Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Siuman


__ADS_3

"Makasih ya udah mau kesini". Ucap Raja


"Hmm".


"Duduk".


Putri mengangguk, ia segera mendudukkan bokongnya dikursi sebelah Raja


Putri menatap Raja sejenak sebelum beralih menatap kakinya yang diperban


"Soal tadi pagi, aku minta maaf ya udah dorong kakak, pasti kaki kakak makin sakit". Ucap Putri


Raja tersenyum mendengar Putri kembali memanggilnya dengan sebutan 'kakak'. Ia menduga sepertinya Putri memang sudah tidak mencintainya lagi dan akan kembali menganggapnya seorang kakak


"Iya, makin sakit".


"Hmm, maaf kak, aku kebawa emosi".


"Gapapa, aku ngerti kenapa kamu marah begitu, Tahta kan suami kamu".


"Suami atau bukan, kak Tahta itu kakak yang paling dekat sama aku, aku sedih kalo kak Tahta sakit..."


"Apalagi kondisinya yang sekarang, bikin aku hancur karna ini pertama kalinya kak Tahta separah ini. Dan sedihnya, kak Tahta kayak gitu karna balapan sama kak Raja". Ucap Putri


"Iya aku paham, aku minta maaf udah bikin Tahta kayak gini. Niat aku cuma mau kasih dia pelajaran karna dia udah rebut kamu dari aku..."


"Tapi cara aku salah, aku celakain adik aku sendiri". Ucap Raja


"Minta maafnya sama kak Tahta, bukan sama aku". Ucap Putri sambil tersenyum


"Hehe iya, iya. Nanti aku minta maaf kalo dia udah sadar..."


"Eum, jujur Put, ada yang pengen aku omongin sama kamu. Soalnya kita belum ngobrol berdua sejak ayah jujur soal pernikahan kamu sama Tahta waktu itu". Ucap Raja


"Omongin aja, mungkin masih ada yang pengen kakak tau?". Ucap Putri


"Iya, soal pernikahan kalian, kamu pasti tau gimana hancurnya aku. Apa aku boleh bilang kalo disini aku yang paling sakit hati? Aku dibohongin, aku dihianatin, di belakang aku, pacar aku nikah sama adik aku sendiri..."


"Dan semua orang ngebantu buat nutupin pernikahan itu dengan alasan ngga mau sampai ngeganggu kelulusan aku. Menurut kamu alasan itu masuk akal ngga?". Tanya Raja


"Hmm, masuk akal. Kan kita semua ngga mau kakak kepikiran soal itu. Ya, biar kakak fokus sama tugas dan kelulusan kakak". Jawab Putri


"Haha, gitu ya? Pacar aku, yang udah janji mau nikah sama aku, tiba-tiba nikah sama adik aku? Dan aku ngga tau apa-apa karna alasan konyol itu..."


"Kalo sampai sekarang aku ngga tau, kalian akan ngasih tau kapan? Setelah kelulusan aku? Biar aman? Atau dihari pernikahan kita, biar dramatis?..."


"Harusnya, apapun yang terjadi antara kamu sama Tahta, kasih tau aku, ngga usah pake alasan apapun, aku bukan mahasiswa baru yang gampang ke ganggu dan ngga fokus sama tugas..."


"Kamu tau kan pentingnya kamu di hidup aku Put? Dan sesuatu yang penting itu udah jadi milik orang lain. Kalo boleh jujur, rasanya masih berat buat aku nerima ini..."


"Ngeliat orang yang aku cinta jadi istri adik aku sendiri". Ucap Raja dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Bener kan, kak Raja masih ngga terima". Batin Putri sambil menghela nafas


Putri terdiam, ada rasa sedih dan bersalah mendengar penuturan Raja, ia sadar dan ia akui kalau dirinya memang jahat dan keterlaluan


"Aku ngga tau mau ngomong apalagi selain maaf karna udah bohongin kakak". Ucap Putri


"Ada rasa bersalah udah bohongin aku?". Tanya Raja


"Iya, setiap hari, setiap waktu rasa bersalah aku semakin besar, setiap ngeliat kakak, aku ngerasa ngga tega. Tapi aku juga ngga bisa jujur soal pernikahan aku". Ucap Putri


"Karna alasan konyol itu kan? Siapa sih yang bilang kayak gitu? Dewa?". Tanya Raja


"Iya, kak Dewa". Jawab Putri bersuara pelan


"Dan soal pernikahan itu, aku sama kak Tahta ngga bisa lakuin apa-apa selain setuju". Sambung Putri


"Iya aku tau, aku juga ngga mungkin tega ngeliat kamu dihukum cambuk, jadi mungkin lebih baik menikah-" Raja menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya


"Aku cuma ngerasa kecewa, apa harus dengan cara ini Tuhan nunjukkin kalo kamu bukan jodoh aku? Padahal sebelumnya hubungan kita baik-baik aja..."


"Mungkin kalo waktu itu aku ngga izinin kamu pergi sama Tahta, kamu masih jadi milik aku. Apa ini udah takdir aku ya?". Ucap Raja


Putri tersenyum nanar, hatinya semakin tidak tega menatap Raja yang sedang melihat langit-langit ruangannya dengan raut wajah yang terlihat sedih

__ADS_1


"Berarti bener dugaan aku waktu itu? Kamu berubah, kamu jaga jarak dari aku, ngga pernah semangat lagi tiap bahas pernikahan kita, dan...kenapa aku baru sadar, akhir-akhir ini kamu jarang tidur dirumah, Tahta pun sama..."


"Ternyata kalian tidur dirumah ayah? Dan alasan Tahta kerja, karna dia mau cukupin kebutuhan kamu sebagai istrinya. Jadi itu rahasia yang dimaksud Tahta? Hahaha bodoh banget aku Put". Ucap Raja tersenyum tipis


Putri mengangkat kedua tangannya untuk menggenggam tangan Raja, membuat Raja menoleh menatapnya


"Maafin aku kak, aku siap dibenci kakak, aku siap dimarahin kakak, gapapa, aku terima. Seseorang yang kecewa, sakit hati, berhak melampiaskan emosinya-"


"Tapi bukan ke kamu". Ucap Raja memotong ucapan Putri


"Aku yang terlalu lambat, harusnya dari awal aku jadiin kamu istri aku". Ucap Raja


"Hehe, tapi aku masih tetep adiknya kak Raja, aku tetep sayang sama kamu sebagai kakak, aku akan selalu ada buat kakak kalo kakak butuh aku, selama ngga melewati batas". Ucap Putri


Raja mengangguk sambil tersenyum


"Sebagai kakak? Ngga semudah itu buat aku Put".


"Put, ada Vano tuh". Ucap Dewa saat memasuki ruangan Raja


"Vano?- Loh kok kak Dewa kesini? Kak Tahta sendirian?". Tanya Putri


"Ada Vano sayang, dia mau jenguk Tahta". Jawab Dewa


"Hah? Yaudah kak, aku balik ke kamar kak Tahta ya". Ucap Putri pada Raja


"Iya, yaudah". Ucap Raja mengangguk


Dewa kembali duduk dikursi setelah Putri keluar dari ruangan Raja


"Gue ngga percaya tu bocah ingusan dateng buat jenguk Tahta, pasti modus lah". Ucap Raja dengan nada tidak suka


"Haha, kenapa lu yang sewot? Cemburu lu itu ngga ada gunanya, sadar diri". Ucap Dewa


"Kan ini semua gara-gara lu gue kehilangan Putri". Ucap Raja


"Iya, iya gue yang salah". Ucap Dewa tertawa kecil


"Ngga usah ketawa, mau gue tonjok?".


"Yaudah, tonjok gue kalo lu bisa angkat tangan lu".


Disisi lain, Putri menghampiri Vano yang sedang duduk di sofa seberang tempat tidur Tahta, terlihat Vano sedang mengamati Tahta dengan seksama


"Van? Gue beliin minum dulu ya?".


"Ngga usah Put, aku cuma sebentar kok..."


"Eum, maaf Put, suami kamu lagi tidur atau belum siuman?".


"Belum siuman Van. Doain ya biar cepet siuman, gue ngga tega liatnya. Ditambah kakinya juga lumpuh".


"Ya ampun, lumpuh? Kamu serius?".


"Iya, kata dokter lumpuh sementara, tapi bisa berbulan-bulan".


"Hmm, sabar ya Put. Aku ikut sedih. Aku doain yang terbaik buat suami kamu".


"Makasih Van. Oh iya, lu tau dari mana kalo kak Tahta dirawat disini? Perasaan gue ngga ngasih tau?".


"Tadi sore aku nanya ke pak Aksa hehe. Aku kesini sekalian mau ngasih ini buat kamu, ada buah-buahan, roti sama cemilan, dimakan ya". Ucap Vano sambil memberikan tote bag nya pada Putri


"Ih, jadi ngerepotin?".


"Engga Put. Aku sengaja beli buat kamu hehe..."


"Yaudah aku pamit ya. Besok kamu masuk?". Tanya Vano


"Masuk. Makasih ya Van udah jenguk kak Tahta".


"Iya sama-sama".


---


Beberapa hari kemudian

__ADS_1


Tahta mengerjapkan kedua matanya perlahan, ia pun juga mencoba menggerakan beberapa jari-jari tangannya. Ia merasa tubuhnya seperti hidup kembali


"Ugh". Putri menggeliat


Tahta menoleh perlahan kebawah, melirik istri kecilnya yang sedang tertidur sambil memeluk pinggangnya


Tahta menyunggingkan senyum tipisnya. Satu tangannya ia angkat untuk mengusap lembut kepala istrinya itu


"Eum...mimpi diusap...kak Tahta lagi". Gumam Putri tanpa membuka matanya, Tahta kembali tersenyum. Ia merasa gemas dengan istrinya yang berkata seolah sudah berulang kali memimpikan dirinya sedang mengusap kepalanya


"Bukan mimpi, ini beneran". Ucap Tahta bersuara pelan


"Hmm". Putri berdehem sambil mengangguk


"Hehehe". Tahta tertawa kecil, membuat Putri mengerjap sambil mendongak kearahnya


"Kakak?".


"Ya ampun! Kakak udah sadar?". Tanya Putri sambil bangun dari posisinya


"Iya istriku". Jawab Tahta tersenyum


"Aaaahh...aku seneng banget, akhirnya suamiku kembali". Ucap Putri memeluki Tahta


"Emang aku kemana?". Tanya Tahta


"Kamu ada, tapi kamu tidur berhari-hari, eum...berapa hari ya...lima hari". Jawab Putri


"Ah...pantesan rasanya kangen banget sama kamu, istri cantikku". Ucap Tahta


"Ih, baru bangun udah gombal".


"Haha- Eh? Sayang?". Tahta memanggil Putri saat ia menyadari sesuatu


"Kaki aku, kaki aku kenapa ngga bisa digerakin?".


"Eum, tunggu sebentar, aku panggil kak Aris dulu". Ucap Putri berlari keluar kamar mereka


"Aris? Siapa lagi itu?".


"Aargh ini kaki gue kenapa ngga bisa digerakin sih?!".


Tidak berselang lama, Putri kembali ke kamar bersama Aris, perawat yang ditugaskan untuk memantau kondisi Tahta


Disana Aris mengubah posisi Tahta menjadi duduk bersandar, setelah itu melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh dan luka-luka yang Tahta alami. Aris pun juga menjelaskan pada Tahta terkait kondisi kedua kakinya, setelah itu ia segera pamit dari kamar mereka


Tahta shock, ia berteriak seperti orang frustasi


"Kak, tenang, ini cuma sementara". Ucap Putri menenangkan Tahta


"Tetap aja, sekarang aku lumpuh, aku ngga bisa jalan Mput". Ucap Tahta


"Iya, tapi kakak harus sabar, nanti kakak bisa jalan lagi".


"Butuh berbulan-bulan, kamu denger kan kata perawat tadi? Bisa dua sampai tiga bulan aku lumpuh..."


"Aargghh!! Kenapa harus kayak gini sih!!". Tahta berteriak sambil memukul kedua kakinya berkali-kali


"Kak, udah kak". Putri memeluk Tahta agar tidak kembali memukul kakinya


"Kakak bisa sembuh lebih cepat kalo rutin terapi dan dapat perawatan yang bagus. Aku bakal rawat kakak sampe sembuh, sampe bisa jalan lagi".


Tahta terdiam, ia menatap Putri dengan tatapan keraguan, namun Putri membalasnya dengan tatapan keyakinan sambil mengangguk


"Kamu mau rawat kakak sampe sembuh?". Tanya Tahta


"Iya, kakak suami aku, ngga mungkin aku diem aja". Jawab Putri


"Janji kan ngga akan ninggalin kakak?".


"Ya ampun, kok nanyanya gitu? Aku ngga akan ninggalin kakak, aku akan rawat kakak sampe sembuh". Ucap Putri diakhiri dengan mencium tangan Tahta


---


Bersambung. Lanjut besok guys

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan hadiahnya kalau suka sama chapter ini. Tengkyuuu


 


__ADS_2