Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Minta Bertemu


__ADS_3

Putri terus melamun sepanjang perjalanannya menuju tempat magang. Raga nya ada bersama Dewa, namun jiwa nya serasa tertinggal dirumah sakit dengan tatapan mata yang juga terlihat kosong


Dewa menatap Putri, ia genggam satu tangan yang ukurannya jauh lebih kecil dari tangannya. Tangan itu terasa dingin di genggamannya


Dewa mengusap lembut tangan itu, membuat sang pemilik menoleh. Tatapan sendu terlihat sangat jelas dikedua mata Putri. Kedua matanya pun masih bengkak dan merah, setelah semalaman menangisi Tahta


"Mau balik kerumah sakit?". Tanya Dewa dengan lembut, Putri menggeleng pelan


"Kamu bisa ngga fokus di kantor".


"Aku gapapa kak".


"Iya kamu bilang gapapa, tapi raut wajah kamu ngga bisa bohong".


"Hehe, aku cuma pengen cepet-cepet pulang, biar bisa nemenin kak Tahta".


"Nyampe aja belum udah pengen pulang. Sebenarnya gapapa kalo Tahta ngga ditemenin selama koma, jadi kalau dia siuman, pihak rumah sakit bakal hubungin kita".


"Ngga mau, aku mau nemenin kak Tahta sampe siuman. Lagian aku takut kak Raja celakain kak Tahta lagi kalo ngga ada yang jagain".


"Ya ampun, Raja ngga mungkin kayak gitu".


"Ngga mungkin gimana? Gara-gara dia kak Tahta-"


"Ssst...udah, udah, jadi emosi lagi kan". Ucap Dewa mengusap tangan Putri


Putri menarik nafas dalam


"Kak Tahta bisa dibawa pulang kan kak? Kayak ayah waktu itu? Aku mau rawat kak Tahta dirumah ayah..."


"Jujur aku ngga mau lama-lama dirumah sakit, aku udah ngga mau ngeliat kak Raja".


"Iya bisa, nanti kakak urus ya, sekalian sama perawatnya, buat jaga-jaga, buat pantau kondisi Tahta juga".


"Iya, makasih kak".


---


"Put, kamu kenapa? Sampe siang ini udah berapa kali aku denger kamu ditegur atasan gara-gara ngga fokus kerja? Kamu lagi ngga enak badan ya?". Tanya Vano


"Suami gue masuk rumah sakit".


"Uhuk, uhuk". Vano tersedak minumannya


"Suami? Maksudnya pacar kamu yang mukanya galak itu?".


"Suami gue Van, kak Tahta, kakak ketiga gue".


"Loh gimana sih? Kan kamu pacaran sama yang galak itu? Kakak kedua kamu kalo ngga salah?".


"Udah deh, ngga usah bikin gue makin pusing, ngerti?". Ucap Putri m


"Ya maaf, aku cuma kaget. Kok bisa gitu Put?".


"Ya bisa".


"Hmm, kalo boleh tau, suami kamu sakit apa?".


"Kecelakaan, sekarang koma".

__ADS_1


"Ya ampun, pantesan kamu kerjanya ngelamun terus. Aku ngerti gimana perasaan kamu Put. Yang sabar ya, semoga suami kamu cepet siuman".


"Aamiin, makasih".


Pukul empat sore, Putri berjalan seorang diri keluar dari kantor magangnya. Ia segera menghampiri mobil Dewa yang sudah menunggunya dengan langkah yang terburu-buru, Putri tidak sabar ingin cepat sampai kerumah sakit


"Haaaaii, si cantiknya aku".


"Nindi?".


Putri terkejut saat melihat Nindi keluar dari mobil Dewa. Mereka pun saling berpelukan erat


"Gue udah tau soal kak Tahta dari kak Dewa, sabar ya sayangku, lu pasti kuat, gue yakin kak Tahta bakal siuman dan sembuh secepatnya". Ucap Nindi


Putri mengangguk pelan, ia kembali menangis dipelukan sahabat satu-satunya itu, Putri meluapkan seluruh emosi dan amarahnya yang masih tertahan


Nindi mengusap lembut punggung Putri, ia sangat paham apa yang dirasakan sahabatnya ini


"Masuk ya sayang, kita kerumah sakit" Ucap Dewa mengusap kepala Putri


Nindi segera merangkul Putri memasuki mobil Dewa


Diperjalanan Putri masih menangis. Dari cermin kecil yang berada di tengah, Dewa melirik Putri yang masih memeluk Nindi. Nindi pun terlihat masih berusaha untuk menenangkan adik perempuan satu-satunya itu


"Nin, lu mau tau satu hal ngga, apa yang bikin gue makin sedih tiap kali mikirin kak Tahta?". Tanya Putri sambil mengusap air matanya


"Apa emang?". Tanya Nindi


"Ya mungkin kedengarannya konyol, tapi jujur gue sedih bulan madu gue ketunda karna kak Tahta sakit hehehe". Jawab Putri


Dewa menyunggingkan senyumnya mendengar jawaban Putri


"What? Bulan madu? Suami lu koma dan lu masih mikirin bulan madu? Bener-bener konyol". Ucap Nindi menggelengkan kepalanya


"Hehe, kita seneng banget mau bulan madu, gue udah list apa aja yang mau kita bawa..."


"Dan...hiks hiks...". Putri mulai menangis lagi


"Rencananya...hiks...setelah bulan madu...kita mau daftarin pernikahan kita...hiks...hikss..."


"Kita pengen punya buku nikah, biar jadi pernikahan yang sah secara hukum...hiks...hikss...gue sedih...banget Nin hiks...hiks". Ucap Putri yang kembali menangis


Nindi meneteskan air matanya. Serasa batinnya terhubung dengan Putri, ia ikut merasakan sesak di dadanya. Ia pun kembali memeluk sahabatnya itu


"Udah, udah, mata lu bisa bengkak kalo nangis terus". Ucap Nindi menghapus air mata Putri


"Put, besok sore Tahta bisa dibawa pulang". Ucap Dewa


"Kakak serius? Makasih banyak kak". Ucap Putri tersenyum disela-sela tangisannya


"Sama-sama sayang, udah ya jangan sedih lagi". Ucap Dewa


"Senyum dong, kan mulai besok bisa rawat pak suami dirumah, bebas berduaan hehe". Ucap Nindi tersenyum menggoda


"Hehe BTW lu sama kak Dewa pacaran ngga sih?". Tanya Putri


"ENGGA". Jawab Nindi dan Dewa kompak


"Oh hahaha tapi kok lu bisa ada di mobil kak Dewa?". Tanya Putri

__ADS_1


"Kak Dewa minta gue buat hibur lu, nemenin lu, gue tau lu pasti hancur banget". Jawab Nindi


"Hehe thanks ya udah ada buat gue".


"Yea babe, udah seharusnya".


---


Pukul delapan malam, Putri duduk seorang diri di ruangan Tahta, kedua orang tuanya ia minta untuk pulang dan beristirahat dirumah


Sambil menggenggam tangan Tahta, Putri mengamati wajah tampan suaminya yang masih belum tersadar dari koma nya


"Kasian banget kamu, berkali-kali jadi sasaran emosi kak Raja. Kalau di diemin terus ngga mungkin, tapi kalau diladenin malah berakhir kayak gini".


Putri bangun dari duduknya, ia kecup luka sobek yang terdapat pada bibir Tahta, cukup lama, sampai Putri merasakan sesak di dadanya, ia tahu betapa sakit dan perihnya luka yang didapat suaminya itu


"Besok kita pulang ya sayang, gak tau kenapa aku ngga tenang ninggalin kamu dirumah sakit. Kan kalo dirumah keselamatan kamu lebih terjamin..."


"Dan aku bisa leluasa ngerawat kamu, aku bisa mandiin kamu, pijitin kaki kamu biar bisa jalan lagi, intinya bisa fokus ngerawat kamu tanpa diganggu siapa pun..."


"Kamu ngga sabar kan pengen pulang? Kita bisa bobo bareng lagi, biar aku yang peluk kamu". Ucap Putri diakhiri dengan mencium tangan Tahta


Drrt drrt


Putri sedikit bangun dari duduknya untuk meraih ponselnya yang ada diatas meja, terlihat nama sang kakak pertama yang terpampang di layar ponselnya


"Ada apa, kak?


"Kamu belum bobo kan?"


"Belum, emang kenapa?"


"Raja mau kesana, boleh ngga?"


"Hah? Udah malem kak, suruh istirahat aja"


"Ngga mau, kamu kan tau dia ngga suka di larang"


"Ih, mana ada sih pasien keliaran malem-malem? Emang kesini mau ngapain?"


"Katanya ada yang mau diomongin sama kamu"


"Soal?"


"Ya kakak ngga tau, makanya Raja mau kesana. Dia minta kakak buat izin dulu karna takut kamu marah kalo tiba-tiba dateng"


"Ck, aku aja deh yang kesana. Tapi kakak kesini ya, temenin kak Tahta"


"Boleh, yaudah kakak kesana"


"Hmm"


Putri menghela nafas berat sambil memutus sambungan telfonnya


"Kak Raja pasti masih ngga terima, makanya minta ketemu kayak gini"


---


Bersambung dulu

__ADS_1


Jangan lupa pencet jempolnya biar aku semangat update~


 


__ADS_2