Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 37 Dimana Xana?


__ADS_3

Tak terasa hari mulai menjelang malam. Hotel di mana Xana dan keluarganya tinggal berdekatan dengan Hotel Keluarga Leon.


Leon mengirim beberapa pesan mengajak Xana keluar untuk makan malam berdua. Xana langsung menerima yutawaran itu tanpa berpikir panjang.


"Lho? Xana, ini Esra gimana?" tanya Lea yang juga teman sekamar Xana.


"Titip kamu dulu,ya? Aku kangen banget sama Leon," pinta Xana.


Lea tidak bisa menolak karena dirinya juga ingin belajar mengasuh dan merawat seorang bayi.


"Yaudah deh, tapi jangan lama-lama ya! Ntar Esra nyariin lagi," sinis Lea.


"Iya-iya!"


Xana segera keluar Hotel dan bertemu dengan Leon. Dari kejauhan Leon yang tinggi nan rupawan sudah tampak jelas dan mencolok. Terlihat juga beberapa orang yang memuji paras prianya itu.


"Orang-orang itu tidak tahu dia punyaku ya?! Enak aja main liat-liat pacar orang!" Kesal Xana dalam hatinya.


"Hei, Baby...." Leon menyapa.


"Sayang~ ayo kita makan lalu jalan-jalan sebentar~" manja Xana yang langsung melingkarkan tangannya ke leher Leon.


Sesaat pria terpana dan terhipnotis akan kecantikan Xana. Tapi ia kemudian sadar bahwa masih di tempat umum. Leon langsung sadar.


"Xana, ini tempat umum...." Bisik Leon ke telinga Xana yang masih memeluknya.


"Gapapa! Biar mereka tahu kalau kamu punyaku!" bantah Xana.


Leon tidak bisa menolak karena tahu maksud Xana. Ia mengerti kecemburuan pasangannya itu. Leon sendiri membalas kemanjaan Xana.


"Sayang mau makan apa? Ayo, kita ke restoran Xx ," ajak Leon sembari menarik tangan Xana.


"Ayo!" Seru Xana.


Sekarang semua yang menonton bahkan hampir memoto diam-diam tahu bahwa Leon sudah memiliki Pasangan dan menyayanginya. Orang-orang penyuka dalam diam itu harus diberitahu agar tidak melunjak nantinya.


"Sayang, kita makan steak daging ya? Pengen nih," pinta Xana yang masih merangkul manja Leon.


"Terus apalagi? Boba? Es krim? Pancake?" tanya Leon menawar.


"Semuanya!" Xana berteriak sembari memekarkan tangannya ke atas.


"Kau lapar ya? Kenapa begitu rakus?" Leon mengejek.


"Ya! Aku lapar dan ingin memakanmu! Rawwwrrrrr...!!!" Xana mengaum dengan logat seperti kucing.


"Iya iya! Kucingku...." ejek Leon lagi.


"Harimau bukan kucing!" bentak Xana.


"Iya harimau meow meow!" jawab Leon.


Kak Sean yang begitu perhatian ke Xana tidak pernah melupakan sedetik pun tentang adiknya bahkan jadwal makan hingga jadwal tidur.


Mengetahui sekarang adalah jam makan malam Xana, Kak Sean mencarinya ke kamar Xana.


Tookkk.....Tokkkk.....

__ADS_1


"Iya, siapa?" tanya Lea yang sedang menyusui Esra.


"Ada Xana?" tanya Kak Sean.


"Ah, Xana lagi keluar makan malam bareng Leon. Apa tuan tidak diberitahu?" tanya Lea yang tidak membukakan pintu dan hanya berteriak dari dalam kamar.


"Astaga, dia keluar tanpa memberitahuku? Ini tidak pernah ia lakukan...." bingung Kak Sean.


Lea pun membuka pintu sembari menggendong Esra yang masih mengemut dot nya.


"Tuan kalau mau nyusul atau mastiin Xana saya bisa kasih nama Restorannya," tawar Lea.


"Yaudah mana sini," Kak Sean menerima.


"Restoran Xx dekat parkiran Hotel Bb " jawab Lea.


Tanpa basa basi Kak Sean segera pergi dan mencari adiknya. Ia khawatir karena Xana tidak berpamitan bahkan secara pribadi padanya.


Setelah Kak Sean pergi, Lea kembali meletakkan Esra dan menidurkannya. Hendak lelap tidur, Esra terbangun dengan ketukan pintu lagi.


"Iya, Siapa?" tanya Lea yang sedikit kesal.


"Ada Xana?" tanya suara pria itu.


Lea membuka pintu, ia melihat Kak Albert berdiri di depannya.


"Tuan Albert? Cari Xana ya? Dia udah keluar tadi mau makan malam bareng Tuan Leon, Tuan Sean juga barusan menyusul." jawab Lea dengan perlahan.


"Ke restoran mana?" tanya Kak Albert tanpa Ekspresi.


Setelah itu tanpa berkata juga, Kak Albert berlari ke lift untuk segera mencari adik kesayangannya.


Lea kembali berusaha menidurkan Esra.


"Astaga Sayang, maafin aunty ya, gara-gara uncle kamu jadi ga bisa tidur dari tadi," Lea cemberut.


Esra tampak sudah akan lelap kembali. Sedikit saja Esra mulai menutup matanya. Namun, tiba-tiba ketukan pintu mengagetkannya kembali.


"Siapa?!" bentak Lea yang sudah kesal.


"Saya, btw ada Xana?"


Lea membuka pintu dan Melihat Kak Petra disana.


"Astaga, tadi udah Tuan Sean, lalu Tuan Albert, terus Tuan Petra juga?! Kenapa ga sekalian bareng-bareng sih?! Kan Saya dan Esra juga butuh istirahat!" Protes Lea.


"Yaelah neng galak amat, mau nanya doang ini...." Kak Petra tampak sedikit mengelak.


"Xana? Noh di Restoran Xx di dekat hotel Bb!" Seru Xana.


"Ok, Thanks!" Kak Petra segera pergi.


"Masih mending ini, di kasih tau terima kasih!" Lea membanting pintu.


Lea menidurkan Esra dan ikut tertidur. Lea tampak lemas dan lesu karena kelelahan merawat Esra seharian. Melelahkan, tapi menyenangkan.


Di sisi lain, ketiga kakaknya sedang menyamar diam-diam untuk membuntuti Xana. Ketiganya bertemu secara tak sengaja di Restoran dengan bangku yang sama.

__ADS_1


"Bisa-bisanya Xana ga pamitan demi cowo itu!" Kak Sean kesal.


"Dia boleh punya cowo, tapi kita kakak cowonya!" tambah Kak Albert.


"Seharusnya Aku yang di posisi itu!" Kak Petra membubuhi.


Keduanya melihat Kak Petra karena kata-katanya yang mengganjal. Kemudian teralihkan lagi ketika Xana beranjak pergi. Ketiganya kembali fokus dan mengikut Xana.


"Kita jalan bentaran di jembatan pinggir pantai yuk?" ajak Xana.


"Ayo," terima Leon.


Ketiga Kakaknya bertanya-tanya, apa yang ada di pikiran Xana? Ia lupa bahkan untuk memberi kabar Kakaknya? Apa-apaan ini?


"Ga bisa di biarin kak! Masa adik kita direbut?" provokasi Kak Petra.


Mereka berpikir keras bagaimana agar perhatian Xana teralih kembali pada mereka. Terpikirkan lah sebuah ide di benak Kak Petra yang memanipulasi Kak Sean dan Kak Albert.


"Karena Xana menyukai Leon, maka kita akan menjadi Leon!" ujar Kak Petra.


Idenya tidak buruk, karena menurut mereka mudah saja untuk meniru Leon.


Di sisi lain, Kedua orang tua mereka sedang berbincang.


"Mas, Bagaimana jika kita kehilangan putri kita lebih dulu dari pada putra yang tidak menyukai wanita tanpa alasan itu?" tanya Ibu Xana sembari memakan camilan.


"Takdir itu udah ada yang atur, Papa juga udah percaya banget sama Xana," jawab Papa santai.


"Iya sih, Mama percaya keputusan Xana dan akan dukung, tapi putramu itu lo pa! Masa dia ga mau nikah kalo ga Xana yang memilihnya?" Mama tampak cemas.


"Toh, tinggal minta Xana buat pilihkan yang terbaik, kita kan percaya dan tahu betul bagaimana Xana. Sejak kecil Xana tidak menyukai sesuatu yang tidak sempurna, sesuai dengan standar juga tidak menguntungkan!" jawab Papa yang mulai mematikan TV.


"Iya sih, bahkan di umur dia yang masih muda sudah ada keinginan berbisnis demi mendapat uang, anak itu...." Mama tersenyum riang mengingat Xana nya yang manis.


"Kenapa Ma? Toh kalau mau anak Papa bisa buatin lagi?" Jawab Papa.


"ih! Papa ngapain buka baju? Mau ngapain? Nanti Xana marah!" Mama mengelak.


Tepppp!!!!


Papa mematikan lampu dan menyerang Mama. Mama tahu betul bagaimana Suami nya jika sedang kepengen.


Setelah selesai melewati malam yang sejuk bersama Leon, Xana berpamitan pulang dan masuk ke dalam gedung.


Leon pun meninggalkan tempat itu setelah urusannya selesai. Ia tidak tahu bahwa ketiga Kakak Xana mengikutinya sejak tadi.


"Ayo! Kita segera kembali ke kamar kita juga! Jangan sampai Xana curiga," ajak Kak Petra.


Kedua Kakaknya yang dingin seperti kulkas 2 pintu itu hanya menuruti adik kecil mereka sedari tadi.


Xana masuk Kamar dan mendapati Lea sudah tidur tergeletak dengan Esra. Mereka berdua tampak kelelahan setelah seharian bermain.


Xana menata tidur mereka dan ikut tidur di sisi lain Esra tidur.


"Selamat malam anak Mama," Xana mengecup kening Esra yang putih polos.


-Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2