
"Eh, eh...Putri! Hampir jatuh kan lu". Ucap Adrian sambil memegang bagian belakang sepeda Putri
"Oh, itu kak Adrian yang dateng, kirain siapa. Makasih kak udah nolongin". Ucap Putri
"Iya, tapi lu ngapain diluar sendirian? Kalo diculik gimana?". Tanya Adrian
"Diculik, emangnya anak kecil?..."
"Gue ini lagi belajar sepeda kak".
"Ya kenapa sendirian? Dewa mana? Suami lu mana?".
"Kak Dewa didalem, suami gue lagi di kafe. Kak Adrian mau ketemu kak Dewa kan? Masuk aja".
"Lu juga masuk".
"Nanti, masih mau naik sepeda".
"Masuk ngga? Ini sepi banget ngga ada siapa-siapa, kalo ada orang jahat gimana?".
"Masih pengen diluar, kak".
"Masuk, Putri. Gue bilangin Dewa nih, ya".
"Ih, nyebelin banget". Ucap Putri sambil menghentakkan kakinya
Putri pun menuntun sepedanya masuk kedalam halaman rumah, diikuti dengan Adrian dibelakangnya
"Ya ampun, sayang. Kamu dari mana? Kakak nyariin kemana-mana tapi ngga ada". Ucap Dewa saat bertemu dengan Putri dan Adrian didepan pintu utama
"Nih, diluar sendirian katanya lagi belajar sepeda. Gue suruh masuk malah ngambek". Ucap Adrian
"Kan kakak bilang nanti kakak temenin, jangan diluar sendirian takutnya kenapa-napa". Ucap Dewa mengusap kepala Putri
"Kakak kelamaan, aku bete, kak".
"Yaudah tunggu ya, kakak selesain kerjaan dulu. Nanti kakak temenin kamu".
"Aku sendirian gapapa kak, ya?". Ucap Putri dengan tatapan memohon
"Jangan, ngga ada yang ngawasin kamu...tunggu kakak selesain kerjaan dulu".
"Ngga usah lah kalo gitu". Ucap Putri sambil berjalan menaiki tangga, meninggalkan Dewa dan Adrian dipintu utama
"Lah, beneran ngambek?". Ucap Adrian
"Biarin, dia emang gitu kalo dilarang. Ayo masuk". Ucap Dewa, Adrian mengangguk dan mengikuti Dewa keruang kerjanya
"Woy, ini foto anak siapa banyak banget?". Tanya Adrian sambil memperhatikan barisan bingkai foto yang ada dirak buku Dewa
"Anak nyokap bokap gue lah". Jawab Dewa
"Kayaknya cewek, ya?". Tanya Adrian, Dewa hanya berdehem
"Eh, jangan-jangan ini Putri". Ucap Adrian ketika menyadari sosok anak difoto itu
"Ya, iyalah. Lu pikir itu gue?". Ucap Dewa
"Hah?". Adrian kembali memperhatikan satu persatu foto tersebut dengan seksama
"Anjir, ini bocah lucu banget kecilnya?..."
"Ini waktu bayi? Ya ampun, speechless gue. Ngga heran kenapa gedenya cantik". Ucap Adrian
"Lu muji-muji lucu, kenapa jadi cantik?". Tanya Dewa
"Hahaha, maksud gue dari kecil udah cantik..."
"Udah lah, kenapa jadi ngeliatin foto, mana file nya? Gue liat dulu sini". Ucap Adrian sambil menghampiri Dewa dimeja kerjanya
"Heh, kali ini gue bantuin, kalo gagal gue angkat tangan deh, males berurusan sama mafia". Ucap Adrian
"Iya, urus aja dulu". Ucap Dewa
Brak, Dewa dan Adrian tersentak saat Putri tiba-tiba membuka pintu dengan sangat kasar
"Untung gak copot tuh pintu". Ucap Adrian
"Kenapa? Hmm?". Tanya Dewa
"Mana donat aku, kak? Kok lama banget sih?". Tanya Putri
"Oh iya, udah daritadi tapi belum dateng juga, ya. Bentar kakak tanya dulu". Ucap Dewa sambil meraih ponselnya
"Sini masuk, duduk". Ucap Adrian sambil menepuk sisi sofa disebelahnya
"Ngga, males..."
"Aku tunggu ya, kak. Kalo masih lama batalin aja, udah ngga mood aku". Ucap Putri sebelum menutup pintu ruang kerja Dewa
"Itu bocah kenapa sih marah-marah mulu?". Tanya Adrian
"Bingung gue juga, lagi dapet kali". Jawab Dewa, Adrian pun mengangguk
Tiga puluh menit berlalu, Tahta baru tiba dirumah, ia segera memasuki kamar Putri, menghampiri istrinya yang sedang duduk menekuk lutut disofa ruang TV dengan raut wajah yang terlihat tidak semangat
Tahta pun mendudukkan bokongnya disebelah Putri, memeluk seluruh tubuh istrinya dengan erat, sambil menatap Putri yang masih fokus pada layar TV, Putri tidak mengindahkan kehadirannya
"Hey, itu bibir kenapa manyun gitu? Aku cium nih, ya". Ucap Tahta sambil mendekatkan bibirnya kearah bibir Putri yang sangat menggoda untuk ia cium
"Diem deh, aku lagi badmood". Ucap Putri saat mendorong kepala Tahta menjauh darinya
"Kenapa? Cerita dong, bang Dewa nakal ya? Dia ngapain kamu?". Tanya Tahta
"Kesal, ngga boleh main sepeda".
"Kenapa tuh?".
"Kak Dewa sibuk, terus aku keluar main sepeda sendiri tapi ngga boleh".
"Ya jangan dong, sayang. Masa sendiri? Nanti kalo ada apa-apa gimana?".
"Ck, kamu sama aja kayak kak Dewa".
"Masih pengen naik sepeda? Ayo, sama aku".
"Ngga mau..."
"Mau belajar motor kamu boleh ngga?". Tanya Putri sambil tersenyum dan melingkarkan tangannya pada leher Tahta
"Yang bener aja, sayang? Kalo motor kamu ayo aja aku ajarin..."
"Mintanya aneh-aneh nih, bawaan bayi ya?". Ucap Tahta sambil menciumi leher Putri
__ADS_1
"Ugh...geli". Ucap Putri menggeliat
"Oh iya, kapan mau pulang kerumah baru? Kamu kan belum liat rumahnya".
"Hmm, besok aja ya? Barang-barang kita kan masih banyak di apartment".
"Yaudah, nanti kita ke apartment..."
"Sekarang...aku pengen makan kamu dulu".
"Akh". Putri menjerit saat Tahta menggigit dan menghisap lehernya
Tok tok tok
"Put? Kakak masuk ya". Ucap Dewa dari balik pintu
Tahta membuang nafas kasar sambil meninju permukaan sofa. Ia kesal jika ada yang mengganggu waktunya dengan Putri
Tahta pun bangun dari duduknya dan segera membukakan pintu untuk Dewa
"Mau ngapain sih lu?". Tanya Tahta
"Oh, lu udah balik. Putri mana? Ada Nindi dibawah".
"Nanti gue kasih tau. Udah, sana". Ucap Tahta sambil menutup pintu kamarnya dan kembali menghampiri Putri
"Kenapa, kak?".
"Dibawah ada Nindi".
"Oh iya, tadi aku janjian mau ke kampus bareng, ini dia mau jemput aku".
"Kamu cuma bimbingan kan?".
"Iya. Tapi pulang bimbingan aku mau ke toko buku, boleh kan?".
"Sama Nindi kan? Jangan sendirian".
"Iya, sayangku. Aku siap-siap dulu".
Putri mengacak rambut Tahta sekilas sebelum meninggalkannya untuk bersiap menuju tempat kuliahnya
Beberapa jam telah berlalu, Putri telah selesai dengan bimbingan tugas akhir kuliahnya, ia berjalan bersama Nindi menuju parkiran mobil dan berencana untuk mengunjungi toko buku bersama sahabatnya itu
"Kak, kak Putri". Ucap seorang mahasiswa yang menghadang langkah Putri
Putri pun menatap laki-laki berperawakan tinggi dihadapannya ini
"Siapa?". Tanya Putri
"David kak, teknik mesin semester empat. Sorry sebelumnya, ada yang mau gue omongin penting sama lu..."
"Boleh ngobrol disana kak? Berdua aja?". Tanya David sambil menunjuk bangku panjang yang ada ditaman kampus mereka
"Heh, siapa elu ngajak Putri ngobrol berdua? Sok akrab banget baru ketemu, juga". Ucap Nindi
"Gapapa Nin, tunggu sebentar". Ucap Putri
"Awas lu ya kalo macem-macem". Ucap Nindi sambil menatap tajam kearah David
"Engga kak, sumpah ngga macem-macem, cuma ngobrol". Ucap David
"Yaudah sana". Ucap Nindi
Putri pun berjalan menuju kursi panjang tersebut, Putri dan David sama-sama duduk diujung dari kursi tersebut
"Gini kak, lu adiknya Siska kan?". Tanya David
"Iya, kok lu kenal kakak gue? Dan lu tau dari mana kalo gue adiknya?".
"Siska pernah cerita kalo dia punya adik yang satu kampus sama gue..."
"Dan gue kenal Siska di club, sekitar lima bulan yang lalu..."
"Tujuan gue nyari lu, karna gue mau tanya keberadaan Siska. Udah dua minggu dia ngehindarin gue". Ucap David
"Karna apa?". Tanya Putri
"Dia hamil anak gue, dia marah karna gue ngga bersedia buat tanggung jawab".
Putri tercengang mendengar jawaban David, ia pun mendadak emosi. Jadi sosok ini lah yang telah membuat sang kakak hamil dan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya
Putri pun bangun dari duduknya, ia berdiri di depan David dan menarik kencang bagian depan dari jaket yang dipakai David
"Jadi lu orangnya?! Lu yang hamilin kakak gue?! Brengsek!".
"Sorry, kak...sorry". Ucap David sambil perlahan-lahan melepaskan tangan Putri dari jaketnya
"Gue ngga sengaja, kak. Gue ngga punya niat bikin Siska hamil..."
"Lu jangan emosi dulu, please. Duduk dulu kak". Ucap David sambil menuntun Putri untuk duduk dibangku, namun Putri memberontak dan segera duduk kembali di tempatnya
"Gue bakal ceritain semuanya ke lu. Gue udah beberapa kali berhubungan sama Siska, dan terakhir itu kita berhubungan tanpa kontrasepsi..."
"Gue ngga kepikiran itu karna gue lagi nge-blank, gue mabok, begitu pun Siska..."
"Dan semua udah terlanjur, sampai Siska ngabarin kalo dia hamil...gue sempet tanya buat yakinin kalo itu anak gue atau bukan..."
"Ternyata benar, karna Siska ngga berhubungan sama orang lain setelah sama gue, dia ngga pernah ke club lagi karna sibuk ngurus anaknya yang sakit..."
"Dan sorry, kenapa gue ngga bisa tanggung jawab, karna nyokap gue ngga setuju gue nikahin janda, apalagi udah punya anak..."
"Gue mau ketemu Siska buat jelasin itu". Ucap David
Putri tertawa kecil setelah mendengar jawaban panjang lebar dari mulut David
"Gila, ya. Kasihan banget kakak gue..."
"Lu tau? Bokap gue marah, dia minta lu tanggung jawab". Ucap Putri
"Sorry, gue ngga bisa kak". Ucap David
"Ck, jadi laki-laki jangan mau enaknya aja, dong!..."
"Gimana nasib kakak gue? Dia ngurus anak lu sendirian, itu yang lu mau?". Tanya Putri
"Mungkin cuma itu pilihannya". Jawab David
"Haha. Pengecut..."
"Kesel banget denger jawaban lu. Rasanya pengen gue tampar muka lu sekencang-kencangnya". Ucap Putri
"Tampar aja, kak. Lu berhak marah". Jawab David
__ADS_1
Putri menarik nafas sedalam-dalamnya, ia terbawa emosi, darahnya mendidih menghadapi laki-laki dihadapannya ini
"Lu nyari kak Siska kan? Dateng ke komplek Bougenvile nomor delapan belas..."
"Sekalian temuin bokap gue, jelasin semuanya". Ucap Putri
"Ok". Ucap David mengangguk
Putri pun bangun dari duduknya dan menghampiri Nindi yang sedang duduk tidak jauh dari mereka
"Ngobrolin apa sih sampe emosi gitu?". Tanya Nindi
"Soal kakak gue, dia cowoknya". Jawab Putri
"Oh. Yaudah, ayo". Ucap Nindi sambil berjalan menuju mobilnya diikuti oleh Putri yang masih menoleh menatap David yang masih duduk diposisinya
"Agak sedih waktu dia bilang ngga sengaja ngehamilin kak Siska, segampang itu, ya..."
"Sedangkan gue sama kak Tahta, yang selalu berusaha malah belum dikasih sampai sekarang..."
"Aah, ngga boleh iri, Putri. Percaya Tuhan akan ngasih malaikat kecil buat lu di waktu yang tepat"
---
"Gue heran, selalu ada orang yang ganggu atau nyakitin Mput, sebenarnya salah Mput apa sih sama mereka?..."
"Sekarang Siska, tega banget dia ngomong gitu ke Mput, padahal Mput adik kandungnya". Keluh Tahta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
"Setau gue Mput itu baik ke orang lain, tapi selalu dibalas kayak gini". Sambung Tahta
"Yaudah, sabar. Kita ngga bisa minta seseorang buat suka sama kita, meski kita udah baik sama mereka". Ucap Dewa
"Ya, tapi ngga adil, bang. Gue ngerasain apa yang Mput rasain". Ucap Tahta
"Yang lu omongin dateng nih". Ucap Raja sambil berjalan kearah ruang keluarga
Tahta dan Dewa kompak menoleh, mereka menatap Raja yang sedang menggendong Azzam diikuti Siska dibelakangnya, Tahta mengeryit menatap Siska, sosok yang baru saja ia bicarakan dengan kakaknya, kini muncul dihadapannya, untuk apa?
"Azzam, sini sama om, sayang". Ucap Dewa sambil mengulurkan kedua tangannya, Raja pun memberikan Azzam kepada Dewa setelah itu berjalan menuju kursi yang ada disisi kolam renang
Sementara Dewa membawa Azzam bermain diruang kerjanya, meninggalkan Tahta dan Siska berdua diruang keluarga. Tahta sempat kebingungan, mengapa kedua kakaknya itu meninggalkannya? Namun ia berusaha tetap tenang, ia pun menoleh, menatap Siska yang masih berdiri disisi sofa
"Mau berdiri terus?". Tanya Tahta, Siska menggeleng pelan
"Yaudah, duduk". Ucap Tahta
"Makasih". Ucap Siska, Tahta acuh dan memilih untuk menatap layar TV
"Eum, Putri...kemana?". Tanya Siska dengan pelan, Tahta pun menoleh menatap Siska yang duduk disofa sebelahnya
"Kenapa nyari Putri?". Tanya Tahta
"Soal kemarin dirumah ayah, gue minta maaf. Ibu cerita katanya Putri nangis setelah gue ngomong kayak gitu..."
"Jujur gue ngga ada maksud nyakitin Putri". Ucap Siska
"Oh. Lu kesini dipaksa ayah sama ibu buat minta maaf?". Tanya Tahta, Siska menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat
"Gue kesini karna kemauan gue sendiri".
"Hmm. Minta maafnya sama Putri, bukan sama gue". Ucap Tahta
"Ya, gue tau. Tapi sorry kalo lu ngga terima sama omongan gue".
"Iya, gue ngga terima lu nyakitin istri gue kayak gitu..."
"Lu ngga tau kan gimana berharapnya Putri punya anak? Jelas omongan lu itu bikin Putri sedih".
"Gue minta maaf, gue ngga sengaja ngomong itu".
Tahta tersenyum tipis mendengar ucapan Siska
"Ngga sengaja, ya? Tapi yang gue liat lu sengaja, bahkan sempet-sempetnya senyum. Ngejek Putri, kan?".
"Engga, sumpah ngga kayak gitu, Tahta. Gue bener-bener ngga sengaja". Ucap Siska dengan raut wajah penyesalan
"Kakak?". Putri menghentikan langkahnya saat ia melihat Siska diruang keluarga
"Putri? Put, sorry soal kemarin". Ucap Siska, Putri mengangguk paham, ia mengerti apa yang diucapkan kakaknya itu
"Gue ngga ada maksud-"
"Lupain aja, kak. Aku gapapa kok..."
"Aku tinggal ya, kak. Mau mandi". Ucap Putri sebelum meninggalkan ruang tamu
"Haha, istri gue emang baik banget". Gumam Tahta sambil bangun dari duduknya dan menyisakan Siska seorang diri diruang keluarga
Tahta menghampiri Putri dikamarnya, ia dekati istrinya yang terlihat sedang membuka pakaian atasnya
"Aku aja". Ucap Tahta saat mengambil alih kegiatan Putri, Putri pun membiarkan Tahta melanjutkan kegiatannya
"Kakak belum mandi?". Tanya Putri
"Belum, nunggu kamu". Jawab Tahta
"Huuu, ngga mau ketinggalan kalo urusan mandi".
"Iya dong, ngapain mandi sendiri? Lebih baik mandi berdua, dapat pahala, hehe..."
"Sayang, jangan pake rok pendek lagi, ya? Enak banget cowok-cowok bebas ngeliatin paha kamu". Ucap Tahta sambil menurukan resleting rok yang dipakai Putri
"Ini masih aman kak, ngga keliatan banget kok".
"Tetap aja, kalo kena angin paha kamu keliatan, aku cemburu sama mereka yang ngeliatin kamu".
"Haha, yaudah, iya. Besok-besok ngga aku pake lagi".
"Gitu dong, ayo kitan mandi". Ucap Tahta sambil membopong Putri yang sudah polos tanpa pakaian
"Kakak ngga buka baju dulu?".
"Didalem aja". Ucap Tahta sambil melangkah memasuki kamar mandi
---
Gaesss aku mau spill visual selanjutnya ya
Tadaaa~
Siapa kah ini?
__ADS_1
Jawabannya adalah Nagita 😈 ayangnya Raja, hehe
Eum, ku tengok ada wajah jutek, ku comot lah buat visualnya mbak Nagita wkwk