Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Bab 51 Menuju Ujian Kelulusan


__ADS_3

3 hari lagi adalah hari Xana akan melalui ujian kelulusan. Ia mulai menghabiskan masa SMA nya dengan Lea penuh kebahagiaan dan suka cita.


Setelah sekian lama, baru kali ini ia memiliki sahabat karib seperti Lea. Menurutnya, Lea sangat pantas dijadikan sahabat yang baik, meski suka ceplas ceplos kalau ngomong tapi Lea adalah tipe bandel berperasaan dan memiliki empati besar. Bahkan, Lea juga bisa dewasa dengan sikap keluarganya padanya.


Keluarga Lea, benar Keluarganya yang cukup tersohor dengan sosialita yang kurang baik. Keluarga nya amat tertutup rapat pada media publik. Lea bercerita sendiri, bahwa Lea hanya anak selir dan paling bungsu dari 17 saudara/i.


Ada kakaknya yang sudah menikah ada pula yang sedang kuliah. Lea menjadi dikucilkan setelah Ibunya meninggal akibat sakit parah. Ibu nya yang dikenal paling cantik di antara Ibu lain itu sangat di benci oleh selir lain di keluarganya.


Lea pun menjadi sasaran balas dendam mereka. Ayah Lea yang dulunya begitu sayang dan perhatian, sedikit demi sedikit memudar. Bahkan lupa dengan hari ulang tahun Lea ataupun hari kematian Ibunya.


Tetapi Lea sama sekali tak peduli dan memilih hidup dengan caranya sendiri. Apa lagi selama ini Uang dari ayahnya besar, tidak pernah terpotong dan selalu lebih dari cukup.


Kenakalan Lea selama ini, sebenarnya hanyalah untuk menarik perhatian dari Ayahnya. Meski kadang sedikit, Lea akan membanggakan dan senang sekali pada Xana.


Lea sendiri tidak menyangka akan menemukan sahabat terbaik dan pengertian seperti Xana di Asrama ini. Padahal, Lea sendiri sengaja di sekolahkan di situ karena Ibu tiri nya ingin menjauhkannya dari keluarganya.


Keinginan Lea hanya satu, ia ingin kembali di sayang Ayahnya meski hanya sehari.


Ia rindu belaian Ayahnya dan lagu tidur ayahnya. Ia rindu hadiah pada setiap hari ulang tahunnya. Ia sangat rindu pelukan Hangat Ayahnya. Ia sangat ingin bersama dengan Ayahnya meski hanya sehari saja, SEHARI SAJA.


------------------------------------------------------------


Siang yang cerah di 2 haru menjelang Ujian. Xana dan Lea pergi jalan-jalan kemana saja mereka inginkan. Malamnya, Xana biasa bermain dengan Leon di tempat mewah yang pastinya menyenangkan.


Apalagi besok adalah hari Leon akan kembali sekolah ke inggris karena tanggal ujiannya di undur.


"Beneran deh, ujian gini doang pake nyusahin segala!" Dumel Xana dengan wajah cemberut.


"Euluh euluh nyonya cemberut lagi, ujian kan cuma berapa hari, toh abis itu juga kita punya banyak waktu" Leon menasehati Xana.


"Banyak sih, tapi ketiga Kakakku tuh ga bisa ditoleransi!" Xana kembali cemberut.


'deh ni bocah, abis makan apa sih seharian mukanya cemberut gitu? Gara-gara ujian yang makin dekat? Grogian amat!' batin Leon mengolok Xana.


"Ah! Aku punya ide!" Tiba-tiba Wajah Xana berubah menjadi cerah dan ceria.

__ADS_1


"Hah? Cepat banget berubah moodnya? Ide apa?" Leon bertanya-tanya.


"Kita jajan aja dari pada sedih terus,ya? Mau kan?!" Ajak Xana dengan wajah penuh harapan.


"I-Iya...."


'perasaan dari tadi yang sedih tuh dia deh. Ngapain jadi aku?' Leon bingung.


Di sisi lain, Sebuah Villa besar di London dengan Ketiga Kakak Xana yang giat belajar mempersiapkan Ujian mata kuliah mereka. Apalagi Kak Sean, ini adalah Ujian kelulusannya setelah sekian lama Kuliah.


"Arrrggghhhh aku ga kuat! Otakku pusing! Lagian kan kita tetep bakalan lulus nanti,kak!" Keluh Kak Petra di tengah keheningan.


Mereka belajar di ruang Tamu yang besar agar bisa mengetahui mereka memang benar-benar belajar.


"Ga mau di ejek Xana kan? Yaudah belajar!" Kak Albert ketus.


"Aahhh!!! Aku kan masih baru-baru banget kuliah dari kalian! Apalagi kita jurusan yang sama! Kasih kek bocoran dikit," pinta Kak Petra dengan nada kesal.


"Nih, bilang kek kalau mau" Kak Albert memberikan setumpuk kertas rumus.


"S-S*al......" Kak Petra geram. Kalau saja dia tidak bertanya, pasti kedua kakaknya tidak akan memberikan rumus penting itu.


"Kau kan ga nanya, yaudah sana lanjutin, DEK." Sengaja Albert menambah kata itu dibelakang bicaranya seolah mengejek Petra.


"Arrggghhhh seandainya Xana tahu sifat kalian yang kayak monster gini, ga bakal dia mau sama kalian!" Kak Petra menggaruk kepala. Ia pun merasakan hawa mencekam di sekelilingnya, ia mendongak dan melihat kedua kakaknya sudah menatap tajam padanya.


"Apa itu ancaman?" Kak Sean bertanya dengan nada datar bagai ingin memakan buas mangsanya.


"Haha, Eng-Enggak kok! Kan seandainya, hahaha.... Xana juga ga bakal percaya pada Kakak sepertiku, haha...." Suara Kak Petra penuh tekanan batin.


Mereka pun melanjutkan tugas mereka.


-------------------------------------------------


Sehari menuju Ujian! Xana dan Lea membaca buku bersama di perpustakaan besar sebagai bentuk usaha. Mereka membaca buku yang berbeda, tetapi sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.

__ADS_1


Leon sudah pulang ke Inggris, Xana menjadi sepi ketika malam.


"Hufftt.... Kenapa aku gugup sih? Biasanya juga nggak" Xana menggumam.


"Esra sudah tidur.... Jadi ga bisa mainin pipinya, huh!" Xana menjadi kesal.


"Dari pada mikirin apa yang ga penting lebih aku makan aja! Mumpung pengen!" Xana pun menemukan ide untuk keluar dari kebosanannya.


Di sisi lain lagi, Kak Petra tertidur lebih cepat karena terus-terusan belajar seharian suntuk. Ia menjadi lelah dan mudah mengantuk.


"Dasar! Ga terbiasa dari kecil ya gitu Kak! Jadi manja!" Kak Albert mencemooh Kak Petra.


"Biarin, jangan dibangunin.... Abis kita belajar nanti aja dibangunin suruh masuk kamar." Kak Sean menyelimuti Kak Petra yang tidur melintang di sofa.


"Nanti juga pas udah tambah semester kuliah dia bakal terbiasa." Ucap Kak Sean.


"Yeah, benar kata orang kalau kita bakal didewasakan oleh keadaan." Kak Albert menyeruput kopi latte nya.


"Makanya disuruh kuliah dengan jurusan tinggi, supaya kita terbiasa dengan kehidupan kita yang sudah gini, dodol" Kak Sean duduk dan menyalakan TV.


[ Lah kok nyalain TV? Dia nonton video penjelasan rumus kak:) ]


"Dodol??????" Baru kali ini Kak Albert mendengar ledekan itu dari Kak Sean secara mereka sesama pendiam.


Malam yang dingin dan sepi itu, memiliki dua sisi yang tidak bisa dinikmati bersama.


Jika di tempat Xana pemandangan malam dihiasi langit yang bertebar seribu bintang dengan hawa angin musim panas yang sejuk di malam hari.


Berbanding balik pada Ketiga Kakaknya, Malam mereka dihiasi dengan langit berkabut karena musim dingin dan hawa yang dingin di luar sana. Tapi mereka berhasil menghangatkan diri dengan pemanas ruangan.


"Hidup itu indah selagi kamu menjalaninya dengan ikhlas dan bersyukur, setiap awal selalu sulit tapi tidak dengan seterusnya:)"


- Bersambung


Waduh, Authornya malah curhat:')

__ADS_1


Akhir-akhir ini ngerasa ga baik-baik aja sama diri sendiri. But i'm fine, ga boleh ganggu kerjaan ya readers;)


Stay safe dan sehat selalu ><


__ADS_2