
Esoknya, tepat jam 12 siang. Xana dan keluarganya sudah menerima pesanan mereka dari butik pilihan untuk menghadiri acara makan malam di rumah keluarga Mahardika. Semua pakaian terkesan mewah dan elegan. Tentu dengan budget yang mahal dan fantastis.
Xana tak lupa membelikan Esra pakaian untuk hari ini karena malaikat kecilnya juga harus tampil keren malam ini. Semalam, Xana sedikit kurang tidur karena ada kerjaan yang membuatnya lama.
Tepat pada jam setengah 7 malam, Keluarga Wijaya sampai ke kediaman Keluarga Mahardika. Tentu saja banyak Wartawan yang ingin menyorot wajah dari anak Wijaya Group. Sedikit meresahkan tetapi tidak masalah karena hanya sebentar.
Ketika masuk ke pintu Aula pertama, Keluarga Wijaya di sambut oleh beberapa orang wanita paruh baya yang tak lain adalah para istri dari Tuan Mahardika. Di sini ada yang namanya selir dan Ibu Suri layaknya kerajaan Timur. Mereka pun memakai pakaian seperti seragam bentuk tetapi berbeda corak dan warna.
Ada pula Sheyla, putri ketiga dari 14 beradik perempuan. Jumlah ini sangat membuat Xana shock mengingat ia tidak punya adik.
"Tuan Lant Wijaya, Saya senang menyambut anda pada malam yang tenang ini! Saya menghargai betul apresiasi anda datang kemari," sambut Tuan Mahardika.
"Jangan berlebihan, ini bukan yang pertama kalinya." jawab Ayah singkat.
Sebenarnya jika dilihat begini lebih mirip Kak Sean sih. Tapi jika jahil mirip Kak Petra dan diam mirip Kak Albert.
Aula makan terletak di luar ruangan bagian belakang. Sudah berhias begitu banyak lampu, di hias bunga macam warna pula! Sungguh suatu niat yang tiada tanding.
Kami duduk di tempat yang telah di sediakan. Ayah dan Ibu duduk bersama Tuan Mahardika dan Ibu suri. Sementara Ketiga Kakak Xana duduk bersama dengan Xana berempat. Mereka tidak ingin mengajak orang lain, maka dari itu memilih mendempetkan tempat duduk agar tidak ada celah.
"Tuan Hanes, saya dengar seorang selir anda datang ke rumah saya mengajak perjodohan, apa itu benar?" Ayah memulai Aktingnya.
Xana mendengar kata 'selir' langsung tertawa kecil. Benar dong, Sheyla hanya anak selir dan Nyonya Rietta lah selirnya.
"Ayah melakukan aktingnya dengan baik!" puji Kak Petra senyum-senyum.
"Ah iya Tuan Lant, sebenarnya saya sendiri tidak tahu dan tidak mengerti apa maksud mereka. Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Tetapi jika Tuan Lant mau, pertimbangkan lagi saja, anak gadis kami Sheyla yang lugu dan polos menyukai Tuan muda Sean. Saya jamin tidak akan merepotkan karena Sheyla adalah anak pintar dan selalu menjaga kehormatannya." Tuan Hanes Mahardika mulai mempromosikan Sheyla layaknya barang.
"Menjaga kehormatan? Ah, saya sedikit kurang paham...." Ayah berpura-pura tidak mengerti.
Tuan Hanes sedikit kikuk saat Papa Bertanya seolah baru saja termakan omongan sendiri.
"Ah itu... Iya! Sheyla tidak pernah keluar malam dan berteman dengan pria. Bahkan keperawanannya menjadi unggulan!" puji Tuan Hanes penuh percaya diri.
Astaga, Aku bisa melihat raut wajah Sheyla yang memerah saat penyebutan keperawanan! Ada apa ya? Hihihi....
"Mama, Kak Sean bilang ingin ke toilet!" Xana meminta izin.
__ADS_1
"Biar saya tunjukkan jalannya!" ajak Sheyla.
Kak Sean hendak menolak, tapi Xana menghentikannya. Jika menolak, pastinya Sheyla akan mengikutinya diam-diam dan mengetahui rencana mereka.
"Terimakasih, mohon bimbingannya." Xana menggandeng Kak Sean pergi menuju toilet.
Kak Sean masuk dan menggunakan toiletnya cukup lama. Xana mulai memancing Sheyla berbicara.
"Saya heran, wajahmu di mataku sama sekali tidak lugu, bagaimana mungkin aku tertipu!" ejek Xana.
"Nona bisa saja! Saya memang lugu dan polos~" bicaranya lemah lembut.
"Oh, begitukah? Tetapi Selir kemarin begitu garang dan buas? Apa aku tidak salah lihat?" tanya Xana kembali mengejek.
"Nona Xana! Kau begini karena Ibuku seorang selir? Lihat saja nanti, Ketika Aku sudah menikah dengan Kakakmu, aku pasti akan menendangmu keluar dari keluarga Wijaya! Dasar j*lang!" Sheyla pun pergi. Xana segera mengetuk pintu toilet. Kak Sean keluar dan bertepuk tangan.
"Waw.... Kau ahli dalam memancing emosi sungguhan! Keren!" Kak Sean memuji atau mengejek?
"Udah! Ayo segera laksanakan saja!" Perintah Xana.
Segera mereka menuju suatu tempat. Xana dan Kak Sean tahu bahwa selanjutnya setelah makan malam akan ada menonton bersama di tempat yang sama. Tetapi keduanya mengganti kaset itu dengan kaset mereka sendiri. Tentu saja ini dilakukan diam-diam tanpa ketahuan siapapun.
"Bagaimana? Berhasil?" Tanya Kak Albert penuh penasaran.
"Iya dong! Siapa dulu~ Xana gitu loh!" Puji Xana pada dirinya sendiri.
Sekitar 15 menit kemudian, Acara menonton TV pun dimulai. Sebuah layar infokus besar dan lebar ditata serupa mungkin. Kaset kaset di persiapkan tanpa kecurigaan sedikitpun. Tetap duduk di kursi mereka sendiri, Xana menata tempat duduknya bersama dengan memangku Esra. Xana akan menyusui Esra dan kalau bisa akan menidurkannya.
Kain tebal yang hangat dan nyaman itu menyelimuti Esra dalam Menyedot susu dari botolnya. Esra yang tak tahan pun mengantuk dan tertidur. Xana masih menepuk-nepuk Esra dan sesekali meniup wajah Esra agar tak kepanasan.
"Pesta malam ini pasti buat Esra capek, bobo dulu ya...." Xana mencium jidat polos Esra.
Host membuka Acara, Putra sulung Mahardika menjadi host dan menyambut hangat. Pidato panjang ia lantunkan untuk keluarga Wijaya. Tak lupa pula kalimat perjodohan atas nama keluarga ia sangkut pautkan. Cih! Menjijikkan!
Tampak jelas raut Kak Sean tidak senang atas hal itu. Kak Sean dengan masker hitam yang di pakai tampak menjadi sorotan. Padahal sudah memakai masker tetap saja ganteng!
"Baiklah! Para hadirin mari kita menyaksikan film pendek yang disajikan keluarga Mahardika!" tutup Putra sulung yang sedikit pendek itu.
__ADS_1
Semua lampu yang kecerahan dimatikan, hanya layar infokus lah yang paling terang agar semua fokus pada layar.
"Lihat saja, putri yang mereka damba-damba kan itu akan hancur malam ini juga." Xana menyeringai dan berbisik kecil.
Video dimulai, bukan film yang keluar tetapi malah video dugem remaja yang memekakkan telinga. Sekejap semua orang kaget dan menutup telinga, termasuk keluargaku agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Apa ini? Mana video nya?" Protes Tuan Hanes.
Lalu video itu menyorot sebuah aksi intim seorang wanita dengan dua orang pria. Ya, Wanita itu langsung dikenali wajahnya yang merupakan Sheyla. Beberapa kali pula pria itu menyebut nama Sheyla dan menjawabnya. Mereka tampak memadu kasih dalam hubungan threesome.
Sheyla tampak pucat dan kaku. Semua mata memandangnya. Tentu ini adalah kepuasan tersendiri pada keluarga Wijaya.
"Hapus! Hapus!! Matikan!! Cepat Matikaannnnn!!!" Teriak Sheyla yang segera panik. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Semua orang telah melihat video itu.
Tampak pula raut masam dari Tuan Hanes tang tadi sempat menyombongkan Sheyla. Ia tidak percaya bagaimana putrinya yang kelihatan polos selama ini bisa berbuat begitu. Ia tak habis pikir ada sisi jahat begini dalam diri putri unggulannya.
"Ayah! Percayalah! Itu bukan aku! Aku dijebak! Aku tidak- "
PLAAAAAKKKKK!!!!!
Tamparan keras melayang dari tangan Tuan Hanes. Itu mengagetkanku karena sebelumnya belum pernah melihat Ayah memukul putrinya sendiri. Ibu Suri hanya diam dan memperhatikan segalanya.
"Rasain tuh! Siapa suruh membuat Mamaku stress dan pusing memikirkan dirimu! Ini pun masih kurang bagiku!" Xana menatap tajam Sheyla dari jauh.
Sekarang sudah saatnya semua keluarga angkat bicara dan berdialog.
"Apa-apaan ini! Tuan Hanes! Anda mencoba menipu diriku dengan menjodohkan putri cacatmu dengan pewaris Wijaya ku? Apa kau sedang menghinaku?!" Hardik Papa padanya.
Dengan sorot mata kejam, Ayah menatap lama Tuan Hanes. Ibu berusaha menenangkan Papa, karena itu adalah aktingnya.
Kemudian...., "Ayah! Aku tidak mau menikahi p*lac*r! Ini penghinaan bagiku!" Kak Sean mendobrak meja dan pergi.
"Sialan! Ini hanya penipuan belaka!" Kak Petra pergi dengan Kak Albert.
Giliran Xana, "Sebagai Wanita, aku merasa malu dan kecewa.... Aku ingin perjodohan ini ditiadakan dan tidak boleh ada selamanya! Aku membenci hal seperti ini! Bahkan putraku juga ikut melihatnya, keji sekali!" Xana menangis dan menghampiri Mama dan Papanya.
"Ma, Pa, Ayo pulang.... Aku takut jika nanti akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi,kumohon." bujuk Xana.
__ADS_1
Ini memperlihatkan ke semua orang bahwa Xana telah menyelamatkan Keluarga Mahardika dari kemurkaan Papanya, Lant Wijaya. Jika tidak di bujuk oleh Xana sendiri, pasti sesuatu buruk akan terjadi.
-BERSAMBUNG......