
"Putri".
Putri menoleh saat namanya dipanggil oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Vano, mantan kekasih yang hari ini sukses membuatnya risih karena terus berada disisinya
Bagi Putri, magang di perusahaan yang sama bersama Vano merupakan musibah, namun bagi Vano itu merupakan anugerah, sungguh senang perasaan Vano mempunyai banyak waktu bersama Putri
Putri menghela nafas panjang sebelum memulai ucapannya, namun Vano terlebih dahulu membungkam ucapannya, "Please jangan marah dulu. Aku cuma mau ngajak kamu pulang bareng". Ucap Vano dengan percaya diri
Putri mengernyit, "Ngga salah? Pulang bareng?". Vano mengangguk semangat, "Emang kenapa, kamu belum dijemput kan?".
"Ck, mending nunggu kak Raja dateng, dah sana".
"Please Put, sekali aja ya". Ucap Vano memohon, "Gak, kalo berani lu izin dulu sama kak Raja. Gimana?".
"Ngga deh. Takut"
"Cupu hahahaha". Vano tersenyum melihat Putri tertawa, "Tuh kan cantik banget kalo ketawa, jangan dibiasain cuek sama aku Put".
"Ih apaan sih!". Putri menghindar saat Vano hendak mengusap pipinya
Tin tin
Putri dan Vano kompak menoleh kearah mobil yang berhenti disamping mereka, "Kak Tahta". Gumam Putri
"Yang jemput kakak ketiga kamu Put?". Putri terdiam
"Kok kak Tahta yang jemput, Raja kemana?".
Tahta pun turun dari mobil menghampiri Putri, "Ayo pulang". Ucap Tahta sambil mengusap kepala Putri
"Bang". Sapa Vano pada Tahta sambil tersenyum, Tahta pun membalas senyum dan sekali angguk
"Kak Raja mana?".
"Nanti kakak ceritain di dalem, ayo".
Tahta merangkul Putri dan memasukkannya kedalam mobil
"Hati-hati Put". Ucap Vano
---
"Hiks hiks hiks jadi kak Raja nganterin Gisel lagi..."
"Kenapa sih kak Raja lebih mentingin Gisel. Gisel lagi, Gisel lagi. Padahal baru baikan, baru kemarin aku maafin dia hiks hiks".
Dewa mengusap lembut punggung Putri, "Puuut, kakak yakin Raja terpaksa, Raja cuma nurutin oma buat nganterin Gisel".
"Iya. Udah jangan nangis lagi". Sambung Tahta
Putri menghela nafas panjang, "Aku takut kalo mereka sering ketemu gini mereka bakal saling suka lagi kak..."
__ADS_1
"Biar gimana pun juga Gisel sama kayak aku, cuma anak yang diadopsi di keluarga kalian, gak punya hubungan darah. Kalo Raja suka lagi sama Gisel gimana?..."
"Terus mereka deket, pacaran, terus nikah?..."
"Aaah takuuutt".
Dewa dan Tahta saling bertatapan sejenak mendengar ucapan Putri
"Hmm...harusnya sih ngga gitu kalo Raja beneran serius sama kamu". Ucap Dewa
"Yaudah sih biarin, kan masih ada kakak, Mput nikah sama kakak aja, yuk". Ucap Tahta sambil tertawa kecil, Dewa pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
"Serius dong kaaaak".
"Serius sayangkuuu, ayo".
"Tau ah, males".
"Tuh kan diseriusin malah gitu".
"Aku mau pulang aja kerumah ayah". Putri bangun dari duduknya dan berjalan menaiki tangga,
Tahta yang hendak mencegah Putri ditahan oleh Dewa, "Biarin aja kalo mau pulang kerumah ayah, dia lagi ngambek, mungkin mau nenangin diri dulu".
"Tapi bang-"
"Nanti kalo udah ngga ngambek juga kesini lagi, biarin aja".
Setelah membereskan pakaian serta barang-barangnya, Putri kembali kebawah dengan satu koper ditangannya, Dewa dan Tahta yang masih duduk di ruang keluarga, segera bangkit dan menghampiri Putri
"Ngambeknya jangan lama-lama ya". Ucap Dewa sambil merapihkan poni Putri, Putri pun mengangguk sambil menatap Dewa dengan bibir melengkung kebawah
"Udah ah mukanya jangan sedih gitu dong, nanti kalo ayah sama ibu ngeliat mereka khawatir". Putri mengangguk pelan, "Aku pulang ya kak". Putri berhambur memeluk Dewa
Dewa pun tersenyum dan membalas pelukan Putri, "Jangan lupa kesini lagi, ini rumah kamu juga".
"Hmm". Jawab Putri sambil mengangguk
"Yuk kakak anter". Ucap Tahta sambil menggenggam erat tangan Putri, dan satu tangan ia gunakan untuk menarik koper Putri
"Daaah kakaaak". Ucap Putri sambil melambaikan tangannya pada Dewa , "Hati-hati yaaa".
---
Jam telah menunjukkan pukul delapan malam, Putri sedang duduk di kursi belajarnya sambil menonton serial drama korea kesukaannya,
"Buuuu, kan Putri udah bilang Putri ngga mau makaaan". Ucap Putri ketika mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang
"Kenapa ngga mau makan?".
Putri terpaku saat mendengar suara yang seseorang yang menjawab ucapannya, bukan suara Melly sang ibu, melainkan suara Raja
__ADS_1
Dengan segera Putri menolehkan kepala kearah pintu, menatap Raja yang sedang berjalan menghampiri dengan nampan diatas tangannya,
"Kamu ngapain kesini?!".
"Nyamperin istri aku, eh salah, calon istri".
"Apaan sih! Ngga jelas!". Putri pun kembali menatap layar laptopnya
Raja tersenyum simpul dan menaruh nampan tersebut diatas nakas, setelah itu menghampiri Putri di meja belajarnya, "Kamu marah hmm?". Tanya Raja sambil mengusap kepala Putri
"Udah sana pulang, ngapain kesini?! Aku ngga mau ketemu kamu lagi!".
"Yakin? Nanti kangen ngga ketemu aku".
"Dih pede banget".
Raja tertawa kecil, "Makan yuk. Nanti makin kecil loh kalo ngga makan".
"Bodo amat, sana pergiiiii". Ucap Putri sambil mendorong perut Raja, namun Raja malah memegang kedua tangannya
"Ngambeknya gemesin banget sih".
Raja melingkarkan kedua tangannya dipinggang Putri, dan ia angkat Putri dari kursinya
Putri memberontak, "Turunin nggak! Mau ngapain?!".
"Jangan gerak gerak nanti jatoh, orang mau gendong kamu kok". Raja pun membetulkan posisi Putri digendongannya, "Pegangan sayang, nanti jatoh".
"Ngga mau".
"Pegangan sayangku".
Putri pun mengalah, ia melingkarkan tangannya dileher Raja dan kakinya pun ia gunakan untuk melilit pinggang Raja
"Udah kayak ayah gendong anaknya belum?".
"Ih apaan sih!".
"Hahaha udah-udah jangan ngambek terus dong cantik".
Hening sejenak, Putri pun menyandarkan kepalanya di ceruk leher Raja, menghirup dalam-dalam aroma mint pada tubuh Raja yang selalu menjadi aroma favoritenya
"Putri?"
"Hmm?".
"Besok nikah yuk".
---
Jangan lupa likenya guys~ terimakasih
__ADS_1