
Air mata yang sudah di tampung sejak pertama mengobrol dengan Lea itu tumpah begitu saja. Xana menangis tanpa menyadarinya.
"Bagaimana? Kenapa menangis?" Lea kebingungan hanya karena mendengar isakan tangis Xana.
"Lea....aku bingung, Di umur Melisa yang masih begitu muda sudah mengalami hal semenyakitkan ini, aku tidak yakin dia kuat untuk melaluinya," Xana menangis terisak isak dan rubuh di kursi belakangnya.
Ajudannya menyiapkan tisu untuk Xana.
"Ya tuhan... Xana, percayalah semuanya akan segera berlalu dan tetap percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, kumohon tenangkan dirimu," Pinta Lea yang ikut kebingungan.
Xana hanya bis diam dan meneteskan air mata, ia tak dapat membayangkan apa yang terjadi pada adik angkatnya sekarang.
Tiiinggg......
Pintu ruangan itu terbuka, seorang dokter keluar dan menghampiri Xana.
"B-bagaimana dok? Apa adik saya baik-baik saja?" Xana segera bangkit dari tempat duduknya.
"Syukurlah,,, Bayinya selamat dan sehat. Tetapi...." Dokter itu membuang muka dengan raut yang membuat Xana cemas.
"Ta-Tapi...??? Tapi apa dok!" Bentak Xana yang sudah tak sabar menunggu jawaban dari dokter itu.
"Tetapi ibunya masih dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Usianya begitu muda, dan... Yah anda tahu sendiri bagaimana organ reproduksinya di umurnya yang segitu," jelas Dokter.
"....saya sarankan untuk sementara dia dirawat dan dalam pengawasan kami agar bisa pulih total," bujuk dokter.
Perkataan Dokter itu ada benarnya, masalah usia dan kondisi, Melisa memang salah dalam hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur. Anak itu telah lahir, dan Melisa Ibunya terbaring sekarat.
"Saya minta rawat inap untuknya dan bayinya hingga pulih total Dok!" Keputusan yang pasti itu di ambil Xana.
"Baiklah, saya akan menyiapkan dahulu untuk obat kedepannya," Dokter itu pamit pergi.
Yahh.. untuk sementara biarlah ini menjadi penenang Xana. Xana menghela nafas panjang dan kemudian pergi. Ia pergi menuju ruangan dimana sementara anak dari Melisa itu di rebahkan.
"Anak ini lucu dan manis ya, alangkah terlukanya dia jika Melisa tidak mampu bertahan." Xana meneteskan air mata dan menyekanya.
"Gapapa, jika memang kamu ditakdirkan untuk saya, saya akan terima kamu apa adanya,nak." Xana menarik senyum dan berputar ke belakang.
"Nona..!! Nona...!!" Panggil seorang suster melambai tangan.
"Ya? Ada apa?" Xana memiringkan kepalanya.
"Nona, ingat batas malam ini anak itu harus segera diberi nama," suster itu menjelaskan.
Xana ingat, anak tersebut belum diberi nama. Sedangkan Melisa dengan kondisi yang tidak memungkinkan.
"Saya.... Mohon tunggu sebentar lagi ya Sus, saya akan coba pikirkan." Pinta Xana.
"Baik, Nona." Suster itu pergi.
Bagaimana ini? Aku tidak yakin jika Melisa siuman malam ini. Sebelumnya mereka memang membicarakan siapa nama yang akan diberikan, tetapi belum ada keputusan hingga sekarang. Siapa nama dari anak itu?
__ADS_1
"Hahh~ jika sampai jam 9 Melisa belum bangun, aku akan beri nama sesuai keinginanku! Otakku ga jalan kalo nyari nama bagusan dikit!" Gerutu Xana yang sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
Satu setengah jam kemudian, sudah menunjukkan jam 9 tepat. Sudah saatnya Xana memberi nama anak itu.
"Huft-, dengar ya Melisa bukan maksudku merebut hak mu, tetapi keadaanlah yang merebutnya!" Xana menggertak lalu pergi.
Ia menghampiri suster yang merawat bayi-bayi di sana. Suster menyetujui untuk segera memberi nama pada anak itu.
"Jadi siapa Nona nama anaknya?" Tanya suster itu dengan senyum ramah.
"Esra Wijaya," jawab Xana dengan nada datar.
Sebenarnya ada perasaan jijik di hatinya saat mengatakan itu. Mengapa ada nama marga keluarganya di nama anak itu. Anak itu bukan anak Xana!
"Eh ga jadi! Esra aja, tulis "ESRA" gitu," pinta Xana.
Suster itu sempat bingung, tetapi kemudian menurut. Nama itu telah jadi dan segera di konfirmasi oleh pihak rumah sakit.
"Untuk malam ini, carikan saya hotel terdekat. Saya ngantuk, mau tidur!" Perintah Xana sembari mengucek matanya.
Karena ada 2 ajudan, sementara yang satu mencari hotel satunya lagi kemudian menjaga Xana.
"Namamu Aditya kan?" Xana bertanya pada ajudan yang sedang berdiri tepat di samping tempat Xana duduk.
"Iya nona, saya Aditya atau dengan panggilan dekat Adit" sahutnya.
Xana menepuk kursi sebelahnya yang sedikit berjarak bertandakan menyuruhnya duduk dan bercengkerama.
"Kamu punya keluarga?" Tanya Xana tanpa menoleh.
"Saya.... Tidak, ayah ibu saya sudah tidak ada dan saya sendiri masih lajang,Nona." Jelas Pria itu sedikit kikuk.
"Oh,begitu... Jadi kamu ga ada pengalaman ya," Xana kembali bicara tanpa menoleh.
"I-iya, nona." Jawab Adit dengan raut masam.
"Nanti kamu dengan temanmu tidur di kamar yang berdekatan dengan kamar saya, jika perlu kiri kanan deh," jelas Xana.
"Baik nona," Adit mengangguk.
"Dan satu lagi, kapanpun saya panggil saya harap kamu cepat sigap ya, Adit.
"Siap Nona!" Adit langsung duduk tegas.
Kemudian datanglah samar-samar sesosok ajudannya dengan pesona kemana-mana. Ajudan itu menunduk saat Xana berdiri.
"Saya sudah dapatkan kamarnya, silahkan nona," ajudan itu kemudian mengarahkan tangannya ke luar pintu.
"Baik,Ayo" Xana segera saja keluar dan ingin pulang akibat kelelahan.
Xana sudah lelah dan ingin segera tidur dan kembali ke dunia rebahannya. Tetapi percuma saja jika itu terjadi tanpa sebuah penyelesaian.
__ADS_1
Sesampainya, Xana segera melemparkab tubuhnya ke atas kasur empuk di kamar yang cukup luas menurut Xana.
Pintu sudah dikunci, Xana tidak mencemaskan apapun sekarang. Tubuhnya malas bergerak untuk mengganti pakaian ataupun semacamnya. Dia lebih memilih untuk langsung tidur karena telah malam.
Xana terlelap di tidurnya, ia begitu terlelap hingga lupa segalanya. Ia sekarang sedang berada di alam mimpi.
Di mimpinya Xana bertemu dengan Melisa tanpa ada luka apapun di tubuhnya. Wanita itu mengenakan pakaian panjang serba putih dengan raut muka segar tetapi sedikit pucat.
"Melisa! Mau kemana kamu! Kembali!!!" Teriak Xana.
Melisa pergi meninggalkan Xana tanpa menoleh seolah tak mendengar apapun yang Xana katakan.
"Melisa! Ingat! Anak kamu butuh Ibunya untuk hidup!!" Xana kembali berteriak.
Melisa berhenti dan menoleh ke belakang. Matanya menyorot ke Xana. Bibirnya mulai bergeming akan mengatakan sesuatu. Dengan senyum yang lebar Melisa mengatakan,
"Kak, tolong jaga anakku. Jadikan dia seperti anakmu, tidak perlu kau pikirkan bagaimana aku, mohon jadikan dia anakmu dan dirimu Ibunya, anggap saja ini permintaan terakhirku kepada kakak. Terima kasih atas segala-galanya, aku belum bisa membalas Kakak hingga sekarang. Aku harap, di kehidupan selanjutnya saya dijadikan pengikut setia kakak saja!".
Gadis itu kembali pergi dan menghilang kan senyumnya.
"Melisa!! Berhenti! Saya belum bicara apapun sama kamu!" Xana barulah bisa berlari.
Tetapi Melisa sudah masuk ke pintu yang penuh cahaya menyilaukan mata. Baru saja Xana hendak ikut masuk dan menarik Melisa, pintu itu hilang.
D*da Xana sesak, tubuhnya terasa seperti akan hancur saat itu juga. Dari arah lain ada seorang anak kecil yang masih merangkak menghampiri Xana.
Anak mungil itu tampan dan memeluk Xana. Anehnya, pelukan itu menenangkan hati Xana.
"Mama... Jangan menangis..." Anak itu berbicara dengan jelas.
HAAAAHHH!!!.
Xana terbangun dan terkejut. Keringat dingin telah membasahi tubuhnya. Pertemuan tadi, dan pelukan tadi terasa begitu nyata bagi Xana.
"Nona, apa semuanya baik-baik saja? Baju ganti anda telah sampai." Suara pria yang ia kenal itu berbicara di belakang pintu.
"Iya, sebentar." Xana segera turun dan pergi ke pintu.
"Apa nona baik-baik saja? Anda mimpi buruk?" tanya Aditya dengan nada cemas tetapi ekspresi tegas.
"Iya, apa aku mengigau?" tanya Xana.
"Tidak, hanya saja anda seperti berteriak dan suara anda parau.
"B-begitu ya, ya sudah kalian tunggu saja, saya akan siap-siap." Xana menutup Pintu.
Xana meletakkan pakaian ganti di atas kasurnya dan meraih ponsel miliknya. Jam menunjukkan jam 7:47 pagi. Ada notifikasi dari Dokter kemarin yang menangani Melisa. Xana membuka notifikasi itu dan sontak kaget. Ponsel nya terjatuh.
"Apa yang kutakutkan terjadi, mengapa?? Me-Mengapaaa?!!?!!!!" Xana berteriak kencang lalu menangis lagi.
-Bersambung...
__ADS_1