
Kembali lagi pada pagi yang cerah dan terik. Matahari yang menyilaukan membangunkan Esra dari tidurnya. Memanggili nama Mama dan menangis menjadi rutinitas Esra selama ini.
"Anak Mama tiap pagi minum susu ya, gemes banget!" Xana greget dan merasa gemas sendiri.
Keduanya rajin mandi pagi agar kelak Esra terbiasa akan aktivitas itu. Dulunya Xana adalah anak yang malas mandi dan bangun pagi. Semenjak ada Esra ia melatih diri agar menjadi Ibu yang baik. Ia tak mau mengecewakan mendiang Melisa dan membuat Esra sedih.
"Nah, kita udah wangi dan bersih. Sekarang waktunya turun ikut sarapan, yeay~ " goda Xana.
Esra tertawa senang dan menyenderkan kepalanya ke bahu Xana. Anak itu membuat Xana semakin semangat untuk merawatnya.
Di bawah, sudah ada kedua Kakaknya berkumpul dengan Papa dan Mama Xana. Lagi-lagi Kak Sean ga mau di turun sendiri. Segera Xana meletakkan Esra di tempat makan mini nya lalu naik ke atas menjemput Kak Sean.
"Tiinnn.... Tiinnn... Jemputan datang nih" ejek Xana ke Kak Sean.
Ternyata Kakaknya itu sudah siap dan memang menunggu Xana. Dengan santainya ia duduk bermain hp dan segera berdiri setelah melihat Xana.
"Oh ya, Baik" Kakak kebingungan.
Segera ku raih tangannya dan ku gandeng. Ku seret dia ke bawah dan makan bersama.
"Baby gede udah dateng nih, ayo makan Semua~" olok Xana yang mendudukkan Kak Sean.
Bukannya malu justru Kak Sean senang dengan olokan Xana. Itu adalah hal yang lucu baginya.
Sarapan dimulai, setiap orang menikmati hidangannya masing-masing. Para pelayan akan makan setelah majikan makan. Esra makan bersama dengan Xana, Menunjukkan bahwa status Esra lebih tinggi dari pada pelayan lainnya.
Sarapan selesai, saatnya berkumpul di ruang keluarga dan berbincang. Membicarakan soal sekolah memang mengasyikkan. Hingga sampailah ketika Xana di tanya.
"Sayang, sebentar lagi kamu akan sekolah kembali. Bagaimana dengan Esra?" tanya Mama.
"Eum, buat Esra aku masih belum punya solusinya Ma. Masih ragu!" Xana menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Segera putuskan dan jangan sampai mempengaruhi sekolahmu, Mama pasti akan dukung!" Mama menyeruput teh.
__ADS_1
"Ma, Xana belum ada pikiran dan ide buat Esra. Jadi, sementara waktu Xana belum mau ambil resiko untuk Esra." Xana memangku Esra dan menyusuinya kembali.
"Nak, Papa boleh kasih saran?" tanya Papa yang jarak nya tidak jauh dari Xana.
"Apa Pa?"
"Papa bisa bantu kamu untuk menyuruh Sekolah libur sehari seminggu. Di hari minggu, kamu kan bisa tuh mengunjungi Esra dengan tenang. Sisanya jika ada masalah biar Papa yang urus." Papa Xana menjelaskan dengan penuh perhatian.
"Tapi Pa, Bagaimana aku tenang jika sampai saat ini pun aku belum bisa mempercayai siapapun pelayan di rumah ini? Aku tidak ingin anakku sengsara dan dimanfaatkan oleh mereka!" Xana ragu dan sedikit marah.
"Xana, disini ada Mama. Mama akan jaga Esra layaknya cucu Mama. Kamu tenang aja dan fokus ke sekolah kamu, katanya Mau jadi Mama terbaik buat Esra? Masa SMA aja ga lulus?" Bujuk Mama sembari mengelus pundak Xana.
Xana berpikir sejenak, tadinya ia hendak membawa Esra ke Asrama dan merawatnya disana. Betapa konyolnya ide itu tapi membuat dirinya puas. Namun, setelah dipikir-pikir siapa yang akan mengasuh Esra ketika ia study.
"Xana akan pertimbangkan itu." jawab Xana singkat.
Kedua orang tuanya lega karena Xana bisa berpikir sekali lagi. Mereka tahu, pasti Xana tidak akan rela anak itu sendiri di sini dan akan membawanya.
"Oh ya, Ma. Bukannya kemarin ada yang ga mau lanjut sekolah nih? Pake bawa nama ku segala lagi!" Xana menyindir Kakaknya.
Kak Petra berpikir akan berhasil membujuk dan merayu Xana.
"Terus nanti nunggak kampus biar jadi lebih lama gitu? Aduh, Kakak! Bahkan aku ga perlu siapapun melindungiku! Jadi Kakak pokus aja deh sama kegiatan dan aktivitas Kakak!" tegas Xana.
Tidak disangka! Kiranya Xana akan membela Kakaknya Karena kedua Kakak Xana kemarin begitu menyedihkan bagi Xana. Namun, setelah ia mencoba hasilnya berbeda. Ia didukung pergi dan menjadi seorang Kakak tiada arti.
Di sisi lainnya lagi. Lea makan di meja makan sendiri. Bukan karena tidak mau makan bersama, tetapi ia terbiasa ketika di tempat Xana dan mencoba melakukannya dirumah. Selama ini sudah berapa lama Keluarganya tidak pernah mengadakan makan bersama dan sarapan pagi meski Sibuk.
"Iri banget keluarga Xana, seandainya rumah ini menjadi lebih ramai dengan kerukunan. Pasti meyenangkan!" gumam Lea.
Lea kebetulan tahu bahwa Xana sering mengeksplor dunia tumbuhan, jadi dia membuat tanaman tumbuhan. Ia menanam berbagai macam kembang warna warni dan menghiasi taman pribadi pemberian Ayahnya.
"Apaan nih! Taman bunga bangkai? Hahaha!" Seorang pria datang dengan beberapa orang lagi dibelakangnya.
__ADS_1
"Datang-datang cari masalah! Kakak tuh iri ya aku dapet taman bagus gede dan aman lagi! Makanya kerja! Wleee~" Xana mengejek Kakaknya lalu berlari pergi.
"Dasar! Anak selir itu mulai berani karena di bela Ayah! Aku ingin mengjajarnya[" Pria itu mulai kesal.
Pria itu bernama Arash, Kakak tertua di keluarga Lea. Bukan Ibu Arash lah sang permaisuri tetapi Ibu dari Lea. Tidak ada yang tahu siapa Ibu Lea. Yang mereka tahu hanyalah tidak ada yang suka dan menyegani Lea. Tetapi Ayah akan marah Jika Lea di perlakukan tidak layak.
Di kamar Xana, dia mengganti baju main Esra. Esra kecil tampak begitu lucu dan menakjubkan dengan pakaian rompi cocok untuknya.
"Nak, kira-kira Mama harus gimana ya? Nitipin kamu ke Mama atau bawa kamu ke sekolah? Hati Mama jadi bimbang." gumam Xana ketika mengganti pakaian Esra.
Esra yang polos hanya bisa tertawa dan belajar tengkurap. Xana menyukai bagaimana putranya tertawa riang itu.
"Hmmm kalau aku bawa ke sekolah bisa dikira hamil duluan lagi! Ihhh amit amit sih!" Xana pun mulai mendapat pencerahan.
Kini dia tahu akan bagaimana kedepannya dan menyiapkan catatan yang harus di penuhi.
Di ruang tamu Kak Petra menjadi olok-olokan sepanjang hari karena Xana justru menyuruhnya berjualan kue. Sungguh malang nasib Kak Petra.
"Apa kubilang, Xana pasti tetap menyuruhmu pergi, ngeyel si!" bentak Kak Albert.
.
"Hah, hidupku terasa tidak ada gunanya! Aku sangat ingin mengatakan bahwa aku bisa melindungi dia dan anak angkatnya, Esra!" Kak Petra malah protes.
"Udah udah! Yang penting udah jelas kalau Xana mendukung Petra untuk pergi sekolah, harus ditepati dong!" Mama menengahi perdebatan.
"Baiklah, Aku akan ikut sekolah Ke London! Toh Xana nanti juga akan ke sama menyusul aku kuliah!" Kak Petra percaya diri.
"Akhirnya anak Mama, yaudah belajar yang rajin nanti ya!" Mama lega akan jawaban Kak Petra.
Pada Akhirnya Kak Petra setuju untuk sekolah di London dan berharap Xana segera bisa menyusulnya kelak. Ia tidak sabar menunggu Xana ikut sekolah di London.
Tidak untuk Kak Sean. Ketika Xana lulus nanti, dia akan pulang dan mulai membantu Ayah dalam hal bisnis. Tentu kelak kedepannya dia akan sibuk dalam dunia perkantoran. Hal itu membuat Kak Sean ingin bermanja lebih lama lagi ke Xana.
__ADS_1
-Bersambung.....