Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Menikah?


__ADS_3

"Mampus, kak Dewa denger ya?". Batin Nindi


Nindi menatap Putri dengan tatapan panik. Sementara Putri, ia buru-buru menarik selimut untuk menutupi leher dan tubuhnya yang banyak berbekas tanda merah akibat ulah Raja


Dewa yang sedari tadi masih berdiri dari pintu, melangkahkan kakinya memasuki kamar Putri


"Kamu kenapa? Sakit?". Tanya Dewa pada Putri


"Engga, kak". Jawab Putri


"Coba sini". Ucap Dewa sambil mengangkat tangannya untuk mengecek suhu di dahi Putri, namun Putri segera menghindar


"Engga, engga, aku ngga sakit. Cuma, cuma kedinginan hehe". Ucap Putri


"Hmm". Dewa berdehem sambil mengangguk pelan


"Tadi ngomongin apa? Kak Dewa kayak gitu gimana?". Tanya Dewa pada Nindi


"Eh". Nindi tercekat, ia tidak tahu harus menjawab apa


"Kalo ngga salah kakak denger kata agresif, ya ngga?". Tanya Dewa sambil menatap Putri dan Nindi


"Ehem, bukan agresif kak, tapi posesif". Ucap Putri


"Masa sih?". Tanya Dewa


"Iya, tadi aku lagi cerita kalo kak Raja itu posesif. Terus Nindi ngomong kak Dewa kayak gitu juga ngga. Gitu loh". Ucap Putri


"Oh gitu". Ucap Dewa


"Iya hehe. Oh iya kak, mau nemenin Nindi main badminton ngga? Aku masih ngantuk mau bobo lagi". Ucap Putri


"Hmm boleh, udah lama juga ngga badminton..."


"Main dimana?". Tanya Dewa pada Nindi


"Terserah kakak". Jawab Nindi


"Di taman komplek aja, ada lapangannya". Ucap Dewa


"Ayo". Ucap Nindi penuh semangat. Putri pun mencibikkan bibirnya kebawah


"Jalan kaki ya kesananya? Itung-itung olahraga". Ucap Dewa


"Iya kak". Ucap Nindi


"Yaudah kakak ganti baju dulu". Ucap Dewa sebelum keluar dari kamar Putri


"Seneng kan lu? Bilang apa sama gue?". Ucap Putri


"Hehehe makasih Putri cantik". Ucap Nindi


"Mikisih Pitri cintik". Ucap Putri


"Hahahahaha gaje lu". Ucap Nindi


Putri dan Nindi kembali menoleh kearah pintu saat mendengar suara pintu terbuka


"Cepet banget ganti baju- oh kak Tahta hehe". Nindi meralat ucapannya saat melihat Tahta memasuki kamar Putri


"Nin, tumben kesini pagi-pagi". Ucap Tahta sambil berjalan menghampiri ranjang Putri


"Iya kak-"


"Janjian sama kak Dewa main badminton". Ucap Putri


"Oh. Yaudah tunggu dibawah aja. Kakak ada perlu sama Putri". Ucap Tahta


"Iya kak hehe..."


"Put, gue turun ya". Ucap Nindi, Putri pun mengangguk


Setelah Nindi keluar dari kamar Putri, Tahta segera duduk ditepi ranjang, ia memperhatikan Putri dengan heran karena Putri membungkus tubuhnya rapat dengan selimut


"Kamu sakit Mput?". Tanya Tahta


"Engga. Katanya kakak ada perlu, kenapa kak?". Tanya Putri


"Gini, orang tua salah satu temen deket kakak meninggal, kakak mau ngelayat kerumah nya. Mau ngga nemenin kakak?". Tanya Tahta


"Emang temen kakak yang lain yang ngga ngelayat?". Tanya Putri


"Mereka udah jalan bareng-bareng, dan kakak baru dikabarin. Sekarang kakak mau nyusul, temenin kakak ya biar ngga sendirian dijalan".


"Hmm, dimana kak?".


"Di desa Kemuning, lumayan jauh, katanya sih hampir tiga jam perjalanan".


"Itu sih jauh kak".


"Iya, tapi ngga enak kalo ngga dateng, dia temen deket kakak dan dulu orang tua nya pernah kerja sama papa".


"Oh gitu, yaudah aku temenin. Otw jam berapa?".


"Sekarang".


"Hah, yaudah aku mandi dulu".


"Yaudah sana, nanti kakak izin ke Raja mau ngajak kamu keluar". Ucap Tahta sambil berjalan kearah pintu


"Ok".

__ADS_1


---


Jam telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Putri dan Tahta tiba disebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota


Tahta masih melajukan mobilnya dengan pelan sambil menatap layar ponsel yang menampilkan aplikasi penunjuk arah, sementara Putri, ia sibuk memperhatikan suasana diluar mobil dari kaca jendela yang ia turunkan


"Aku jadi inget waktu nyari rumah ayah kak, pedesaan kayak gini, sepi, banyak hutan. Tapi ini agak serem sih hehe". Ucap Putri


"Ya namanya desa terpencil sayang, dulu waktu almarhum masih kerja sama papa, papa sempet nawarin buat tinggal di rumah yang udah papa sewain..."


"Papa ngerasa kasian karna jarak dari rumahnya ke kantor kan jauh, tapi dia nolak dengan alasan ngga mau ninggalin rumah yang udah punya banyak kenangan dan itu juga rumah warisan". Ucap Tahta menjelaskan


"Oh gitu, emang dulu kerja dimana sih kak? Di kantor papa?". Tanya Putri


"Iya, sebagai kepala office boy, tapi ngga lama, cuma lima tahun terus resign". Jawab Tahta


"Hmm. Kasian temen kakak itu, kalo dia anak satu-satunya, berarti udah ngga punya siapa-siapa dong sekarang". Ucap Putri


"Iya, kakak tau banget rasanya ditinggal kedua orang tua, apalagi dia ngga punya saudara, kasian..."


"Ini dikit lagi nyampe". Ucap Tahta sambil menatap layar ponselnya


"Oh iya kak, itu didepan ada rame-rame, kayaknya itu rumahnya". Ucap Putri sambil menunjuk


"Hmm, itu motor Panji". Ucap Tahta saat melihat barisan kendaraan yang terpakir di pelataran rumah tujuan mereka


"Berarti bener". Ucap Putri


Putri segera merapihkan kain panjang yang menutupi kepalanya sebelum turun dari mobil, sementara Tahta menepikan mobilnya


"Yuk". Ajak Tahta, mereka pun turun dari mobil dan menghampiri rumah tersebut


Tahta berinisiatif untuk bersalaman dengan beberapa warga desa dan beberapa kerabat keluarga yang hadir disana. Setelah itu menghampiri teman-temannya kuliahnya, diikuti Putri dengan suasana yang menurutnya sedikit canggung


"Eh Putri ikut hehe". Ucap Panji sambil menggenggam tangan Putri yang tidak ia lepaskan saat bersalaman


Plak, Tahta memukul punggung tangan Panji sampai genggamannya terlepas


"Lepas, ngga usah ganjen". Ucap Tahta


"Yaelah pocecip banget bang". Ucap Panji meledek


"Belum dikubur?". Tanya Tahta pada temannya yang lain


"Belum, baru mau disholatin". Jawabnya, Tahta mengangguk paham


"Bro, makasih udah dateng". Ucap teman Tahta yang sedang berduka, Andri. Mereka saling berpelukan setelah bersalaman


"Turut berduka cita, yang sabar". Ucap Tahta sambil menepuk-nepuk punggung Andri saat berpelukan


"Iya, iya, makasih". Ucap Andri


Mereka melepas pelukan, tatapan Andri berpindah ke Putri yang berdiri disisi Tahta


"Turut berduka cita ya kak". Ucap Putri


"Iya, makasih ya". Ucap Andri sambil tersenyum


Setelah menyapa Tahta, Andri kembali masuk kedalam untuk melakukan persiapan prosesi selanjutnya. Putri dan Tahta pun segera duduk dikursi yang telah disediakan


---


Setelah seluruh prosesi pemakaman dilakukan, Putri dan Tahta bersama teman-temannya yang lain kembali kerumah mendiang orang tua Andri


Disana mereka mengobrol santai sambil menikmati kopi hangat, beberapa warga desa pun terlihat belum beranjak dari rumah itu, sama hal nya dengan Tahta dan teman-temannya, warga desa juga terlihat sedang mengobrol dengan yang lain


"Kak, mau pipis". Bisik Putri pada Tahta, Tahta mengangguk paham


"Ndri, kamar mandi dimana? Adek gue mau buang air kecil". Ucap Tahta pada temannya


"Oh, masuk aja dek, diujung ya, disamping dapur". Jawab Andri sambil menatap Putri


"Temenin kak". Ucap Putri pada Tahta dengan suara pelan


"Itu didalem ada orang, lewat aja gapapa". Ucap Tahta


"Ngga mau, temenin". Ucap Putri


"Yaudah ayo". Ucap Tahta


Mereka berdua pun bangun dari duduknya dan masuk kedalam rumah orang tua Andri dengan sopan, karna melewati beberapa warga desa yang sedang duduk diatas tikar


"Kamar mandinya serem kak". Ucap Putri


"Engga, siang-siang gini masa serem. Masuk sana. Kakak tunggu disini". Ucap Tahta sambil mendorong punggung Putri sampai masuk kedalam kamar mandi


"Kakak jangan kemana-mana". Ucap Putri dari dalam


"Iya sayang". Ucap Tahta


Tidak berselang lama, Putri sudah selesai dengan kegiatannya, setelah merapihkan pakaiannya, ia melepaskan kain penutup kepala dan sedikit ia lemparkan ke paku yang ada di pintu kamar mandi untuk merapihkan rambutnya


"Yah nyangkut". Gumam Putri


"Kenapa Mput? Udah?". Tanya Tahta dari luar


"Lagi rapihin rambut kak, eh kerudungnya nyangkut dipaku, ngga bisa ditarik". Jawab Putri


"Kok bisa? Paksa aja, gapapa deh robek". Ucap Tahta


Klek, Putri membuka pintu kamar mandi dan menyuruh Tahta untuk melihat kondisi didalam

__ADS_1


"Udah robek dikit, tapi ngga mau lepas, kalo ditarik lagi malah robeknya makin banyak". Ucap Putri


Tahta pun masuk dan sedikit menutup pintu kamar mandi untuk meraih ujung dari kerudung yang tersangkut dipaku itu, karena memiliki tubuh yang tinggi, tentunya ini memudahkannya, berbeda dengan Putri yang terlihat kesusahan


"Nih, robek dikit". Ucap Tahta sambil memberikan kerudungnya kepada Putri


"Gapapa deh". Ucap Putri


"Hey! Kalian ngapain didalam?". Tanya seorang warga desa yang sudah berdiri didepan pintu kamar mandi


"Kerudungnya nyangkut pak". Jawab Putri dengan cepat


"Bohong, kalian sedang mesum kan?". Tanyanya


"ENGGA PAK". Jawab Putri dan Tahta kompak


"Halah, saya melihat kalian berdua didalam. Ayo keluar". Titahnya dengan suara lantang yang mengundang beberapa warga desa lainnya dan teman-teman Tahta masuk kedalam


"Ada apa pak?". Tanya Andri


"Mas Andri, teman mas ini kepergok mesum didalam kamar mandi, saya liat sendiri, pintunya pun ditutup". Jawabnya


"Ngga Ndri, gue ngga ngapa-ngapain". Ucap Tahta, Putri pun mengangguk seolah meyakinkan


"Kayaknya salah paham pak, mereka ngga mungkin berbuat itu, mereka kakak adik". Ucap Andri


"Kakak adik? Apa kalian saudara kandung?". Tanyanya


"Iya pak". Jawab Tahta


"Loh tadi diluar saya ngga sengaja dengar katanya ini adik angkat". Ucap salah satu warga yang lainnya, tentunya ini memicu bisikan-bisikan tidak mengenakkan ditelinga Putri dan Tahta


"Saya sudah panggil pak RT, biar pak RT yang menyelesaikannya". Ucap warga yang lain


"Saya sudah dengar permasalahannya, jadi kalian ini saudara kandung atau bukan?". Tanya pak RT, Putri dan Tahta hanya terdiam, mereka sangat ragu untuk menjawab pertanyaan yang tentunya akan membuat mereka kesulitan


Warga desa pun mendesak mereka untuk menjawab, beberapa yang lain juga ada yang menyudutkan mereka


"Bukan pak". Ucap Tahta


Suasana semakin riuh, mereka berdua diiring oleh warga keluar dari rumah orang tua Andri dan dibawa ke balai desa setempat


Putri panik, begitu pun dengan Tahta, mereka tidak menyangka, hanya perkara penutup kepala yang tersangkut, bisa menimbulkan kesalahpahaman fatal seperti ini


Beberapa orang selaku perangkat desa terlihat sedang berunding. Sementara Putri dan Tahta sedang ditenangkan oleh teman-teman mereka


"Sumpah gue sama Putri ngga ngapa-ngapain Ji, ini salah paham". Ucap Tahta pada Panji


"Gue percaya, lu tenang dulu, kita denger keputusannya nanti". Ucap Panji


"Kak, aku takut". Lirih Putri pada Tahta


"Tenang ya, ngga akan kenapa-napa". Ucap Tahta sambil mengusap tangan Putri seolah menenangkan, padahal kalau boleh jujur, ia pun sangat takut setengah mati menghadapi situasi seperti ini


"Baiklah, begini mas, mbak, saya selaku ketua RT dan juga warga desa disini, kami semua sangat menjunjung tinggi norma-norma, adat istiadat dan peraturan di desa ini yang sudah ada sejak dulu..."


"Menurut hasil perundingan kami, mas dan mbak bisa diberi hukuman cambuk, atau jika tidak ingin dihukum mas dan mbak harus menikah saat ini juga, sesuai dengan aturan jika mas dan mbaknya ingin pergi dari desa ini". Ucap pak RT menjelaskan


"Hah? Kalo ngga nikah, gue sama kak Tahta ngga bisa pergi dari sini? Ya ampun, kok jadi gini".


"Sudah pak, cambuk aja. Mereka sudah tertangkap basah berduaan didalam kamar mandi tertutup". Ucap salah satu warga desa


"Pak, daritadi saya udah jelasin kalo ini salah paham, kita ngga ngapa-ngapain". Ucap Tahta yang sedari tadi terus meminta keadilan


"Ngga ada yang namanya salah paham mas, apalagi ternyata kalian ini bukan saudara kandung. Mas saja sudah bohong diawal, sudah jelas untuk menutupi perbuatan mas dan mbaknya". Ucap warga desa


"Ya ampun". Ucap Tahta sambil mengusap kasar wajahnya


"Sudah ayo, cambuk saja"


"Ngga mau kak, aku takut, sakit". Ucap Putri pada Tahta dengan tatapan sendu


"Cambuk pak"


"Betul pak, kami semua warga desa disini tidak mau tertimpa musibah dari perbuatan keji mereka"


"Iya pak"


"Cambuk"


"Cambuk"


Begitulah kata-kata yang terus menyudutkan mereka berdua


"Hukum mati aja pak". Celetuk warga yang lain


"Pak, pak, jangan pak, hukum mati itu terlalu berat". Ucap Tahta dengan cepat


"Ya udah, cambuk kalo gitu, atau menikah". Ucapnya


Tahta menatap Putri yang terlihat sudah berkaca-kaca, ia sangat bingung, apakah ia harus menerima hukuman yang disebutkan yang tentunya akan menyakiti tubuh mereka atau menikah saat ini juga


"Mput, kita menikah ya". Ucap Tahta dengan suara pelan


Putri menunduk, air matanya terjatuh, pikirannya pun semakin kacau, entah keputusan apa yang akan ia ambil dengan Tahta, sepertinya tidak ada jalan keluar lain


"Nikah aja Put, daripada kamu di cambuk, pasti sakit banget". Ucap Panji


"Apa iya gue harus nikah sama kak Tahta? Gimana sama Raja?".


---

__ADS_1


Gimana guys chapter kali ini? Putri Tahta menikah gak ya? Kalo sampe menikah bakal plot twist banget sih ini hehehe


Jangan lupa like, vote dan hadiahnya biar aku semangat update, gomawo^^


__ADS_2