
"Mending lu tanya sama kakak lu deh, gue males cerita". Ucap Nindi
"Gue ngga minta lu cerita, Nin. Gue juga ngga mau ikut campur urusan lu sama kak Dewa, tapi lu jangan kayak gini..."
"Kalo ada masalah bicarain baik-baik, bukannya malah jalan sama Ren. Lu kan calon istrinya kak Dewa. Please dong jangan bikin kak Dewa gagal nikah buat kedua kalinya". Ucap Putri
"Lu ngga tau apa-apa ya, Put. Jadi jangan ceramahin gue dan ngga usah cari pembelaan buat kakak lu".
"Ck, gila, ya. Baru sekali ada masalah langsung berubah kayak gini. Ngga nyangka, emang kak Dewa kurang apa sih? Dia tulus sama lu, Nin". Ucap Putri
Nindi tidak merespon kembali ucapannya Putri, ia memilih acuh dan pergi meninggalkan Putri dikursinya
"Kasihan kak Dewa"
"Hai, Lusianna". Sapa Niko yang tiba-tiba muncul di samping Putri
"Sendirian?". Tanya Niko
"Berdua nih, sama setan". Jawab Putri
"Hehe, maksudnya gue setannya? Itu bestie lu kenapa?". Tanya Niko sambil melirik Nindi yang duduk cukup jauh dari mereka
"Ngga tau".
"Eh, emang bener dia mau married sama abang lu?".
"Hmm...mungkin".
"Lah, bukannya udah tunangan kan?".
"Iya Niko, bawel. Udah lah gue mau balik".
"Emang suami lu udah jemput?".
"Udah".
"Hmm, hati-hati Put".
Putri berjalan meninggalkan kantin menuju gerbang fakultasnya menghampiri mobil Tahta yang sudah menunggunya
Setelah duduk dan memasang seatbeltnya, Putri menoleh kearah kursi kemudi, seketika tawaan kecil keluar dari mulutnya
"Tumben banget sih bawa bung-"
Putri menghentikan ucapannya saat melihat sosok yang sedari tadi menutupi wajahnya dengan sebuket mawar merah yang segar dan merona. Sosok itu tersenyum dengan manisnya sambil menatap lekat kedua mata Putri
"Kak...kak Raja?".
"Hai, apa kabar?".
Putri termangu sesaat, kemudian ia sentuh wajah Raja dengan kedua tangannya
"Ini beneran kak Raja, aku mimpi ngga sih".
"Aah". Putri menjerit saat ia mencubit pipinya sendiri, ia tidak bermimpi. Sosok Raja berada tepat di hadapannya
"Ya ampun, kamu ini". Ucap Raja mengusap pipi Putri
"Aku ngga salah mobil kan? Ini mobil kak Tahta kan? Kok kakak bisa ada disini?".
"Masih cerewet ya". Ucap Raja sambil mencubit gemas hidung Putri
"Aaah...kakaaak". Putri memeluk erat leher Raja, Raja pun membalas dengan pelukannya pada pinggang Putri
"Kakak kangen banget sama kamu". Ucap Raja
"Aku juga kangen banget sama kakak".
Raja melepas pelukan mereka dan mengusap lembut pipi Putri
"Kamu makin cantik". Ucap Raja, Putri pun tersenyum dan menempelkan telapak tangan Raja di pipinya, ia sangat merindukan sosok laki-laki ini, kehangatan pada tangannya masih terasa sama saat terakhir kali menyentuh pipinya
"Kok kakak bisa disini? Kakak bilang pulangnya minggu depan?".
"Iya, tapi urusan kakak udah selesai, jadi bisa pulang lebih cepat".
"Hmm, terus gimana ceritanya kakak bisa jemput aku? Berarti kakak udah ketemu kak Tahta? Terus kakak sampai sini kapan? Jam berapa?".
"Nanya nya satu-satu, cantik".
"Hehe, aku masih ngga percaya bisa ketemu kakak kayak gini. Bener-bener kayak kejutan buat aku".
"Senang ngga?".
"Senang banget".
"Ini, pegang bunganya. Bunga cantik buat orang cantik". Ucap Raja sambil memberikan buket bunganya kepada Putri
"Makasih kak".
"Sama-sama, ceritanya sambil jalan aja ya".
"Yaudah".
Raja mulai melajukan mobilnya meninggalkan area kampus Putri, menuju coffee shop milik Tahta
"Itu kak Dewa, kak?". Tanya Putri saat melihat Dewa sedang meminum kopinya disalah satu meja seorang diri
"Iya, kata Tahta daritadi disini". Jawab Raja, Putri mengangguk paham
Putri dan Raja pun segera menghampiri Dewa dan duduk di hadapannya
"Kak? Kakak tumben kesini, biasanya diajak ngga pernah mau". Ucap Putri
"Lagi pengen, suntuk dirumah. Kamu udah makan?". Tanya Dewa
"Belum, aku langsung kesini". Jawab Putri
"Bukannya ajak makan dulu". Ucap Dewa pada Raja
"Udah, tapi ngga mau". Jawab Raja
__ADS_1
"Makan bareng-bareng aja nanti, kak..."
"Kakak mau minum apa? Aku pesanin sekalian lewat, aku mau keruangan kak Tahta". Ucap Putri pada Raja
"Hmm, hazelnut latte, boleh". Jawab Raja setelah melihat daftar menu yang ada diatas meja barista
"Yaudah, tunggu ya kak". Ucap Putri sambil bangun dari duduknya
Putri pun meninggalkan kedua kakaknya menuju meja barista, setelah itu berjalan ke sebuah ruangan yang merupakan tempat kerja Tahta untuk mengelola kedai kopi tersebut
"Hai". Sapa Putri setelah membuka pintu
"Eh, udah nyampe?". Tanya Tahta
"Hmm, baru aja".
Putri menghampiri Tahta yang sedang duduk di kursinya, ia membungkuk untuk memeluk leher Tahta sambil mencium kedua pipinya bergantian
"Kamu lagi ngapain?". Tanya Putri sambil menatap layar komputer
"Habis pesan biji kopi. Kamu pulang sama Raja kan?".
"Iya, aku kaget banget di jemput kak Raja, aku kira itu kamu loh". Ucap Putri sambil menyandarkan bokongnya disisi meja Tahta
"Senang?".
"Banget, hehe, makasih ya udah bolehin kak Raja jemput aku".
"Ya karna aku tau, istri aku kangen sama mantannya".
"Haha, masih sensi kamu ya. Jangan dibahas terus dong, kak Raja itu udah punya pacar".
"Masa sih? Orang kayak dia bisa move on dari kamu?".
"Iya, bukannya bagus? Tadi kak Raja cerita ceweknya itu pengacara, namanya Nagita".
"Oh, bagus kalo gitu. Bisa tenang aku".
"Hehe, padahal udah berlalu hampir setahun loh..."
"Keluar yuk, kamu udah selesai kan?".
"Udah, cinta. Oh iya bang Dewa itu kenapa sih? Ada masalah sama Nindi?".
"Iya, tapi aku ngga tau masalah apa, bukannya di selesain baik-baik, Nindi malah jalan sama mantannya. Di pergokin sama kak Dewa".
"Duh, susah kalo urusannya sama mantan".
"Hahaha, mulai deh. Ayo, keluar". Ucap Putri sambil melingkarkan tangannya di lengan Tahta
"Cium dulu, kangen". Ucap Tahta
Putri dan Tahta saling mengecup bibir sebelum keluar dari ruangan untuk menghampiri Raja dan Dewa
"Sabar". Ucap Tahta sambil mengusap bahu Dewa
"Ada apa? Kayaknya gue ketinggalan berita?". Tanya Raja
"Ada apa, ya..."
"Pusing gue, nyatanya punya hubungan sama yang lebih muda itu susah, ngga sejalan. Egonya tinggi banget, maunya menang sendiri". Ucap Dewa sebelum meneguk kopinya
"Lu yang tua ngalah, lah". Ucap Raja
"Kuncinya cuma satu, bang, sabar. Istri gue juga gitu, sebagai cowok ngalah aja". Ucap Tahta
"Emang aku kayak gitu? Engga, ya". Ucap Putri
"Hehe, mau ngalah gimana? Dia itu calon istri gue dan dia jalan sama mantannya, apa gue harus ngalah?". Ucap Dewa
"Gue cuma ngasih tau, hati-hati, nanti calon istri lu direbut". Ucap Raja sambil menatap Tahta
Tahta yang merasa ditatap merasa tidak terima
"Nyindir?". Tanya Tahta
"Engga". Jawab Raja
"Mending lu fokus sama cewek lu". Ucap Tahta
"Yaudah sih, santai". Ucap Raja
"Ck, lu berdua bisa diem ngga?". Tanya Dewa sambil menatap Raja dan Tahta
"Tau nih, kasihan kak Dewa". Ucap Putri
"Keluar yuk, makan sama kakak". Ucap Dewa sambil mengulurkan tangannya pada Putri
Putri pun menyambut tangan Dewa dan mengikuti Dewa keluar dari kedai kopi, disusul oleh Raja dan Tahta
"Lu berdua ngga usah ikut". Ucap Dewa pada kedua adik laki-lakinya
"Dih, lu bawa istri gue, gue harus ikut lah". Ucap Tahta
"Masuk, sayang". Dewa memasukkan Putri kedalam mobilnya, mengacuhkan Raja dan Tahta yang masih mematung di posisinya
"Makin pusing gue liat lu berdua, awas aja kalo ada yang ngikutin". Ucap Dewa pada Raja dan Tahta sebelum masuk ke kursi kemudinya
"Lah, Mput dibawa kabur". Ucap Tahta
"Balik aja lah. Kunci lu masih sama gue nih, ayo". Ucap Raja sambil berjalan menuju mobil Tahta
"Susul aja deh". Ucap Tahta
"Ngga usah. Balik". Ucap Raja
Tahta menghela nafas berat, mereka berdua pun memutuskan untuk pulang kerumah
Hampir dua jam berlalu, Putri dan Dewa baru tiba dirumah, Dewa menggendong Putri menghampiri Tahta dan Raja yang terlihat sedang bermain PS diruang keluarga
Putri turun dari gendongan Dewa lalu menghampiri Tahta yang sedang duduk diatas karpet bersama Raja. Sementara Dewa mendudukan bokongnya diatas sofa
__ADS_1
"Kak, aku mau belajar naik sepeda". Ucap Putri sambil menyentuh tangan Tahta, Tahta pun termangu heran
"Nanti jatoh". Ucap Dewa, Raja dan Tahta kompak. Seketika Putri tersentak mendengar kekompakan kakaknya
"Kan belajar dulu kak". Ucap Putri sambil menatap ketiganya
"Engga, sayang. Ngga boleh". Ucap Tahta
"Ih, aku mau bisa naik sepeda". Ucap Putri
"Tapi kamu bisa jatoh. Sakit loh jatoh dari sepeda, bisa luka". Ucap Dewa
"Emang mau kemana naik sepeda?". Tanya Raja
"Ya kan bisa jalan-jalan di sekitar sini, kak..."
"Pokoknya aku mau belajar naik sepeda". Ucap Putri sambil merengek dan mengguncang lengan Tahta
"Jangan, ah". Ucap Tahta
"Iya, jangan. Bahaya buat kamu". Ucap Dewa
Putri berdecak kesal, ia pun bangun dari posisi jongkoknya
"Kenapa sih aku dilarang-larang terus?! Aku bukan anak kecil lagi!". Ucap Putri sebelum meninggalkan ruang keluarga
"Ya Tuhan, apa lagi ini. Kenapa pulang-pulang minta belajar sepeda". Ucap Tahta
"Tadi ada anak-anak komplek sepeda-an. Terus dia bilang pengen jalan-jalan naik sepeda". Ucap Dewa
"Yaudah ajarin aja sih, kasihan". Ucap Raja
"Mau ajarin pake sepeda yang mana, anjir? Sepeda di garasi tinggi-tinggi semua, sepeda cowok, ngga nyampe dia". Ucap Tahta
"Ck, elu, Ta. Body shaming istri sendiri". Ucap Dewa
"Hahaha, nyatanya emang gitu bang, dia kan mungil. Lagian dia ngga punya sepeda". Ucap Tahta
"Ya udah lah ngga usah, gue ngelarang dia naik motor karna dia pernah jatoh dan luka parah di kakinya. Gue ngga mau dia jatoh lagi, kasihan kalo luka-luka". Ucap Dewa
"Semua ada resikonya, kalo mau berhasil harus ngerasain gagal dulu..."
"Udah deh, gue beliin dia sepeda cewek, terserah siapa yang mau ngajarin". Ucap Raja
"Jangan". Ucap Tahta dan Dewa kompak
"Ck, Putri bukan anak kecil lagi. Ngelarang dia buat apa sih? Cuma naik sepeda, bisa diawasin biar ngga jatoh". Ucap Raja sambil membuka layar ponselnya untuk memesan sebuah sepeda
"Gue juga ngga mungkin nurutin permintaan yang membahayakan dia, tapi menurut gue sepeda ngga bahaya". Sambung Raja
"Yaudah, gue aja yang beli". Ucap Tahta
"Udah lu diem aja, ini mau gue pesanin yang ada keranjangnya. Sepeda cewek kayak gitu kan?". Tanya Raja, diangguki oleh Dewa
"Yang kecil kan belinya?". Tanya Tahta
"Maksud lu sepeda anak-anak? Ya kali gue beli sepeda bocil". Ucap Raja
"Hahahaha, gue jadi ngebayangin". Ucap Dewa
"Kalo Putri minta belajar motor, belajar mobil, turutin aja. Dia udah gede, kasihan dari kecil dilarang mulu..."
"Lu maunya ngeliat dia dirumah main masak-masakan? Salon-salonan, mainan barbie? Ya bosen lah". Ucap Raja
Tahta mengacak rambutnya dan bangun dari duduknya
"Woy, main lagi". Ucap Raja sambil melirik layar TV
"Mau mandi". Ucap Tahta
Tahta meninggalkan kedua kakaknya menuju kamar Putri
"Yah, sayang? Kamu udah mandi ya?". Tanya Tahta saat melihat Putri sedang memakai baju, namun Putri acuh, tidak menjawab
"Hey...kamu marah?". Tanya Tahta sambil memeluk Putri dari belakang
"Lepasin! Aku mau pake baju!". Ucap Putri sambil memberontak
Tahta pun mengalah dan melepas pelukannya kemudian duduk di kursi belajar, memperhatikan Putri sambil menopang dagu diatas meja
"Se xy banget sih istri aku. Makin montok". Ucap Tahta
"Bilang aja aku gendut!". Ucap Putri dengan nada ketus
"Engga, ngga gendut-"
"Bisa diem ngga! Bawel! Mendingan mandi, sana!".
"Galak banget". Ucap Tahta sambil bsngun dari duduknya dan berjalan masuk kedalam kamar mandi
Putri pun segera menyisir rambutnya dan turun kebawah untuk mengambil air mineral
"Mukanya kok ditekuk? Kenapa?". Tanya Raja sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga Putri
Putri mengacuhkan Raja, ia menuang air mineralnya kedalam gelas dan meneguknya sampai habis
"Besok sepedanya dianter kerumah". Ucap Raja
"Hah? Sepeda apa, kak?". Tanya Putri
"Sepeda buat kamu".
"Kakak beli sepeda buat aku?".
"Iya, nanti kakak ajarin ya".
"Iya. Makasih ya kak". Ucap Putri sambil tersenyum
"Sama-sama, gitu dong senyum, kan makin cantik". Ucap Raja mengusap pipi Putri
---
__ADS_1
Yeay kesayanganku sudah kembali. Duuuuh kangen banget sama ayang Raja😍
Bersambung dulu ya guys. Lanjut besok lagi. Jangan lupa dukungannya biar aku semangat update. tengkyuuuu