Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Menginap di Apartment


__ADS_3

(Guys, chapter ini aku upload ulang+sedikit revisi. Aku gak tau kenapa chapter ini dihapus sama pihak NT, kayaknya ada kesalahan, i don't know. But, happy reading)


...¤¤¤...


Setelah lima belas menit perjalanan, mereka tiba di apartment, Tahta membawa seluruh kantong berisi belanjaan yang tadi mereka beli di supermarket, sementara Putri asik melahap ice cream ditangannya sambil membuntuti langkah panjang Tahta dibelakangnya


"Mau aku bantuin ngga?". Tanya Putri


"Ngga usah, nanti kamu capek". Jawab Tahta


"Lebay, emangnya bawa karung? Ini, makan ice cream dulu biar semangat". Ucap Putri sambil menyuapi Tahta ice cream


"Hahaha kamu yang lebay, bawa kantong belanja aja disemangatin". Ucap Tahta


"Hehe, ini lantai berapa kak?". Tanya Putri saat mereka sudah tiba didepan lift


"Sembilan sayang". Jawab Tahta


Putri menekan tombol lift, menuju lantai tujuan mereka


"Akses nya di tas kakak, ambil deh". Ucap Tahta sambil menyodorkan waist bag yang ia pakai ditubuhnya, Putri mengangguk paham, ia ambil kunci akses unit tersebut didalam tas Tahta


Pintu terbuka, mereka segera melangkah memasuki tempat tinggal baru mereka


"Itu kan ada dapur, dipake masak ya, jangan males". Ucap Tahta


"Hehehe". Putri hanya tertawa meringis


"Oh iya kemarin kakak udah bawa beberapa baju kesini". Ucap Tahta


"Baju aku dibawa ngga?". Tanya Putri


"Dibawa dong, coba liat di lemari". Ucap Tahta, Putri mengangguk dan langsung berjalan menuju lemari pakaian


"What?".


"Bener-bener ya ni orang".


"Da-riel Tah-ta Ma-hen-dra!". Jerit Putri, Tahta yang sedang melepas jaketnya buru-buru menghampiri Putri


"Hadir bu".


"Ini kok lemari isinya lingerie semua sih?". Tanya Putri sambil menunjukkan beberapa gaun tidur miliknya yang terbilang sangat terbuka alias se xy


"Iya, emang kenapa? Kakak bawa yang ada dirumah, kalo yang dirumah ayah ngga kakak bawa". Ucap Tahta sesantai mungkin


"Tapi kenapa lingerie semua? Ngga ada baju? Celana panjang? Celana pendek?". Tanya Putri sambil melihat-lihat isi lemarinya. Ternyata benar, hanya ada lingerie dan underwa*e


"Iya, kakak bawa yang penting aja". Ucap Tahta


"Hah? Lingerie penting?". Tanya Putri


"Ya iya lah. Kakak bawa semua karna kakak ngga mau kamu pake itu lagi di depan Raja sama Dewa". Jawab Tahta sambil tersenyum


Putri menarik nafas-nafas dalam


"Ya terus selama disini aku cuma pake lingerie gitu?". Tanya Putri


"Iya dong, kalo di depan kakak gapapa. Ngga pake baju juga boleh". Jawab Tahta sambil menaik turunkan kedua alisnya


Plak, Putri menepuk pipi Tahta


"Kamu mesum". Ucap Putri


"Hahaha mesum ke istri sendiri halal kan?". Ucap Tahta


"Tau ah". Ucap Putri


"Hehe, oh iya sayang, kakak belum makan, masak dong". Ucap Tahta sambil mengusap pipi Putri


"Ih kalo ada maunya ngusap-ngusap". Ucap Putri


"Hehe masak ya". Ucap Tahta merajuk


"Masak apa?". Tanya Putri


"Yang simpel aja, udah malem nanti kamu capek". Ucap Tahta


"Nasi goreng seafood mau?". Tanya Putri


"Boleh, makasih sayangku". Ucap Tahta


"Hmm, aku ganti baju dulu". Ucap Putri


"Pake lingerie?". Tanya Tahta


"Ya iya lah, ada nya cuma ini". Ucap Putri sambil meraih gaun tidurnya


"Hehehe gemes dong". Ucap Tahta


"Hihihi gimis ding". Ucap Putri sambil mencibik bibirnya seolah meledek


---


Pukul sepuluh malam. Putri menaruh ponselnya setelah cukup lama berbalas pesan dengan Nindi. Putri melirik kearah meja didepan TV, menatap Tahta yang sedang duduk bersila diatas karpet dengan laptop dihadapannya


"Kakak". Panggil Putri dari tempat tidur


"Apa sayang". Ucap Tahta tanpa menoleh

__ADS_1


"Mau bobo, usap-usapin". Ucap Putri


"Sebentar ya, nanggung". Ucap Tahta


"Hmm".


Putri membetulkan posisi tidurnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya


Sepuluh menit berlalu, Tahta sudah selesai dengan tugasnya. Setelah menutup laptopnya, Tahta segera mencuci tangan dan kaki lalu menghampiri Putri di tempat tidur


"Lah udah molor".


Tahta merangkak ke tempat tidur, masuk kedalam selimut dan menghimpit tubuh Putri. Ia masukkan tubuh mungil itu kedalam dekapannya


Hangat, itu lah yang Tahta rasakan, tubuh Putri yang tertutup gaun tidur super mini, membuat permukaan kulitnya terasa hangat saat bersentuhan


Tahta menelusupkan tangannya kebalik gaun tidur Putri, ia usap punggung halus itu dengan gerakan perlahan, sambil ia hirup puncak kepala beraroma rosemary yang akhir-akhir ini menjadi aroma favoritenya


"Ugh". Putri menggeliat, tangannya meraba-raba seperti mencari sesuatu


"Heh, kamu megang apa". Bisik Tahta


Putri terbelalak, ia menarik tangannya yang ternyata sudah ada dibawah, ditengah-tengah mereka


"Maap, aku nyari guling". Ucap Putri


"Terus tadi megang apa?". Tanya Tahta


"Itu, keras". Jawab Putri


"Pfft, hahahaha". Tahta tertawa geli


"Haduh, tangannya nakal". Ucap Tahta


"Ngga sengaja". Ucap Putri


"Hahaha yaudah, bobo lagi. Kakak usap-usap". Ucap Tahta sambil memasukkan kembali tangannya ke dalam gaun tidur Putri


"Kak?".


"Apa?".


"Aku mau nanya tapi kakak jangan marah ya".


"Iya, mau nanya apa?".


"Hmm, aku ngga bakal nikah sama kak Raja ya?".


Tahta menghentikan gerakan tangannya mendengar pertanyaan Putri


"Kakak rasa kamu udah tau jawabannya. Engga. Kakak ngga izinin kamu menikah lagi dan sampai kapan pun kakak ngga akan mengalah dari Raja, jadi buang jauh-jauh keinginan kamu buat nikah sama dia. Udah jelas jawaban kakak? Jangan ditanya lagi, ngerti?".


Putri mengangguk pelan, ia menyembunyikan wajahnya didalam pelukan Tahta sedalam mungkin


"Good, pinter". Ucap Tahta


"Selesai. Selesai hubungan gue sama Raja".


---


Pukul tujuh pagi Putri baru bangun dari tidurnya, ia melepaskan tangan Tahta yang melingkari pinggangnya lalu berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri


Setelah melepas gaun tidurnya, Putri bercermin, lagi-lagi pikirannya tertuju pada Raja. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang harus ia katakan pada Raja mengenai pernikahannya dengan Tahta


Tentu ia harus berkata jujur. Namun ia bingung harus memulai dari mana. Sudah pasti Raja tidak akan terima pernikahannya begitu saja


"Hubungan gue sama Raja udah ngga ada harapan, gue ngga tega, tapi gue harus apa? Kak Tahta ngga mau ngelepasin gue".


Putri mencengkram pinggir wastafel, ia merasa sudah menghianati Raja, ia jahat, ia egois, ia menyakiti Raja, sosok yang sudah melakukan banyak hal untuknya, sosok yang telah membantunya bertemu keluarganya


Apakah semua kebaikan Raja patut dibalas dengan penghianatan seperti ini? Putri merasa benci pada dirinya sendiri, ia diambang kebingungan yang sangat menyiksa


Sejujurnya ia tidak ingin menyakiti kedua laki-laki itu dengan memilih salah satunya, karena mereka sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak ia kecil. Tapi apa yang bisa ia perbuat? Tidak ada. Usahanya saat meminta pisah berakhir sia-sia


"Mati aja ngga sih? Daripada gue bingung kayak gini".


Klek, pintu kamar mandi terbuka, Putri terkejut bukan main saat menyadari kalau tubuhnya tidak berbalut apapun


"Sayang?". Ucap Tahta


"Hehehe kakak". Putri tertawa kaku sambil menatap Tahta dari cermin


"Eum, kakak mau ngapain?". Tanya Putri


"Mandi. Tadi ibu nelfon, katanya Raja ada dirumah, dia nyariin kamu".


"Hah? Serius?". Tanya Putri berbalik arah


"Ehem". Tahta menutup mulut dengan kepalan tangannya


"Ah? Hehehe yaudah, ayo mandi". Ucap Putri


"Hah? Mandi? Bareng?". Tanya Tahta


"Iya, cepetan, pasti kak Raja curiga kenapa aku ngga ada dirumah". Ucap Putri sambil memutar shower


Tahta mendadak linglung. Apa ia harus mandi bersama Putri?


"Kak, ayo sini". Ucap Putri

__ADS_1


Tahta tersentak, lalu mengangguk. Ia melepaskan seluruh pakaiannya lalu bergabung dengan Putri dibawah shower


"Rileks aja kak, ngga usah tegang". Ucap Putri sambil menuang sabun cair ditangannya


"Iya, iya". Ucap Tahta


Putri tersenyum. Kalau dipikir-pikir ini adalah pertama kalinya mereka mandi bersama diusia mereka yang sudah cukup dewasa


Seketika ide jahil muncul di kepala Putri, ia menghimpit Tahta sampai ke tembok, membuat wajah Tahta menjadi kebingungan


"Mput, kamu mau ngapain?". Tanya Tahta


"Eum, mau ngapain ya". Ucap Putri sambil menaik turunkan kedua alisnya


"Dih, bisa diem ngga? Ngga usah mancing-mancing". Ucap Tahta mengancam


"Uh, atut". Ucap Putri sambil bergidik


Grep, Tahta memeluk pinggang Putri, menarik Putri sampai menyatu dengan tubuhnya


"Please, please, maapin, tadi cuma iseng". Ucap Putri


"Ngga ada kata cuma iseng, kalo mau macem-macem ayo, kakak ladenin". Ucap Tahta seolah menantang


"Hehehe bercanda kakak". Ucap Putri


Cup, Tahta melu mat habis seluruh permukaan bibir Putri. Ia peluk tubuh Putri seerat-eratnya agar Putri tidak bisa melepaskan diri


"Uhm". Putri memberontak, tanpa sadar ia meneteskan air mata, ia ketakutan. Ia takut Tahta akan melakukan hal yang lebih


Bugh bugh, Putri memukul-mukul dada Tahta sampai Tahta melepas ciuman mereka


"Kenapa? Kok nangis". Tanya Tahta menghapus air mata Putri


"Hiks hiks..."


"Aku belum siap kak". Ucap Putri


"Hah?". Tahta menatap lekat kedua bola mata kecoklatan dihadapannya itu


"Ya ampun, kakak ngga akan lakuin itu sayang". Ucap Tahta


"Ngga akan?". Tanya Putri


"Eum, maksudnya saat ini engga, karna kakak tau kamu belum siap". Ucap Tahta


Putri terdiam, ia menekan-nekan dada Tahta dengan telunjuknya


"Maaf kak, tadi aku ketakutan, aku takut kakak maksa aku buat ngelakuin itu".


"Ya ngga mungkin sayang. Kakak ngga seburuk itu. Maafin kakak udah bikin kamu takut..."


"Makanya kamu jangan mancing-mancing, kakak bisa lepas kendali". Ucap Tahta


"Iya, iya, ngga gitu lagi". Ucap Putri


Tahta tersenyum sambil mengusap kepala Putri


"Yaudah lanjutin mandinya ya, pacar kesayangan kamu nungguin". Ucap Tahta


"Ih, maksudnya apa coba". Ucap Putri sambil memukul lengan Tahta


"Hehehe bercanda".


---


Hampir dua jam berlalu, mereka sudah tiba dirumah. Saat turun dari mobil, mereka bertemu dengan Raja yang sedang berjalan menuju mobilnya, sepertinya Raja hendak meninggalkan rumah orang tua Putri


Raja menatap Putri yang terlihat memakai kaos hitam bergambar tengkorak yang kebesaran ditubuhnya. Sadar sedang ditatap, Putri ikut menunduk, memperhatikan penampilannya


"Sial, gara-gara di apartment ngga ada baju, terpaksa pake punya kak Tahta".


"Dari mana?". Tanya Raja


"Eum, aku-"


"Dari rumah Nindi, semalem Mput nginep disana, ini baru gue jemput". Ucap Tahta


"Oh, terus kenapa pake baju lu?". Tanya Raja pada Tahta


"Mput ngga bawa baju bang, nginepnya mendadak, karna dimobil gue ada baju, yaudah gue suruh pake aja". Ucap Tahta, Raja mengangguk namun ia merasa ragu dengan jawaban Tahta


"Masuk, ganti baju yang bener, ikut aku ke butik". Ucap Raja, Putri mengangguk paham dan berlari kecil memasuki rumah


Raja berjalan mendekat kearah Tahta


"Semalem lu kemana?". Tanya Raja


"Tongkrongan". Jawab Tahta


"Maksud gue lu tidur dimana? Udah berapa hari ini lu jarang tidur dirumah". Ucap Raja


"Oh, dikost-an Panji".


Lagi-lagi Tahta harus berbohong. Karena berkata jujur untuk saat ini bukan lah pilihan yang tepat


"Gue heran sama lu, lu berubah sekarang, lu kerja, dan lu jarang dirumah. Kemarin lu bilang ada rahasia, sebenernya rahasia apa sih?". Tanya Raja


---

__ADS_1


Yang sebelumnya udah baca chapter ini, gapapa dipencet lagi jempolnya hehe


BTW aku panik waktu liat chapter ini tiba-tiba hilang. aku takut chapternya bakal berantakan ngga berurutan huhu sedih


__ADS_2