Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 35 LIBURAN


__ADS_3

Ayahku adalah seseorang yang berpendirian tegas. Ia sangat jarang menarik ucapannya kecuali jika ada istri atau putri bungsunya yang meminta.


"Apakah aku harus membunuhmu dulu baru tahu betapa pentingnya putriku?" Tuan Lant sudah memanggil anak buahnya yang memegang senjata lengkap.


"Tuan! Saya mohon ampun! Atas nama Sherly saya meminta maaf! Selama ini saya lalai mendidiknya dan tidak tahu bahwa dia bisa sebodoh ini," Ibu Sherly memohon.


"Aku tidak pernah menarik kata-kataku," tegas Ayah.


Kini mereka tinggal berharap pada Xana. Sembari bersimpuh lutut mereka menempelkan kedua telapak tangan dan memohon kepada Xana.


Xana mengambil sinyal dari mata mereka yang lemah. Xana tahu pasti mereka akan melakukan ini padanya.


"Papa, kasihan mereka karena masih muda. Aku tahu Papa pasti sangat marah karena orang rendahan seperti mereka justru mengataiku. Tetapi aku punya solusi yang mungkin bisa memuaskan Papa," Xana mengelus pundak Ayahnya.


"Kau punya solusi lain? Katakan" jawab Ayah Xana yang masih tegas berdiri.


"Begini saja, Papa pecat paman ini dari pekerjaan sebagai Kepala Sekolah, begitu pula dengan anaknya. Aku tidak menyukai mereka dan muak jika harus melihat mereka selama setahun lagi di sini," jawab Xana.


"No-Nona Xana.... Apakah tidak bisa dipertimbangkan lagi? Saya bisa berikan apa pun tapi tolong jangan pekerjaan saya," pinta Kepala Sekolah yang sedang memelas.


"Apa Aku peduli? Itu kesalahanmu yang tidak bisa mendidik putrimu dengan benar,Paman." Jawab Xana dengan mendongakkan wajahnya dan melirik ke bawah.


"Nona saya mohon.... Usaha ini sudah saya tekuni selama berta-"


"Lancang! Masih untung kuberi hidup! Kamu menolak? Ya sudah mati saja di tanganku!" Papa Xana sudah Emosi.


"Paman ini, sudah diberi yang begini malah masih menawar. Mulut paman sudah membangunkan singa Papaku, jadi atasilah sendiri," ujar Xana.


"Baik Tuan Lant! Saya terima hukuman ini dan akan menjalankan sesuai prosedur! Maafkan saya Tuan!" Paman itu segera bersujud lutut dan memohon.


Papa mengiyakan mereka, lalu pulang segera. Xana membantu Lea meminta izin ke keluarga Lea langsung. Keluarga Lea tentu senang rupanya putrinya memiliki teman Akrab seperti Xana.


"Sekarang kita bakal kemana nih?" Tanya Xana ketika memasuki mobil. Ia duduk di samping Lea.


"Liburan ke pantai mau?" Tanya Kak Albert.


"Mau Mau Mau!" Xana menjawab berapi-api. Sudah lama ia tidak pergi berlibur dengan keluarganya.


"Baby, emang gapapa bawa temanmu itu?" Tanya Kak Petra.

__ADS_1


"Gapapa, aku udah izin." Jawab Xana.


"Bukan begitu, kita akan liburan cukup lama tetapi membawa anak orang. Apa perlu aku ajak keluarganya ikut?" Tanya Kak Petra.


"Aku tahu maksud Kak Petra, tetapi aku lebih tahu tentang Lea di banding kakak. Jika memang keluarga Lea penting, pasti dia sudah memintaku mengajak mereka, tapi buktinya... Membahaspun tidak! Berarti dia emang ga mau..." Jawab Xana sembari menyiapkan handphonenya.


"Wanita itu sulit dimengerti ya...." Kak Petra masih sedikit bingung.


"Waw, bagaimana kau bisa tahu bahkan hal sekecil itu?" Tanya Lea yang penasaran sejak tadi.


"Yeah, karena jika penting bagimu, boro-boro buat lupa, kamu aja pasti akan kebingungan. Tetapi dengan mereka, kamu seolah menganggap mereka tidak ada." Jawab Xana lagi.


Lea mengagumi kepintaran Xana di atas rata-rata itu. Bahkan hanya hal kecil begini dia bisa mengamatinya dan meneliti dirinya.


Sebenarnya, Lea memiliki cukup banyak Saudara dan Saudari. Ia memiliki 7 Kakak, 3 perempuan dan 4 laki-laki. 3 Adik, satu perempuan dan 2 laki laki.


Melihat keluarga kecil Xana yang bahagia membuat Lea iri dan merindukan hal seperti itu di keluarganya. Tidak terasa Lea memikirkannya dalam lamunan yang cukup lama.


"Lea? Kenapa? Kok ngelamun sih?" Tanya Xana.


"Ah, ngga kok, ini aku kepikiran ikan peliharaanku dirumah. Ya aku takut orang rumah ceroboh terus ikannya mati," jawab Lea sedikit terbata-bata.


"Oh ikan..." Xana hanya mengiya.


"Woahh... Ganteng banget ini..." Lea terpesona seketika.


"Haha.... Esra, ini aunty Lea, mulai sekarang panggil begitu ya," ujar Xana sembari mengelus lembut Esra.


"Mana ibunya nih? Aku ingin mengucapkan selamat kepadanya," Lea tiba-tiba bangkit.


"Apa aku tidak mengabarimu?" tanya Xana yang menjadi bingung.


"Kabar apa? Tentang apa?" Lea tambah bingung.


"Ibu Esra meninggal setelah melahirkan dia, belum sempat Esra meminum ASI ibunya bahkan menyentuh pun tidak." Xana kembali sedih mengingat.


"Astaga, aku beneran nggak tahu!! Aku turut berduka cita...." Lea ikut sedih.


Selanjutnya, mereka mengajak bermain Esra keluar dengan kereta dorong. Lea tampak senang dengan Esra dan langsung akrab. Padahal bocah itu belum setahun tapi sudah tahu saja mencari teman.

__ADS_1


"Kalau dilihat begini seperti dirimu saja Ibunya Xana," Lea mengatakan itu karena melihat Esra yang menyukai makanan dari Xana.


"Yahh, lagi pula anak ini sudah dititipkan padaku, jadi.... Aku adalah Ibu pengganti Anak ini," jawab Xana menyuapi Esra.


"Kayaknya seru deh kalo ada dedek bayi yang lucu dan gemesin kek dia, mana anteng banget lagi ya ampuunnn..." Keluh kesah Lea yang suka mencubit pipi gembul Esra.


"Jangan Aunty.... Pipi Esra sakit... Iya nak? Iya ya?" Xana mengejek.


"Wah, padahal nggak kuat banget loh, ni emaknya ngajarin enggak bener!" Lea mengelak dan kembali menyubit kecil pipi Esra.


Hari mulai gelap, segera Xana memasukkan Esra ke dalam. Lea segera mandi agar bisa bergantian dengan Esra. Esra memiliki kamar mandi sendiri, jadi bisa berganti baju di sana.


Kebetulan, Lea dan Esra selesai mandi bersamaan. Lea masih mengeringkan rambutnya di kaca Xana. Xana sendiri menyiapkan Pakaian malam untuk Esra kecil. Ketika Xana membuka lemari pakaian, Lea langsung kaget bukan kepalang.


"Wow!! Gila, itu semua baju Esra?" Tanya Lea yang membelalakkan matanya.


"Iya, aku sedikit bingung waktu memilih motif dan corak yang cocok, jadi aku beli semua, tapi kayaknya keren semua juga sih," Xana menjawab sambil segera memberi pakaian Esra.


"Asli, keren banget bajunya, ada yang bergaya Ala bos gitu juga, wah aku menunggu dirimu punya anak juga deh!" Lea melihat sedikit demi sedikit baju itu lalu menutup lemari.


"Heh, Bayi! Kamu tuh beruntung banget tau gak, punya emak kayak Xana, udah baik, cantik lagi! Nanti kalo lo udah gede, pokoknya kudu nurut deh sama Xana!" Lea menghardik Esra.


Esra seakan mengerti saja apa yang dikatakan Lea. Esra mengangguk angguk dan sesekali berkomat-kamit seolah menjawab Lea. Anak kecil itu lucu ketika mulai berbicara, Xana mulai tidak sabar menunggu Esra besar. Sekarang umur Esra masih 5 bulan.


"Besok kita Liburan kemana sih Lea? Pantai mana?" Tiba-tiba Lea bertanya.


"Kalo masalah pantai, Kakakku yang akan mengaturnya, tapi selain pantai..... Itu adalah hakku~" jawab Xana sembari menenteng handuk segera mandi.


"Titip Esra ya Aunty Lea,"


"Siap Bos!"


Xana segera mandi. Selama ia mandi, Xana memikirkan Esra. Ia berpikir bagaimana harus menjelaskan ini semua pada putranya itu. Xana harus menyayangi Esra sepenuh hati dan tidak membedakan dia dan anak kandungnya sendiri kelak.


"Mungkin kelihatannya sulit, tapi aku yakin bisa melakukan ini demi Melisa," Xana berbisik di balik derasnya Air pancuran yang membasahi tubuhnya.


Selesai mandi, Xana dan Lea mengajak Esra makan malam bersama di bawah. Biasanya Xana bersama Kak Sean turun, kini digantikan oleh Esra.


"Woi! Baby Xana, Kak Sean belum turun, jemput gih!" Kak Petra berteriak seakan ada jarak yang memisahkan mereka.

__ADS_1


"Astaga, baiklah baik!" Xana menaruh Esra di tempat duduk makan mini tinggi di dekat Xana. Lea duduk menunggu Xana turun.


-Bersambung....


__ADS_2