
Setelah mendapat informasi tentang Luna dari wanita itu, mereka segera mengunjungi panti asuhan yang disebutkan tadi
Kedatangan mereka langsung disambut oleh Luna yang saat itu sedang bermain di teras bersama anak-anak panti yang terlihat sebaya dengannya
Luna berlari menghampiri Putri dan Tahta, memeluk mereka berdua secara bergantian. Tahta pun menggendong Luna dan membawa Luna masuk bersama pengurus panti untuk mengobrol didalam
Di dalam ruang belajar, mereka duduk diatas matras lebar dengan gambar alphabet diatasnya, mereka duduk bersila, Tahta mendudukkan Luna diatas pangkuannya. Tahta mengusap lembut sepasang tangan kecil yang terlihat lebih pucat dari biasanya, tangan Luna terasa dingin di genggamannya
"Luna lagi sakit, ya?". Tanya Tahta
"Engga, kak. Luna sehat kok". Jawab Luna, Tahta tersenyum sambil mengangguk
"Luna senang ngga tinggal disini?". Tanya Tahta
"Senang, kak. Disini banyak teman Luna. Tapi ngga ada ibu, kak. Ibu udah meninggal". Jawab Luna
Tahta menengadah kepalanya keatas langit-langit, menahan air matanya yang hendak lolos sejak tadi, saat melihat Luna pertama kali
"Iya, tadi kak Tahta sama kak Putri kerumah Luna, mau ketemu sama ibu. Tapi ibu udah ngga ada". Ucap Tahta
"Iya, kak. Sekarang Luna sendiri, Luna ngga punya ibu, Luna juga ngga punya ayah. Luna...sedih, kak". Ucap Luna
Tahta dan Putri tersenyum nanar mendengar gadis kecil dihadapan mereka sedang mengungkapkan isi hatinya
Tahta menunduk, ia hirup puncak kepala Luna dengan mata yang terpejam. Sesungguhnya Tahta sedang menangis, ia sangat paham rasanya ditinggal kedua orang tua. Apalagi di usia Luna yang masih sangat dini, pasti sangat berat bagi Luna melewati hari-hari tanpa kedua orang tua di sisinya
"Kakak nangis?". Tanya Luna sambil berbalik menatap Tahta
"Hehe, engga kok". Jawab Tahta sambil mengusap air matanya
"Luna tau ngga, kak Tahta juga ngga punya ayah sama ibu. Tapi kak Tahta masih punya kak Putri..."
"Sama kayak Luna. Luna masih punya kak Putri, masih punya kak Tahta. Jadi Luna jangan sedih lagi ya". Ucap Tahta
Putri tersenyum mendengar ucapan Tahta. Suaminya ini memang memiliki hati yang lembut, terlihat Tahta sangat peduli dan menyayangi anak kecil
Sikapnya pada Luna kali ini, mengingatkan saat dirinya masih anak-anak seusia Luna, dimana Tahta mampu menenangkan perasaannya saat ia sedang sedih. Sifat suaminya ini memang tidak pernah berubah
"Iya, Luna ngga sedih lagi kok". Ucap Luna
"Pinter". Ucap Tahta sambil mengusap kepala Luna
"Luna liat deh, kak Putri sama kak Tahta bawa makanan sama buah-buahan buat Luna". Ucap Putri sambil menunjukkan dua kantong belanja ditangannya
"Luna mau makan yang mana dulu?". Tanya Tahta
"Eum, boleh ngga Luna makan bareng teman-teman Luna, kak?". Tanya Luna sambil mendongak menatap Tahta
"Boleh, sayang. Boleh kok. Yaudah, ini di simpan dulu ya, nanti Luna makan bareng-bareng kalo teman-teman Luna udah masuk semua". Ucap Tahta
"Yeay, terimakasih kak Tahta". Ucap Luna
"Iya, sama-sama, Luna". Ucap Tahta sambil memeluk erat bahu Luna dan ia goyang-goyangkan tubuh Luna ke kanan dan kiri
"Terimakasih juga kak Putri". Ucap Luna sambil tersenyum
"Sama-sama, cantik".
---
"Bang, Mput mana sih? Kenapa lama banget?". Tanya Tahta
"Apa lagi sih, Ta? Kan udah gue bilang Putri lagi beli pempek di depan komplek". Jawab Dewa
"Tapi udah setengah jam belum balik juga, gue khawatir".
"Tenang aja sih, orang sama Nindi kok. Kalo khawatir samperin aja sana".
"Ck, telfon istri lu suruh cepetan, soalnya Mput ngga bawa HP".
"Ya, bawel"
Dewa menaruh majalah bisnisnya yang sedang ia baca, dan beralih meraih ponsel untuk menghubungi Nindi
"Sayang, dimana?"
"Ini diluar, babe. Baru nyampe"
"Oh, yaudah"
Dewa memutus sambungan telfonnya dan menatap Tahta tanpa ekspresi
"Dimana istri gue?". Tanya Tahta
"Tuh, dibelakang lu". Jawab Dewa
Seketika Tahta berbalik arah
"Hih, lama banget sih, bikin orang khawatir tau ngga". Ucap Tahta sambil mencubit kedua pipi Putri dengan gemas
"Ngantri banget kak, aku juga bete nunggunya". Ucap Putri
"Aku siapin dulu". Nindi membawa bungkus makanannya ke meja makan
"Kamu kok pucat sih? Pusing ya? Jangan-jangan demam lagi". Ucap Dewa sambil menempelkan tangan pada kening Putri
"Agak panas". Ucap Dewa pada Tahta
"Kecapekan kayaknya, langsung istirahat aja ya". Ucap Tahta
"Ngga mau, mau pempek". Ucap Putri
"Yaudah makan pempek dulu habis itu istirahat". Ucap Dewa diangguki oleh Putri
Putri melangkah menuju meja makan, sementara Tahta bergabung dengan Dewa diruang keluarga
"Lu ngga enak badan, ya?". Tanya Nindi sambil duduk disebelah Putri
"Engga, cuma pusing. Kecapekan kayaknya. Suapin gue mau ngga?". Tanya Putri
"Yaudah, gue suapin". Ucap Nindi
Nindi memotong bagian kecil makanan tersebut dan ia suapi untuk Putri
"Enak?". Tanya Nindi
"Enak kok, cobain aja". Ucap Putri
"Kan gue ngga doyan". Ucap Nindi
"Cobain dulu sedikit". Putri merebut sendok yang ada di tangan Nindi
"Nih, aaa". Ucap Putri sambil membuka mulutnya, Nindi pun patuh dan menerima suapan dari Putri
"Enak kan?". Tanya Putri sambil tersenyum
"Hump, mu...mual". Jawab Nindi sambil membungkam mulut dengan telapak tangannya
"Ih, telan! Jangan dibuang". Ucap Putri
__ADS_1
Tahta dan Dewa tersenyum melihat interaksi dari wanita kecintaan mereka dimeja makan. Pemandangan yang terlihat lucu, terasa hangat dan harmonis yang sangat enak di pandangan. Hubungan persahabatan kedua perempuan itu memang sudah tidak diragukan lagi
Dengan susah payah, Nindi menelan makanannya sampai habis setelah itu segera meneguk air mineral yang ada di depannya
"Haha, lebay. Orang enak kok". Ucap Putri
"Kita beda selera, ya. Dah sini, gue suapin lagi". Ucap Nindi yang kembali menyuapi Putri
"Perhatian banget sih".
"Lu itu bakal jadi adik ipar gue, dan lu udah terbiasa dimanja, gue cuma pengen lakuin hal yang sama".
"Hehe, sayang banget sama Nindi". Ucap Putri memeluk erat bahu Nindi
"Gue juga". Ucap Nindi dengan acuh
"Apa? Nindi sayang sama gue? Ngga usah gengsi dong".
"Kalo ngga sayang gue ogah jadi bestie lu".
"Aaah Nindi. Cepet-cepet jadi istrinya kak Dewa ya, gue ngga sabar liat kalian menikah".
"Doain aja semua preparenya lancar".
"Aamiin".
"Jamu nya udah habis belum?".
"Belum, sisa sedikit lagi".
"Yaudah habisin, nanti gue minta oma buat bikin lagi".
"Eum...ngga usah Nin. Gue ngga mau ngerepotin lagi, jujur gue ngga enak sama oma lu".
"Gapapa, babe. Oma gue ngerti kok, dia cuma pengen bantu apa yang dia bisa. Gue juga pengen liat lu hamil".
"Tapi seriusan, ngga usah. Gue udah...pasrah...". Putri menghentikan ucapannya dan menarik nafas dalam
"Sekarang gue tinggal ngelanjutin penantian gue. Ngga mau usaha apapun lagi". Sambung Putri
"Apaan sih, jangan gitu, ya. Seenggaknya terima jamu dari oma gue".
"Tapi gue udah ngerepotin, Nin. Sekarang gue tinggal nunggu hasilnya aja kan? Kalo ngga ada hasilnya yaudah, mungkin belum waktunya, hehe..."
"Gue ke kamar ya. Kepala gue pusing". Ucap Putri bangun dari duduknya dan melangkah menuju tangga
Nindi termangu, kemudian melirik kearah ruang keluarga, memberi kode pada Tahta untuk menyusul Putri. Tahta pun mengangguk paham, sementara Dewa bangun dan menghampiri Nindi
"Kok nangis?". Tanya Dewa mengusap air mata Nindi
"Kasihan...Putri". Jawab Nindi
Dewa mengangguk dan menarik Nindi ke pelukannya, ia hirup dalam-dalam puncak kepala Nindi sambil mengusap lembut punggungnya
"Gapapa, kamu udah baik mau bantu Putri. Aku tau kamu sayang sama dia, tapi Putri emang gitu. Dia ngga mau ngerepotin orang". Ucap Dewa
"Apa omongan aku ada yang salah ya? Aku maksa dia nerima jamu bikinan oma seakan aku ngeremehin dia karna belum hamil? Aku takut dia marah". Tanya Nindi
"Engga, sayang. Omongan kamu ngga ada yang salah. Kamu maklumi aja, perasaan Putri sensitif kalo ngebahas kehamilan. Jadi udah, jangan nangis lagi". Ucap Dewa, Nindi pun mengangguk
"Nanti temenin aku ke kamar Putri ya, aku mau minta maaf sama dia".
"Iya, sayang".
Disisi lain, Tahta sedang berusaha menghibur Putri yang terlihat sedih sejak memasuki kamar mereka, ia tahu apa istrinya rasakan dan yang istrinya pikirkan
Namun segala usaha untuk menghibur wanita kecilnya itu gagal sepenuhnya, bahkan bertingkah konyol seperti orang bodoh pun tidak mampu membuat Putri tertawa bahkan tersenyum sedikit pun
"Akhirnya ada suaranya, aku pikir baterai nya habis. Tadinya mau ganti yang baru".
"Ganti istri baru?".
"Apa sih, sayang. Ngga gitu..."
"Sini pangku, aku gemes banget liat kamu, juteknya minta ampun". Ucap Tahta sambil mengangkat Putri keatas pangkuannya
"Aku udah kayak orang gila tetap aja kamu ngga ketawa..."
"Kenapa sih? Sedih karna omongan tadi sama Nindi?". Tanya Tahta
"Engga, biasa aja". Jawab Putri
"Terus kenapa tiba-tiba bete? Padahal waktu makan pempek lucu banget, manja sama Nindi".
"Kamu ngeliatin aku?".
"Engga, ngeliatin Nindi".
"Ih, nyebelin!".
"Udah tau ngeliatin kamu. Ngapain ngeliatin cewek lain..."
"Sayang, dengerin. Kamu ngga bisa sembunyiin apapun dari aku. Aku tau perasaan kamu..."
"Ngga usah sedih berlarut-larut kalo sampai sekarang kita belum punya anak, perjalanan kita masih panjang, kita masih muda..."
"Apapun yang terjadi aku yakin itu yang terbaik buat kita. Misalnya ya, bisa aja Tuhan kasih kita anak setelah kamu lulus kuliah, biar kamu lebih fokus sama kehamilan kamu..."
"Atau bisa aja setelah aku lulus S2? Biar kita sama-sama fokus urus anak kita. Semua ada sisi baiknya. Jadi jangan terlalu dipikirin". Ucap Tahta
"Tapi itu lama banget, kamu mau kita ngga punya anak selama itu?".
"Itu kan misalnya, istriku. Tapi aku ngga masalah mau selama apapun kita nunggu. Asalkan jangan berhenti buat usaha, jangan nyerah gitu aja".
"Iya, aku ngerti".
---
Pukul dua malam Putri terbangun dari tidurnya, merasa haus, ia pun menyingkap selimut dan turun dari ranjangnya, berjalan menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil air mineral dingin didalam kulkas
"Uhuk-uhuk"
Putri mematung saat mendengar suara seseorang yang terbatuk, Putri menoleh ke belakang, menatap kearah sumber suara yang ia dengar.
Putri melihat ada asap-asap berterbangan di udara, asap itu masuk melalui celah kecil pada pintu kaca pembatas antara dapur dan area kolam renang, aroma rokok pun mulai tercium, Putri segera meneguk minumannya dan menghampiri asap tersebut
"Itu Kak Dewa, ya?"
Putri pun membuka lebar pintu kaca tersebut
"Kakak?".
Dewa menoleh, kedua matanya merah, membuat Putri terkejut dan membungkam mulutnya, Putri melirik dua botol alkohol diatas meja, bisa dipastikan kalau Dewa sedang mabuk, tapi mengapa?
"Ya ampun, kakak mabok?". Tanya Putri sambil menangkup wajah Dewa
"Nindi?".
"Aku Putri, kak".
__ADS_1
Dewa tersenyum nanar, Dewa memeluk dan menyandarkan kepalanya diatas permukaan perut Putri. Putri pun menyisir rambut Dewa dengan jari-jarinya
"Kakak kenapa? Kok mabok?". Tanya Putri
"Nindi jahat". Jawab Dewa
Putri tercengang, ia melepas tangan Dewa yang melingkari pinggangnya dan duduk di sebelah Dewa
"Nindi kenapa kak? Jahat kenapa?". Tanya Putri, Dewa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan
"Serius kak, emang Nindi ngelakuin apa?". Tanya Putri
"Ngga tau". Jawab Dewa
"Lah? Gimana sih maksudnya? Kok ngga tau?".
"Kakak juga bingung".
Putri menghela nafas, ia tidak mau bertanya apapun lagi. Keadaan Dewa saat ini tidak memungkinkan Dewa untuk berfikir jernih dan menceritakan masalah apa yang terjadi antara dirinya dan Nindi
"Ke kamar aja yuk, istirahat". Ucap Putri
"Ngga mau". Ucap Dewa
Dewa meraih rokoknya yang masih menyala, namun Putri merebutnya dan melempar jauh rokok tersebut
"Stop kak, kakak ini kebiasaan, kalo ada masalah pasti ngerokok, mabok. Padahal kakak udah berhenti ngerokok kan? Kenapa mulai lagi?". Tanya Putri
"Jangan marah-marah, sayang". Ucap Dewa dengan tatapan sendu
"Aku ngga marah-marah kak, tapi-"
Cup, Dewa mendaratkan kecupannya pada pipi Putri, membuat Putri menghentikan ucapannya
"Cerewet". Ucap Dewa
"Yaudah deh, ini udah hampir pagi loh, mending kita bobo, bukannya nanti kakak harus jemput Nindi?".
"Buat apa?".
"Hah? Bukannya setiap hari kakak antar jemput dia ke kampus, kan?".
"Haha, dia itu udah biasa mandiri, dia bisa nyetir kan. Ngapain antar jemput?".
"Ih, kakak kenapa sih? Ada masalah apa sama Nindi?".
"Ngga mau bahas".
"Yaudah lah terserah kakak". Putri menggerutu kesal saat memalingkan wajahnya
Dewa tertawa kecil, membuat Putri menoleh dan menatap heran kearahnya
"Kenapa?". Tanya Putri
"Kamu lucu banget, kayak anak kecil". Jawab Dewa
"Apaan sih". Ucap Putri
Dewa meraih sebelah tangan Putri, ia buka jari-jarinya dan ia satukan tangan Putri diatas telapak tangannya
"Tuh, ya ampun, tangannya kecil banget, haha gemes". Ucap Dewa
"Ih, ngga jelas". Ucap Putri sambil menarik tangannya
"Hoek-hoek"
Putri terkejut saat Dewa memuntahkan isi perutnya, cairan bening keluar dari mulutnya, sangat banyak
"Liat tuh, kebanyakan minum". Ucap Putri
"Hehe, ke kamar yuk, bobo". Ucap Dewa diangguki oleh Putri
Putri memapah Dewa menaiki tangga menuju kamarnya
"Berat banget, astaga..."
"Anak mama tiga-tiganya kayak titan". Gumam Putri
"Kamu nya aja yang ke-kecilan". Ucap Dewa
"Ih! Aku dorong nih biar kakak jatoh". Ucap Putri
"Tega dorong kakak?". Tanya Dewa
"Engga, sih". Jawab Putri
Setibanya dikamar Dewa, Putri membawa kakak pertamanya itu menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan membasuh mulutnya dengan tujuan menghilangkan bau dari rokok dan alkohol
Setelah itu, Putri membaringkan Dewa diatas ranjangnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut
"Eh, Nindi nelfon nih kak..."
"Ya ampun, lima belas panggilan tak terjawab dari Nindi semua". Ucap Putri saat melihat layar ponsel Dewa
"Biarin aja. Kamu mau nemenin kakak bobo ngga?". Tanya Dewa
"Hmm, kalo kak Tahta bangun terus nyariin aku gimana?". Tanya Putri
"Sampai kakak bobo aja, habis itu kamu balik ke kamar". Ucap Dewa
"Yaudah, ayo bobo". Ucap Putri sambil mendudukan bokongnya di tepi ranjang, ia raih sebelah tangan besar milik Dewa dan ia usap punggung tangannya dengan lembut
"Besok ke kampus?". Tanya Dewa
"Iya". Jawab Putri
"Jangan kasih tau Nindi kalau kakak kayak gini, kakak ngga mau dia tau keadaan kakak".
"Kakak kayak gini karna dia?".
"Iya, dan kakak ngga mau ketemu dia untuk sementara".
"Loh, kok gitu? Sebenarnya ada masalah apa sih kak?"
"Entah lah, kakak juga bingung jelasinnya. Intinya kakak udah sabar sama sifat dia yang kekanak-kanakan, tapi dia ngga pernah mikirin perasaan kakak".
"Nindi kekanak-kanakan? Perasaan Nindi itu dewasa deh kak".
"Di depan kamu dia dewasa, karna kamu lebih kekanak-kanakan dibanding dia".
"Itu ngeledek?".
"Hehe, intinya jangan ngomong apapun ke dia".
"Iya, iya. Aku juga ngga mau ikut campur deh, nanti ikutan pusing".
---
Bersambung, besok ku lanjut lagi, makin seru ni guys....
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung cerita ini sampai end. tencuuu