
Diperjalanan menuju rumah sakit, Tahta terus memeluk Putri sambil terisak. Hatinya sangat terluka melihat kondisi Putri saat ini
Ditambah darah segar yang terus mengalir dari kepala Putri membuat Tahta semakin panik. Tahta pun terus menyeka darah tersebut dengan tangan dan seluruh pakaiannya, ia sudah tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang berlumuran darah
.
Setibanya dirumah sakit, Putri segera dilarikan keruang IGD untuk pengambilan tindakan, Tahta menunggu didepan ruangan sementara Dewa mengurus administrasi nya terlebih dahulu
"Nih ada kaos di mobil lu, ganti dulu, bersihin badan lu". Ucap Dewa sambil menaruh pakaiannya diatas paha Tahta
Dengan langkah gontai, Tahta berjalan menuju toilet yang terletak diujung koridor ruang IGD. Setelah itu kembali menghampiri Dewa yang sedang duduk sambil bermain ponsel
"Bang, gimana keadaan Putri? Kata bibi Putri ketabrak mobil, emang bener?". Tanya Raja sambil berlari kecil menghampiri Dewa
"Lu ngapain kesini?". Tanya Tahta
"Lu gimana sih, bukannya dia pergi sama lu? Kenapa bisa kayak gini?". Tanya Raja
"Ck, lu nyalahin gue?". Tanya Tahta
Tahta melempar pakaian kotornya keatas kursi tunggu dan menghampiri Raja dengan emosi yang sudah meledak-ledak
Bugh, Tahta melayangkan pukulannya tepat disudur bibir Raja
Dewa yang terkejut dengan tindakan Tahta, buru-buru melerai kedua adiknya tersebut sebelum terjadi perkelahian
"Minggir bang, orang kayak gini harus dikasih pelajaran". Ucap Tahta sambil menyingkirkan tangan Dewa yang sedang menahan bahunya
"Apa? Putri kayak gini gara-gara lu! Lu ngga becus ngejaga Putri!". Ucap Raja
"Banyak bacot". Ucap Tahta
Tahta mendorong Dewa sampai terhuyung kemudian meraih jaket yang dipakai Raja, ia kembali melayangkan pukulannya bertubi-tubi pada sudut bibir dan perut Raja
Raja yang belum sempat melawan, sudah terlebih dahulu dipisahkan kembali oleh Dewa
"Udah udah! Lu harus tenang Ta, bukan saatnya ribut kayak gini!". Ucap Dewa pada Tahta
"Jauh-jauh lu". Ucap Dewa sambil mendorong Raja menjauh dari Tahta
Bugh, Raja memukul kencang tembok dihadapannya sebelum melangkah menuju kursi tunggu yang terletak jauh dari posisi Tahta berada
Raja pun mendudukkan bokongnya sambil menangis terisak mencemaskan kondisi Putri yang masih dalam penanganan dokter
Hampir lima belas menit mereka menunggu, seorang dokter pun terlihat keluar dari ruang IGD. Mereka bertiga pun buru-buru bangkit dari posisinya dan menghampiri dokter tersebut
"Gimana keadaan adik saya dok?". Tanya Dewa
"Pasien mengalami gegar otak ringan karena terjadi pendarahan pada otak yang mengakibatkan hilangnya keseimbangan dan gangguan fungsi otak..."
"Dan untuk saat ini pasien belum sadarkan diri, tetapi kami akan terus melakukan observasi ketat untuk mencegah kondisi yang semakin buruk..."
"Selain itu, terdapat luka dalam pada kaki dan tangan sebelah kanan akibat hantaman serta benturan yang dialami pasien, jadi untuk sementara waktu tangan pasien kami pasangkan penyangga agar tidak terjadi pergeseran tulang, dan untuk penyembuhannya bisa berangsur selama satu sampai dua bulan, tergantung kondisi tubuh pasien". Ucap dokter
"Tapi untuk gegar otak bisa sembuh kan dok?". Tanya Raja
"Bisa mas, hanya saja pasien akan mengalami keluhan pada dua atau tiga hari pertama, misalnya rasa sakit di kepala akibat masih adanya pendarahan pada otak, kurang fokus, kesadaran menurun, mual dan juga muntah, tentunya pasien akan terus berada dibawah pengawasan kami". Jawab dokter dan diangguki oleh ketiganya
"Apa adik saya udah bisa dijenguk dok?". Tanya Dewa
"Bisa, kami akan pindahkan dulu ke ruang rawat ya, tapi jika pasien sudah sadar, dimohon untuk tidak memberi tekanan yang memaksa pasien untuk berfikir terlalu berat". Ucap dokter
"Baik dok, terima kasih banyak". Ucap Dewa
"Sama-sama, mari". Ucap dokter tersebut sebelum meninggalkan mereka bertiga
"Lu denger kan? Putri kayak gitu gara-gara lu!". Ucap Raja pada Tahta
"Terus aja lu nyalahin gue! Ini semua ngga akan terjadi kalo lu ngga mentingin temen lu itu!..."
"Lu yang nyuruh gue bawa Putri pulang, tapi lu ngga ada, dia marah dan lari keluar rumah sampe gue terlambat ngejar dia". Ucap Tahta
"Ya berarti salah lu!". Ucap Raja
"Kalo lu dirumah dia ngga bakal marah-"
"UDAH!!!..."
"Kalo lu berdua masih ribut gue tonjokin satu-satu!". Ucap Dewa
"Udah pada gede otaknya ngga dipake, salah-salahan kayak anak kecil, bukannya doain adik lu". Ucap Dewa
"Lu juga kenapa care banget sama temen lu? Udah tau Putri cemburuan". Ucap Dewa pada Raja
"Kalo lu kayak gini terus jangan salahin gue kalo gue ngerebut Putri dari lu". Ucap Tahta
"Maksud lu apa?". Tanya Raja
"Lu gak perlu tanya apa maksud Tahta, yang penting lu inget..."
"Kalo sikap lu terlalu care ke cewek lain, Putri sendiri yang akan jauhin lu..."
"Dan lu jangan salahin Tahta kalo posisi lu digantiin sama dia, yang lebih care ke Putri". Ucap Dewa pada Raja
"Ck, lu berdua sama aja". Ucap Raja
Mereka kembali duduk di posisi nya masing-masing sambil menunggu Putri dipindahkan keruang rawat
---
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Putri pun sudah dipindahkan keruang rawatnya. Didalam ruangan, Raja dan Tahta duduk terpisah untuk menghindari terjadinya perkelahian kembali
Ketiganya masih sama-sama terjaga sambil membuka ponselnya masing-masing. Padahal pagi hari nanti mereka harus menjalankan aktifitasnya seperti biasa
"Oh iya nanti gue ada meeting..."
"Lu mau balik ngga? Biar Tahta yang disini". Tanya Dewa pada Raja
__ADS_1
"Ngga, mending lu suruh dia yang balik". Ucap Raja sambil melirik Tahta
"Ayo, nanti pagi-pagi kerumah ayah sama ibu kasih tau kondisi Putri". Ucap Dewa pada Tahta
Tahta pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Putri tanpa sepatah kata diikuti Dewa dibelakang nya
"Sayang, maafin aku. Lagi-lagi aku bikin kamu marah sampe kayak gini..."
"Semoga kamu cepet sadar ya, kita selesain baik-baik, aku janji ngga akan ulangin kesalahan aku". Ucap Raja sambil mengusap lembut tangan Putri
Sambil menggenggam tangan Putri, Raja menidurkan kepalanya disisi ranjang sampai ia tertidur pulas
.
Pukul enam pagi, Melly sudah tiba dirumah sakit bersama Dewa, Dewa pun membawakan sarapan serta baju ganti untuk Raja berangkat kuliah. Setelah itu ia berpamitan kepada Melly untuk berangkat ke kantor karena ada jadwal meeting lebih awal
"Nak, ibu boleh tanya? Apa benar Putri seperti ini karna Putri marah mengetahui nak Raja pergi bersama teman perempuan nak Raja?". Tanya Melly pada Raja
"Bener bu, Raja minta maaf, Raja nyesel bu. Raja ngga berfikir panjang soal ini". Ucap Raja
"Yaudah, semua udah terjadi. Putri udah seperti ini. Ibu rasa ini cuma salah paham..."
"Kamu siap-siap ya terus sarapan. Putri biar ibu yang jaga". Ucap Melly
"Iya bu". Ucap Raja
Raja segera meraih handuk serta pakaian gantinya untuk membersihkan diri sebelum berangkat kuliah
---
Waktu sudah menunjukkan siang hari, Putri yang baru siuman, sudah selesai menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis saraf
Setelah selesai diperiksa oleh dokter Putri dianjurkan untuk makan dan meminum obatnya, namun Putri menolak, ia hanya mau disuapi makan oleh Tahta
Melly yang sudah berusaha membujuk Putri hanya bisa bersabar dan menunggu sampai Tahta datang berkunjung
Tidak berselang lama, sosok yang dinantikan pun tiba. Putri menyunggingkan senyumannya saat melihat sosok Tahta memasuki ruangannya
"Nah, ini yang ditunggu-tunggu". Ucap Melly sambil tersenyum
"Hehe siapa yang nungguin bu?". Tanya Tahta sambil mencium tangan Melly
"Tuh si cantik, ngga mau makan kalo ngga disuapin kamu..."
"Sini duduk sayang". Ucap Melly sambil menepuk kursi disebelah Putri
"Iya bu". Ucap Tahta sambil mendudukkan bokongnya di kursi tersebut
"Oh iya bu, ayah dirumah sama siapa?". Tanya Tahta pada Melly
"Ada perawat, tapi ibu juga ngga bisa lama-lama, mau beli obat buat ayah". Ucap Melly
"Yaudah ibu beli obat dulu, biar Putri sama Tahta". Ucap Tahta
"Yaudah kalo gitu, ibu titip Putri sebentar ya nak". Ucap Melly
"Iya bu". Ucap Tahta
"Hehe iya siap bu". Ucap Tahta sambil tersenyum
Melly pun segera meraih tas nya dan beranjak keluar dari kamar Putri
"Gimana keadaan kamu? Kepalanya sakit ngga?". Tanya Tahta sambil menggenggam tangan Putri
"Sakit, kaki aku juga". Jawab Putri
"Sabar ya, jangan sedih". Ucap Tahta
"Aku ngga sedih kok". Ucap Putri
"Iya, karna kamu kuat". Ucap Tahta sambil mengusap tangan Putri
Tahta memejamkan kedua matanya sambil mengecup tangan Putri
"Kakak yang sedih Mput, kakak yang hancur liat kamu kayak gini, kalo bisa biar kakak yang gantiin kamu disini".
"Makan yuk". Ucap Tahta
"Mau pipis dulu". Ucap Putri
"Yaudah, kakak bantuin". Ucap Tahta
Tahta segera selepas kantung infus dari pengaitnya dan membopong Putri kedalam kamar mandi, ia pun mendudukkan Putri tepat diatas kloset duduk
"Bisa buka celananya?". Tanya Tahta
"Ngga bisa". Jawab Putri
"Yaudah kakak bukain ya". Ucap Tahta
"Tapi kakak jangan liat, malu". Ucap Putri
"Hahaha iya sayang". Ucap Tahta
Tahta pun segera melepaskan celana serta underw*re yang dikenakan Putri dengan perlahan tanpa melihat kearahnya. Sejujurnya Putri merasa sangat malu saat ini, dimana tubuh bagian bawahnya terbuka secara bebas didepan Tahta
Namun ia tidak punya pilihan, ia tidak bisa melakukan nya sendiri dengan satu tangan yang sedang menggunakan penyangga
Tahta pun juga merasa sangat canggung dengan situasi saat ini namun ia berusaha untuk tenang. Ia sangat mengerti bahwa ini adalah saat-saat tersulit untuk adiknya
Jadi ini adalah hal yang wajar jika Putri mengandalkan orang disekitarnya untuk dimintai bantuan karena keterbatasan gerak yang sedang dialaminya
Setelah Putri selesai, Tahta membantu Putri untuk membasuh dan memakaikan kembali celana serta underw*re nya. Setelah itu ia bopong Putri dan ia dudukkan diranjangnya
"Kak, maaf ya aku ngerepotin kakak..."
"Sebenernya aku malu banget". Ucap Putri
__ADS_1
"Gapapa, wajar kamu lagi sakit. Ngga usah malu". Ucap Tahta
"Minta pasangin selang aja kak, jadi aku ngga ngerepotin orang buat bantuin aku pipis". Ucap Putri
"Ngga bisa sayang, semalem waktu dokter ngontrol kondisi kamu, bang Dewa juga sempet nanya..."
"Tapi pemasangan selang itu cuma buat orang yang ngga bisa pipis secara normal setelah operasi, orang yang dibius untuk keperluan operasi, atau orang yang ada gangguan saluran pipis..."
"Sedangkan kamu baik-baik aja, jadi gapapa. Gak usah malu, kamu adik kakak satu-satunya, kakak ngga mau liat kamu kesusahan". Ucap Tahta
"Tetep aja malu karna kakak cowok, nanti aku belajar buka celana sendiri deh". Ucap Putri
"Hmm sama Raja ngga malu, mandi bareng". Ucap Tahta sambil tersenyum
"Ih ngga usah sebut-sebut, aku gak mau denger namanya". Ucap Putri
"Hehe yaudah sekarang makan ya, kakak suapin". Ucap Tahta
"Iya". Ucap Putri
Tahta pun mulai menyuapi Putri makanannya sambil mengajak Putri mengobrol dan bercanda. Ia sengaja membuat Putri tertawa agar Putri sedikit melupakan rasa sakit yang sedang diderita oleh beberapa bagian tubuhnya
Disaat sedang asik tertawa bersama, sosok Raja pun muncul dari balik pintu. Putri dan Tahta kompak terdiam saat melihat kedatangan Raja
"Ta, tolong keluar dulu, ada yang mau gue omongin sama Putri". Ucap Raja pada Tahta
"Ngga perlu ada yang diomongin, aku ngga mau ketemu lagi". Ucap Putri tanpa melihat kearah Raja
"Tahta, keluar dulu". Ucap Raja
Tahta pun membuang nafas kasar dan menaruh piring di tangannya sebelum keluar dari kamar Putri
"Mau ngapain lagi hmpphh"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Raja lebih dulu membungkam bibir Putri dengan bibirnya
Raja melu mat habis bibir Putri tanpa ampun hingga membuat Putri memberontak dengan memukul-mukul dadanya, namun Raja enggan melepaskan tautan bibir mereka, ia tekan tengkuk Putri untuk memperdalam ciuman mereka
Tahta yang melihat kejadian tersebut dari kaca yang terdapat pada pintu ruangan Putri, seketika merasa kesal dan dadanya sudah terasa sesak. Ia pun mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang sudah mengeras menahan emosi
Plak, Putri menampar pipi Raja saat berhasil menjauhkan Raja dengan tenaga yang ia punya. Raja pun termangu sambil memegangi pipinya
"Keterlaluan. Maksud kamu apa kayak gini? Kamu anggap aku mainan kamu? Yang bebas kamu apain aja?". Tanya Putri
"Aku kesini bukan mau ngajak kamu ribut, aku mau selesain masalah kita, soal semalem, aku mau hubungan kita baik-baik aja kayak sebelumnya, itu aja". Ucap Raja
"Gak perlu, percuma di perbaikin tapi kamu ulangin lagi". Ucap Putri
"Engga, aku janji. Aku janji ngga akan ulangin lagi, itu terakhir kalinya aku ketemu atau pergi sama perempuan mana pun. Ngga akan aku ulangin lagi, aku janji". Ucap Raja sambil meraih tangan Putri, namun Putri buru-buru menarik tangannya
"Udah, aku ngga mau ketemu kamu lagi. Mending kamu urusin temen deket kamu itu, kamu lebih peduli sama dia kan, kamu udah gak peduli lagi sama aku". Ucap Putri
"Engga, ngga gitu sayang, aku punya alasan kenapa aku pergi sama dia semalem. Tapi aku janji itu terakhir kalinya aku ketemu sama dia". Ucap Raja
"Aku ngga percaya, mendingan sekarang kamu pergi. Jangan ganggu aku..."
"Aku udah punya kak Tahta yang jauh lebih baik dari kamu. Cuma kak Tahta yang ngga pernah nyakitin aku, cuma kak Tahta yang selalu baik dan selalu ada buat aku dari aku kecil". Ucap Putri
"Engga sayang, jangan kayak gini, aku mohon maafin aku, aku ngga akan ulangin lagi. Aku janji". Ucap Raja
"Aargh". Putri meringis sambil memegangi kepalanya yang mendadak sakit, Tahta pun segera masuk kedalam kamar Putri dan mendorong Raja agar menjauh dari sisi ranjang
"Mput, kamu kenapa?". Tanya Tahta sambil memegang bahu Putri
"Kepala aku sakit...sakit banget kak...arghh". Ucap Putri sambil mencengkram kuat rambutnya
"Gara-gara lu". Ucap Tahta pada Raja
Tahta pun berlari kecil meninggalkan kamar Putri untuk mencari dokter
"Sayang...maafin aku...aku-"
"Keluar...aku ngga mau ngeliat kamu". Ucap Putri
"Tapi sayang-"
"Keluar Raja, kamu disini bikin kepala aku makin sakit". Ucap Putri
"Ok". Ucap Raja sambil mengangguk. Raja pun segera pergi meninggalkan kamar Putri
"Arghhh...sakit banget". Ucap Putri sambil terus memegangi kepalanya
Tidak berselang lama, Tahta sudah kembali bersama dokter yang menangani Putri, Putri pun segera dibaringkan untuk dilakukan pemeriksaan
Sambil menunggu Putri yang sedang diperiksa oleh dokter, Tahta keluar untuk menemui Raja yang sedang duduk dikursi tunggu, ia pun mengambil posisi duduk tepat disebelah Raja
"Gue harap lu ngga lupa sama omongan gue semalem, gue serius bakal ngerebut Putri kalo lu terus-terusan nyakitin dia". Ucap Tahta
"Gue udah minta maaf, gue juga udah janji. Tapi dia ngga mau dengerin gue-"
"Karna dia udah kecewa sama lu. Lu inget ngga udah berapa kali dia sedih, marah, cemburu tiap liat cewek itu dateng kerumah. Dan lu bisa-bisanya malah pergi sama dia". Ucap Tahta
"Tapi gue punya alasan kenapa gue pergi sama dia". Ucap Raja
"Tapi Putri ngga butuh alasan lu..."
"Gue ngga bercanda bang, kalo gara-gara ini Putri hilang rasa sama lu, gue bakal penuhin wasiat mama sama papa..."
"Gue bakal nikahin Putri, ngga peduli lu setuju atau engga. Sekarang lu pikirin gimana caranya bikin Putri percaya lagi sama lu..."
"Kalo ngga berhasil, lu ngga berhak atas apapun lagi soal Putri. Karna Putri akan jadi istri gue". Ucap Tahta
Tahta pun bangkit dari duduknya dan kembali memasuki ruangan Putri, meninggalkan Raja yang sedang merasa gusar dan gelisah atas ucapan dirinya
"Udah gue duga kalo lu bakal jadi saingan gue. Liat aja, gue ngga akan biarin lu dapetin Putri karna Putri cuma milik gue". Batin Raja
---
__ADS_1