Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 42 Yang Penting Menang


__ADS_3

Setelah pulang dari kediaman Mahardika yang suasananya panas. Mereka berusaha mendinginkan otak dengan berjalan-jalan sebentar ke mall. Karena Xana menjadi Sutradara terbaik hari ini, Ayah akan mentraktirnya menggunakan BlackCard miliknya.


"Thankyou Papa!" Xana mencium pipi Papanya.


Kak Sean masih cemberut karena dia menjadi korban dalam perjodohan ini.


"Astaga, Kakakku yang ganteng! Kalo manyun begitu mulu ntar yang ada gantengnya ilang loh! Kita mau belanja nih, pake dulu maskernya biar kece~" goda Xana.


"Kesel banget, masa aku sih yang jadi korban! Sialan tuh Mahardika!" Gerutu Kak Sean.


"Kenapa resah? Yang penting Menang! Kita sudah menaklukkan mereka~" Xana lega dan sedikit ceria.


"Iyap! Xana tuh memiliki banyak ide brilian yang harus dikembangkan! Gegeh banget My Baby Xana~" puji Kak Petra lebay.


"Yah~ aku tahu! aku tahu! Mari fokus belanja dan bersenang-senang!" Xana mendekap erat Esra.


Karena di traktir Ayahnya, Xana banyak membeli mainan untuk Esra. Baju yang keren, peralatan yang diperbarui, stok makanan susu dan camilan. Bahkan jajanan pun ada bagian Esra. Xana membeli baju juga untuknya tapi kebanyakan punya Esra.


"Sayang, Kamu beneran tulus ya pada Esra, Papa perhatiin.... Kamu benar-benar perhatian padanya! Papa kagum!" Papa memberi jempol.


"Iya dong! Terutama kelak dia akan menolongiku dalam bekerja dan hidup! Tentu harus membesarkannya dengan penuh kasih sayang!" Seru Xana percaya diri.


Malam itu, mereka bersenang-senang hampir lebih dari 2 jam. Tentu Mama Xana sibuk mencari pakaian untuk dirinya dan Papa.


Sepulangnya, Xana segera mengganti pakaian Esra dan kembali menidurkannya. Karena tidak bisa tidur, Xana menyusun pakaian yang ia beli tadi. Lumayan banyak, tapi sangat menyenangkan! Apa lagi saat menata mainannya, begitu seru!


Xana tidur dengan Esra dengan lelap. Malam yang melelahkan, Xana benar-benar lelah dan mengantuk.


Pagi yang Cerah dengan kicauan burung dari halaman belakang rumah. Pancuran air yang menyenangkan membubuhi iramanya.


Xana mengajak Esra jalan-jalan ke taman pribadi milik keluarganya dengan kereta dorong. Disertai dengan 2 ajudan dan 2 Baby sitter lamanya ia berkeliling taman.


"Ras, nanti pas dirumah langsung cuci baju-bajunya Esra ya! Aku masih ada urusan setelah ini," perintah Xana.


"Siap Nona!" terima Baby Sitter itu.


"Dan Lin, kamu jaga Esra selagi saya ngga ada! Jangan sampai dia kelaparan! Kalian juga dua ajudan, jagain Esra!" Perintah Xana lagi.


"Siap!" Jawab Mereka serempak. Dua ajudan ini adalah ajudan pribadi Xana yang diberikan Oleh Papa.


Ajudan pribadi Xana ada sendiri dan siap menunggu di mobil miliknya. Setelah segala urusan selesai dan lepas tangan, Xana segera pergi. Mobil itu dikemudikan supir menuju tempat kemarin Xana meminta bantuan, Clarissa jole. Selain ingin berterima kasih Xana ada sesuatu yang harus ditangani.


Clarissa menyambut dengan hangat dan menghidangkan makanan yang lezat. Tanpa basa basi pun Xana langsung mengatakan maksud dia datang kemari.

__ADS_1


"Aku sangat berterima kasih padamu karena membantuku kemarin, Clarissa." untaian Xana membuka topik.


"Nona tidak perlu sungkan, saya siap kapan pun Nona butuhkan!" jawab gadis manis itu dengan senyum yang tak pernah sirna.


"Yeah, kalau bisa... Saya ingin minta tolong satu hal lagi padamu. Ku kira mungkin agak sedikit sulit karena kasus lama." Xana ragu-ragu.


"Sulit? Aku belum mencobanya, jadi tidak ada yang sulit bagiku sekarang" Clarissa mendekat.


"Begini, aku memiliki seorang rekan sekitar satu setengah tahun lalu. Dia adalah gadis yang tidak memiliki Ibu dan hanya punya Ayah tukang Cabul, itu yang dikatakannya. Aku ingin kau menelusuri latar belakang gadis ini termasuk siapa ibu dan Ayahnya." ujar Xana.


"Hmmm.... Agak sulit sih kalau dah lama begitu, tapi aku akan coba dan selidiki secara langsung. Nona tinggal beritahukan padaku nama dan riwayat wanita itu." jelas Clarissa.


"Melisa ayunda, itu nama aslinya. Ayahnya memiliki toko minuman keras di bagian timur kota dekat penghilir sungai. Ibunya sih katanya udah lama meninggal." jawab Xana menjelaskan.


"Baiklah, aku akan coba cari tahu." Setuju Clarissa.


Percakapan ditutup dengan hidangan pencuci mulut dan pemberian seranjang buah segar pada Clarissa. Xana sangat berterimakasih dan membawakannya oleh-oleh.


Xana memasuki mobil dan menyuruh supirnya pergi ke suatu tempat. Sepanjang jalan Xana melamun menghadap ke jendela. Bukan melihat awan yang indah ataupun gedung cakrawala yang ada, tetapi ia berpikir keras dengan sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Melisa, aku hanya ingin tahu bagaimana kehidupanmu dulunya agar kelak Esra bisa mencari tahu asal usulnya, percayalah aku melakukan ini semua demi Esra." batin Xana.


Mobil berhenti di suatu tempat yang cukup ramai. Ada beberapa orang didalamnya. Xana masuk dan duduk. Ajudannya ikut masuk dan duduk di tempat lain mengawasi Xana dari kejauhan.


Ini adalah toko minuman milik Ayah Melisa. Xana sedang mencari cari pria tua dengan status Ayah Melisa.


Karena tidak ada yang keluar dengan rupa paruh baya, Xana pun menanyakannya pada pelayan setempat. Mereka langsung syok dan kaget, entah apa yang membuatnya begitu.


"Nona, T-Tuan kami hanya bertemu wanita dan tidak ditemani pria. Apa Nona yakin ingin masuk? Saya peringatkan jangan! Dia adalah pria mesum!" Salah satu pelayan merasa khawatir.


"Saya tahu itu maka dari itu juga saya butuh bantuan kalian!" Xana memberi ide.


Setelah itu Xana diantar ke depan pintu ruangan bos. Kedua ajudan tadi hanya menunggu diluar secara diam-diam. Kalau-kalau terjadi sesuatu dapat segera bertindak dengan senjata yang mereka bawa. Xana menyuruh pelayan tutup mulut soal ajudannya.


Tokkk Tokkk Tokkkk


Xana mengetuk pintu.


"Masuk"


Pintu terbuka, ada pria tua sedang mengerjakan pekerjaannya dengan kacamata. Pria itu belum cukup tua dan kelihatan masih muda, apa Ayah Melisa sudah Pensi?


"Halo, namaku Xana..."

__ADS_1


Xana memperkenalkan diri.


"Ada apa datang kemari?" pria itu bertanya dan meninggalkan pekerjaannya.


"Bolehkah saya yang bertanya dan anda saja yang menjawab?" pinta Xana.


Pria itu sedikit bingung namun ia mengangguk menandakan bahwa dia setuju untuk ditanyai.


"Berapa umur bapak?" tanya Xana.


"31 tahun"


"Apa bapak memiliki seorang anak atau istri?"


"Aku.... Punya istri tetapi dia meninggal dunia sejak lama, untuk anak .... Yahh bisa dibilang punya" jawab pria itu tampak menghela nafas.


"Bisa dibilang?? Maksudnya?" tanya Xana selidik.


"Aku dulu memiliki anak perempuan adopsi, tapi dia kabur entah kemana dan yahh... Aku kehilangan dia" jawabnya dengan enteng.


"Boleh saya tahu nama anda?" Tamya Xana dingin.


"Joseph, kenapa?"


"Apa nama putri adopsimu yang hilang itu adalah Melisa Ayunda?" tanya Xana langsung menatap tajam dan dalam mata pria itu.


Sekilas pria itu kaget. Selama ini tidak ada yang tahu hal ini, bagaimana bocah ini tahu?


"Apa kau teman Melisa? Atau seseorang dari kepolisian?" tanya pria itu sedikit ragu.


"Bukan siapa-siapa, hanya tempat Melisa bersender setiap keluhan." Jawab Xana.


"Nak, dengar... Pasti Melisa menceritakan hal buruk tentangku padamu sehingga membuatmu datang kemari. Yah... Aku dulu begitu karena suatu alasan pribadi yang tentunya aku tidaklah gila," pria itu sedikit tersendat.


"Tuan Joseph, apa kau mencabuli Melisa karena dia anak adopsimu jadi bisa seenak nya saja?" tanya Xana lagi.


"Tidak! Aku tidak pernah menganggapnya begitu, tapi itu sebelum segala mimpi burukku." Kelihatannya, Tuan Joseph ingin menceritakan sesuatu.


"Katakan yang sejujurnya, Semua tentang Melisa, Tuan Joseph Jordian!" Xana menggertak dengan nama lengkap.


Itu membuat Joseph terkejut setengah mati karena gadis didepannya mengetahui nama belakang rahasia pria itu.


-BERSAMBUNG.....

__ADS_1


Next, bakal ketahuan nih genk siapa sebenarnya Melisa.... Baca terus ya!


(。・ω・。)ノ♡


__ADS_2