
"Hahaha, kamu lucu banget, kayak anak kecil makan ice creamnya berantakan". Ucap Putri sambil mengusap sisa ice cream disudut bibir Tahta
"Kamu nyuapinnya ngga bener, sayang". Ucap Tahta mencubit gemas hidung Putri
"Haha, maaf, maaf..."
"Oh iya, gimana kak Bella, jadi mau franchise bisnis kopi kita?". Tanya Putri menatap Bella
"Eum, nanti aku pikir lagi, deh. Kalo udah ada jawabannya aku hubungin Tahta lagi". Jawab Bella
"Oh, kalo gitu kelamaan kak, kakak putusin sekarang aja, jadi atau engga?". Tanya Putri dengan raut wajah serius
"Sayang?". Ucap Tahta dengan maksud menegur tindakan Putri
"Ah? Hahahaha, maaf, kak. Maksudnya gini, mumpung suami aku lagi ada waktu, selesain sekarang aja..."
"Kalo kakak setuju, kita bisa deal sekarang dan kakak bisa langsung tanda tangan, kita bawa kok berkasnya, daripada buang-buang waktu..."
"Iya kan, sayangku?". Tanya Putri menatap Tahta, Tahta hanya tersenyum tipis sambil mengangguk
"Soalnya suami aku lumayan sibuk, kuliah, ngurus kafe, ngurus aku, hehe..."
"Jadi ngga tau kapan ada waktu lagi". Ucap Putri
Tahta menggeleng-gelengkan kepalanya pelan mendengar ucapan Putri, ia menyerah, ia sudah menduga ucapan dan tindakan istrinya sedari tadi hanya ingin membuat Bella merasa tidak nyaman lalu membatalkan rencana kerjasama mereka
"Hmm, kayaknya batalin aja, deh. Aku masih ragu buat buka bisnis". Ucap Bella
"Loh, ragu kenapa? Karna Tahta udah punya istri?- Eh maksudnya karna istrinya Tahta nyebelin ya? Aku ngga sabaran ya, kak? Hehe".
"Engga kok, engga. Bukan karna itu, hehe. Mungkin passion aku bukan di bidang bisnis, jadi aku mendadak ragu". Ucap Bella
"Hmm, gitu". Ucap Putri mengangguk sambil tersenyum
"Mendadak ragu? Haha"
"Karna lu tau kak Tahta punya istri kan, jadi ngga ada kesempatan lagi?"
"Yaudah, kalo gitu aku pamit ya, mungkin next time kita ketemu lagi". Ucap Bella bangun dari duduknya
Putri dan Tahta pun ikut bangun dari duduknya dan saling berjabat tangan dengan Bella
"Sorry ya, Ta. Mungkin belum saatnya jadi rekan bisnis". Ucap Bella
"Gapapa". Jawab Tahta mengangguk
Bella pun pergi meninggalkan restoran tersebut, seketika Putri membuang nafas lega
"Iseng ya kamu". Ucap Tahta mencubit hidung Putri lalu kembali duduk dikursinya
"Hehe, aku tau sikap sama omongan aku gak sopan, kesannya gak menghargai keberadaan dia..."
"Tapi jujur aku ngga suka sama dia, kak. Kalo dia beneran niat buka bisnis tanpa deketin kamu aku ngga akan kayak gitu kok".
"Iya, sayang, aku paham maksud kamu".
"Kamu marah ya sama aku karna kehilangan calon rekan bisnis?".
"Engga kok, rezeki bisa datang dari mana aja, udah ada yang atur..."
"Yang terpenting itu kamu. Aku ngga mau kerjasama sama Bella malah bikin kamu sedih dan cemburu..."
"Aku cuma mau kamu bahagia, ngga overthinking". Ucap Tahta mencolek hidung Putri
"Duh, gimana aku ngga takut kehilangan kamu kalo sikap kamu manis begini?..."
"Makanya aku takut banget tiap ada cewek yang deketin kamu". Ucap Putri
"Aku ngerti, tapi kamu tenang aja, aku cuma milik kamu".
"Hihi, i love you, sayang". Ucap Putri dengan suara pelan
"I love you more, istriku". Ucap Tahta sambil mencium punggung tangan Putri
Setelah selesai dengan kegiatannya dikampus, Putri berjalan bersama Nindi menuju gerbang gedung fakultas mereka
"Loh, itu kak Raja bukan sih?". Tanya Nindi saat melihat seorang pria sedang berdiri membelakangi mereka
__ADS_1
"Kalo diliat tinggi badannya sih harusnya ia, kak Raja". Jawab Putri
"Hah? Hafal banget lu sama tinggi badannya? Perasaan itu kakak adek bertiga sama aja tingginya".
"Haha, beda lah. Yang paling tinggi itu kak Tahta, kalo kak Raja sama kak Dewa hampir sama, meski mereka terhitung tinggi juga".
"Ya udah lah, emang lu doang yang pendek kayak pohon toge".
"Hahaha, sialan lu, ngaca". Ucap Putri sambil meninju lengan Nindi
"Eh. Udah keluar?". Tanya Raja saat berbalik kearah Putri dan Nindi
"Hmm, kakak jemput aku?". Tanya Putri
"Iya, soalnya Tahta masih ada kelas, jadi dia nyuruh kakak, ayo..."
"Kamu pulang sama siapa?". Tanya Raja menatap Nindi
"Dijemput mama kak, bentar lagi nyampe kok". Jawab Nindi, Raja mengangguk paham
"Lu kapan kerumah?". Tanya Putri
"Nanti malem, ya. Sekalian gue bawa makanan hasil eksperimen gue, hehe". Jawab Nindi
"Waduh, yaudah gue tunggu. Bye". Ucap Putri sambil melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam mobil
"Duluan ya, Nin". Ucap Raja
"Iya, kak. Hati-hati". Ucap Nindi
Diperjalanan setelah meninggalkan area kampus, Putri dan Raja saling terdiam, Raja fokus menyetir sementara Putri asik memperhatikan kearah luar jendela. Fokus Raja teralihkan saat mendengar ponselnya bordering, Putri sempat menoleh sejenak sebelum kembali menatap jendela
"Apa lagi?".
Itu lah Raja yang ucapkan ketika menerima telfonnya. Sejujurnya Putri pun tidak bisa mengelak apa yang ia dengar didalam mobil, jadi sepertinya, mau tidak mau ia harus mendengarkan perbincangan Raja dengan seseorang diseberang sambungan telfonnya itu
"Iya aku udah pulang, aku lagi jemput Putri".
Putri mengangguk pelan tanpa menoleh, ia paham kalau Raja sedang berbincang dengan Nagita
"Ngga bisa. Kalo terjadi apa-apa sama Putri kamu mau tanggung jawab?".
"Terserah, lakuin sesuka kamu. Aku ngga peduli".
Raja memutus sambungan telfonnya, ia membuang nafas kasar dan memasukkan ponselnya kembali ke saku jaketnya. Raja terlihat kesal, terlihat ia menggenggam kencang stir kemudi, membuat urat-urat ditangannya terlihat jelas
Putri pun menyentuh tangan Raja, ia usap-usap punggung tangan itu dengan lembut, meminta Raja untuk meredakan emosinya
"Kalo emosi lebih baik berhenti dulu, daripada kenapa-napa dijalan". Ucap Putri sambil tersenyum
Raja terlihat melirik spion mobilnya sebelum menepi. Tempat yang cukup sepi dengan suasana gelap dan angin kencang pertanda hujan akan turun
"AARGGHHH!!!". Raja berteriak kencang, membuat Putri tersentak sesaat lalu tersenyum kemudian
Sepertinya berteriak adalah cara Raja melepaskan emosinya. Namun Putri salah, setelah berteriak, Raja justru menangis diatas stir mobilnya
Putri menautkan kedua alisnya, ia bertanya-tanya sendiri mengapa Raja menangis setelah menerima telfon dari Nagita yang membuatnya emosi. Apa ini semua karena Nagita?
"Raja, kamu kenapa?". Tanya Putri sambil menyentuh bahu Raja, Raja pun menoleh dengan air mata yang masih mengucur di kedua pelupuk matanya
"Putri?". Panggil Raja dengan suara serak, Putri pun mengangguk sambil tersenyum
"Ada apa? Kamu mau cerita ke aku? Aku mungkin ngga bisa ngasih solusi, tapi seenggaknya kamu lega-"
Bruk, ucapan Putri terhenti saat tiba-tiba Raja memeluknya, Putri tersenyum tipis dan membalas pelukan Raja
Tangis Raja pecah, air matanya sukses membasahi bahunya yang menjadi sandaran untuk kepala Raja, Putri mengusap punggung Raja, berharap Raja menjadi lebih tenang dan menghentikan tangisannya
"Ada masalah ya sama pacar kamu?". Tanya Putri, Raja mengangguk pelan
"Kamu boleh cerita apapun ke aku. Anggap aku teman cerita kamu, biar kamu ngerasa lebih plong buat cerita semuanya". Ucap Putri
Raja melepaskan pelukannya, Putri pun tersenyum dan membantu Raja mengusap air matanya
"Aneh ngeliat kamu nangis, lagi. Yang aku tau kamu itu laki-laki kuat..."
"Apa Nagita nyakitin kamu, sampai kamu kayak gini?". Tanya Putri
__ADS_1
"Selalu, sekarang dia ngga pernah mau menghargai aku, dia selalu cari celah buat nyalahin aku".
"Emang sebelumnya dia gimana? Kok sekarang berubah? Sejak kapan?".
"Awal pacaran dia ngertiin aku, dia baik, dia tulus, dia penyayang. Tapi..."
"Maaf sebelumnya, Put, aku harus ungkit ini lagi, dia berubah setelah tau masa lalu aku sama kamu". Ucap Raja, Putri mengangguk paham
"Berarti Nagita percaya omongan Vivi?". Tanya Putri, diangguki oleh Raja
"Meski aku ngelak, dia ngga percaya. Aku gak tau apa lagi yang Vivi omongin ke dia sampai dia lebih percaya Vivi dibanding aku..."
"Sejak itu dia jadi sering marah-marah, dia ngga pernah menghargai apapun yang udah aku lakuin dan apapun yang aku kasih ke dia, dan sikap dia seenaknya ke aku..."
"Dia selalu ungkit soal itu, dia ngga bisa terima masa lalu aku". Ucap Raja
Putri terdiam sejenak, ia sudah menduga sejak awal jika masa lalunya dengan Raja pasti akan berdampak pada hubungannya dan dugaannya itu benar, dan yang ia lihat tadi pagi merupakan salah satu tindakan Nagita yang sudah keterlaluan pada Raja
"Kalo dia udah ngga mau menghargai kamu dan ngga bisa terima masa lalu kamu? Buat apa kamu masih pacaran sama dia?..."
"Eum, aku ngga nyuruh kamu putus, tapi buat apa buang-buang waktu kayak gini? Kamu laki-laki baik, kamu berhak dapetin perempuan yang lebih baik juga".
Raja terlihat menarik nafas panjang saat akan memulai ucapannya
"Aku akan jujur sama kamu, mungkin kamu kaget dengernya..."
"Jujur selama diluar kota aku makin tersiksa setelah putus dari kamu, aku sendirian, ngga punya siapa-siapa, disana aku selalu ngerasa kangen sama kamu..."
"Aku coba deketin beberapa cewek buat bantu aku ngelupain kamu, bantu aku hapus perasaan aku ke kamu..."
"Sampai aku ketemu Nagita dan kita pacaran, dia mampu bikin aku ngelupain kamu, tapi anehnya sosok Nagita sekilas mirip kayak kamu, dan itu bikin aku ingat lagi sama kamu..."
"Sikap dia bikin aku ngerasa disayang lagi sama kamu. Tapi aku bahagia karna ngerasa Nagita itu kamu. Dia lembut kayak kamu, perhatian kayak kamu, penyayang kayak kamu..."
"Hampir semua yang ada di kamu, ada di Nagita. Aku pertahanin Nagita karna sikap dia mirip sama kamu..."
"Tapi semua berubah setelah Nagita tau soal masa lalu aku. Dan aku belum kepikiran buat putusin Nagita". Ucap Raja panjang lebar, Putri mengangguk paham
"Kenapa belum putusin Nagita?". Tanya Putri
"Ya, aku masih berharap Nagita akan berubah baik kayak sebelumnya, jujur aku bener-bener butuh sosok kayak kamu..."
"Aku butuh perempuan yang bisa ngertiin aku selain mama dan kamu. Aku bahagia bisa pacaran sama kamu karna ada sosok mama di diri kamu, makanya aku berniat jadiin kamu istri aku, tapi takdir ngehancurin niat aku..."
"Dan disaat aku ketemu Nagita, dia berubah secepat ini. Apa aku harus cari perempuan lain buat gantiin Nagita?..."
"Mau sampai kapan aku bener-bener punya pengganti yang sama kayak kamu? Susah, Put. Aku ngerasa ngga ada lagi perempuan kayak kamu". Ucap Raja dengan mata berkaca-kaca
"Jadi kamu pacarin Nagita buat pelarian, karna sikap dia mirip aku?". Tanya Putri
"Iya...". Jawab Raja dengan nafas sesegukan
"Maafin aku, ternyata susah ngelupain kamu..."
"Kasih tau aku, gimana cara aku buat ngelupain kamu? Apa aku harus mati?". Tanya Raja sambil mengguncang kedua bahu Putri
"Aku udah usaha cari perempuan buat ngelupain kamu. Tapi ujung-ujungnya apa? Ingat lagi sama kamu..."
"Iya kan? Satu-satunya cara aku harus mati, dengan begitu aku lupa sama kamu". Ucap Raja
Putri tertunduk, ia tidak tahu harus menjawab apa, tangan Raja terasa bergetar dikedua bahunya, Putri pun mendekat dan kembali memeluk Raja , Putri mulai meneteskan air mata, namun ia menyembunyikan tangisannya dibahu Raja
Entah mengapa dadanya merasa sesak setelah mendengar seluruh keluh kesah yang selama ini Raja pendam. Jadi itu yang selama ini Raja rasakan setelah hubungan dengannya berakhir? Ia sudah bahagia bersama Tahta namun tidak dengan Raja yang merasa sulit menemukan kebahagiannya
"Ini ngga adil buat aku. Kebahagiaan aku sama kamu udah direnggut, kebahagiaan aku sama Nagita ngga berlangsung lama. Apa aku ngga berhak bahagia, Put?..."
"Apa aku ngga bisa kayak Tahta punya istri? Ngga bisa kayak Dewa yang sebentar lagi menikah?..."
"Kenapa aku jadi orang yang paling menyedihkan?".
---
Duh, nyesek banget sih kamu, Raja 😢 peluk jauh Raja ku sayang
Bersambung dulu ya, ini aku triple update karena udah beberapa hari bolong hehe maafin ya
Makasih banget buat yang masih setia pantau ceritaku ini. Pokoknya aku sayang kalian
__ADS_1
Sekarang aku mau spill si kalem tapi galak nih, si paling garda terdepan kalo bestienya kenapa-napa. yuk kenalan sama Nindi, pawangnya kak Dewa, ciecie otewe married nih