Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 40 Rencana Pembatalan Perjodohan


__ADS_3

Masih di hari yang sama, Xana bergegas mencari Kakaknya Sean. Ia mendapati Kak Sean baru saja selesai gym dan masih berkeringat.


"Baru selesai ya kak?" tanya Xana yang tiba-tiba muncul.


"Eh, Iya nih... Awas bau!" Kak Sean menyingkir.


"Yaudah mandi dulu sana, terus kita ngobrol! Aku mau ngomong hal yang penting banget!" Xana membuntuti dari belakang.


"Iya iya! Sepenting apa sih sampe nyusul ke gym segala?" Kak Sean balik bertanya.


"Pokoknya penting! Dan satu lagi, jangan temui Mama dulu Kak, lagi istirahat soalnya." Bujuk Xana.


Kak Sean mengiyakan semua perintah Xana. Sembari menunggu Kak Sean mandi, Xana memainkan Hp kakaknya dan melihat-lihat isi Chat wa. Sangat fantastis, hanya berisi Xana yang tersemat dan Kedua adiknya yang terarsip. Sisanya Ayah dan Ibu yang jarang melakukan chatting Ke Kak Sean karena takut mengganggunya belajar.


Selain menemukan Chattingan keluarga, Xana menemukan sesuatu saat menggeser ke bar status. Ia melihat ada Status dari sebuah kontak bernamakan Sheyla mahardika. Karena penasaran, Xana melihat Status itu tanpa pikir panjang. Tidak disangka, isinya menunjukkan Sheyla si gadis lugu itu sedang dugem di sebuah club malam.


"Wow... Sangat tidak terduga. Apa orang tuanya tau? Kalau tahu..... Apa ini rahasia?" Xana bertanya-tanya.


Ia mengambil nomor hp itu dan menyimpannya ke hp Xana. Sengaja dilakukan karena pasti akan berguna nantinya.


Tak lama kemudian Kak Sean keluar dengan handuk masih ia pakai dan berdada telanjang. Kebiasaan banget, tapi karena terbiasa Xana pun tidaklah kaget.


"Wah wah, Bagian tubuh mana lagi sih yang harus di benerin? Udah bagus kok!" puji Xana senyum-senyum.


"Udah bagus itu bukan berarti di anggurin, tapi di rawat!" balas Kak Sean.


"So... Mau bahas apa?"lanjut Kak Sean yang sudah berpakaian kasual dan menyuruh Xana mengeringkan rambutnya yang cukup panjang.


Xana menerima pengering itu dan mengambil posisi yang pas.


"Kakak mau dijodohin," Xana mulai angkat bicara.


"Hah?!"


Sontak Kak Sean Kaget dan mengehentikan tangan Xana yang sedang bermain-main di rambutnya. Matanya melotot dan tatapannya seolah tak percaya sekaligus syok.


"Iya, makanya aku mau nanya ke Kak Sean, setuju ngga?" tanya Xana ragu-ragu.


"Sama siapa emangnya?" Kak Sean masih memegang tangan Xana dan berbalik ke arahnya.

__ADS_1


"Itu tuh, Sheyla Mahardika anak alay sok lugu!" Xana mengumpat.


"Tampangmu kesel gitu udah diapain kamu?" tanya Kak Sean selidik.


Emang ya, Kak Sean pekaan banget. Sorot matanya melihatku dengan tajam dan penuh perhatian. Aku bisa merasakan kehangatan dalam pandang matanya.


"Ya gitulah... Aku udah bilang kalau Kak Sean pasti menolaknya terutama aku tidak suka, ehhh.... Si Sheyla malah ngajak adu akting!" Xana bercerita.


"Terus Mama?" tanya Kak Sean.


"Mama terpaku karena Tante rese itu manfaatin nama keluarga dan hubungan keluarga. Sewaktu kutanya, Sherly ternyata suka sama Kakak...." Xana tak melanjutkan ceritanya.


"Sialan! Belum apa-apa udah ngelunjak gitu, gimana nantinya?!" Kak Sean menggerutu.


"Kakak......... Setuju?" tanya Xana kembali ragu.


"Kalau kamu ga setuju ya aku ga setuju! Apa lagi denger ceritamu tadi, tambah ga setuju!" Kak Sean kembali berbalik arah dan ingin dikeringkan rambutnya.


"Baguslah! Kalau begini kan aku bisa menjalankan rencanaku untuk melepas belenggu perjodohan ini!" Xana berseru.


Kak Sean tahu Xana sedang kesal dan pasti sudah mulai bergerak dan akan menjalankan misinya.


"Lihat aja nanti, toh semuanya akan tahu!" Xana memberi alasan.


Kalau sudah begini sih dia pasti akan melakukan sesuatu ke target seluruh anggota keluarganya. Xana benci wanita yang mendekati Kakaknya hanya karena uang , kedudukan dan kekuasaan.


Selesai mengeringkan rambut Kak Sean, Xana bergegas pamitan keluar di chat grup keluarga Wijaya. Di grup itu hanya ada 5 orang keluarga inti.


Setelah mendapat izin penuh untuk pergi keluar, Xana bergegas bersiap akan mengajak Esra serta Lea. Sekalian mengantarkan Lea ke rumahnya, Xana juga ingin mengajak Esra jalan-jalan. Sebenarnya Xana ingin mengajak Lea ikut pergi jalan bersama. Tetapi, Lea masih ada urusan pagi hari dan sudah pergi duluan setelah mengasuh Esra.


Xana akan pergi dulu ke sebuah toko camilan untuk Esra dan dirinya. Ia tak ingin Esra kelaparan dan menjadi kurus. Dua ajudan dan dua pengawak sudah siap sedia di belakangnya.


Ia berhenti di sebuah rumah minimalis dan disambut seorang wanita muda berkulit gelap dengan pakaian sedikit terbuka.


"Nona Xana, saya sudah lama menunggu." sambut wanita itu.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Xana.


"Of Course, semuanya sudah beres dan siap anda teliti!" kemudian ajak wanita itu masuk.

__ADS_1


Dua ajudan berjaga di luar dan dalam mobil. Sementara kedua baby sitter ikut masuk dan mendampingi Esra.


Xana meraih beberapa lembar kertas yang sudah dijepit dan dirapikan. Ia melihat setiap lembar dan menyimak seksama. Wanita muda itu sesekali menjelaskan beberapa isi yang mungkin Xana tidak tahu atau mengerti.


Wanita itu bernama Clarissa jole. Gadis Negro kenalan Xana dari Amerika yang ia tolong untuk merintis usaha di Indonesia sebelum keberadaan Melisa. Gadis ini bukan di ambil percuma-cuma, tetapi karena bakatnya. Ternyata Clarissa yang tidak jauh lebih muda itu adalah seorang hacker peretas sekaligus pemilik dari akun hack terkenal di dunia. Ilmunya selalu dimanfaatkan Xana untuk mendapatkan informasi yang sulit ditemukan.


Dan yang ada di genggaman Xana adalah Informasi pribadi dan mendetail dari Sheyla Mahardika. Tentu ia baru meminta Clarissa menyelidiki Sheyla sesaat setelah gadis amatiran itu pergi dari rumahnya.


"Hmmmm, Clarissa... Saya mau kamu bantu saya untuk beberapa hal nantinya, bisa kan?" tanya Xana.


"Oh, tentu saja! Saya siap kapanpun Nona butuhkan! Suatu Kehormatan bisa membantu Nona!" Wanita muda itu terpancar senyum ceria dan bersemangat.


Sepulang dari sana Xana membeli beberapa baju pesta yang memilik sisi berbeda. Yang satu terkesan elegan dan anggun. Tapi yang satunya, seperti sebuah pakaian terbuka dan sangat sexy yang tidak bisa dibilang elegan maupun anggun.


Esra pun membeli beberapa pakaian untuk bepergian serta weekend day. Pakaian yang mungil itu tampak semakin gemas jika Esra yang memakainya.


"Ayo, kita pulang!" ajak Xana kepada Esra.


Di rumahnya, Ayah sudah pulang dan semua anggota keluarga telah berkumpul di sana. Awalnya Xana bingung apa yang terjadi, tetapi karena melihat sebuah undangan minimalis, Xana tahu apa penyebabnya.


Xana memandangi sejenak dan membaca sedikit lampiran dalam undangan itu. Kemudian dia ikut duduk di kursi tunggal sementara Ayahnya berdiri kebingungan.


"Oh, si nenek sihir itu mengundang kita makan bersama? Yaudah dateng aja" ujar Xana enteng.


"Baby, jangan santai! Ini masalah perjodohan Kakak tercintamu Sean!" Seru Kak Petra tak percaya sikapku.


"Tahu kok! Pastinya juga pesta ini berkedok lamaran," Xana kembali berucap santai.


"Sayang, kamu bilang punya rencana untuk ini semua kan? Kamu bilang juga akan membereskannya dengan baik kan?" Ibu bertanya seolah ragu lagi.


Xana menghela nafas panjang dam memerintahkan seorang pelayan untuk menggendong Esra ke kamarnya. Nanti ia akan menyusul.


"Pa, Ma, Kak.... Tenang aja kok... Selagi kita mempunya kartu mereka, tentu kesempatan ada dalam genggaman kita." Xana berdiri dan memberikan secarik lampiran kertas yang ia bawa dari tempat Clarissa.


Orang pertama yang mengambilnya adalah Ayah. Setelah membaca itu Ayah melirik Xana dan tersenyum kecil. Terungkap sudah bahwa Ayah juga setuju dengan rencana Xana. Ketiga Kakak Xana melihat kertas itu dan sedikit terkejut. Begitu pula dengan Ibu, tetapi aura keceriaan terpancar dari wajahnya.


Dari sini.... Rencana untuk membatalkan perjodohan keluarga ini dengan baik pun dimulai. Setiap anggota keluarga tentunya telah memiliki dialog masing-masing dan akan bermain drama. Acara undangan keluarga Mahardika yang private itu akan dilaksanakan besok malam. Jadi, Xana dan lainnya masih punya waktu untuk berlatih Akting.


-BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2