Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Kebebasan Vivi


__ADS_3

Tahta menepikan mobilnya disebelah mobil Dewa yang sudah lebih dulu tiba dirumah. Mereka bergegas turun dan berjalan memasuki rumah, menghampiri Dewa dan Raja yang sedang berada diruang keluarga bersama seorang wanita muda yang sedang duduk menyendiri di sofa yang terpisah


"Itu siapa". Gumam Putri


"Hah?"


Putri termangu saat wanita muda itu menoleh kearahnya


"Vivi?". Ucap Putri


"Iya Put, ini gue". Ucap Vivi


Putri menghindar ke belakang tubuh Tahta saat Vivi bangun dan menghampirinya


"Ini apa-apaan? Kenapa Vivi ada disini?". Tanya Tahta kepada kedua kakaknya yang hanya duduk terdiam


Tahta melirik Dewa yang sedang menunduk sambil memijat keningnya, lalu melirik Raja yang sedang menatap lurus ke sembarang arah


"Ck, pada bisu ya". Gumam Tahta


Tahta menghampiri Raja, ia tarik ujung kaos yang dipakai Raja sampai Raja bangun dari duduknya


"Heh, jawab gue, itu cewek kenapa ada disini? Harusnya kan di penjara?". Tanya Tahta


"Gue yang bebasin dia". Jawab Raja


Tahta tercengang, begitupun dengan Putri yang langsung membungkam mulut dengan telapak tangannya


"Apa? Gue ngga salah denger? Lu bebasin dia?!". Tanya Tahta


"Iya". Jawab Raja


"Kak, kak Raja bebasin aku karna-"


"Diem, gue ngga ngomong sama lu". Ucap Tahta saat memotong ucapan Vivi


"Gila, ya. Lu tau gimana jahatnya cewek ini ke Putri, tapi kenapa lu bebasin gitu aja?". Tanya Tahta


"Ada alasannya". Ucap Raja


"Apa?!". Tanya Tahta sedikit berteriak


"Ta, lu tenang dulu, biar Raja jelasin baik-baik". Ucap Dewa sambil menjauhkan Tahta dari Raja dan ia tuntun untuk duduk di sofa


"Kemarin gue dapet telfon dari kantor polisi kalo Vivi ngelakuin percobaan bunuh diri. Vivi dibawa kerumah sakit dan kehilangan banyak darah karna percobaan bunuh diri itu..."


"Orang tuanya mohon-mohon buat gue bebasin Vivi, mereka sampai sujud dikaki gue, karna ini bukan percobaan yang pertama kalinya, tapi ini yang terparah sampai Vivi dibawa kerumah sakit..."


"Lu tau kan gue ngga pernah tega sama orang tua? Gue bebasin Vivi karna orang tuanya". Ucap Raja


"Ck, gue kecewa sama lu, ngga habis pikir. Gampang banget lu ambil keputusan kayak gini..."


"Alasannya klasik, orang tua". Ucap Tahta


"Terserah lu mau ngomong apa, yang jelas gue bebasin Vivi karna orang tuanya". Ucap Raja


"Terus setelah dia bebas, ada yang bisa jamin kalo dia ngga berulah lagi?". Tanya Tahta


"Lu tenang aja, Vivi udah bikin surat perjanjian kalo dia ngga akan berulah lagi sama Putri, dan dia siap masuk penjara kalo itu sampai kejadian lagi". Ucap Raja


"Gue ngga yakin, dia bisa kok berulah lagi dengan cara nyuruh orang lain". Ucap Tahta


"Engga, kak. Aku janji ngga akan jahat lagi". Ucap Vivi


"Kalo sampai kamu jahat lagi ke Putri gimana?". Tanya Tahta menatap Vivi


"Lu boleh pukul gue kalo sampai Vivi lakuin itu lagi ke Putri. Gue taruhannya, gue siap babak belur kalo sampai Vivi berulah lagi". Ucap Raja


"Heh, rela berkorban ya". Ucap Tahta


"Gue akan lakuin apa aja yang penting lu percaya omongan gue". Ucap Raja


"Kamu percaya kan sama kakak?". Tanya Raja menatap Putri


"Aku...ngga tau kak". Jawab Putri


Vivi maju beberapa langkah mendekati Putri, mengikis jarak diantara mereka

__ADS_1


"Put, lu percaya sama gue kan? Gue ngga akan jahat lagi ke lu". Ucap Vivi


Putri terdiam sejenak sebelumnya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan


"Gue ngga tau Vi, tapi, gue takut. Kejadian waktu itu masih jelas di ingatan gue, dan jujur ada rasa trauma..."


"Mungkin gue ngga bisa percaya lagi sama lu. Ya semoga aja omongan lu ini bukan cuma janji. Soalnya gue bener-bener takut lu bakal lakuin hal yang sama ke gue buat kedua kalinya". Ucap Putri


"Ck, lu liat? Putri masih takut. Dia trauma ingat kejadian itu..."


"Gue harap lu ngga nyesel udah ambil keputusan kayak gini. Dan kalo sampai Putri kenapa-napa karna Vivi..."


"Sesuai omongan lu, lu bakal habis ditangan gue". Ucap Tahta pada Raja


Tahta bangun dari duduknya dan bangun menghampiri Putri


"Kita pulang". Ucap Tahta merangkul bahu Putri meninggalkan ruang keluarga


"Ta, Tahta. Tunggu dulu". Ucap Dewa yang mencoba mencegah kepergian Tahta dan Putri, namun Tahta mengabaikan ucapannya


Diperjalanan pulang menuju apartment, Putri memikirkan kejadian yang baru saja ia lihat. Vivi, teman dekatnya telah kembali, ia telah menghirup udara bebas karena belas kasihan orang tuanya yang di lakukan oleh Raja


Putri mere mas kedua tangannya. Pikirannya melayang jauh membayangkan hal-hal jahat apa lagi yang akan dilakukan Vivi nanti terhadap dirinya


Meski Vivi sudah melakukan perjanjian, namun ia sangat tahu sifat dan kepribadian dari sosok yang sudah ia kenal cukup lama itu. Jika Vivi merasa terganggu dan tidak menyukai sesuatu, maka ia akan bertindak untuk menyingkarkan itu. Itu lah Vivi yang ia kenal


Tahta menoleh memperhatikan Putri, ia tahu apa yang menganggu pikiran istri kecilnya itu. Ia raih tangan Putri yang basah karena keringat, lalu ia usap dengan lembut, ia ingin istrinya itu menjadi lebih tenang dan tidak memikirkan hal-hal aneh yang akan terjadi kedepannya


"Jangan takut, ada aku. Aku akan selalu lindungin kamu, aku janji".


Tahta tersenyum lalu memberikan sebuah kecupan pada tangan berukuran kecil yang ada di genggamannya itu


Putri tersenyum simpul, ia mencoba mengusir rasa kekhawatirannya. Ya, ia memiliki Tahta, suami sekaligus laki-laki terbaik yang ada di hidupnya. Ia yakin, ia akan aman di dalam perlindungan Tahta, ia percaya pada suaminya itu


---


"Jujur kakak juga kecewa sama Raja, dengan gampangnya dia bebasin Vivi kayak gini"


"Kamu jangan takut ya, kakak akan jagain kamu, kakak ngga akan biarin Vivi nyakitin kamu lagi"


"Makasih banyak kak, aku sayang sama kakak"


"Yaudah, kamu istirahat gih, jangan sampai kecapekan lagi, utamain kesehatan kamu"


"Yaudah kak, good nite"


"Good nite, sayang"


Putri meletakkan ponselnya diatas meja, lalu menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya


"Jangan takut, Put. Jangan takut, semua bakal baik-baik aja"


"Sayang, kok susunya ngga di minum?". Tanya Tahta saat menghampiri Putri


"Oh iya, lupa hehe". Ucap Putri sambil meraih gelasnya dan meneguk habis susu yang sudah dibuat oleh Tahta


"Tumben banget lupa minum susu, biasanya susu nomer satu..."


"Mikirin apa sih? Vivi? Soalnya daritadi kamu bengong terus loh". Ucap Tahta


"Engga kok, aku cuma mikirin kerjaan di kantor besok, pasti numpuk gara-gara kemarin aku tinggal". Ucap Putri sambil tersenyum simpul


Jawaban yang ia berikan adalah kebohongan, sejujurnya ia memang memikirkan ketakutannya pada Vivi


Keesokan harinya, Putri sedang makan siang bersama Vano. Disana Vano bercerita kalau ia memiliki tetangga baru di depan rumahnya. Dan sosok penghuni baru rumah itu sangat membuat Putri terkejut, mereka adalah keluarga Vivi


Putri mengatur pernafasannya, mencoba menetralkan debaran pada jantungnya yang seketika memburu saat mendengar nama Vivi


Entah mengapa ia kembali merasa takut mendengar namanya. Padahal sudah beberapa bulan terakhir ia hidup damai tanpa kembali merasakan takut seperti ini


"Aku bingung deh sama bang Raja, kok mau ya bebasin Vivi. Kalo aku jadi dia, aku ngga akan lakuin itu..."


"Secara dia udah jahatin adik aku, aku abangnya ngga terima lah, aku malah pengen Vivi dihukum seberat-beratnya..."


"Kalo perlu mati di penjara, haha". Ucap Vano sambil mengaduk minumannya


"Hehe, udah ya, jangan bahas Vivi lagi, ngga penting". Ucap Putri

__ADS_1


"Iya, aku juga males sih. Bad attitude, bikin jelek nama kampus karna ulahnya ke kamu..."


"Aku yakin nama dia udah di black list dari seluruh kampus, jadi dia ngga mungkin kuliah lagi". Ucap Vano


"Gapapa, itu sedikit balasan yang dia terima karna perbuatan jahatnya ke gue". Ucap Putri


"Betul, itu ngga sebanding sama apa yang kamu alamin". Ucap Vano diangguki oleh Putri


"Put? Udah sehat?". Tanya Adrian yang sudah berdiri disamping Putri


"Eh? Kak Adrian, udah kak". Ucap Putri


Adrian tersenyum lalu menempelkan tangannya pada dahi Putri


"Syukurlah". Ucap Adrian


"Eum, maaf pak, bapak mau duduk pak?". Tanya Vano dengan canggung


"Kita duduk bareng aja". Ucap Adrian sambil menarik kursi yang ada di meja sebrang mereka, mereka bertiga pun duduk bersama


"Oh iya kak, makasih ya kemarin udah bawa gue kerumah sakit. Pasti gue ngerepotin ya". Ucap Putri


"Iya, ngerepotin, gue sampai harus nunda meeting cuma buat bawa lu kerumah sakit". Ucap Adrian


Putri termangu, ucapan Adrian cukup membuatnya sedih. Ia tersenyum tipis sebelum menundukkan kepalanya seolah menatap makanan yang sedang ia aduk-aduk


"Hahahaha, ya ampun, kok sedih? Gue bercanda Putriiiii". Ucap Adrian sambil mengacak puncak kepala Putri, Putri pun mendongak menatapnya, tanpa menunjukkan perubahan pada raut wajahnya


"Yaaah, please mukanya jangan gitu dong. Gue jadi ngga tega. Gue cuma bercanda, sorry ya..."


"Gue ngga ngerasa direpotin kok, malah gue-"


"Hehehehe panik ya". Ucap Putri sambil tertawa kecil


"Ck, dasar". Ucap Adrian


"Hehe makasih banyak ya kak buat kemarin". Ucap Putri


"Iya, sama-sama". Ucap Adrian


"Eum, pak, mau saya pesanin minuman atau makanan ngga?". Tanya Vano dengan sopan


"Daritadi kek, ngga peka nih..."


"Pesanin minuman aja". Ucap Adrian


"Hehe, maaf pak. Mau minum apa?".


"Hmm, samain kayak Putri". Ucap Adrian sambil menatap jus alpukat milik Putri


"Ok, pak". Ucap Vano sambil bangun dari duduknya


"Kak Adrian udah makan?". Tanya Putri


"Belum sih, tapi ngga laper". Jawab Adrian


"Oh iya, emang kak Adrian belum meeting sama pak Bobby?".


"Belum, kemarin itu gue kesini mau meeting, tapi gue harus bawa lu kerumah sakit..."


"Pulang dari rumah sakit gue meeting di tempat klien, jadi meeting sama pak Bobby nya siang ini, setelah jam makan siang". Jawab Adrian


"Oh, gitu. Kak Adrian tau ngga, tadi pagi gue sempet jadi bahan omongan staff disini karna kak Adrian nunda meeting cuma gara-gara bawa gue kerumah sakit..."


"Mereka ngga suka karna gue dianggap anak magang yang diistimewakan sampai-sampai pemegang saham tertinggi disini yang bawa gue kerumah sakit, padahal kak Adrian bisa suruh orang lain, atau cukup bawa gue ke ruangan buat istirahat". Ucap Putri


"Put, itu bukan sekedar kata "cuma". Gue lakuin itu karna lu udah gue anggap kayak adik gue sendiri..."


"Lu itu penting buat gue, sama hal nya bagi Dewa..."


"Sekarang kasih tau gue siapa aja yang udah ngomongin lu? Gue bisa suruh atasan lu buat pecat mereka". Ucap Adrian


"Hehe, ngga usah kak, gapapa kok".


"Duh lupa, dia bisa lakuin apa aja disini, harusnya gue ngga usah ngadu"


---

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, vote dan hadiahnya


__ADS_2