Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Maafin Aku Ya?


__ADS_3

"Mput, menikah sama kakak aja ya, jadi istri kakak".


"Kok kak Tahta ngomong gitu ya? Minta aku jadi istrinya?".


DORR!! Putri yang sedang melamun dimeja makan dikejutkan dengan kedatangan Raja yang menghampirinya. Putri pun memalingkan wajah dan mengacuhkan Raja yang duduk disebelahnya


"Sarapan ngga ngajak-ngajak". Putri terdiam, tidak menjawab ucapan Raja


"Put, Gisel udah bangun belum?". Tanya Dewa sambil berjalan menghampiri meja makan


"Udah kak. Lagi mandi". Dewa pun mengangguk dan kembali menuju ruang kerjanya


Ya, Gisel memang tidur bersama Putri semalam, Gisel membangunkan Tahta yang sedang tertidur dan meminta Tahta untuk kembali kekamarnya. Padahal Putri pikir Gisel akan tidur dikamar Raja


"Gimana soal magang kamu? Udah selesai diurus?". Putri menoleh mendengar pertanyaan Raja, "Kamu masih peduli sama aku?".


"Loh kok nanya nya gitu sayang?".


"Engga, aku kira kamu udah gak peduli lagi".


"Sibuk sama Gisel". Sambung Putri dengan suara pelan, namun bisa dipastikan Raja dapat mendengarnya terlihat dari ekspresi wajah Raja yang berubah


"Mulai deh salah paham. Kamu tau kan Gisel mau daftar dikampus yang sama kayak kita? Dia mau lanjutin kuliah hukumnya, dan kenapa dia sama aku terus karna dia nanya-nanya soal mata kuliah..."


"Masa ngga aku jawab? Aku ngga mau dibilang pelit ilmu. Dan maaf juga kalo akhir-akhir ini kita jarang punya waktu berdua, karna semakin deket sama sidang aku mau ngejar tugas biar cepet selesai..."


"Sabar ya sayang, aku janji akan langsung nikahin kamu setelah lulus nanti". Raja sempat meraih tangan Putri namun Putri segera menarik tangannya, "Aku mau kekamar".


"Sayaaang, jangan pergi dong". Putri mengacuhkan ucapan Raja dengan terus melangkahkan kakinya menaiki tangga


"Aku harap kamu ngga ingkar janji".


"Mput, kakak ke kampus dulu ya, nanti sore kita jalan-jalan". Tahta mengusap kepala Putri dengan lembut


"Iya, hati-hati kak".


"Iya sayangku". Tahta tersenyum manis sebelum menghilang dari pandangan Putri, Raja yang melihat adegan tidak menyenangkan itu hanya memasang wajahnya datar dan kembali menyantap sarapannya


---


"Bosen banget, Raja sama kak Tahta ke kampus, kak Dewa ada urusan sama temennya, dan Nindi magang..."


"Enaknya ngapain ya". Putri berfikir sejenak lalu tiba-tiba sebuah ide muncul diotaknya


"Kerumah ayah aja deh. Kangen ayah sama ibu". Putri segera bersiap menuju rumah orang tuanya


---


"Nak Raja kemana sayang?".


"Ke kampus bu, bimbingan".


"Loh kamu ngga ke kampus?".


"Engga, Putri mau magang bu, mungkin lusa".


"Ooh gitu, kesini udah ngabarin nak Raja belum? Nanti dia nyariin".


"Udah bu". Putri berbohong, sebenarnya ia tidak memberitahu Raja kalau ia akan berkunjung kerumah orang tuanya karena ia tidak mau mengganggu Raja yang sedang sibuk dikampus


"Dede Azzam ngga kesini bu?".


"Nanti sore sayang".


"Hmm yaudah Putri disini aja nunggu dede, kangen banget hehe".


"Sambil nunggu Azzam kita bikin kue yuk".


"Ayo bu".

__ADS_1


---


Malam hari, suasana dirumah Raja mendadak genting, bagaimana htidak, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Putri tidak ada dirumah. Tentunya ini membuat Dewa, Raja dan Tahta panik setengah mati


"Gimana? Putri ada ngga dirumah ayah?". Raja menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Dewa, "Kata ibu Putri sempet kesana, tapi dia udah pulang dari jam tujuh".


"Ya ampun Mpuut, kamu kemana". Gumam Tahta sambil mengusap kasar wajahnya


"Yaudah sih biarin aja, dia udah gede. Siapa tau dia lagi main sama temen-temennya". Gisel berucap santai sambil memakan snack ditangannya


"Putri bukan orang yang kayak gitu, dari dulu dia ngga pernah main sampe malem gini".


"Yaelah bang, bisa aja kan Putri lagi suntuk, itung-itung nyari angin".


Tahta menatap kesal kearah Gisel yang dengan entengnya berbicara tentang Putri, "Putri kayak gini gara-gara lu ada disini".


Semua pasang mata kompak menatap kearah Tahta, termasuk Gisel. Tidak terima dengan ucapan Tahta, Gisel pun menatap Tahta dengan tatapan tidak suka, "Kok nyalahin aku sih?!".


"Kenapa?! Lu ngga sadar kedatangan lu kesini bikin Putri risih?".


"Gue kasih tau aja deh, Putri ngga suka lu ada disini karna lu udah ngerebut perhatian Raja. Lu bikin Raja ngelupain dia". Sambung Tahta


Raja hanya mematung mendengar ucapan Tahta, sebenarnya ia sudah tahu kalau Putri tidak nyaman dengan kehadiran Gisel dirumah mereka, tapi Raja pun sudah menjelaskan maksud kedatangan Gisel


Dan sepertinya memang Putri yang tidak mau mengerti, "Ck, padahal gue udah jelasin baik-baik".


"Lo ngga ngerasa bersalah sama Putri? Dia cewek lu kan bang?".


"Udah biasa, dia emang selalu kayak gini. Cemburu berlebihan". Tahta tersenyum sinis mendengar ucapan Raja


"Putri". Semua mata memandang kearah pintu utama saat mendengar Dewa memanggil nama Putri, dan benar saja, sosok Putri sedang berjalan dengan langkah pelan memasuki rumah


Dengan segera Raja pun menghampiri Putri namun ia kalah cepat dengan Tahta yang terlebih dahulu menghampiri dan mendekap Putri kedalam pelukannya, "Dari mana aja sayang, kenapa HP nya ngga aktif? bikin kakak panik".


"Maaf ya kak, HP aku lowbat".


"Dari mana?!". Tanya Raja sambil meraih tangan Putri dengan kasar, membuat Putri terlepas dari pelukan Tahta


"Dari mana aja jam segini baru pulang?".


"Bukan urusan kamu".


"Kamu pacar aku jelas itu urusan aku, kamu ngga ngabarin aku, ngga bisa dihubungin, dan baru pulang jam segini? Ngapain aja diluar". Putri tertawa kecil mendengar ucapan Raja


"Ngaca, kemarin kamu juga kayak gini, emang kamu ngasih tau aku mau jemput Gisel? Emang kamu bisa dikabarin seharian? Engga!".


"Mput udah Mput ngga usah diladenin, mending kamu ke kamar, istirahat". Ucap Tahta sambil memegang bahu Putri, ia hendak mengantar Putri namun dicegah oleh Raja, "Lu bisa ngga, ngga usah ikut campur urusan gue sama Putri?".


"Kenapa? Gue bakal ikut campur soal apapun yang bikin Putri sedih".


"Udah hey, lu bawa Putri ke kamar, kasian baru pulang pasti capek, jangan diajak ribut". Tahta mengangguk dan segera membawa Putri menuju kamarnya


"Putri cocok banget ya sama Tahta, serasi. Harusnya sih Putri nikahnya sama Tahta. Sesuai wasiat om dan tante". Mendengar ucapan Gisel, mendadak rahang Raja mengeras, ia pun mengepalkan kedua tangannya sambil menatap Putri dan Tahta yang sedan berjalan menaiki tangga


"Sel, gue minta besok lu keluar dari sini. Gue ngga mau hubungan gue sama Putri hancur".


"Apaan sih? Kok kamu ngusir aku? Kamu percaya omongan Tahta yang bilang Putri ngga suka aku ada disini?".


"Iya".


"Aku ngga mau! Harusnya dia yang keluar dari sini, dia kan punya orang tua kenapa ngga tinggal sama orang tuanya aja".


"Gue nyuruh lu, bukan Putri". Ucap Raja sebelum meninggalkan ruang keluarga


"Bang gimana nih? Masa aku diusir?". Dewa pun menghela nafas berat atas apa yang baru saja terjadi antara adik-adiknya, "Turutin aja, nanti abang sewain unit buat kamu, kamu bisa tinggal disana".


"Ngga mau, oma nyuruh aku tinggal disini".


"Nanti abang yang bilang ke oma".

__ADS_1


"Ck nyebelin, lebay banget sih Putri".


Dewa dan Gisel menatap kearah tangga, memperhatikan Tahta yang sedang berjalan menghampiri mereka sambil membawa tas milik Gisel


"Tuh baju sama barang-barang lu, lu bisa tidur dikamar tamu". Setelah menaruh tas Gisel diatas karpet, Tahta kembali melangkah menaiki tangga. Gisel pun merasa kehadirannya sudah tidak diterima lagi dirumah mereka


"Aku keluar sekarang". Gisel pun meraih tas nya


"Mau kemana? Udah malem, ngga usah nyari masalah baru Sel". Mendengar ucapan Dewa, Gisel pun terdiam, "Ayo abang anter kekamar tamu". Gisel mengangguk patuh


---


"Jadi abis dari rumah ayah kamu kerumah Nindi?". Putri mengangguk, "Maaf ya kak aku udah bohong, sebenernya HP aku ngga lowbat, tapi sengaja aku matiin biar ngga ditelfon sama kak Raja, aku lagi males sama dia".


"Hahaha iya iya gapapa sayang, yang penting kamu baik-baik aja, kakak udah panik banget mikirinnya". Tahta berucap sambil mengusap kepala Putri yang sedang berbaring diatas pahanya


"Iya maaf kakak".


"Hmm, udah ngantuk belum?".


"Udah, kakak bobo sama aku ya".


"Iya yuk, kita pindah ke kasur". Tahta segera menaruh menyelipkan kedua tangannya dibalik punggung dan kaki Putri, ia angkat Putri menuju ranjangnya


"Aku udah berat belum kak?".


"Belum, malah makin enteng, makin kecil, makin pendek". Putri pun menghadiahi sebuah cubitan pada lengan Tahta yang membuatnya meringis


"Aku kan cuma nanya berat, kenapa disebutin semua". Tahta tertawa kecil sambil menaruh Putri diatas ranjang, "Dah, kakak pipis dulu". Putri mengangguk dan segera mengambil posisi berbaring


"Gimana ya kelanjutan hubungan aku sama Raja?".


Pagi hari yang cerah, Putri sedang berada didapur untuk membuat susu hangat kesukaannya. Baru saja meneguk minumannya, Putri dikejutkan dengan dua tangan kekar yang melingkari pinggang kecilnya. Putri pun sedikit menunduk untuk melihat siapakan pemilik sepasang tangan tersebut,


"I miss you". Bisik Raja, Putri menaruh gelasnya dan hendak melepaskan tangan Raja, namun Raja semakin mengeratkan pelukannya sambil ia kecup-kecup tengkuk serta bahu Putri yang tidak terhalang rambut


"Lepasin". Ucap Putri dengan pelan, "Engga, aku mau kayak gini, kangen". Putri pun menghela nafas panjang


"Sayang, maafin aku ya". Putri terdiam, entah ia harus berkata apa. Ia merasa Deja-Vu karena situasi seperti ini bukan pertama kalinya dalam hubungan mereka, selalu saja kesalahpahaman dan cemburu mengguncang keharmonisan hubungan mereka yang tadinya baik-baik saja


Tidak mendapatkan respon apapun dari Putri, Raja pun melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Putri kearahnya, "Sayang, kamu mau kan maafin aku? Aku tau aku salah, dan semalem aku udah kasar sama kamu". Ucap Raja sambil menyentuh dagu Putri agar Putri menatap kedua matanya


"Jujur aku udah bosen". Raja termangu mendengar ucapan Putri, apa maksud dari ucapannya itu?


"Maksud kamu? Kamu bosen sama hubungan kita? Kamu nyerah?". Putri menggelengkan kepala, "Aku bosen, bukan sekali dua kali kita punya masalah kayak gini, dimaafin tapi kejadian lagi".


"Iya iya aku tau, lagi-lagi aku ngelakuin kesalahan".


"Terus? Setelah aku maafin diulangin lagi kan?".


"Aku ngga sengaja bikin kamu marah atau cemburu sayang, aku harus gimana?".


"Gimana coba? Kamu aja ngga jelasin ke aku kenapa kemarin kamu gak bales chat atau angkat telfon aku? Kamu kan tau aku orangnya overthinking".


"Hmm itu ya, aku gak sempet pegang HP, dirumah oma aku bantuin om sama tante dikebun teh, abis itu langsung pulang kesini. Tadinya mau jelasin ke kamu pas dirumah, tapi kamu ngehindarin aku".


"Kamu berduaan mulu sama Tahta". Sambung Raja


"Terus kamu bales dengan berduaan sama Gisel?".


"Ya ampun ngga gitu sayang". Putri terdiam


"Udah ya jangan marah lagi, aku sedih kita kayak gini. Aku kangen kamu, pengen peluk kamu, cium kamu, bobo sama kamu".


Putri menatap lekat kedua mata Raja, Sejujurnya ia pun merasakan hal yang sama, ia sangat merindukan sosok lelaki tampan dihadapannya ini. Bagaimana pun juga Putri sangat mencintai Raja dan ia tahu betul kalau Raja memang tidak pernah berniat ataupun sengaja memberikan masalah untuk hubungan mereka


"Maafin aku ya?". Putri mengangguk, "Aku maafin". Raja menyunggingkan senyuman termanisnya usai mendengar jawaban Putri. Ia pun segera memeluk erat gadis mungil kesayangannya itu, begitu pun dengan Putri yang memeluk erat tubuh Raja


"Ke kamar yuk". Putri mengangguk, Raja segera menggendong Putri seperti koala dan membawa Putri menuju kamarnya untuk menyalurkan rasa rindu diantara mereka

__ADS_1


---


 


__ADS_2