
Putri menurunkan tubuhnya dari gendongan Raja, "Nikah? Kok mendadak banget?".
Ceklek, pintu kamar terbuka, Putri dan Raja kompak menoleh kearah pintu
"Lu ngapain kesini lagi?". Tanya Raja
"Kak Tahta belum pulang, cuma keluar beli dimsum buat aku". Ucap Putri sambil berjalan menghampiri Tahta yang masih mematung dipintu kamar Putri
"Makasih ya kak". Ucap Putri
"Sama-sama". Ucap Tahta sambil mengusap kepala Putri
"Aku ke bawah dulu bikin minuman buat kita". Putri meninggalkan Raja dan Tahta didalam kamarnya
"Enak ya jadi lu, berulang kali bikin kesalahan berulang kali juga dapet maafnya Putri". Ucap Tahta
Cukup terkejut dengan ucapan Tahta yang secara tiba-tiba, Raja yang sedang memainkan ponselnya seketika menoleh dan menatap sang adik
"Maksud lu?". Tanya Raja
"Lu ngerti maksud gue. Jangan mentang-mentang Putri cinta sama lu, lu bisa seenaknya..."
"Mau berapa kali lagi lu nyakitin Putri? Lu kecewain Putri?". Tanya Tahta
Raja tertawa kecil, "Ck, sejak kapan lu ikut campur gini?".
"Lu ngga lupa omongan kan, gue bakal ikut campur sama apapun yang bikin dia sedih..."
"Dan gue bakal ngambil Putri dari lu kalo lu nyakitin Putri lagi". Ucap Tahta
"Oh jadi lu udah jilat ludah sendiri? Munafik juga lu". Ucap Raja
"Terserah apa kata lu, gue serius sama omongan gue". Ucap Tahta
"Gue udah duga bakal ada saat kayak gini. Awalnya Dewa, sekarang lu. Lu berdua sama aja". Ucap Raja
"Salah? Lu pikir gue bakal diem aja ngeliat Putri terus-terusan nangis gara-gara lu?..."
"Sejak dia jadi cewek lu, banyakan sedihnya daripada senengnya. Dan lu tau kan dia lari ke siapa tiap dia sedih? Ke gue..."
"Karna dia tau, cuma gue yang selalu ada buat dia, dari kecil. Bukan lu, bukan Dewa". Ucap Tahta
"Cuma itu kan yang bisa lu banggain? Lu ngerasa jadi kakak yang paling sempurna karna selalu ada buat dia?..."
"Iya gue sadar gue emang jarang ada waktu buat dia. Tapi siapa sangka justru dia cintanya sama gue, bukan sama lu yang jelas-jelas dua puluh empat jam disampingnya..."
"Nyatanya biarpun dia terbiasa sama lu, gak ngejamin dia ada rasa sama lu. Jadi jangan sok keras..."
"Pake ngancam mau ngambil dia dari gue? Mimpi aja lu". Ucap Raja
Tahta tertawa kecil seolah menyepelekan ucapan Raja, tentunya membuat Raja semakin kesal
__ADS_1
"Gue ngga ngancem, gue serius..."
"Intinya lu inget aja omongan gue". Ucap Tahta
Merasa sudah tidak dapat menahan emosinya yang semakin menggebu, Raja pun bangun dari duduknya dan menghampiri Tahta yang sedang bersandar di dinding
"Gu ngga habis pikir, kenapa gue punya saudara kayak lu, kayak Dewa. Gak bisa ngeliat gue bahagia sama Putri!". Ucap Raja dengan penuh penekanan
"Kenapa? Masalah buat lu?". Tanya Tahta dengan wajah menantang
Bugh,
"Hey!! Hentikan!!"
"Ayah". Ucap Raja dan Tahta kompak
"Ayah sudah mendengar percakapan kalian. Jadi ada cinta segitiga antara kalian dan Putri?".
Raja dan Tahta terdiam
"Jawab ayah! Kalian berdua memperebutkan Putri?". Ucap Ibrahim setengah berteriak
"Ayaaah, kok marah-marah sih? Kenapa?". Tanya Putri
"Ya ampun, itu kok...bibir kakak berdarah?". Tanya Putri sambil berjalan menghampiri Tahta yang sedang menyeka darah pada bibir dengan punggung tangannya
"Kamu mukul kak Tahta?". Tanya Putri pada Raja
Raja mengangguk pelan
"Ini ada apa Yah?". Tanya Putri
"Nanti ayah ceritakan, ayah sudah dengar semuanya..."
"Sudah lebih baik kalian berdua pulang, ayah ngga mau rumah ayah dijadikan tempat ribut oleh kalian". Ucap Ibrahim
Tanpa mengucap sepatah kata, Raja melenggang dengan langkah besar meninggalkan kamar Putri, Putri yang hendak menyusul Raja tangannya tertahan oleh sang ayah yang melarangnya untuk mengejar Raja
"Biarkan saja dulu, dia masih emosi".
Putri pun patuh untuk tidak mengejar Raja, kini fokusnya teralih pada Tahta yang masih mematung sambil menyeka luka disudut bibirnya
"Kak, aku obatin dulu ya". Ucap Putri
"Sudah lah, laki-laki tuh ngga usah dimanja, cuma luka kecil kok". Ucap Ibrahim
Tahta tersenyum tipis dan mengusap kepala Putri
"Kakak gapapa kok, kakak pulang ya". Ucap Tahta
"Ayah, Tahta pamit dulu". Ucap Tahta sambil mencium tangan Ibrahim, Ibrahim hanya berdehem dan mengangguk
__ADS_1
"Hati-hati ya kak". Ucap Putri
Tahta mengangguk sambil tersenyum dan pergi meninggalkan kamar Putri
"Tuh liat, akibat kamu terlalu dekat dengan mereka, jadi kayak gini. Semua menginginkan kamu..."
"Ayah bisa tebak, bukan hanya nak Raja dan nak Tahta yang begitu, tapi nak Dewa juga. Iya kan?".
Putri termangu, ucapan sang ayah memang akurat, Dewa memang mempunyai perasaan khusus untuknya, tapi itu sudah berlalu
Setahu dirinya, Dewa sudah tidak berambisi terhadap dirinya lagi, Dewa sudah membiarkan dirinya memilih dengan siapa ia akan bahagia
Namun saat ini, yang tidak disangka-sangka, justru sang kakak ketiga lah yang menaruh perasaan khusus untuknya. Namun ia tidak percaya begitu saja sebelum mendengarnya langsung dari mulut sang kakak ketiga
"Ayah bener, kak Dewa yang pertama kali punya perasaan ke Putri, tapi sekarang udah engga. Kak Dewa udah ngebiarin Putri deket sama Raja".
Ibrahim mengangguk paham
"Ya sudah. Masalah kalian ayah ngga mau ikut campur..."
"Ayah cuma pesan, kamu harus bijak dan adil menghadapi mereka, jangan sampai diantara mereka ada yang terluka. Kasih penjelasan supaya mereka sama-sama mengerti..."
"Karna bagaimana pun juga kamu tumbuh bersama mereka sejak kecil, rasa sayang mereka sama-sama besar..."
"Wajar kalau mereka menginginkan kamu karna kamu bukan adik kandung mereka".
"Iya Yah Putri ngerti. Besok Putri bakal bicarain ini sama Raja dan kak Tahta".
"Ya sudah kamu istirahat, sudah malam". Ucap Ibrahim sambil mengusap kepala Putri
---
Raja dan Tahta sudah meninggalkan kediaman orang tua Putri. Namun perselisihan mereka masih berlanjut hingga mereka tiba dirumah. Raja yang sedang duduk diruang tamu, kembali emosi saat melihat Tahta yang baru tiba dirumah dan berjalan menuju tangga
Dengan langkah cepat, ia pun menghampiri Tahta, ia raih bahunya dengan kasar dan siap untuk melayangkan bogem mentah untuk yang kedua kalinya, namun kali ini Tahta berhasil menahan tangannya
"Lu mau apa sih?!". Ucap Tahta
"Mau ngabisin lu, adik ngga tau diri". Ucap Raja
"Coba aja, lu ngabisin gue, cewek lu yang bakal marah". Ucap Tahta
Ketegangan yang terjadi diantara kedua pria tersebut, sukses menarik perhatian sang anak tertua dirumah itu, Dewa, yang sedang berjalan menuruni tangga
"Kenapa lagi?". Tanya Dewa
"Ck, dateng lagi satu orang munafik". Sindir Raja
"Maksud lu apa?". Tanya Dewa
---
__ADS_1
Bersambung----
Coba di like dulu biar aku semangat updatenya😍