Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Menghampiri Tahta


__ADS_3

"Lu ngapain disini?". Tanya Raja pada Dewa yang sedang duduk di sebelah Ibrahim


"Duduk". Ucap Dewa


"Iya nak, duduk dulu". Ucap Ibrahim sambil menyentuh tangan Raja


Raja mengangguk patuh, ia mengambil posisi duduk seorang diri di sofa yang berseberangan dengan Ibrahim dan Dewa


"Ada apa Yah ngumpul gini?". Tanya Raja


"Gini nak, ada yang mau ayah bicarakan sama kamu. Soal Putri dan Tahta, adik kamu". Ucap Ibrahim


"Putri sama Tahta? Kenapa Yah?". Tanya Raja


Putri mendadak tegang, ia me remas kedua tangannya yang mulai berkeringat


"Tenang sayang". Bisik Melly sambil mengusap tangan Putri


"Iya bu". Ucap Putri


"Jadi gini nak, satu minggu yang lalu, eum...tepatnya delapan hari sama hari ini, ayah sudah menikahkan Putri dan Tahta secara siri, karena suatu hal yang mendesak dan mendadak". Ucap Ibrahim


"Apa? Putri sama Tahta menikah siri? Ayah bercanda kan?". Tanya Raja


"Engga, ayah bicara serius. Ayah akan ceritakan semuanya, ayah tidak mau ada yang ditutup-tutupi lagi".


Hampir setengah jam mereka saling bicara dan sesekali beradu argumen karena Raja merasa tidak terima dengan apa yang diceritakan oleh Ibrahim dan Dewa, akhirnya obrolan panjang yang cukup menguras emosi dan amarah Raja telah selesai


Sambil menghapus air matanya, Raja mengungkapkan rasa sakit di hatinya karena merasa dihianati oleh kekasih dan adik kandungnya


Putri merasa tidak tega, ia ingin menghampiri Raja namun ditahan oleh Melly


"Berarti usaha Raja semua ini sia-sia gitu aja Yah?". Tanya Raja pada Ibrahim


"Maafin ayah nak, maafin ayah. Ayah sebagai orang tua juga tidak bisa melakukan apapun selain menikahkan mereka. Dan selanjutnya itu menjadi urusan Tahta sebagai suami Putri. Tahta bersikeras tidak mau menceraikan Putri, meski Putri sempat meminta cerai". Jawab Ibrahim


"Kamu sempet minta cerai?". Tanya Raja pada Putri


"Iya, tapi kak Tahta ngga mau. Aku ngga bisa lakuin apa-apa lagi". Jawab Putri


Raja masih menangis terisak, ia menunduk dengan tubuh yang gemetar. Ingin rasanya Putri memeluk dan menenangkan Raja, namun itu tidak mungkin ia lakukan di depan kedua orang tua nya


"Kak, maafin aku". Ucap Putri pada Raja


"Kamu ngga salah. Ini salah aku yang terlalu lama ngulur waktu, harusnya dari awal aku nikahin kamu. Atau saat kamu bercanda minta nikah siri, harusnya aku turutin aja. Aku nyesel". Ucap Raja


Hening sejenak, semua larut dalam renungannya masing-masing, mereka yang menutupi pernikahan Putri dan Tahta, kompak merasa bersalah


"Raja pamit Yah, bu". Ucap Raja bangun dari duduknya, seluruh pasang mata yang ada disana seketika heran melihat sikap Raja


"Nak? Lebih baik disini dulu, tenangkan diri kamu". Ucap Ibrahim


"Raja gapapa Yah". Ucap Raja


Raja mendekat kearah Ibrahim, ia cium tangan Ibrahim lalu beralih mencium tangan Melly


"Put, aku pamit ya". Ucap Raja


"Kak, disini dulu". Ucap Putri


"Ngga usah, aku pulang aja". Ucap Raja tersenyum tipis


"Bareng gue". Ucap Dewa


"Ngga usah bang, gue bisa sendiri". Ucap Raja sebelum meninggalkan ruang keluarga

__ADS_1


"Ya ampun, ibu ngga tega. Tapi mau bagaimana lagi". Ucap Melly


"Yah, bu, Putri mau nyusul Raja". Ucap Putri berlari kecil menuju pintu utama


"Kak, kak Raja, tunggu kak". Ucap Putri meraih tangan Raja


"Apalagi Putri? Kamu mau nyiksa perasaan aku kayak gimana lagi?". Tanya Raja


"Engga kak, jangan ngomong gitu". Ucap Putri


Grep, Putri memeluk Raja


"Maafin aku. Kamu berhak marahin aku, kamu berhak benci sama aku. Aku udah jahatin kamu, aku bohongin kamu, aku hianatin kamu".


Raja kembali menangis, kedua tangannya terangkat untuk memeluk wanita mungil yang sangat ia cintai meski sudah membohonginya


"Mana bisa aku marah sama kamu? Aku ngerti posisi kamu juga sulit, aku ngerti kamu juga terpaksa..."


"Iya aku marah, aku kecewa, tapi sama diri aku sendiri. Aku terlalu bodoh, aku terlalu lama ngulur waktu. Aku nyesel Putri, sekarang aku kehilangan kamu". Ucap Raja


"Sekarang tujuan gue cuma Tahta, selagi dia mau lepasin Putri, semua bakal baik-baik aja".


"Eum, Put. Aku pergi dulu ya, ada hal yang harus aku urus, soal wisuda". Ucap Raja berbohong


"Oh, yaudah. Hati-hati". Ucap Putri diangguki oleh Raja sebelum masuk kedalam mobilnya


---


"Monochrome coffee shop"


Raja segera menepikan mobilnya di parkiran kedai kopi tersebut


"Tahta, gue bakal bikin perhitungan sama lu".


Setelah melepas seatbelt nya, Raja turun dari mobil, ia berjalan dengan angkuh memasuki kedai kopi yang sedang ramai pengunjung


"Gue nyari Tahta, bisa panggilin?". Tanya Raja


"Oh Tahta, eum, itu kak". Ucapnya sambil melirik Tahta yang sedang membawa beberapa toples kaca berisi biji kopi


Prang


Toples-toples tersebut pecah, biji kopinya pun berserakan saat Raja menendang perut Tahta secara tiba-tiba sampai Tahta tersungkur pada salah satu meja pengunjung, membuat beberapa pengunjung terkejut, bahkan ada yang berteriak dan menjerit


"Raja?".


"Sini lu, brengsek!". Raja meraih kerah baju polo yang dipakai Tahta, beberapa pekerja cafe terlihat berusaha memisahkan mereka, namun Raja memberontak


"Ikut gue!". Ucap Raja sebelum meninggalkan coffee shop


"Ta, itu siapa?".


"Abang gue, eum, ini biar gue yang beresin nanti, gue keluar dulu".


"Ok, ok".


Tahta melepas apronnya lalu menyusul Raja yang sedang berdiri di samping kedai kopi


"Kenapa?". Tanya Tahta


"Gue ngga mau basa-basi. Gue minta lu cerain Putri". Ucap Raja


"Oh lu udah tau? Bagus deh, jadi gue sama Putri ngga perlu sembunyi-sembunyi lagi".


"Ck, banyak omong. Cerain Putri sekarang juga!".

__ADS_1


"Ngga. Sampai kapan pun gue ngga akan cerain dia, lu ngga usah halu buat dapetin Putri".


Raja kembali emosi, ia berjalan mendekati Tahta dan mencengkram kerah baju polo nya


"Lu cuma bisa ngandelin emosi ya? Abis emosi, lu pake kekerasan buat luapin amarah lu, haha, pengecut". Ucap Tahta


"Buat apa gue baik-baikin adik ngga tau diri kayak lu, munafik. Lu ngerebut cewek gue, apa pantes orang kayak lu di baik-baikin?".


Bugh, Raja melayangkan pukulannya tepat di sudut bibir Tahta, sampai terluka


"Terus, terusin pukul gue sampai lu puas. Asal lu tau bang, Putri ngga akan terima liat gue kayak gini, karna apa? Cinta nya udah buat gue, bukan buat lu lagi". Ucap Tahta


"Haha, gue rasa lu yang halu? Putri ngga mungkin kayak gitu, dia cinta mati sama gue".


Bugh, Raja kembali memukul ditempat yang sama, membuat luka itu semakin parah, Tahta mulai meringis kesakitan


"Cerain Putri atau gue bakal lakuin hal yang lebih dari ini". Ancam Raja


"Haha lakuin apapun yang lu mau, toh lu ini yang nanggung akibatnya, yaitu dibenci Putri".


"Gue ngga percaya omong kosong lu". Ucap Raja


"Terserah. Percuma bang, Putri udah cinta sama gue, dan dia udah jadi istri gue seutuhnya..."


"Lu tau apa maksudnya? Kita udah lewatin malam pertama sebagai suami istri. Jadi udah lah, lu gak bisa berharap apa-apa lagi". Ucap Tahta sambil tersenyum tipis, ia senang bisa membohongi Raja perihal status kepemilikannya pada Putri


Ia sengaja memprovokasi Raja sekaligus menyadarkan Raja kalau Putri tidak akan pernah menjadi miliknya


"Anjing". Gumam Raja


"Kenapa? Ngga percaya?..."


"Udah lah, daripada lu disini cuma buang-buang waktu, mending pulang, fokus buat wisuda lu sebentar lagi. Gue masih sibuk cari nafkah buat istri kesayangan gue". Ucap Tahta


Grep, Raja menahan bahu Tahta saat Tahta hendak meninggalkannya, ia ingin kembali memukul Tahta, namun Tahta lebih dulu memukulnya, bertubi-tubi, sampai Raja tersungkur dan terkapar di depan kakinya


"Terpaksa gue ladenin lu dengan kekerasan juga. Gue peringatin sama lu bang, jangan deketin istri gue lagi. Sadar diri, lu udah bukan siapa-siapanya". Ucap Tahta sebelum pergi meninggalkan Raja


"Uhuk...uhuk..."


"URUSAN...KITA...BELUM...SELESAI!". Teriak Raja dengan nafas yang sudah tersengal-sengal


"Ck, gue tau lu ngga akan nyerah gitu aja".


---


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, seperti biasa, Putri sedang menantikan kepulangan suaminya dengan perasaan cemas


Tidak berselang lama, panggilan telfon masuk kedalam ponsel Putri, Putri bersemangat meraih ponselnya karena ia berfikir itu adalah panggilan masuk dari Tahta, namun ia salah, justru sebuah nomer tak dikenal yang terpampang dilayar ponselnya


"Iya, saya Putri, istri dari Dariel Tahta Mahendra, ada apa ya?".


"Begini bu, kami ingin menginformasikan kalau suami ibu mengalami kecelakaan, pasien mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya dan saat ini pasien masih dalam penanganan dokter".


"Ya Allah, saya kesana sekarang, terimakasih informasi nya".


Putri memutus sambungan telfonnya


"Hiks hiks..."


"AYAH! IBU!".


---


Gimana guys gimana chapter kali ini? menurut kalian Raja akan nyerah gitu aja apa engga?

__ADS_1


Dan kira-kira kenapa Tahta bisa kecelakaan? stay tune ya, karena ceritanya makin seru


Di mohon untuk memberikan jempolnya!!!!!! biar aku semangat update sebanyak-banyaknya buat kalian kesayanganku, tengkyu~


__ADS_2