Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 47 Sadar diri!


__ADS_3

Seseorang dari ujung lorong berjalan mendekati Xana. Xana yang tahu siapa dia hanya menatap datar dan tidak ingin berbicara padanya.


Pada akhirnya mereka pun bertemu di tengah lorong dan saling berhadapan. Kebetulan lorong sepi, jadi pembicaraan mereka tidak ada yang dengar.


"Xana, gue mau lo ngomong ke bokap gue buat berhentiin masa skor gue!" Bentaknya.


Ya ampun, wanita ini tidak berubah ya? Apa pelajaran kemarin kurang?


"Hah?" Xana mengangkat sebelah alisnya dan menatap rendah wanita itu yang tak lain adalah Sherly.


Lea mengambil handphonenya. Dia merekam suara diam-diam sejak Sherly membentak Xana.


"Xana! Jangan mentang-mentang lo orang kaya terus lo sombong dan ingin menindasku!" Bentak Lea lagi.


Dia sengaja, itu yang dipikirkan Xana. Semua orang pun tertarik untuk melihat keributan seorang Xana dan wanita aneh pendek yang tak mereka kenali lagi.


"Apakah kau sedang mengatai dirimu sendiri, Sherly?" Balas Xana pada Sherly.


Sontak beberapa adik kelas yang tahu konflik antara mereka pun segera berbisik dan berbincang pada adik kelas tahun ajaran baru.


"Wah, tidak tahu malu sekali...."


"Apa dia tidak sadar selama ini selalu menyombongkan jabatan ayahnya?"


"Padahal dulu kan dia ya yang suka nindas Xana? Ngapain dia ngomong gitu? Jijik banget dengernya!"


"Ditambah yang sok kaya dan sombong adalah dia! Hih! Memalukan!"


"Dia tidak sadar diri ya? Memalukan!"


"Dasar Sherly! Dikira kita tidak tahu selama ini perbuatannya, untung sekarang ada Xana yang jauh lebih baik dari Sherly!"


Bisikan demi bisikan diratapi Sherly. Xana hanya berdiri terdiam dan menghayati. Lea yang masih merekam diam-diam pun menjadi seru sendiri.


"Xana, tunggu saja! Semua penderitaan ini aku akan membalasnya!" Sherly segera kabur ke belakang Xana.


Tidak, dia tidak bisa kabur karena ada kerumunan yang telah menatap rendah dirinya. Ada seorang wanita lagi mencuri perhatian Xana dan mengahadang Sherly.

__ADS_1


"Hei, kau memakai kalung emas ya? Mau sombong? Bagus nih kayaknya....." Wanita itu segera melepas paksa dengan cara menariknya. Dia mengambil kalung yang tergantung di leher Sherly dengan kasar.


"Akhh!! Apa yang kau lakukan?!" Sherly membentak wanita itu dan meraba lehernya yang sekarang polos itu.


"Hemm, pergilah b*bi selagi aku bicara baik-baik!" Wanita itu mendekatkan wajahnya pada Sherly.


Karena begitu tinggi dan menakutkan, Sherly segera meninggalkan ruangan. Semua bersorak pada Sherly. Xana yang bosan pun segera pergi dari sana bersama Lea.


"Aku merekam semuanya, jadi sewaktu-waktu bisa kau pakai." Lea berbicara lirih pada Xana.


"Apa itu penting?" tanya Xana dengan polosnya.


"Ya pentinglah Baby! Dia kan menuntutmu atas hukuman bokapnya?! Sedangkan dia sendiri tidak meminta maaf secara langsung padamu? Malah minta tolong ga jelas gitu!" Lea sedikit kesal karena Xana tidak tahu hal seperti itu.


"Fyuuuhh itu sih terserah ya, yang penting udah menindasnya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku!" Xana mengarahkan langkahnya ke taman belakang sekolah.


Di taman itu, Xana mengenang kembali bagaimana ia dulu merindukan Melisa dan mengkhawatirkannya. Kini, itu semua hanyalah kenangan belaka. Pohon dan tanaman disana menjadi saksi bisu dari kecemasan Xana pada Melisa dan tetesan matanya yang menggetarkan jiwa.


"Xana, lo pasti keinget Melisa kan?" Lea menepuk pundak Xana.


Xana sedari tadi ternyata melamun dan mengenang. Ia baru sadar ketika Lea menepuk pundaknya.


"Dia memang hidup, hidup di hati kita. Jujurly aku ga pernah ketemu sama Melisa tapi aku bisa merasakan kamu sangat menyayanginya. Aku sedih mendengar dia pergi bahkan ketika belum bertemu denganku. " tutur Lea yang kembali mengingat bagaimana wajah Esra nantinya.


"Yeah, aku berpikir bagaimana cara menjelaskan ini nantinya kepada Esra. Aku sendiri belum siap menerima kepergian nya, apalagi bocah yang bahkan belum tahu apa-apa itu? Ini sulit...." Xana berpikir keras.


"Gak, gua ga setuju kalo lo mau kasih tau dia yang sebenarnya! Gua pengen dia tetep nganggep lo Mama kandungnya. Xana.... Please..... Dia masih terlalu kecil. Biarkan Esra dewasa yang mencari tahu dan mulai memahami semuanya. Dia akan dewasa dengan keadaan nantinya." Bantah Esra.


"Aku.... Mungkin setuju. Tapi jika itu nanti membuat dia tak menerimaku di masa depan..... Lebih baik jangan. Aku harus segera memberitahu dia! Iya, harus!" Xana berubah kembali.


"Xanaaa, you know what? Bahkan Esra masih belum dewasa? Kita tidak tahu sikap dia nantinya akan seperti apa, sebelum kamu mau menjelaskan semua itu, gua mau lo membesarkan Esra dulu semampu dan sebisa lo. Gua yakin, mau bagaimanapun nantinya lo tetap di hati Esra." Lea kembali meyakinkan.


Xana berbalik. Ia menatap dalam-dalam mata Lea. Ia memendam sedikit keraguan di sanubarinya.


"Gua sebelumnya ga pernah menerima pendapat dari siapapun, juga masukan. Tapi setelah gua pikir-pikir.... Ada baiknya aku membesarkan dia dan mengubah temperamennya menjadi seorang yang kuat dan lemah lembut. Aku yakin aku bisa melakukannya." Xana menatap segala arah dan mulai membayangkan Esra dewasa dengan sikap yang baik.


"Nah, good luck buat lo! Gua yakin lo bisa!" Lea memberi semangat.

__ADS_1


"Yeah, gua yakin gua bisa!" Xana percaya diri dan senang.


Apapun yang mereka katakan nantinya, semua tergantung sikap Esra. Maka dari itu, mereka harus membesarkan Esra dan membuat Esra percaya penuh dan seutuhnya menyayangi Xana seorang. Itu yang dipikirkan Xana.


Tak terasa hari mulai petang, sudah saatnya mereka membersihkan diri dan bersiap makan malam. Selama setahun terakhir, Xana dan Lea tidak pernah makan malam di kantin. Terlalu menyeramkan dam melelahkan untuk berjalan ke sana. Mereka selalu memasak makanan instan atau memesan makanan cepat saji.


"Kita masak apa nih?" Lea yang baru selesai mandi menghampiri Xana.


"Nih, mie viral tasty yang murah nan ueennaaakkk! Di jamin lo doyan deh" Xana mengacungkan jempolnya.


"Waduhhh.... Yaudah gue masak juga deh." Lea hendak mengambil teplon di atas kompor tepat didepan Xana.


"Yaudah gua tunggi di meja ya!" Xana segera membumbui makanannya.


Dengan ditemani minuman dingin dan camilan penutup mulut, mereka pun disuguhi pemandangan langit dari jendela kamar yang lebar dan tinggi itu.


"Besok udah mulai sekolah, gua yakin bakal happy di awal bad di akhir sih..." Ujar Lea.


"Kenapa?"


"Ya karena emang begitu kan? Selaluuuu saja ada masalah, cape, ribet, males aslii dah!" Lea kembali membalas.


Selama setahun kemarin memanglah buruk. Xana terus saja menahan amarah dan kesabarannya pada Sherly dan kawanannya. Lea yang emosian tak jarang menghajar mereka hingga masuk kantor dan terkena surat panggilan. Lea tak pernah memenuhi surat itu karena ayahnya sibuk, tentu ini pun ada dalam perlindungan Xana.


"Ya, semoga aja deh. Tapi kayaknya sebentar lagi kita bakal terfokus dengan satu hal!" Lea menoleh dan tersenyum lebar.


"Apa?" tanya Xana.


"Cogan asrama Putra! You know lah.... Asrama ini adalah tempat elit yang mahall!! Otomatis banyak orang kaya yang sekolah di sini, dan orang kaya tentunya mulus dan guantenggg!" Lea mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.


"Itu mah kamu, aku udah ada Leon." Xana menjawab dengan santai.


"Iya deh iya! Yang pacarnya pangeran yang tersohor!" Lea meledek Xana.


Xana hanya tersenyum kecil. Malam yang terkesan dingin terbalut hangat oleh perbincangan mereka yang tiada akhir.


Seterusnya, Xana harus pintar membagi waktu. Ia pun harus lebih cermat membagi keuangannya. Esra sekarang adalah tanggungan yang harus dia penuhi. Dengan kerja kerasnya, Xana yakin ia bisa memenuhi segala kebutuhan Esra.

__ADS_1


-BERSAMBUNG.....


__ADS_2