
"Sayang, boleh minta tolong ngga?". Pinta Tahta sambil menyentuh tangan Putri, membuat Putri yang sedang bersandar pada bahunya menoleh menatapnya
"Kenapa? Anterin pipis?". Tanya Putri
"Pipis mulu yang kamu tanyain".
"Hahaha aku suka nganterin kamu pipis, aku bisa modus".
"Dasar, nakal banget tangannya. Aku minta tolong ambilin laptop sayangku".
"Oh hehe, sebentar".
Setelah mengambil laptop milik Tahta, Putri kembali menaiki tempat tidur
"Besok bang Dewa jadi kesini kan?". Tanya Tahta
"Jadi. Tapi kakak yakin mau ke kampus?". Tanya Putri
"Yakin sayang, gapapa kok kan cuma sebentar".
"Ajak kak Aris ya? Biar kak Aris yang dorong kursi roda kakak". Ucap Putri
"Ngga usah, bang Dewa aja".
"Yaudah, nanti aku siapin apa yang mau dibawa".
"Makasih istriku".
"Sama-sama, sayang".
---
Pukul empat sore, setelah membantu Tahta mandi, Putri turun kebawah membuat susu hangat untuk Tahta. Dari dapur, Putri seperti mendengar suara motor sport yang cukup kencang di depan rumahnya
Putri mempercepat adukan susunya, setelah itu berjalan menuju jendela panjang yang ada di sisi kiri pintu utama
"Kak Raja? Tumben naik motor?"
"Oh iya mobilnya kan hancur"
"Tapi kak Raja mau ngapain ya kesini? Kayaknya ngga ngabarin?"
Putri masih di posisinya, memperhatikan Raja yang sedang berjalan memasuki gerbang rumahnya. Putri sempat berfikir sejenak, kalau ia ingat-ingat, sudah berhari-hari ia tidak melihat kembali sosok Raja setelah membawa Tahta pulang dari rumah sakit. Raja nampak sudah pulih dan sehat seperti sedia kala
"Andai kak Tahta ngga lumpuh, pasti udah sembuh kayak kak Raja"
Tingnong, bel pada pintu utama berbunyi
Putri sedikit bergeser dan membukakan pintu untuk Raja
"Hai". Sapa Raja sambil tersenyum
"Hai kak, ayo masuk".
Raja mengangguk dan mengikuti langkah Putri menuju dapur
"Lagi bikin susu?". Tanya Raja memperhatikan segelas susu vanilla di dalam gelas
"Iya, buat kak Tahta. Kakak mau minum apa?".
"Ngga usah, aku kesini cuma mau jenguk Tahta, kata Dewa, Tahta udah sadar ya?".
"Iya kak. Yaudah ayo ke kamar, kak Tahta lagi nonton TV".
"Maaf ya ngga ngabarin dulu mau kesini, aku ganggu kamu ya?".
"Engga kok, aku juga ngga ngapa-ngapain..."
__ADS_1
"Oh iya keliatannya kakak udah sembuh ya? Syukur lah udah sehat, udah bisa jalan".
"Iya, udah sembuh". Ucap Raja mengangguk sambil tersenyum
"Sejujurnya aku masih marah karna perbuatan kakak ke kak Tahta, tapi aku menghargai kakak karna udah mau jenguk kak Tahta"
Putri membawa Raja menuju kamarnya untuk menemui Tahta. Baru memasuki pintu, Tahta menatap sengit kearah Raja,
"Ngapain lu kesini?". Tanya Tahta saat Raja berjalan kearahnya
"Sayang, kok ngomongnya gitu? Kak Raja mau jenguk kamu". Ucap Putri sambil menyentuh bahu Tahta
Raja tersenyum nanar mendengar Putri memanggil Tahta dengan sebutan 'sayang', panggilan yang sangat ia rindukan yang keluar dari mulut Putri saat mereka masih menjalin hubungan
Dan kini panggilan itu resmi di dapatkan oleh adiknya. Sungguh hati kecil Raja masih tidak menerima hubungan mereka
"Kamu bilang dia mau jenguk aku?Waktu aku dirumah sakit dia sama sekali ngga peduli sama aku kan, kenapa sekarang tiba-tiba sok peduli?". Ucap Tahta
"Jangan gitu-"
"Gapapa Put. Tahta pasti marah sama aku karna udah bikin dia kayak gini". Ucap Raja, membuat Tahta tertawa kecil
"Kalo posisinya dibalik, lu marah ngga? Lu cuma bisa duduk, berbaring, jadi beban buat istri lu, nyusahin istri lu karna lumpuh akibat ulah orang yang obsesi pengen dapetin sesuatu". Ucap Tahta
"Obsesi? Lu bilang gue obsesi?". Tanya Raja
"Iya, lu ngga terima Putri jadi istri gue makanya lu bikin gue kayak gini, dan lu berharap Putri ninggalin gue karna kondisi gue sekarang ini kan? Segitunya pengen dapetin Putri".
"Iya, lu bener. Gue emang berharap Putri ninggalin lu, tapi bikin lu kayak gini karna gue pengen bales perbuatan lu yang udah berani ngerebut calon istri gue".
"Haha, keliatan siapa yang lebih busuk". Ucap Tahta,
"Udah, udah, jangan ribut". Ucap Putri sambil mengusap lengan Tahta, meminta Tahta untuk mengontrol emosinya
"Puas udah bikin gue kayak gini? Kalo belum, tunggu gue sembuh dan gue siap kalo lu mau ribut lagi". Ucap Tahta
"Ck, siapa yang sudi punya kakak dia". Ucap Tahta
"Lu pikir gue sudi punya adik tukang nikung?". Ucap Raja
Putri menarik nafas dalam, matanya bergantian melirik kakak adik yang sedang berselisih di depan matanya
"Udah!". Jerit Putri
"Maaf kak, kak Raja lebih baik pulang ya, kak Tahta mau istirahat". Ucap Putri pada Raja dengan tatapan memohon
Raja mengangguk paham, sepertinya ia harus menyudahi perselisihannya dengan Tahta, ia tidak mau tersulut emosi dan membuat Putri kembali membencinya
"Yaudah aku pulang Put..."
"Oh iya, lusa hari kelulusan aku, aku harap kamu sama Tahta bisa dateng ke kampus". Ucap Raja
"Ngga penting". Ucap Tahta
Putri menghela nafas dalam
"Aku usahain kak". Ucap Putri diangguki oleh Raja
Tanpa mengucap apapun lagi, Raja melenggang keluar dari kamar Putri. Tatapan Putri beralih pada Tahta yang sedang memandang ke sembarang arah
"Heh ganteng?". Ucap Putri sambil menangkup wajah Tahta kearahnya
"Maksunya apa bilang kamu beban buat aku? Nyusahin aku?". Tanya Putri
"Emang bener kan, sekarang aku ngga bisa ngapa-ngapain, aku ngga berguna, semuanya minta tolong sama kamu. Bener dong aku cuma beban, nyusahin kamu".
"Ngga ada yang ngomong gitu kak".
__ADS_1
"Tapi nyatanya emang gitu".
"Ck, aku ngga suka kakak mikir kayak gitu. Kita sama sama bukan baru setahun dua tahun kak, tapi dari kecil, kalo kakak sakit siapa yang rawat kakak? Aku kan. Apa aku pernah bilang kakak beban? Atau aku ngeluh waktu ngerawat kakak? Engga kan?..."
"Buktinya aku rawat kakak sampe sembuh meski cuma demam. Harusnya kakak tau, kak Tahta itu kakak yang paling aku sayang, segitu pedulinya loh aku sama kakak. Kalo kak Raja atau kak Dewa yang sakit, jangan kan ngerawat, deketin mereka aja aku takut". Ucap Putri
Suasana kamar seketika hening saat Putri menyudahi ucapannya. Putri yang masih berdiri didepan Tahta, menatap Tahta yang hanya terdiam seperti sedang merenung, Tahta tidak menjawab ucapannya
"Aku kurang tulus apa lagi sih sampe kakak mikir kayak-"
"Iya, sayang, iya. Udah ya". Ucap Tahta sambil meraih tangan Putri dengan cepat
"Maafin aku udah mikir kayak gitu. Jujur kondisi aku yang sekarang bikin aku ngerasa rendah sebagai suami, aku ngerasa ngga berguna buat kamu". Ucap Tahta
"Kata siapa? Kamu tetep suami aku yang paling sempurna, mau gimana pun kondisi kamu". Ucap Putri
"Apaan sih, belajar dari mana bisa ngomong manis gitu". Ucap Tahta menyunggingkan senyumannya
"Dari kamu, si mulut manis hehe..."
"Udah ya, jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Aku ini istri kamu kak, kalo bukan aku yang rawat kamu, siapa lagi? Kamu bukan beban buat aku".
"Iya, maafin aku, sayang". Ucap Tahta sambil mencium tangan Putri
"Kamu mau jalan-jalan keluar ngga? Nanti aku minta kak Aris buat gendong kamu turun, biar kamu ngga suntuk di kamar terus". Ucap Putri
"Iya, mau". Ucap Tahta diangguki oleh Putri sambil tersenyum
---
Pukul sepuluh malam, setelah membantu Tahta meminum obat dan menemaninya tidur sampai terlelap, Putri bangun dari ranjang, membuka ponselnya dan mengirim pesan singkat untuk Dewa
"Kak, udah bobo?"
"Belum sayang, masih diruang kerja. Kakak baru mau chat kamu loh, eh udah keduluan hehe".
"Emang ada apa kak?".
"Mau nanya keadaan Tahta, gimana sekarang? Tadi terapi ngga?"
"Iya, tadi sore terapi. Tapi belum ada perubahan kak, kakinya masih mati rasa"
"Yaudah sabar, butuh proses buat sembuh"
"Iya kak, eum, besok pagi kakak jadi kesini kan?"
"Jadi, besok sekalian kakak anter kamu ke kantor ya"
"Ngga usah kak, kan ngga searah, aku naik taksi aja"
"Jangan, kakak anterin kamu dulu, setelah itu nemenin Tahta ke kampus, ok?"
"Hmm, yaudah hehe makasih ya kak"
"Sama-sama sayang, yaudah bobo gih, udah malem"
"Ok, good nite kak"
"Good nite"
Setelah menaruh ponselnya, Putri sedikit menoleh ke belakang, menatap Tahta yang sedang tertidur pulas. Dipandangi wajah tampan suaminya itu dengan seksama
"Sebentar lagi kamu juga wisuda, semoga cepat sembuh ya, sayang".
"I love you". Ucap Putri sambil mengecup lembut kening Tahta
---
__ADS_1
Maaf baru update, sibuk guys. Jadi hari ini aku update dua chapter ya, jangan lupa klik jempolnyaš£