Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Rahasia Putri Dan Tahta


__ADS_3

"Euuungh..."


Putri melenguh panjang saat mendapati satu tangan Tahta menelusur kedalam piyama dan menyentuh pu ting payu daranya


Tangan Tahta yang terasa hangat, memberi sensasi tersendiri untuk Putri saat merasakan sentuhan di seluruh permukaan kulit payu dara nya


Dan tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Putri mengangkat ujung piyama nya sebatas dada dan membiarkan kedua payu dara nya menggantung bebas tepat di depan wajah Tahta


Dengan nafsu yang sudah menggebu-gebu dan nafas yang sudah memburu, keduanya sudah jatuh kedalam gairahnya masing-masing


Putri menuntun kepala Tahta untuk melahap kedua payu daranya yang sudah ia busungkan. Tentunya Tahta pun juga merasa tidak sabar untuk melahap dua benda kenyal yang sangat menantang nafsu birahi nya


"Aaahhh"


Putri menengadah kepalanya saat merasakan sesuatu yang hangat, kenyal dan basah ******* habis pu ting payu dara nya


Sambil memeluk leher Tahta, Putri menekan kepala Tahta agar lebih dalam melahap payu daranya. Kini wajah Tahta pun sukses tenggelam diantara sekal nya kedua payu dara Putri


Sudah puas bermain dan memberikan beberapa tanda merah di payu dara sang adik, Tahta kembali melahap bibir mungil nan manis yang sudah menjadi candunya


Masih terbawa suasana dan terbuai dengan ciuman hangat yang saling mereka berikan. Mereka tidak menyadari adanya sepasang mata yang terkejut memperhatikan mereka


"Putri!"


"Tahta!".


Dewa memekik saat melihat Putri dan Tahta sedang asik berciuman


Dewa segera menghampiri mereka dan menjauhkan Putri dari Tahta, namun Dewa terkejut saat melihat Putri ambruk diatas karpet


Dewa yang panik segera menggendong Putri dan ia baringkan diatas ranjang Tahta. Setelah itu ia kembali menghampiri Tahta yang sedang memejamkan kedua matanya di ruang tv


"Pantes aja, mereka mabok". Batin Dewa saat melihat sebotol bir tergeletak di bawah meja


"Tahta! Bangun!". Ucap Dewa sambil menepuk pipi Tahta dengan kencang


"Eunghh". Tahta melenguh sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit


"Bangun lu!". Ucap Dewa


Dewa pun meraih sebotol air mineral yang berada diatas meja belajar Tahta dan ia cipratkan kearah wajah Tahta hingga Tahta mengerjapkan kedua matanya


"Lu gila, lu ngapain nyiram gue..."


"Arghh sakit". Ucap Tahta sambil memijat kepalanya


"Dengerin gue, lu mabok sama Putri..."


"Ini siapa yang ngambil?". Tanya Dewa sambil menunjukkan botol yang berada ditangannya


"Mput". Jawab Tahta


"Ck, ini minuman titipan klien gue, ini bikin mabok. Lu sama Putri kenapa minum ini". Ucap Dewa


"Gue ngga tau, gue kira ini yang biasa". Ucap Tahta


"Bodoh, emang lu ngga bisa bedain?? Yang biasa ada di paling bawah..."


"Argh Putri salah ngambil". Ucap Dewa sambil mengusap kasar wajahnya


"Mput nya mana?". Tanya Tahta


"Itu, tidur". Jawab Dewa sambil melirik kearah ranjang Tahta


"Kalo Raja yang masuk, abis lu dipukulin Raja". Ucap Dewa


"Kenapa?". Tanya Tahta


"Lu ngga sadar ciuman sama Putri? Baju Putri juga kebuka". Ucap Dewa


"Hah?!". Tahta sontak membelalakkan kedua matanya mendengar pertanyaan Dewa


"Ngaco lu". Ucap Tahta


"Terserah deh, beruntung bukan Raja yang ngeliat". Ucap Dewa


"Astagaa". Ucap Tahta sambil menutup wajah dengan kedua tangannya


"Kalo lu mau dapetin Putri bukan gini caranya, ini sama aja lu bunuh diri..."


"Lu bakal abis ditangan Raja dan Raja ngga akan bawa Putri kesini lagi..."


"Bahkan Raja bisa langsung nikahin Putri saat ini juga, ilang kesempatan lu". Ucap Dewa


"Lu ngomong apa sih, pikiran lu kejauhan". Ucap Tahta


"Heh jangan kira gue ngga tau apa-apa, Putri itu gampang di bodohin soal cinta..."


"Dan lu pake trik kayak gini, ngajak dia mabok, apa lagi kalo bukan buat dapetin dia, dan bodohnya dia nurut aja..."


"Seandainya gue ngga masuk, gue yakin lu udah nidurin dia, lu pake cara instan yang bikin dia jadi milik lu dalam sekejap". Ucap Dewa


"Sumpah kepala gue makin sakit denger omongan lu. Mending lu keluar deh". Ucap Tahta sambil memijat kepalanya


"Ok, gue mau balikin Putri ke kamarnya sebelum Raja bangun". Ucap Dewa sambil bangkit dari duduknya


"Emang Raja dimana?". Tanya Tahta


"Kamar Putri". Jawab Dewa


Dewa pun segera menggendong Putri keluar dari kamar Tahta dan ia pindahkan ke kamarnya bersama Raja


---

__ADS_1


Keesokan paginya pukul setengah enam pagi, Raja bangun terlebih dahulu dari Putri. Raja tersenyum saat melihat wajah Putri yang selalu terlihat cantik meski sedang tertidur


Raja pun mengangkat tangannya untuk mengusap pipi halus Putri dengan lembut


"Andai setiap pagi kayak gini, kamu jadi orang pertama yang aku liat setiap aku bangun tidur". Batin Raja


Raja mengecup kening Putri lalu turun dari ranjangnya dan menuju kamarnya untuk bersiap


.


Pukul setengah tujuh pagi, Putri sudah selesai membersihkan diri dan sudah bersiap untuk berangkat kuliah, namun ia enggan turun kebawah untuk sarapan bersama seperti biasa


Sejak bangun tidur tadi, Putri merasakan sakit pada bagian kepalanya, ia ingat bahwa ia menghabiskan malam dengan Tahta sampai mereka mabuk bersama


Putri juga ingat kalau dirinya dan sang kakak ketiga sudah berciuman, bahkan ia sampai memberikan payu daranya kepada sang kakak secara tidak sadar. Itu semua efek dari minuman beralkohol yang mereka minum


"Udah terlanjur kayak gini, gue udah ngga punya muka lagi buat ketemu Raja. Gue udah ngehianatin dia".


"Sayang, sarapan yuk". Ucap Raja sambil membuka pintu kamar Putri


"Masih dandan?". Tanya Raja


"Engga". Jawab Putri


"Yaudah ayo turun, sarapan dulu". Ucap Raja


"Ngga pengen, kamu aja". Ucap Putri


"Lah, tumben, sarapan dulu nanti perutnya sakit". Ucap Raja sambil berjalan menghampirinya


"Ngga pengen, aku nunggu dikamar aja ya, nanti aku turun". Ucap Putri


"Kalo gitu aku suruh bibi bikinin roti sama susu aja ya". Ucap Raja


"Ngga usah sayang..."


"Oh iya, semalem siapa yang bawa aku kesini?". Tanya Putri


"Maksud kamu? Emang kamu sempet keluar?". Tanya Raja


"Engga, aku kan semalem dikamar kak Tahta, ngerayain ulang tahunnya..."


"Terus kayaknya aku ketiduran deh, tapi pas aku bangun aku udah disini". Ucap Putri


"Ooh, Tahta kali yang bawa kamu kesini, aku ngga tau soalnya aku tidur hehe". Ucap Raja


"Hmm yaudah sana kamu sarapan, aku nunggu disini". Ucap Putri


"Yaudah, aku turun ya". Ucap Raja sambil mengusap kepala Putri sebelum meninggalkan kamarnya


"Huft..."


"Maafin aku, aku terpaksa nyembunyiin ini..."


Hampir sepuluh menit berlalu, Putri bangkit dari duduknya dan segera menyambar tas kuliahnya. Ia pun segera berjalan menuju pintu kamarnya


Saat baru membuka pintu, ia terkejut mendapati Tahta yang sudah berada dihadapannya, sepertinya sang kakak ingin masuk untuk menemui dirinya


Merasa canggung bersitatap dengan Tahta, Putri segera mengalihkan pandangannya kearah lain


"Mput, soal semalem-"


"Ngga usah dibahas". Ucap Putri


"Dengerin kakak dulu-"


Lagi-lagi belum sempat berbicara, Putri kembali memotong ucapannya, kali ini Putri menarik tangan Tahta untuk masuk kedalam kamarnya


"Omongin disini aja, jangan diluar. Kakak inget semuanya?". Tanya Putri


"Iya, semuanya. Kakak minta maaf..."


"Kakak sadar udah keterlaluan, ngga seharusnya kakak kayak gitu ke kamu". Ucap Tahta


"Bukan salah kakak, ini salah aku, aku yang bawa minuman itu..."


"Dan kita sama-sama ngga sadar, aku juga ngga bisa ngehindar". Ucap Putri


"Raja, dia...ngeliat itu ngga...pasti ada merah-merah kan?". Tanya Tahta sambil melirik kearah dada Putri


"Ngga liat". Ucap Putri


"Syukur lah...kamu tau Mput, bang Dewa bilang kamu salah ngambil minuman..."


"Minuman yang biasanya ada di kulkas paling bawah". Ucap Tahta


"Hah? Kak Dewa tau soal ini?". Tanya Putri


"Iya, dia ngeliat. Dia langsung bawa kamu kekamar takut ketauan Raja". Ucap Tahta


"Astaga". Ucap Putri sambil menghela nafas panjang


"Kita rahasiain ini ya, kakak ngga mau hubungan kamu sama Raja hancur gara-gara ini". Ucap Tahta


"Kenapa kakak masih khawatir sama hubungan aku? Harusnya kakak khawatir sama diri kakak sendiri..."


"Kalo kak Raja tau, yang dimarahin bukan cuma aku, tapi kakak juga. Bahkan kak Raja bisa pukulin kakak lagi". Ucap Putri


"Gapapa. Asalkan dia ngga nyakitin kamu dan hubungan kamu sama dia baik-baik aja". Ucap Tahta


"Iya, aku ngerti". Ucap Putri


"Kakak ngerasa bersalah sama Raja". Ucap Tahta

__ADS_1


"Aku juga kak, ini sama aja aku ngehianatin dia, aku ngga tega. Aku harus gimana". Ucap Putri


"Raja ngga boleh tau, kalo dia tau semuanya bisa hancur, pernikahan kamu bisa gagal". Ucap Tahta


"Tapi kalo kayak gini sama aja aku bohongin dia, aku nyembunyiin sesuatu dari dia, aku ngga bisa". Ucap Putri


"Dengerin kakak, ada saatnya kita terbuka sama pasangan, kita selalu jujur tanpa nyembunyiin sesuatu..."


"Tapi ada saatnya juga kita punya sesuatu yang ngga harus kita kasih tau, demi kebaikan semuanya, gapapa kok..."


"Karna ini kesalahan Mput, anggap aja ngga terjadi apa-apa, demi hubungan kamu". Ucap Tahta


"Iya, aku ngerti". Ucap Putri


"Yaudah, turun yuk". Ucap Tahta dan diangguki oleh Putri


Mereka pun keluar dari kamar dan menuruni tangga bersama-sama


Melihat Raja sedang berjalan kearah mereka, Tahta pun segera memisahkan diri menuju meja makan


"Nih sayang, pegang". Ucap Raja pada Putri


Raja memberikan sebuah paper bag berisi kotak makanan dengan isi roti lapis serta susu hangat didalamnya


"Kok bawa bekel". Ucap Putri


"Roti sama susu buat kamu, makan dimobil ya". Ucap Raja


"Ngga mau". Ucap Putri


"Kalo ngga mau aku marah nih". Ucap Raja


"Hmm yaudah deh". Ucap Putri


"Lu bimbingan ngga?". Tanya Raja pada Tahta


"Engga". Jawab Tahta


"Jemput Putri ya". Ucap Raja


"Iya". Ucap Tahta


"Yaudah yuk". Ucap Raja sambil merangkul pinggang Putri dan berjalan bersama menuju pintu utama


"Putri ngga marah sama lu?". Tanya Dewa


"Engga". Jawab Tahta


"Kok bisa? Emang dia ngga inget apa-apa?". Tanya Dewa


"Inget". Ucap Tahta


"Jujur gue iri sama lu". Ucap Dewa


"Kenapa?". Tanya Tahta


Dewa pun tertawa dan mengambil posisi duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya diatas dadanya


"Gimana ya, dia ngga marah disaat lu bisa nyentuh dia secara bebas kayak semalem, itu yang bikin gue iri, adek-adek gue lebih beruntung daripada gue". Ucap Dewa


"Karna itu kecelakaan, ngga sadar. Kalo gue lakuin itu secara sengaja, jelas dia bakal marah..."


"Lagian lu kenapa iri sama hal kayak gitu? Kalo lu iri, lu kan bisa nyari cewek". Ucap Tahta


"Gak segampang itu..."


"Trus setelah lu inget kejadian semalem, lu udah cinta sama Putri?". Tanya Dewa


"Hah? Kok cinta sih, gue aja ngerasa bersalah sama Raja". Ucap Tahta


"Yaelah masih aja muna. Lu inget ngga Putri pernah kena obat perang sang, disitu pertama kalinya Raja sama Putri lakuin sesuatu..."


"Setelah itu apa, Raja cinta sama Putri. Dan gue bisa nebak, ngga lama lagi lu bakal cinta sama Putri setelah kejadian itu". Ucap Dewa


"Sok tau". Ucap Tahta


"Heh bocah ingusan kayak lu bisa ditebak". Ucap Dewa


"Sialan". Ucap Tahta sambil menendang kursi Dewa


"Makanya ngga usah muna, gue akuin gue masih cinta sama Putri, tapi cinta gue kalah sama Raja..."


"Sekarang gue tinggal nunggu dan ngeliat lu bakal lakuin apa kalo suatu saat nanti lu udah cinta sama dia". Ucap Dewa


"Gue ngga mau rebutan cewek". Ucap Tahta


"Lu sendiri yang jadiin ini rebutan, padahal udah enak tinggal nikahin Putri sesuai wasiat mama sama papa, malah lu kasih ke Raja..."


"Putri tuh sempurna, gue yakin lu bakal nyesel. Iya sekarang ngomongnya ngga cinta. Tapi liat aja, lu bakal ngejar-ngejar Putri..."


"Siap-siap bakal ke-makan sama omongan sendiri". Ucap Dewa sambil bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang makan


Tahta menghela nafas panjang dan mengusap kasar wajahnya. Ucapan Dewa kini sukses mempengaruhi pikirannya. Namun sebisa mungkin ia mencoba untuk menyangkalnya


Ia berfikir, apakah ada tiga laki-laki dengan status saudara kandung memperebutkan satu wanita yang sama?


Membayangkannya saja sudah membuat kepala Tahta pening. Tahta pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera menyambar tas nya untuk berangkat kuliah


---


 


 

__ADS_1


__ADS_2