
"Mput istri gue, gue bebas dong ngelarang dia pergi sama siapa"
"Tapi gue udah siapin kejutan sama hadiah buat Putri, masa ngga lu izinin?"
"Udah lah batalin kejutannya, hadiahnya lu kasih aja ke anaknya langsung"
"Ck, lu dirumah ayah?"
"Hmm, nanti kasih ke gue hadiahnya, Mput udah tidur"
"Ngga percaya gue"
"Terserah"
Tahta tertawa terpingkal setelah Raja memutus sambungan telfonnya. Ia tahu kalau sang kakak sangat kesal padanya. Namun ia tidak peduli, ia harus melalukan ini untuk menjaga istrinya. Ia tidak mau Raja akan memanfaatkan keadaan jika Putri pergi bersamanya
Tahta menaruh ponselnya diatas meja dan keluar dari kamarnya untuk menghampiri Putri yang sedang berada didapur
"Bikin apa?". Tanya Tahta yang sudah berdiri disamping Putri
"Susu, kakak mau ngga?".
"Maunya susu kamu, boleh ngga?".
Puk, Putri menepuk pelan pipi Tahta
"Aduh ayaaang, atit tau". Ucap Tahta mengusap pipinya
"Lebay. Kalo ngomong tuh jangan sembarangan kak, ini dirumah ayah".
"Iya, iya...kita pulang ke apartment yuk sayang".
"Kapan?".
"Sekarang".
"Loh? Ibu masih pengen kita nginep disini kak. Kenapa tiba-tiba ngajak pulang?".
"Males aja, kayaknya Raja mau kesini".
"Ngapain?".
"Ketemu kamu lah".
"Haha, kakak udah ngelarang aku dinner sama kak Raja, sekarang ngajak aku pulang biar aku ngga ketemu kak Raja? Iya kah?...."
"Posesif banget sih suami akuuuuu". Ucap Putri mencubit pipi Tahta
"Kesel, masih aja nyari kesempatan buat ketemu kamu".
"Hehe, yaudah nanti kakak temenin aku kalo kak Raja beneran kesini. Tapi kasihan loh kak Raja, pasti sedih dinnernya batal".
"Ck, dah lah sana kalo mau dinner sama Raja. Pergi, ngga usah pulang sekalian".
Tahta berbalik dan melangkah menuju tangga. Putri yang menyadari kalau Tahta sedang marah, buru-buru menghampiri dan menahan tangan Tahta, membuat Tahta menghentikan langkahnya
"Kakak marah? Aku kan cuma ngga tega sama kak Raja, aku denger dari kak Dewa, kak Raja udah siapin kejutan buat aku. Udah pasti kak Raja sedih kan kalo dinner nya batal?..."
"Tapi bukan berarti aku mau dinner sama kak Raja, kak. Engga. Aku nurut sama kakak kok, aku ngga kemana-mana..."
"Jadi jangan marah ya kaaak, maafin akuuuu". Ucap Putri dengan tatapan memohon
Tahta terdiam sejenak, ia tatap wajah mungil istrinya yang terlihat sangat cantik di matanya. Sejujurnya ia hanya berpura-pura marah, namun Putri malah menganggapnya serius, dan tatapan istrinya saat ini seperti anak kecil yang sedang memohon meminta sesuatu, menggemaskan
"Kak? Kakak marah sama aku?". Tanya Putri sambil mengguncang lengan Tahta
"Duh, aku lemah ditatap kayak gitu. Gemes banget". Ucap Tahta mencubit hidung Putri
"Kakak ngga marah kok, cuma bercanda".
"Tapi mukanya serius banget..."
Ting nong, suara bel pada pintu utama
"Tuh, mantan calon suami udah dateng". Ucap Tahta
"Dih, rese. Aku buka pintu dulu". Ucap Putri sambil berjalan menuju pintu utama. Sementara Tahta melangkahkan kakinya menuju meja makan
Ia duduk disana sambil menatap kearah pintu utama, memperhatikan Putri yang sedang menyambut mantan kekasihnya yang tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri
Tahta menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Raja memeluk Putri dengan erat
Rasanya ia ingin melempar Raja dengan buah apel yang ada ditangannya. Namun ia harus bisa menahan rasa cemburunya
Putri membawa Raja menuju ruang keluarga, setelah itu Putri menuju dapur untuk membuatkan minuman dingin untuk Raja
__ADS_1
"Sayang, aku juga mau dong. Sekalian ya". Ucap Tahta sambil berjalan menghampiri Raja
Putri menatap Tahta dengan heran, apa suaminya itu sungguh-sungguh ingin bergabung dengan mereka?
Dua gelas minuman telah selesai dibuat, Putri segera kembali menuju ruang keluarga
Setelah Putri menaruh gelas itu diatas meja, Tahta meraih tangan Putri dan menuntunnya untuk duduk disebelahnya, berseberangan dengan Raja
"Jadi mana hadiahnya?". Tanya Tahta pada Raja
"Ck, gue kesini ngga ada urusan sama lu, tapi sama Putri". Ucap Raja
"Iya gue tau, tapi Mput ngga punya banyak waktu buat ngeladenin lu". Ucap Tahta
"Kaaak, jangan gitu". Ucap Putri
Tahta berdecak lalu memalingkan wajahnya
"Minum dulu kak". Ucap Putri menatap Raja, Raja pun mengangguk dan segera meneguk minumannya
"Oh iya, sebelumnya aku mau ngucapin selamat ulang tahun ya buat kamu, maaf aku ngga bisa ngasih apa-apa lagi selain hadiah..."
"Kan dinner sama kejutannya batal". Ucap Raja
"Gapapa kak, kak Raja ngga harus bikin kejutan kok, bisa inget ulang tahun aku aja, aku udah seneng". Ucap Putri sambil tersenyum
"Tuh, dengerin. Ngerasa ditampar nggak denger adik lu ngomong gitu?..."
"Kakak macam apa yang ngga pernah peduli sama ulang tahun adiknya". Ucap Tahta pada Raja
Raja mengusap kasar wajahnya. Ucapan Tahta ada benarnya, selama Putri berulang tahun, baru kali ini ia menyiapkan kejutan sampai hadiah. Padahal sejak dulu, hanya sekadar mengucapkan selamat pun tidak pernah Raja lakukan
"Maafin aku, aku emang bukan kakak yang baik". Ucap Raja dengan tatapan sendu
"Udah lah, buruan. Kalo mau ngasih hadiah ya kasih, Mput mau istirahat". Ucap Tahta
Raja mengangguk paham, ia segera memberikan tiga buah paper bag kepada Putri
"Semoga kamu suka sama semua hadiah dari aku. Sekali lagi aku minta maaf, karna sebelumnya aku ngga pernah peduli sama ulang tahun kamu".
"Gapapa kak, jangan dipikirin".
"Yaudah, aku pamit ya, maaf udah ganggu waktu kamu". Ucap Raja sambil bangun dari duduknya
"Engga kak, sama sekali ngga ganggu".
Putri mengantar Raja sampai pada mobilnya yang terparkir di depan rumah, meninggalkan Tahta yang masih duduk diruang keluarga
"Kak, maafin sikap kak Tahta tadi ya, aku ngga enak sama kakak". Ucap Putri
"Gapapa, wajar dia kayak gitu..."
"Dia ngga suka liat aku ada di deket kamu, makanya dia gak izinin kamu dinner sama aku kan, hehe". Ucap Raja
"Soal dinner aku minta maaf kak, karna aku harus nurut omongan kak Tahta".
"Iya, aku ngerti. Mungkin aku nya aja yang terlalu berharap dan terlalu semangat buat dinner sama kamu..."
"Sampai lupa kalo yang aku ajak dinner sekarang udah jadi istri orang, bukan milik aku lagi". Ucap Raja tersenyum nanar
Putri menghela nafas dalam, kepalanya masih mendongak menatap mata Raja yang sedikit berkaca-kaca. Putri sangat tahu kalau Raja belum bisa menerima kenyataan bahwa hubungan mereka memang sudah berakhir
"Kalo kak Raja bisa ikhlasin aku sama kak Tahta, aku yakin kak Tahta ngga akan kayak gini. Dan kalo kak Raja bisa anggap aku sebagai adiknya kak Raja lagi, pasti kak Tahta izinin kita dinner atau lakuin hal apapun sebatas kakak adik..."
"Kak Tahta kayak gini karna dia masih takut sama keberadaan kak Raja. Kak Tahta belum tenang kalo kakak masih punya keinginan buat deketin aku atau apapun itu". Ucap Putri
"Jadi aku harus nyerah?". Tanya Raja
"Harusnya iya kak, karna sampai kapan pun kita ngga mungkin balikan..."
"Aku udah jadi istrinya kak Tahta, seutuhnya. Aku cinta sama kak Tahta dan aku ngga mau ninggalin kak Tahta apapun alasannya..."
"Jadi kalo kakak masih punya perasaan ke aku, tolong hapus ya kak, jangan siksa diri sendiri karna cinta sama orang yang udah ngga cinta sama kakak". Ucap Putri
Nafas Raja mulai sesegukan, ia mendongakkan kepalanya untuk menahan buliran air mata yang hendak menetes dipelupuk matanya
Ucapan Putri sangat menyakiti hatinya, ia tidak menduga kalau Putri sendiri yang memintanya untuk menyerah pada hubungan mereka yang tidak mungkin bisa kembali lagi
"Ngga semudah itu hapus rasa cinta aku ke kamu". Ucap Raja
"Tapi kakak harus lakuin itu". Ucap Putri
"Iya, aku coba". Ucap Raja
Putri menyunggingkan senyumannya, ia angkat kedua tangannya untuk menggenggam kedua tangan Raja
__ADS_1
"Anggap aku sebagai adiknya kakak, aku yakin pasti semua bakal baik-baik aja. Bikin kak Tahta percaya sama kakak". Ucap Putri
"Alasan kenapa Tahta ngga pernah ngelarang kamu pergi sama Dewa karna itu? Karna dia percaya sama Dewa?".
"Iya".
Raja mengangguk paham
"Ngga tau bisa atau engga, aku akan coba. Aku ngga mau kehilangan kamu buat yang kedua kalinya, kehilangan kamu sebagai adik aku".
"Hehe, gitu dong. Aku kan seneng dengernya". Ucap Putri mengusap lengan Raja
"Boleh kakak peluk kamu lagi?". Tanya Raja diangguki oleh Putri sambil tersenyum
Mereka berpelukan, sangat erat. Putri senang Raja kembali menyebut dirinya dengan sebutan "kakak"
Putri berharap Raja bisa mengikhlaskan hubungan mereka yang telah berakhir dan memulai sebagai hubungan kakak beradik seperti sebelumnya
Setelah mengobrol dan mengantar Raja masuk kedalam mobilnya. Putri kembali masuk kedalam rumahnya, ia menghampiri Tahta yang masih duduk di ruang keluarga sambil menonton TV
"Lama amat?". Tanya Tahta tanpa menatap Putri
"Hehe, maaf. Kita ngobrol dulu, habisnya kamu kayak ngusir kak Raja tadi, padahal belum sempet ngobrol".
"Emang ngusir kok. Terus ngobrolin apa? Kenangan waktu masih pacaran?".
"Dih, sok tau. Ini suami aku kalo lagi cemburu juteknya ngga ada obaaaat". Ucap Putri sambil mencubit hidung Tahta
"Ada kok obatnya". Ucap Tahta
"Apa?". Tanya Putri
"Cium".
"Hehe, jangan disini dong, dikamar aja".
"Sekalian ya? Mau ngga?".
"Hahaha kayaknya mau nolak juga ngga bisa..."
"Oh iya, aku tau alasan kenapa kamu mau aku cepet hamil?".
"Kenapa?".
"Biar kak Raja berhenti ngejar aku?".
"Salah".
"Salah? Terus apa dong?".
"Ya ngga ada alasan, emang punya anak harus ada alasannya? Ya mungkin alasannya biar keluarga kita lengkap kalo punya anak".
"Tapi kata kak Dewa-"
"Hahahahaha". Tahta tertawa terpingkal
"Jujur iya. Aku cemburu banget makanya aku pengen cepet-cepet kamu hamil dan Raja nyerah buat ngejar kamu".
"Emang bakal berhasil?".
"Ya kita harus kerja lembur bagai kuda, biar cepat ada hasilnya, hahaha".
"Ish...kan udah ada yang ngatur kak. Ini ngga ada hubungannya sama kak Raja ya, tapi kalo aku hamilnya lama gimana? Kamu sedih ngga?".
"Sedih. Tapi kamu pasti lebih sedih. Gapapa sayang, mau cepat atau lama aku tetap cinta sama kamu..."
"Udah, jangan dipikirin ya, jalanin aja. Kalo dikasih cepat ya syukuri, kalo dikasih lama gapapa". Ucap Tahta
Putri mengangguk paham
---
Keesokan harinya, Tahta mengantar Putri sampai depan gedung perusahaan tempatnya magang. Seperti biasa, Tahta tidak beranjak dari posisinya sebelum memastikan Putri masuk kedalam gedung tersebut
"Vano"
Tahta memperhatikan Putri yang sedang berjalan bersama Vano sambil mengetuk-ngetukkan jari di klakson mobilnya. Ada rasa cemburu melihat istrinya berjalan dengan laki-laki lain, apalagi mereka kelihatan sangat dekat dan akrab
"Udah lah, tu anak juga ngga berani macem-macem kan?"
Tahta tidak mau ambil pusing. Setelah memastikan istrinya masuk, Tahta segera pergi menuju tempat kerjanya, Monochrome Coffee Shop, karena ada suatu hal yang harus dia bicarakan dengan pemilik kedai kopi tersebut
---
Bersambung...
__ADS_1
Selamat sore semwahh...maaf baru update hehe
Jangan lupa likenya biar aku semangat update. Tencuuu♡