
Pagi ini Xana bangun lebih pagi daripada teman sekamarnya,Lea. Ia tidak mau berdebat bahkan soal mandi duluan dengannya. Setelah mandi Xana mulai mengeringkan rambutnya. Lea terbangun karena suara pengering rambut Xana. Xana berpikir mungkin Lea akan mengoceh lagi karena pengeringnya berisik hingga membangunkannya.
"Kau tidak membangunkan ku?" tanya Lea.
"Bukankah biasanya kamu bangun sendiri,Nona?" Xana dengan nada mengejek.
"Aku akan mandi," Lea bangun setengah sadar dari tidurnya.
"Aku merasa ia sedikit berbeda hari ini" Xana kemudian mengikat separuh rambutnya.
Triiiiingggg....Triiiiinnggggg....
Telepon Lea berbunyi.
"Lea,Hp mu berdering!!" Teriak Xana.
"Dari siapa?"tanya Lea yang terdengar mematikan Kran.
"Daddy?" itu tulisan yang Xana lihat.
"Ouh,angkat dan bilang sebentar,aku akan memakai handukku,"ucap Lea.
"Halo,.."Xana baru saja ingin berbicara tapi orang yang di telpon sudah mendahuluinya.
"Lea!!!!"Suara pria dengan nada lantang.
"Ini bukan Lea,temannya.Lea sedang mandi,sebentar lagi ia selesai.Menyuruh anda menunggu,"Xana berbicara santai.
"....." terdiam.
"Apa dia tidak berkata 'terimakasih' atau baiklah gitu?"dalam hati Xana yang dalam.
Lea keluar dengan handuk melilit tubuhnya.Ia tampak begitu seksi dengan handuk yang ia pakai.
"kemarikan,"tumben dia ga membentak.
"Halo,Daddy.."Lea tampak sedikit cemas.
"Lea!!Aku ingin tahu kenapa kau menghambur-hamburkan Uangmu sampai milyaran dalam sehari?!Kenapa kau begitu boros dengan uang jajan tahunanmu?!"Suara pria itu lantang sekali.
"eum,jadi gini..."Lea menatap Xana,tetapi Xana sibuk dengan make up nya.
"Kemarin aku menraktir temanku,Dad."Lea sedih.
"pffttt astaga,dia menghabiskan uang semilyar dalam sehari saja kena marah," tawa kecil Xana dalam hati.
"Sorry,......Okay......Yeah.....Bye Daddy,"Lea menutip Telepon.
"Hufftt sial sekali,"Lea tampak kebingungan lalu mengambil baju nya.
"Kau di skors?" tanya Xana dengan berani.
"Apa kau pernah?" tanya Lea balik.
"Iya,tapi dulu jika aku menghilangkan uang,bukan membelanjakannya,"Xanna berbohong.
"Ouh...Sial sekali tidak bisa jajan seminggu,"Lea kesal dan Sedih.
__ADS_1
"Tenang,Aku akan membagi makananku dengan mu,Lea."Xana sombong dan memakai sepatunya.
"Thanks,"ucap Lea sambil mengangkat alisnya.
Loh?dia ga nolak?Tumben banget sih,tapi yasudahlah.
Xana pergi ke sekolah dan memasuki kelas paginya.Xana senang dengan sekolahnya kali ini meski harus bertemu dengan Lea yang begitu fanatik.
Lea memasuki kelas. Namun kali ini ada yang berbeda. Xana ngantuk dan tidur dikelas dalam posisi duduk tidak menyenderkan kepalanya ke manapun. Lea yang biasanya duduk di depan pindah di dekat Xana dan ikut tidur di samping Xana. Justru Lea menyenderkan kepalanya ke bahu Xana.
"Apa kau tidak lihat?Xana mendekati Nona Lea,"bisik kawan-kawan lain.
"Gila sih,kenapa mereka jadi akrab?"timbal temannya yang lain.
Tiba-tiba datanglah ketiga cewek teman Lea.Mereka mencari Lea ke tempat Xana. Mereka lalu melihat Lea tidur dengan Xana. Mereka tampak akur.
"what?! kenapa jadi begini?!"tanya teman yang lain.
"I-itu Lea kita kan??"timbal lagi seorang rambut pendek di antara mereka.
"Kenapa Lea?..."mereka tampak kebingungan.
"Sudah begini apa kita akan membangun kan Xana juga?" tanya Si rambut pendek.
"Menurutmu,Lea marah gak?"tanya si rambut bergelombang.
"Ya nggak lah!" si rambut keriting dan kulit hitam mendekati Xana dan menggebrak mejanya.
BRRAAAKKKK!!!
Xana terbangun,begitu juga dengan Lea.Xana terkejut melihat Lea sudah ada di sampingnya.
"Woi,Oliv!Berisik!!"Bentak Lea.
"Kalau mau aku akan berikan tempat dudukku,penjilat!"bentak Xana.
"Ga ah,males,"Lea membalasnya dan Menyender lagi pada Xana.
"Kenapa dengan si kerbau ini?" Xana heran dengan sikap Lea.
"Hei,Xana.Bagaimana kabar adikmu?"Lea berbicara dengan mata tertutup.
"Oh,dia masih belum kasih kabar."Jawab Xana sambil membenarkan duduknya lalu tidur.
"Kabari aku,ya jika dia sudah melahirkan,"Lea kembali bicara tanpa membuka matanya.
"Kau menyukai anak-anak ya?Akan kukabari,"Xana pun begitu,ia bicara tanpa membuka matanya.
"Sekarang,apa mereka berteman?!"Tanya si rambut gelombang.
"Woi,Henna aku akan membunuhmu kalau berteriak lagi" ujar Lea.
Seketika kelas sunyi. Tentu saja Xana dan Lea tertidur dengan pulasnya. Bahkan guru pun tidak berkutik,sama seperti Xana masih SMP.
Kelas berjalan dengan sunyi. Xana dan Lea baru terbangun saat pelajaran olahraga. Semua siswa keluar kelas. Mereka membicarakan sesuatu di dalam kelas yang sepi.
"Hei,ceritakan lebih jelas padaku,kenapa adikmu bisa hamil,dimana ayahnya?"tanya Lea sambil meminum es bobanya.
__ADS_1
"Adikku ya,lebih tepatnya dia bukan adikku tetapi aku mengangkatnya jadi adikku,dia baru kupungut beberapa minggu ke rumahku dan menjadikannya pelayan,"Xana bercerita sambik duduk di atas meja. Xana meminum Es Bobanya.
"Ia masih begitu polos,dia bisa begini karena keteledoranku,"Xana melihat ke jendela arah luar.
"Haaah~ sejak kecil aku justru ingin punya anak bayi,bukan berarti aku ingin menikah,tetapi di mataku,seorang anak bayi begitu berharga. Aku selalu ingin mengasuh dan membesarkan seorang bayi seperti anakku,dan menjadikannnya sukses!" Lea meminuk es nya.
"Wah,kau memang menyukai anak-anak,"Xana memuji keinginan Lea.
Xana pernah berpikir demikian,tetapi yang membuat pikirannya berubah ialah ayah dan ibunya.Mereka pasti akan ikut campur penuh dalam pengasuhan anak.Padahal Xana ingin mengurus anak itu hanya seorang diri.
"Kita jajan ke kantin aja,yuk!"Ajak Lea.
"Belum jam istirahat,"Jelas Xana.
"Gapapa,kan jam olahraga."bujuk Lea sambil menyeringai padaku.dia tampak manis jika begitu.
"yaudah,"Xana berpikir ia lah yang akan menraktir Lea.
"pesan yang kau mau aku aku akan bayari,"Ujar Xana.
"Haha~ baik,"Lea mengambil makanan murah seperti sayuran.
"Apa dia sedang rendah hati?" Xana kebingungan.
Xana kemudian menambahi piring Lea dengan daging-daging mahal. Lea menolak,tetapi Xana mengambil juga untuknya dan berkata bahwa itu akan adil. Mereka pun membawa makanan mereka ke meja.
"Hei,Kau jajan berapa sebulan?"Tanya Lea.
Lea ingat kemarin ia berpikir buruk tentang Xana dengan berpikir bahwa Xana menghabiskan uang jajannya yang sedikit dalam sekali makan.
"Kenapa bertanya?" Xana menatap tajam Lea.
"Ya,gapapa sih,mau tau aja," Lea tersenyum lebar pada Xana.
"450 juta,"Xana membalas senyum Lea dengan manis.
"What?! serius??"Lea kaget hingga terpelongo.
"Gila,emang kenapa kok bisa banya banget,kamu orang kaya?"Lea kembali mengoceh.
"Ngga,aku juga punya bisnis online,"ujar Xana sambil menyantap makanannya.
"Gila sih,lebih gede dariku. jadi pengen buka toko online juga,deh."Lea menyantap lobsternya.
"Lumayan,nambah uang saku."lanjutnya.
Tidak terasa rupanya sudah jam istirahat.Mereka baru selesai makan dan Xana membayarnya. Para siswa lain baru berdatangan ke kantin. Terlihat dari jauh ketiga teman Lea sudah menunjuk-nunjuk Lea.
"Lihat,para penjilat itu akan mengajakku makan dan mentraktir mereka,"Lea sedikit kesal dan mengejek mereka.
"Lewatin aja,"saran Xana sambil melangkah kaki ke arah mereka,dekat pintu.
"Hei,Lea.Kita makan,yuk."Ajak si Henna.
Lea tidak menjawab dan melewatinya bersama Xana. Siapa sangka Lea akan menuruti saran Xana. Apa Lea sudah tobat?
--Bersambung
__ADS_1
PERHATIAN!!!
Ayo!! Dukung Author dengan Like,Favorite,Vote dan komen seputar cerita ini(≧▽≦)