
"Jadi gini bang, balik kerja Tahta mampir ke tongkrongan. Nah ngga lama bang Raja dateng, mereka sempet ribut tuh, kita pisahin lah..."
"Terus Tahta cabut duluan disusul bang Raja, jujur kita udah mikir yang aneh-aneh tuh. Akhirnya kita kejar pake motor. Dan ternyata mereka balapan..."
"Kita semua ngeliat kalo bang Raja berkali-kali nyerempet mobil Tahta, sampai Tahta oleng hampir nabrak tiang listrik, hampir nabrak pohon..."
"Mungkin karna Tahta kelewat kesel, waktu bang Raja nyerempet lagi, sama Tahta di adu mobilnya, tabrakan lah mereka, kenceng banget bang. Sampai ke lempar mobilnya..."
"Mobil bang Raja nabrak pembatas jalan, mobil Tahta nabrak tiang listrik. Tapi menurut gue sih kalo liat luka-lukanya, kondisi Tahta yang parah bang". Ucap Panji, teman dekat Tahta yang menjelaskan kronologi kejadian kecelakaan itu pada Dewa, Putri dan kedua orang tua nya
"Hiks hiks ibu...kak Tahta bu". Putri semakin terisak dipelukan Melly
"Sabar sayang sabar, kita doakan saja yang terbaik ya". Ucap Melly mengusap punggung Putri
"Meski luka-luka semoga ngga terjadi hal serius deh, biar cepet sembuh mereka berdua". Sambung Panji
Dewa menghela nafas berat lalu bersandar pada kursinya sambil menatap keatas
"Pah...mah...maafin Dewa, Dewa ngga bisa jaga adik-adik Dewa". Batin Dewa sambil menyeka air matanya yang mulai berjatuhan
---
Satu jam berlalu, dokter yang menangani Tahta keluar dari ruangannya. Dokter memberitahu kalau Tahta mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya dan saat ini ia sedang koma. Juga kedua kakinya mengalami kelumpuhan sementara
Mendengar kabar itu, seketika Putri pingsan, semua yang ada disana terkejut. Dewa segera membopong Putri ke ruang rawat untuk beristirahat. Setelah itu ia mengunjungi kamar Raja untuk melihat keadaannya
Dewa menghampiri Raja yang sedang berbaring sambil menatap ke sembarang arah, terlihat salah satu tangan dan kakinya tertutup perban, juga ada perban yang melingkari kepalanya
Raja menoleh, memperhatikan Dewa dengan seksama. Lebih tepatnya ia melirik tajam kearah pintu setelah Dewa memasuki ruangannya, seperti mengharapkan kehadiran seseorang
"Putri mana?". Tanya Raja
"Ck, disaat kayak gini lu masih nanyain Putri?". Tanya Dewa
"Gue serius, dia dimana?".
"Diruangannya lagi istirahat, dia pingsan waktu denger kondisi Tahta".
"Tahta kenapa?".
"Dia koma dan kakinya lumpuh sementara, dua-duanya".
"Haha, karma".
Dewa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Raja. Ia menarik kursi dan duduk disebelah adiknya
"Gue udah denger ceritanya dari Panji. Lu setega itu ya sama Tahta? Dia adik kandung lu. Lu ada dendam apa sampai segitunya? Karena dia nikahin Putri?".
"Lu pasti tau apa yang gue rasain. Gue cuma ngasih pelajaran karna dia berani rebut cewek gue..."
"Ya anggap aja itu karma karena dia udah nusuk gue dari belakang. Karma adik ngga tau diri".
"Ngga abis fikir sama lu. Ngasih pelajaran tapi lu sendiri kayak gini. Lu juga tega-teganya sama Tahta, liat kondisinya sana, lu ngga kasihan?".
"Ck, udah lah, pergi sana, gue ngga butuh lu disini. Mending lu tungguin tuh adik kesayangan lu".
"Gak ada yang namanya kesayangan, gue peduli sama lu berdua, gue sayang sama lu berdua. Tapi kadang kelakuan lu berdua bikin gue sakit kepala..."
"Udah sama-sama gede, karna masalah cewek aja sampai berujung rumah sakit. Ngalah sama adik lu. Putri udah jadi istrinya, lu mau lakuin apa lagi?".
"Ya gitu, ujung-ujungnya belain Tahta. Mending lu keluar deh".
"Gue temenin lu disini".
"Terserah lu lah".
__ADS_1
---
Hari sudah semakin larut, Putri dan kedua orang tuanya sudah berada diruang rawat Tahta. Ibrahim dan Melly sedang tertidur di sofa lipat, sementara Putri masih terjaga, ia masih setia disamping sang suami tanpa melepaskan genggaman tangannya
Sambil ia kecup-kecup tangan besar suaminya, Putri terus berdoa dan berharap agar Tahta segera siuman serta cepat pulih dari sakitnya
"Biasanya jam segini aku nemenin kamu ngerjain tugas, kita bercanda, kita ngobrol sampai ngantuk..."
"Terus besoknya, aku bangun dipelukan kamu, kamu ciumin aku, kita mandi bareng, sarapan bareng. Aku bahagia bisa lewatin hari-hari aku bareng kamu, meski kadang kamu bikin aku kesel karna ngeledekin aku terus..."
"Cepet bangun ya sayang. Aku kangen semua hal bareng kamu". Ucap Putri sambil memainkan jari-jari panjang dan lentik milik suaminya
Klek, pintu ruangan Tahta terbuka, Dewa masuk sambil membawa beberapa bungkus makanan ditangannya
"Ayah sama ibu tidur ya?". Tanya Dewa
"Iya kak". Jawab Putri
"Yaudah, kamu makan dulu ya sayang" .
"Ngga mau".
"Tapi daritadi kamu belum makan, keliatan lemes".
"Aku mau makan bareng kak Tahta, kasihan, pasti pulang kerja belum makan".
"Tahta kan lagi-". Dewa menghentikan ucapannya. Membuat Putri mendongak menatapnya
"Makan bareng kak Tahta ya kak? Dari tadi kak Tahta juga belum makan, tuh, mukanya pucat". Ucap Putri menatap Tahta
Seketika Dewa merasa sesak di dadanya, ia taruh bungkus makannya lalu ia peluk Putri yang masih terduduk. Ia sandarkan kepala Putri pada perut datarnya
"Kak?".
"Iya, kenapa? Mau makan? Kakak suapin".
"Iya, kakak suapin Tahta juga". Ucap Dewa dengan senyuman nanar
Dewa membuka bungkus makanannya dan mulai menyuapi Putri. Baru tiga kali suapan, Putri sudah memintanya untuk menyuapi Tahta
Dewa merasa ragu, bagaimana bisa seseorang yang sedang terbaring koma dapat mengisi perut selayaknya orang sadar? Mustahil. Namun ia mengiyakan permintaan Putri hanya semata-mata untuk menghiburnya
Putri menatap Dewa dengan tatapan heran karena Dewa tidak bergeming. Akhirnya Putri merebut sendok yang ada ditangannya, membuat Dewa cukup terkejut
"Sayang, aku suapin ya, kamu pasti laper". Ucap Putri sambil menempelkan sendok berisi makanan pada bibir pucat suaminya
"Kak? Kok kak Tahta diem aja? Kak Tahta ngga mau makan ya kak?".
"Iy, iya, mungkin Tahta terlalu capek, jadi memilih tidur". Ucap Dewa mengusap lembut kepala Putri
"Hmm, gitu...yaudah deh". Ucap Putri bersuara pelan
"Yaudah sekarang makan lagi ya". Ucap Dewa kembali menyuapi Putri
---
Keesokan harinya, setelah mandi dan bersiap, Putri sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat magang. Kalau boleh memilih, Putri ingin menemani Tahta dirumah sakit, namun ia tidak bisa meninggalkan tugasnya sebagai mahasiswa
"Sarapan yang bener sayang, kok males-malesan?". Tanya Melly
"Ngga nafsu bu". Jawab Putri
"Kakak suapin ya?". Tawar Dewa
"Ngga usah kak, kenyang". Ucap Putri
__ADS_1
"Kenyang apa ngga nafsu, hmm?". Ucap Melly mengusap kepala Putri
Semua orang menoleh kearah pintu yang terbuka, dengan bantuan kruk untuk berjalan, Raja berjalan tertatih menghampiri Putri yang sedang duduk disebelah Tahta
Putri memalingkan wajahnya, ia sangat enggan melihat Raja
"Nak, kok kamu jalan-jalan? Kenapa gak istirahat?". Tanya Ibrahim menghampiri Raja
"Raja gapapa Yah, Raja kesini mau ketemu Putri". Ucap Raja
"Keluar!". Ucap Putri tanpa menatap Raja
"Put, aku mau ketemu kamu". Ucap Raja menyentuh bahu Putri, Putri pun memberontak dan bangun dari duduknya
"Mau ngapain lagi?".
"Aku mau ketemu kamu, sebentar".
"Buat apa? Aku kecewa sama kamu kak..."
"Kamu liat, dia adik kandung kamu kan? Tega banget kamu bikin kak Tahta kayak gini".
"Kamu ngga bisa sepenuhnya salahin aku, karna ini juga salah dia".
"Oh ya? Aku udah tau semuanya, temen kerja kak Tahta bilang kalo kamu yang mulai, kamu pukulin kak Tahta, iya kan? Dan kejadian di tongkrongan kak Tahta juga kamu yang mulai..."
"Kamu jahat banget, kamu bikin suami aku koma, bikin suami aku lumpuh! Puas kamu?!". Ucap Putri sambil mencengkram kerah piyama yang dipakai Raja dengan kedua tangannya
"Aku ngga bermaksud-"
Bruk, Putri mendorong Raja sampai terjatuh, kruk yang menyangga tubuhnya juga terlempar cukup jauh
Melly menjerit, Dewa dan Ibrahim segera membangunkan Raja
"Kamu emang jahat, tapi aku bisa lebih jahat dari kamu, aku bisa bayar orang buat bikin kamu koma dan lumpuh kayak kak Tahta. Bahkan lebih dari itu!".
"Putri, istighfar sayang, ngga boleh ngomong gitu". Ucap Melly
"Udah, udah, gue anter lu ke kamar". Ucap Dewa memegang bahu Tahta
"Nanti dulu bang, gue masih mau ketemu-"
"Pergi!". Jerit Putri
"Put, sebentar dulu".
"Apa?! Kamu masih punya perasaan ngga sih? Kamu masuk keruangan adik kamu, bukannya liat keadaannya, tanya keadaannya, kamu malah cari aku?..."
"Udah hilang ya rasa peduli kamu sebagai kakak? Aku istrinya, sakit hati ngeliat sikap kamu begini. Ngga ada sedikit pun rasa peduli atau khawatir. Bikin aku makin benci sama kamu". Ucap Putri
"Put, please, jangan ngomong gitu, jangan benci aku-"
"Keluar! Kamu egois, masih aja mikirin tentang kamu sendiri".
"Kak Dewa, tolong bawa orang ini keluar dari ruangan suami aku". Ucap Putri menatap Dewa
Dewa mengangguk sambil menghela nafas, kemudian merangkul bahu Raja dan menuntunnya kearah pintu
---
Gimana tanggapan kalian tentang chapter ini?
Bersambung dulu ya, aku lanjut besok
Jangan lupa like, vote dan hadiahnya para readers kesayanganku, tengkyu♥
__ADS_1