
(Tadinya chap ini mau aku up besok, tapi aku takut chap nya bakal acak, jadi aku up sekarang. happy reading)
...¤¤¤...
"Bisa ngga jangan ikut campur urusan gue?". Ucap Tahta
Raja membuang nafas kasar sambil tersenyum miring
"Lu tau? Gue curiga sama lu, sama Putri". Ucap Raja
"Ck, ngga ada yang perlu lu curigain dari gue sama dia". Ucap Tahta
"Oh ya? Kemarin gue denger obrolan lu sama dia lagi ngebahas cincin pernikahan? Ngebahas perasaan suami? Maksudnya apa?". Tanya Raja
"Raja denger?".
"Ngga usah kepo". Ucap Tahta sambil melangkah memasuki gerbang rumah
"Gue belum selesai ngomong". Ucap Raja menarik bahu Tahta
"Apa lagi sih?". Tanya Tahta
"Jangan coba-coba rebut Putri dari gue..."
"Gue tetap ngawasin lu karna gue yakin lu masih jadi ancaman buat gue". Ucap Raja
"Oh? Lu masih takut?". Tanya Tahta
"Jelas. Gue ngga tenang kalo Putri belum sah jadi milik gue". Ucap Raja
"Jadi?". Tanya Tahta
"Gue bakal nikahin Putri, gue bakal jauhin dia dari lu". Ucap Raja
"Nikahin Putri? Coba aja kalo bisa". Ucap Tahta
"Maksud lu apa?". Raja kembali menarik Tahta kearah mobilnya
"Lepas". Ucap Tahta sambil memberontak kasar
"Maksud lu apa ngomong gitu?". Tanya Raja lagi
"Pikir sendiri". Ucap Tahta
"Loh, itu kenapa?". Putri terkejut melihat Raja dan Tahta yang terlihat sedang bersitegang di depan rumah
"Ck, lu bakal abis ditangan gue kalo lu berani ngerebut Putri". Ucap Raja
Bruk, Raja mendorong Tahta ke kap mobilnya setelah mencengkram kencang ujung kaos yang dipakai Tahta
"STOP!".
"Kamu kebiasaan ya?! Kenapa sih kamu kasar terus ke kak Tahta?".
"Ayo pergi! Masuk!". Ucap Putri sambil mendorong Raja menuju mobilnya
"Anak kayak dia harus dikasih pelajaran!". Ucap Raja
"Ngga! Masuk atau aku marah dan kita ngga jadi pergi?". Ancam Putri
Raja menghela nafas dalam dan memutuskan untuk masuk kedalam mobilnya, sementara Putri, matanya bertatapan dengan Tahta sejenak sebelum menyusul Raja masuk kedalam mobilnya
---
"Kenapa ribut sama kak Tahta?". Tanya Putri tanpa menatap Raja
"Gimana kalo aku yang nanya? Kemarin dikamar Tahta kamu ngebahas apa sama dia?". Tanya Raja
"Yang mana?". Tanya Putri
"Gak usah pura-pura lupa, aku denger kalian bahas soal cincin pernikahan dan bahas soal perasaan suami, maksudnya apa?". Tanya Raja
Deg, seketika Putri panik
"Ya ampun, kok dia tau?".
"Sayangnya aku ngga denger sampai akhir karna aku dipanggil sama Dewa. Bisa jelasin ke aku sekarang?". Tanya Raja
"Itu, kak Tahta cuma nanya soal cincin pernikahan kita nanti, dan dia ngasih saran ke aku hubungan setelah pernikahan". Ucap Putri yang sudah pasti jawabannya adalah kebohongan
"Hmm?". Tatapan Raja pada Putri menyiratkan keraguan
Raja meraih kedua tangan Putri secara bergantian, lalu ia hempaskan begitu saja saat melihat hanya ada cincin pemberiannnya di salah satu jari Putri
"Dia ngecek cincin? Apa dia mulai curiga?".
Setidaknya Putri bisa bernafas lega karena ia sudah melepas cincin pernikahannya saat berganti pakaian tadi, Putri hanya berjaga-jaga takut Raja akan bertanya tentang cincin itu
Dan kewaspadaannya ini ternyata sesuai dugaannya, sepertinya Raja mulai merasa curiga
"Kenapa?". Tanya Putri
"Gapapa". Jawab Raja
Hening sejenak, Raja fokus pada setirnya sementara Putri memandang kearah luar jendela
"Setelah nikah nanti aku akan bawa kamu keluar kota, kamu harus jauh dari Tahta". Ucap Raja
Putri terkejut, seketika menoleh menatap Raja
"Kok gitu sih? Gimana sama kuliah aku disini?". Tanya Putri
"Pindah kampus". Jawab Raja
"Ck, gampang banget ya nyuruh aku pindah?..."
__ADS_1
"Lagian kamu kenapa sih? Apa yang kamu ributin sama kak Tahta sampe kamu kayak gini?". Tanya Putri
"Aku kesel sama dia. Dia masih ancaman buat aku, sewaktu-waktu bisa ngerebut kamu dan dia juga ngomong seolah aku ngga bisa nikahin kamu". Jawab Raja
"Aduh kak Tahta, pantesan dia marah begini".
"Aku ngga mau pindah". Ucap Putri
"Harus, aku bakal jadi suami kamu, jadi kamu harus nurut omongan aku". Ucap Raja
Putri menarik nafas dalam
"Terserah kamu". Ucap Putri
Dua puluh menit perjalanan, mereka tiba disebuah butik tempat mereka memesan baju pernikahan. Mereka datang kembali untuk melihat kebaya Putri yang telah selesai diperbaiki ukurannya
Setelah itu, Raja mengantar Putri ke toko buku, lalu mereka ke toko perhiasan
"Ngapain kita kesini?". Tanya Putri saat mobil mereka berhenti disebuah toko perhiasan
"Aku mau beli satu set perhiasan, buat mahar". Jawab Raja
"Hah?". Putri terkejut
"Kenapa? Kok kaget?". Tanya Raja
"Eum, ngga usah". Ucap Putri
"Ngga usah? Itu mahar buat pernikahan kita, kenapa ngga usah?". Tanya Raja
"Tapi-"
"Aku sengaja ngajak kamu biar kamu yang pilih sendiri, ayo turun". Ucap Raja diangguki oleh Putri
Hampir sepuluh menit berlalu, Putri telah memutuskan model perhiasan apa yang ia pilih. Raja segera membayar perhiasan Putri, sementara Putri berjalan menuju etalase kalung, melihat-lihat model kalung didalamnya
"Mau kalung sayang?". Tanya Raja, Putri menggeleng pelan
"Kamu sakit? Dari tadi keliatan lemes? ". Tanya Raja lagi
"Aku mau pulang". Ucap Putri
"Kerumah ayah?". Tanya Raja
"Kerumah kamu, aku mau ketemu kak Dewa". Jawab Putri
"Yaudah ayo". Raja menggenggam tangan Putri dan membawanya keluar dari toko perhiasan itu
Setelah tiba dirumah, Putri langsung menemui Dewa, ia menghampiri Dewa yang sedang duduk disofa ruang keluarga seorang diri
"Kakak".
Putri mengambil posisi duduk menyamping di pangkuan Dewa, ia lingkarkan tangannya pada leher Dewa lalu bersandar di bahunya
"Kenapa, hmm?". Tanya Dewa
"Kamu sakit? Kepalanya pusing?". Tanya Dewa
"Engga". Jawab Putri
"Aku ke kamar dulu naro ini". Ucap Raja pada Putri sambil menunjuk tas belanja berisi perhiasan yang ia beli
"Iya". Ucap Putri
Sepeninggal Raja kekamarnya, Putri memejamkan kedua matanya sambil terus bersandar. Sejujurnya akhir-akhir ini ia memang merasa sakit kepala karena terus-terusan memikirkan hubungannya dengan Tahta dan Raja secara bersamaan
Dewa memeluk Putri, ia tahu kalau adik bungsunya ini tidak dalam keadaan baik-baik saja, seperti ada yang dipikirkan dan memikul beban yang berat
"Badan kamu anget. Mau istirahat dikamar?". Tanya Dewa
"Ngga mau, aku gapapa kaaak". Ucap Putri sambil mengguncang kedua kakinya
"Iya, iya, yaudah". Ucap Dewa
Hening sejenak, tangan Dewa terulur untuk mengusap punggung Putri, membuat Putri merasa nyaman dipelukan kakak pertamanya
"Kakak tau apa yang kamu pikirin". Ucap Dewa
"Hmm, aku hampir gila mikirin ini setiap hari". Ucap Putri
"Jangan gitu dong, semangat". Ucap Dewa
Putri menarik nafas dalam
"Kenapa sih aku punya hubungan yang serumit ini? Kenapa ngga kayak orang-orang, mulus ngga ada masalah?". Tanya Putri
"Sabar Put. Ngga ada hubungan yang mulus tanpa masalah. Semua orang juga punya masalah nya sendiri". Ucap Dewa
"Ck, capek. Tadi pagi aku kepikiran buat mati". Ucap Putri
"Hush! Siapa yang ngajarin ngomong gitu?!". Bentak Dewa sambil menatap lekat mata Putri
"Maaf". Ucap Putri
Dewa memijat pelipisnya
"Kakak sebagai anak tertua juga ngga bisa berbuat apa-apa ngeliat adik-adik kakak dalam masalah kayak gini. Kakak ngga mau semua makin ribet kalo kakak ikut campur..."
"Belum lagi ngadepin Raja sama Tahta, dua duanya keras kepala, gampang emosi, kalo udah ribut ngga ada yang mau ngalah. Kakak bingung harus gimana sama dua anak itu". Ucap Dewa
"Terus gimana kak? Kalo nanti waktunya tiba, saat kak Raja tau semuanya, apa yang harus aku bilang ke kak Raja?". Ucap Putri
"Soal itu ngga usah dijadiin beban pikiran sayang, kakak akan bantu kamu bicara sama Raja. Kakak yakin ayah juga ngga akan tinggal diam". Ucap Dewa
"Haaaah, pusing, pusing, pusing". Ucap Putri sambil menepuk-nepuk keras kedua pipinya
__ADS_1
"Heh apaan sih, jangan nyakitin diri sendiri". Ucap Dewa menahan tangan Putri
"Kamu ngga sendiri, ada kakak, ayah, ibu, kita paham apa yang kamu rasain. Jangan dijadiin beban, percaya semua bakal baik-baik aja". Ucap Dewa
"Meski nanti harus ada perang saudara. Iya kan?". Ucap Putri
"Ngga bisa dihindari, karna mereka sama-sama keras". Ucap Dewa
"Haaaaah". Putri berteriak frustasi
"Udah, udah, nanti kamu sakit mikirin ini terus. Kamu kenapa ngga kerumah ayah? Kan Tahta disana?". Tanya Dewa mengalihkan pembicaraan
"Kak Tahta disana?". Tanya Putri
"Iya, dia bilang sih lagi bikin kue sama ibu". Ucap Dewa
"Hehe, perasaan ibu seneng banget bikin kue sama kak Tahta". Ucap Putri sambil tertawa kecil
"Hahaha bagus dong, keliatan kalo mereka akrab dan ibu terima Tahta sebagai menantunya". Ucap Dewa
"Hehe iya..."
"Ibu itu sayang sama kakak, kak Tahta, kak Raja. Disaat tiba-tiba aku nikah sama kak Tahta, ibu terima. Karna ibu menganggap semua kakak Putri itu laki-laki baik". Ucap Putri sambil tersenyum
"Hmm, gitu dong senyum, kan makin cantik, jangan cemberut terus". Ucap Dewa mencubit hidung Putri
"Maaf den, non, di depan ada non Nindi". Ucap bi Ida menghampiri ruang keluarga
"Nindi? Loh, perasaan ngga janjian deh". Ucap Putri
"Anterin kesini bi". Ucap Dewa
"Baik den". Ucap bi Ida sebelum meninggalkan ruang keluarga
"Nindi mau ngapain ya kesini? Kan aku ngga janjian sama dia". Ucap Putri
"Janjian sama kakak". Ucap Dewa
"Hah?". Putri terbelalak
"Kok bisa?". Tanya Putri seolah tidak percaya, Dewa pun tertawa geli
"Biasa aja kali, sampe kaget gitu". Ucap Dewa
Putri pun segera turun dari pangkuan Dewa dan beralih duduk disebelahnya saat melihat Nindi berjalan kearah mereka
"Hai kak". Ucap Nindi menghampiri Dewa
"Hmm, gitu ya, yang disapa duluan kak Dewa, bukan gue". Ucap Putri menyindir
"Hehehe hai istrinya kak Tahta". Ucap Nindi
"Sstt, tutup mulut lu". Ucap Putri
"Hehe sorry..."
"Oh iya kak, aku udah masakin makanan yang semalem kakak pengen, cobain ya". Ucap Nindi
Putri tercengang, ia merasa tidak percaya melihat sahabatnya terlihat dekat dengan sang kakak tertua
"Boleh, di meja makan aja". Ucap Dewa
"Ok". Ucap Nindi semangat
"Ayo sayang, kesana". Ajak Dewa
"Hehe engga, aku disini aja". Ucap Putri diangguki oleh Dewa
Putri menatap mereka dari ruang keluarga, sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri sejak kapan mereka terlihat dekat
Putri dibuat semakin tercengang saat melihat Dewa tanpa ragu menerima suapan dari Nindi
"What? Apa-apaan?".
Putri yang semakin penasaran, bangun dari duduknya dan menghampiri meja makan, ia tarik kursi dihadapan Dewa dan Nindi yang sedang duduk berdampingan
"Ehem, kayaknya gue ketinggalan hot news?". Ucap Putri pada Nindi
"Apaan sih lu, gaje". Ucap Nindi
"Hahaha tau nih, ngga usah ngeledek". Ucap Dewa
"Hmm, cie, cie, akhirnya bujangku laku". Ucap Putri sambil bangun dan mencubit kedua pipi Dewa dengan gemas
"Ck, tangan lu modus". Ucap Nindi memukul kencang tangan Putri
"Aduuuh...atit kaaak". Putri merengek sambil mengusap tangannya
"Nin, jangan pukul-pukul gitu ah". Ucap Dewa
"Iya, iya, maap". Ucap Nindi, Putri tersenyum lalu menjulurkan lidahnya
"Sayang ayo, kerumah ayah". Ucap Raja dari arah tangga
"Kerumah ayah?". Tanya Putri
"Kan disana ada kak Tahta, gawat kalo ketemu bisa ribut lagi".
---
Duh aku ketar ketir mikirin chap yang ilang, takut banget dua chap yang aku up ini bakal ngacak setelah lulus review, atau chap ini ke up dua kali😭
Ngga tau deh aku bingung, ngga ngerti😭
Jangan lupa likenya guys, hibur aku biar ngga panik😭
__ADS_1
Mas Tahtaaaa, suamikuuu, hibur aku massss😭