
Dahulu kala ada sebuah keluarga yang cukup kaya dan berpengaruh di kota itu. Seorang kepala keluarga yang memiliki 2 orang istri itu tidak pernah akur. Lantaran sang Kakak lebih cantik daripada sang adik.
Sang Kakak menjadi selir dari adik iparnya sendiri. Bukan karena kemauannya, tetapi karena dirinya telah hamil anak pria itu dan harus menikahinya. Meski tidak enakan, Kakaknya terpaksa menikahi adik iparnya dan hal tersebut di tanggapi negatif oleh Adiknya sendiri.
Selama menjalani pernikahan, sang Kakak lebih dimanja dan disayang karena ia sedang hamil. Hal itu membuat si Adik tidak suka dan semakin ingin menyingkirkan Kakaknya. Setelah melahirkan anak pertama dari sang Kakak. Anak itu dimanja bak ratu, dan begitupula ibunya.
Puncaknya, sang adik pertama marah besar karena selalu gagal menyingkirkan Kakaknya dan bahkan putrinya yang sudah semakin dewasa, ia membunuh Ibu kandung dari anak itu. Tidak lama setelah kematian sang Kakak, Adik nya hamil dan menjadi kesayangan. Anak pertama terlupakan dan bagai barang terabaikan. Sering kali meminta perhatian pun hanya omelan yang di dapat.
Setelah mulai lupa pada Kakak dan juga Anak pertamanya, Sang Adik membuang keponakan yang juga anaknya itu ke panti asuhan. Benar saja, selama beberapa hari Ayahnya tidak tahu dan menyadari ia kehilangan putri pertamanya. Dia tampak sedih dan bingung.
Sang anak kesayangan di adopsi oleh satu keluarga penuh kebahagiaan. Sang Ibu telah menginginkan anak sejak lama. Mereka bersenang-senang dalam waktu yang lama hingga tak terasa sang anak memasuki umur balita 5 tahun.
Ibu angkat dari sang anak bernamakan Ellysa Ayunda. Dan Sang Anak haram dari selir yang diadopsi adalah Melisa Ayunda, nama adopsinya.
Joseph masih ada kaitannya dengan keluarga lama Melisa, tetapi konflik antara mereka mulai muncul ketika Melisa berumur 6 tahun. Ellysa menyelamatkan Melisa yang hampir tertabrak mobil truk. Kematian Ellysa membuat Joseph marah dan hilang kendali. Ia menyalahkan Keluarga Melisa.
Ternyata, selama ini Ayah kandung Melisa tahu dimana ia berada namun tidak berani mengambil lagi Melisa karena takut pada istri pertamanya, 'sang Adik'.
Sikap Joseph yang menurut Melisa cabul itu sengaja dibuatnya agar gadis malang yang baginya kesialan pergi. Benar saja, Melisa pergi bahkan ikut bersama keluarga Xana yang konglomerat.
"Saya dengar dia ikut keluarga Konglomerat dan hidup bahagia! Toh bener apa kata saya, dia lupa siapa yang membesarkannya!" hardik Joseph.
Cerita berakhir dengan cacian Joseph pada Melisa.
"Benarkah? Bahagia? Darimana anda tahu, Tuan Joseph" tanya Xana.
"Aku dapat tahu hanya dengan mengetahui dia tidak pulang" lagi ke rumah!" bentaknya.
"Apa itu artinya dia bahagia? Tidakkah kau mengkhawatirkannya hanya atas karena istrimu yang menyayanginya,Tuan Joseph!" Xana emosi dan mulai menaikkan nada suaranya.
Pria itu terdiam dan kehabisan kata. Ia tak menyangka Xana akan mengatakan hal tersebut seolah mengetahui keadaan Melisa. Ia berpikir sejenak.
"Maaf, aku berpikir bahwa hanya dengan ikut keluarga kaya raya pasti membuatnya bahagia dan melupakan aku, tentu dia bahagia kan?" Tertatih-tatih ia menjelaskan.
"Yeah, dia bahagia. Setiap malam menangisi nasib dan tersenyum. Setiap pagi membuat masalah dan kena marah tapi masih tersenyum. Siang dan sore bekerja keras hingga dia menjadi anak liar," Xana mulai kebingungan dalam perkataannya sendiri.
" Anak Liar? Maksudnya?" tanya Joseph berusaha mencerna.
__ADS_1
"Iya, karena dia berpikir kami jahat dan hanya memanfaatkannya, jadi dia liar dan memasuki dunia dewasa sebelum waktunya. Anda tahu? Dia hamil di luar nikah, anaknya lucu dan imut." Xana tiba-tiba tersenyum mengingat kegemasan Esra.
"Astaga Melisa, Bagaimana kabarnya sekarang? Apa - apa saya bisa melihatnya secara langsung aku ingin meminta maaf padanya, kumohon...." Joseph segera memohon.
Xana berpikir sejenak, dia memikirkan bagaimana caranya agar dapat menjelaskan pada pria yang khawatiran itu.
"Dia... Sudah tidak ada. Ia meninggalkan dunia ini selamanya setelah melahirkan anak nya. Umurnya yang masih sangat muda dan tubuhnya yang masih lemah menggugurkan dirinya." Xana tertunduk dan meneteskan air mata. Ia tak tahan dengan sesaknya d*da mengingat peristiwa tersebut.
"Bagaimana anaknya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Joseph mulai berdiri dan menghampiri Xana.
"Dia selamat dan menjadi putraku sekarang. Aku akan menjadikannya seorang pria yang sukses dan baik hati. Anda tidak perlu khawatir" tutur Xana.
"Apa? Kenapa anda? Siapa kau?" tanya Pria itu menyemburkan berbagai pertanyaan.
Xana ikut berdiri dan menatap dingin Joseph yang tingginya hampir setara.
"Akulah Xana Wijaya, Orang Konglomerat yang mengasuh Melisa dan menurun pada Putranya."
"Saya menghaturkan Terima kasih sebesar-besarnya. Kapan-kapan jika boleh saya ingin mengunjungi cucuku." Pria itu menatap memelas.
Pria itu mengangguk. Perbincangan selesai, para pengawal dan Xana diantar keluar. Ada pula beberapa pengawas kiriman Kakak Xana untuk berjaga-jaga soal adiknya.
"Sialan, aku lupa menanyakan siapa Ayah kandung Melisa!" Xana bergumam.
"Apakah kita harus berbalik belakang, Nona?" tanya sopirnya.
"Gak, nanti biar saya kirim orang buat ke sana,"
Tidak lupa untuk membelikan camilan Esra serta pakaian dan mainan baru. Bagi Xana, uang bukanlah apa-apa demi memuaskan kesenangannya.
"Esra~ Mama pulang-!!" Xana mencari Putranya.
Dari arah atas tangga tampak Esra sedang digendong kedua pelayannya. Mereka segera turun mengetahui Xana sudah kembali.
"Ma..ma....!! Ma....!!!" Esra mulai berbicara layaknya bayi yang senang kehadiran Ibunya.
"Utututu.... Kangen ya, ini udah makan belum?" tanya Xana yang kemudian mengambil Esra dari tangan sang pelayan.
__ADS_1
"Sudah Nona, Nak Esra sudah makan dan tadi hendak saya tidurkan karena sudah siang, tapi teh Nona udah dateng yaudah saya bawa kebawah lagi,hehe... " Pengasuh sunda Esra itu angkat bicara.
"Oh, makasih ya. Biar nanti Esra saya yang tidurkan. Sekarang buatin saya makan siang dari daging dan minuman Jus jeruk." perintah Xana yang beranjak pergi ke atas dengan barang belanjaannya.
"Siap,Non." Pelayang itu segera melaksanakan tugasnya.
Di dalam kamar, Xana menidurkan Esra. Rupanya Esra sedang tidak mengantuk, Xana pun mengajaknya bermain.
"Esra 3 bulan lagi udah mau setahun aja nih, Mama ga sabar lihat Esra tumbuh sehat dan menjadi anak baik! yeay!!" Xana mengelus-elus kepala Esra.
Bayi yang bahkan belum genap setahun itu nyaman akan perlakuan Xana padanya. Ia tidak merasakan kekerasan apapun bersama Xana. Itu membuat hati dari pria itu lembut.
"Oh iya, 2 minggu lagi kan Mama masuk sekolah ya nak, masa Mama bawa kamu sih?" Xana tiba-tiba bingung.
Ia berpikir sejenak bagaimana agar bisa bersekolah sekaligus merawat Esra. Tiba-tiba ia terpikirkan sebuah ide.
"Nah! Mama tahu harus bagaimana!" Xana menjentikkan jarinya.
Di tempat lain, Ibu dan Ketiga Kakak Xana sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka membicarakan soal Pendidikan Kak Petra dan Xana.
"Jujurly ya mom, aku ga mau banget ninggalin Xana." Kak Petra tampak tidak terima.
"Tapi sekolah itu penting, Petra." Ibu Xana mencoba membujuk Kak Petra.
"No, sebelum Xana sendiri yang menyuruhku pergi!" bantah Kak Petra.
"Xana bukan orang yang lemah, ngapain kau khawatir dan peduli? Kau aja kalah darinya," ejek Kak Albert.
"Itu masalah yang berbeda, pokoknya harus dia sendiri yang bilang, titik." kak Petra menegaskan.
"Kepala Batu!" hardik Kak Albert yang kemudian pergi dan disusul Kak Sean.
"Nak, Ibu akan coba bicara pada Xana," Ibu pun ikut pergi.
"Pasti si Xana tengil bakal gak ngijinin. Toh dia aja sedih Kak Sean dan Kak Albert pergi. Aku tetap akan setia padamu, Baby Xana!" Kak Petra berapi-api.
-BERSAMBUNG......
__ADS_1