Xana, dan semua yang Xana inginkan kemarin telah Papa siapkan Semua," Papa langsung mengajukan bicara.


"Papa adalah pemeran utamanya! Aku sayang Papa~" manja Xana.


"Haha, iya iya kamu menang terus


deh," Papa melanjutkan makan.


Sarapan pagi itu tidak berakhir begitu saja, Xana dan Ibu akan mengganti pakaian yang sedikit sama dan Ketiga kakak serta ayahnya juga akan seragam hitam. Rencana yang disiapkan juga telah sangat matang, jadi Xana tidak ragu untuk pergi.


"Sekarang sudah saatnya pergi, Ayo para tamu terhormat, tunjukkan siapa kalian!" Pidato Xana sebelum masuk ke dalam mobil.


Xana menaiki mobil sendiri dan berbeda dengan yang lainnya. Itu adalah sebagian dari rencananya.


Selama perjalanan yang lumayan jauh, Xana melihat sekeliling. Banyak berubah dari kotanya tetapi tidak membuat kota itu maju juga. Mungkin setelah bekerja sama lagi dengan Ayah barulah si walikota berpikir tidak kotor.


Sesampainya, semua rencana dimulai!


Ibu dan Ayah adalah tamu wali murid terhormat yang di sambut secara khusus oleh kepala sekolah dan istri juga anaknya, Sherly.


Ketiga Kakaknya turun dari mobil yang sama. Sontak pekikan dari siswi asrama langsung berhamburan. Karena ini acara terbuka, siswa dan siswi dicampur. Ketiga Kakaknya langsung menjadi sorotan dan panggilan tak terjawab oleh banyak gadis.


Mobil ketiga, mobil itu berhenti perlahan dan seorang sopir membukakan pintu. Kak Sean dan Kak Albert telah berdiri menunggu. Semua sorotan mata menuju ke arah mobil itu. Semua orang penasaran dengan siapa orang itu. Keluar sebuah sepatu kaca berlapis emas mulai menginjakkan kaki di karpet merah, kemudian gadis yang masih belum tampak wajahnya keluar. Gaya rambut yang dimiringkan itu membuat sang wanita misterius semakin membuat penasaran.


Kemudian Xana memperlihatkan wajahnya. Sherly yang sudah bersiap akan memberikan salam kepada adik dan anak bungsu keluarga Wijaya itu kaget bukan main. Iya melotot hingga kedua bola matanya hampir keluar. Tiba-tiba saja suasana hening. Siapa yang tidak tahu Xana? Dan siapa pula yang tidak tahi konflik antara Xana dan Sherly? Semua orang tahu itu dan hanya ikut kaget.


"Sa-Saya memberi salam kepada Nona Muda Wijaya," Sherly tetap harus membungkukkan tubuhnya. Kini, ia telah kalah telak.


Xana tidak menjawabnya dan hanya membalas dengan senyum licik dari bibirnya.


"Xana!" Suara seorang wanita terdengar dari arah lain.


"Lancang! Kau..." Suara pria pun ikut menanungi.


Itu Lea dan orangtuanya, Lea hampir di tampar oleh Ayahnya tetapi Xana berhasil mencegat tangan pria itu.


"Berbuat kekerasan di depan umum, apa anda tidak punya malu?" Xana menatap sinis pria itu.


"Saya salah! Tolong maafkan saya, anak ini juga telah lancang memanggil anda seperti tadi mohon-...." belum selesai orang itu bicara Xana sudah menyela.


"Dia temanku, sahabatku, teman sekamarku, mata-mataku, dan partner wanita ku?!" Ucap Xana tegas.


Xana segera menarik tangan Lea dan meninggalkan kedua orang itu pergi. Xana sengaja mengatakannya agar semua orang tahu, bahwa selama ini hanya Lea yang aman posisinya.

__ADS_1


Trio sejoli musuh nya itu terlihat jelas di dekat tali yang membatasi karpet merah. Wajah ketakutan merekalah yang membuat Xana tertawa kecil.


"Jadi, Kapan kamu diperbolehkan masuk?" tanya Xana.


"Ah, Ayo Tuan dan Nona, Saya sudah siapkan tempat khususnya untuk kalian," Kepala Sekolah itu tampak gelisah dengan jelas.


"Ayo, Kak! Kita harus masuk karena kita bukanlah ORANG RENDAHAN " ajak Xana yang sengaja menyindir Sherly berlalu.


Fufufufu ini baru permulaan, justru ketika masuk ke dalam lah permainan sebenarnya baru dimulai. Aku sudah tidak sabar dengan ekspresi mereka.


"Sayang, kau punya teman? Waw, kukira ga bakal punya seumur hidupmu," goda Kak Albert.


Lea tampak malu-malu dengan pujian itu pada Xana.


"Bisa aja, ya tadinya sih enemy tapi lama kelamaan juga jadi teman, Haha~" Xana tersenyum manis.


Lea ikut di antara rombongan Xana dan Keluarganya memasuki Aula gedung. Acara ini rata-rata dihadiri oleh adik kelas karena ingin melihat kakak senior tampan.


"Xana, Aku bersyukur bisa mengenalmu dengan baik, yeah aku bisa disini karena uluran tanganmu," Lea tampak tersenyum kecil.


"Selanjutnya juga kita akan begini, kau tenang saja," ujar Xana tersenyum sinis.


Xana hanya menggenggam tangan Lea, tetapi Kak Sean, dia menggandeng Xana karena memang selalu begitu di setiap acara.


Sebenarnya, Lea iri akan hal itu. Ia memiliki Kakak yang juga lumayan banyak, tetapi tidak ada yang seperti Kakak Xana bahkan pada adiknya sendiri.


Acara di mulai, pidato dari senior akan dilantunkan. Semua siswi tidak sabar akan melihat pria tampan seperti apa di panggung nanti.


"Permisi,....." Panggil Xana kepada Seseorang dari meja sebelahnya.


Pria yang datang itu adalah kepala Sekolah, ia dipanggil Xana.


"Aku menginginkan makanan hangat dan minuman segar," pinta Xana.


"Baik, saya akan ambilkan," jawab Kepala Sekolah mengangguk.


"Bukan kamu, tetapi anakmu Sherly, aku ingin dia yang menyiapkannya," pinta Xana lagi.


"Ini...." Kepala Sekolah ragu.


Mata Ayah langsung menatap ke Kepala Sekolah menandakan hal buruk yang terjadi jika dia tidak menurutinya.


-BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2