Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Cincin Pernikahan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, setelah mandi dan bersiap, Putri merapihkan tempat tidurnya, menyiapkan pakaian Tahta untuk berangkat kuliah lalu membuka kaca jendela agar udara pagi yang sejuk dan cahaya matahari masuk kedalam kamarnya


"Pasti di balkon lebih sejuk"


Hendak melangkahkan kakinya ke balkon kamar, tubuhnya justru tertahan dengan pelukan dari lengan kekar dipinggangnya, seketika aroma mint menyeruak di indera penciumannya


"Udah selesai mandinya?". Tanya Putri tanpa berbalik arah


"Udah sayang, tinggal pake baju".


"Yaudah pake baju, udah aku siapin".


"Pakein".


"Ck, pake sendiri, emangnya anak kecil".


"Hmm, pelit".


Tahta membalikkan tubuh Putri menjadi kearahnya, ia singkirkan rambut tipis yang menutupi kening wanitanya itu


Cup, satu kecupan mendarat lembut dikening itu


Cup, cup, dua kecupan juga turut mendarat dikedua pipi yang sudah bersemu kemerahan, sangat menggemaskan dimata Tahta


"Kalo ngga suka, dorong kakak". Ucap Tahta, Putri menautkan kedua alisnya


"Maksud-"


Cup, Putri tersentak, bibir mereka menyatu sempurna. Jadi ini maksud ucapan Tahta? Tahta ingin menciumnya


Melihat Putri tidak memberontak, Tahta pun semakin berani. Bibirnya mulai bergerak, menyapu bersih bibir mungil Putri dengan lembut


Tangannya pun tidak tinggal diam, satu tangan ia lingkarkan dengan erat dipinggang ramping istrinya itu dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk menekan tengkuk Putri


"Eungh". Putri melenguh, ia mulai terbawa suasana, Putri turut membalas ciuman itu, membuat Tahta tersenyum disela-sela ciuman mereka, Tahta tidak menyangka kalau Putri menyukainya


Kedua tangan Putri terangkat, ia lingkarkan dengan erat pada leher Tahta. Ciuman mereka semakin intens, semakin dalam, suara decakan pun mulai terdengar, mengiringi lembut dan hangatnya ciuman pagi hari yang mereka ciptakan


Dekapan Tahta juga semakin erat, seakan tidak ingin ada yang memisahkan mereka. Namun sayang, ciuman mereka harus terlepas saat mendengar suara mesin mobil dari luar, karena jendela kamar yang Putri yang terbuka, membuat suara itu semakin jelas


Putri mendorong kedua bahu Tahta dan menoleh kearah jendela


"Kak Raja".


"Mobil! Mobil kakak dimana?". Tanya Putri dengan panik


"Garasi sayang".


"Syukurlah". Ucap Putri sambil mengusap dadanya


"Berangkat sama Raja?". Tanya Tahta


"Iya, dia udah dateng masa aku suruh pergi?". Ucap Putri


"Yaudah". Ucap Tahta sambil melepaskan tangannya dari pinggang Putri


"Aku turun ya". Ucap Putri diangguki oleh Tahta


Sepeninggal Putri keluar, Tahta segera memakai pakaiannya dan bersiap, namun ia harus menunggu sampai Putri dan Raja pergi. Tidak mungkin jika Tahta muncul didepan Raja, bisa-bisa membuat Raja bertanya-tanya bahkan curiga


"Kelulusan kamu kapan nak?". Tanya Ibrahim pada Raja


"Minggu depan Yah". Jawab Raja


"Wah ngga kerasa ya, semoga sidangnya berjalan lancar dan hasilnya memuaskan". Ucap Ibrahim


"Aamiin, makasih doanya Yah. Rencananya tiga hari setelah sidang, Raja akan nikahi Putri-"


"Uhuk uhuk". Ibrahim tersedak makanan nya


"Ayah, pelan-pelan, ini minumnya". Ucap Melly sambil memberikan segelas air mineral


"Ayah gapapa?". Tanya Raja


"Gapapa nak, gapapa". Jawab Ibrahim


"Gimana nak? Mau nikahi Putri?". Tanya Ibrahim


"Iya Yah, sesuai rencana Raja diawal". Ucap Raja


Ibrahim menarik nafas dalam-dalam sambil menatap puteri keduanya. Putri pun hanya menggeleng pelan sambil memejamkan kedua matanya pertanda tidak tahu harus berkata apa


"Eum, berangkat yuk, udah siang nanti telat". Ucap Putri


"Yaudah".


Setelah memastikan Putri dan Raja pergi, Tahta pun keluar dari kamar, menuruni tangga dan menghampiri kedua mertuanya di meja makan


"Nak, sini sarapan dulu". Ucap Ibrahim


"Iya Yah". Ucap Tahta sambil tersenyum


"Ibu ambilkan ya". Ucap Melly


"Jangan bu-"


"Sudah, biar ibu ambilkan". Ucap Melly sambil meraih piring dan menyajikan sarapan untuk Tahta


"Makasih bu". Ucap Tahta


"Iya. Kamu ini masih sungkan aja". Ucap Melly, Tahta pun tertawa kecil


"Gimana hubungan kamu sama Putri? Sudah ada kemajuan? Apa Putri masih minta cerai?". Tanya Ibrahim


"Engga Yah, hubungan Tahta sama Putri juga baik-baik aja. Mungkin Putri masih anggap Tahta kakaknya, jadi Putri bersikap kayak biasanya". Ucap Tahta


"Begitu, yasudah kamu sabar aja, Putri butuh waktu". Ucap Ibrahim

__ADS_1


"Iya Yah". Ucap Tahta


"Ini sayang, dihabisin ya sarapannya". Ucap Melly


"Iya bu". Ucap Tahta


Sambil menikmati sarapannya, mereka saling mengobrol, tentunya obrolan mereka tidak jauh dari pembahasan rumah tangga Putri dan Tahta


"Oh iya, ibu penasaran deh, kenapa kamu masih izinin Putri pergi sama nak Raja? Kamu ngga takut mereka semakin dekat?". Tanya Melly


"Gimana ya bu, Tahta udah minta Putri putusin Raja, tapi kayaknya ngga diturutin". Ucap Tahta


"Ya ampun anak itu, apa sih yang dipikirin, sudah bersuami tapi pikirannya ngga dewasa". Ucap Melly


"Sebenarnya ngga masalah bu, asalkan Putri tau batasan-batasannya, ngga terlalu dekat sama Raja kayak biasanya". Ucap Tahta


"Tetap aja, harus dibilangin, itu kan ngga benar". Ucap Melly


"Iya bu, nanti Tahta bilangin". Ucap Tahta


"Terus gimana kemarin hari pertama kerja? Ngga ada kendala kan?". Tanya Ibrahim


"Ngga ada Yah, alhamdulillah lancar". Jawab Tahta


"Alhamdulillah. Semangat, kerjanya yang ikhlas, biar rasa lelah kamu jadi pahala". Ucap Ibrahim


"Siap Yah hehe". Ucap Tahta


---


Pukul sebelas malam Putri masih terjaga, sambil memegang ponselnya, Putri berdiri dihadapan jendela kamarnya, memandang kearah luar, ia sedang menantikan kepulangan Tahta seusai bekerja


Namun sudah satu setengah jam menunggu, sosok suaminya belum juga tiba, ada rasa cemas dan khawatir dibenak Putri menantikan kepulangan Tahta


Putri membuka ponselnya sekali lagi, mencoba menghubungi Tahta namun hasilnya tetap sama, ponsel Tahta tidak dapat dihubungi


"Put, belum tidur? Ngapain berdiri disitu?". Tanya Dewa dari arah pintu


"Kaaak, kak Tahta belum pulang, aku khawatir". Ucap Putri


"Sabar, mungkin Tahta masih kerja". Ucap Dewa sambil berjalan menghampiri Putri


"Engga kak, coffee shop tutup jam sembilan". Ucap Putri


"Hmm, apa Tahta pulang kerumah ayah?". Tanya Dewa


"Engga, baru aja aku telfon ibu, kata ibu kak Tahta ngga ada dirumah". Ucap Putri


"Terus kemana ya?". Ucap Dewa


"Aku takut kak Tahta kenapa-napa, hp nya ngga aktif". Ucap Putri dengan wajah cemas


"Tenang dulu Put, jangan panik". Ucap Dewa


"Ada apaan sih?". Tanya Raja sambil berjalan menghampiri Putri dan Dewa


"Ini, Tahta belum balik". Jawab Dewa


"Jangan sok tau". Ucap Dewa


"Lah biasanya kan gitu? Kalo ngga nongkrong ya balapan". Ucap Raja sambil duduk di kursi belajar Putri


"Cari kak Tahta yuk". Ucap Putri


"Ngapain sayang? Mending bobo, ntar juga pulang tu anak, dia udah biasa kayak gitu". Ucap Raja


"Ck, kamu ngga peduli sama adik kamu ya? Kalo kak Tahta kenapa-napa gimana?". Tanya Putri


"Lebay". Ucap Raja


"Terserah, aku mau cari kak Tahta". Ucap Putri sambil meraih jaketnya diatas sofa dan berjalan cepat keluar kamar


"Lah, beneran pergi tu anak". Ucap Raja


"Kejar!". Ucap Dewa diangguki oleh Raja


Raja segera mengejar Putri yang sedang berlari kecil menuruni tangga


"Jangan lari ditangga sayang nanti jatuh". Ucap Raja namun tidak diindahkan oleh Putri


"Kakak". Ucap Putri saat melihat sosok Tahta memasuki pintu utama


"Mput?".


Langkah Raja terhenti ditengah tangga, sementara Putri berlari dan langsung memeluk Tahta


"Kakak dari mana? Kenapa baru pulang? Aku nungguin". Ucap Putri


"Maaf, tadi mobil kakak mogok, jadi ke bengkel dulu". Ucap Tahta


"Terus kenapa ngga bisa ditelfon?". Tanya Putri lagi


"Oh, hp nya lowbat hehe". Ucap Tahta


"Tuh, kamu nya aja yang lebay, orang ngga kenapa-napa juga". Ucap Raja menghampiri mereka


"Kamu kenapa? Khawatir sama kakak, hmm?". Tanya Tahta sambil tertawa kecil


"Iya". Jawab Putri


"Sampe ngga bisa tidur nungguin lu, ini dia mau kabur buat nyari lu, nekat". Ucap Raja


"Hehehe yaudah bobo gih, udah malem". Ucap Tahta sambil mengusap kepala Putri


"Ayo sayang, bobo sama aku ya". Ucap Raja sambil meraih tangan Putri dan membawanya menuju tangga


Putri menoleh, menatap lekat mata Tahta seolah meminta izin, dan dengan berat hati Tahta pun mengangguk. Terpaksa, ia terpaksa mengizinkannya

__ADS_1


"Aku belum mau tidur, boleh ngga aku ke kamar kak Tahta dulu?". Tanya Putri


"Mau ngapain? Kan dia udah pulang? Masih khawatir?". Tanya Raja


"Eum, iya, aku mau pastiin dulu kalo kak Tahta ngga kenapa-napa". Ucap Putri


"Ya ampun segitunya. Yaudah sana, tapi ngga lama, balik lagi kesini". Ucap Raja


"Boleh?". Tanya Putri memastikan


"Iya sayang, tapi kesini lagi, bobo sama aku". Ucap Raja


"Iya". Ucap Putri


Putri segera bangun dari sisi ranjang, keluar dari kamar Raja dan menuju kamar Tahta, suaminya


"Kakak?". Ucap Putri saat membuka pintu


"Iya sayang, masuk aja". Ucap Tahta


Putri menghampiri Tahta yang sedang duduk disofa


"Kok belum bobo sih?". Tanya Tahta sambil mendudukkan Putri disebelahnya


"Belum ngantuk. Kakak gak kenapa-napa kan?". Tanya Putri


"Kakak gapapa. Ini kenapa kamu ngga tidur dirumah ayah?". Tanya Tahta


"Kak Raja paksa aku tidur disini". Jawab Putri


"Eum, mungkin dia kangen udah berapa hari ini ngga tidur sama kamu". Ucap Tahta sambil tersenyum tipis, sedangkan Putri hanya diam


"Kakak udah makan?". Tanya Putri


"Udah". Jawab Tahta


"Yang bener? Kapan?". Tanya Putri


"Tadi selesai kerja. Kan hari ini kakak selesai jam tujuh, tadi sebelum beli cincin kakak makan dulu-"


"Beli cincin?". Tanya Putri


"Eh". Tahta tersentak


"Kakak beli cincin?". Tanya Putri lagi


"Eung, engga...kamu salah denger". Ucap Tahta


"Hahaha masa sih? Tadi kayak kaget gitu? Kakak keceplosan kan? Jujuuur". Ucap Putri


"Iya, iya". Ucap Tahta


"Iya apa ih?". Ucap Putri sambil mengguncang lengan Tahta


"Iya sayang, tadi kakak beli cincin". Jawab Tahta


"Tuh kan, buat siapa?". Tanya Putri


"Buat siapa hayo? Buat istri kakak lah, istri kakak yang paling cantik". Ucap Tahta sambil mencubit kedua pipi Putri


Tahta bangun dari duduknya dan berjalan menuju laci, tempat ia menaruh tas nya. Putri melihat Tahta mengeluarkan sebuah kotak berukuran kecil dari dalam tas nya


Setelah mengambil kotak itu, Tahta kembali ke sofa, ia berlutut dibawah, dihadapan gadis cantik yang kini sudah sah menjadi istrinya


"Maafin kakak baru ngasih ini sekarang. Anggap ini sebagai tanda kalau kakak sangat mencintai kamu. Anggap ini tanda keseriusan kakak, tanda kesungguhan hati kakak menjadikan kamu sebagai istri kakak".


Tahta mengucapkan kalimat itu sambil menyematkan sebuah cincin di jari manis tangan kanan Putri. Putri tidak bergeming, ia seperti terkena sihir saat mendengar manisnya kata-kata yang keluar dari mulut suaminya itu


"Ih tangan kamu kecil banget, gemes". Ucap Tahta


Cup, Tahta mengecup lama punggung tangan Putri


"Sayang?". Ucap Tahta


"Iy, iya". Ucap Putri


"Kok bengong? Hmm, kamu ngga dengerin kakak ngomong ya?". Tanya Tahta


"Dengerin kok, aku, speechless". Jawab Putri sambil tertawa kecil


"Ini, cincin nikah kita kak?". Tanya Putri sambil menatap tangan kanannya


"Iya. Bisa pasangin buat kakak?". Tanya Tahta sambil memberikan kotak itu pada Putri, ternyata didalamnya ada dua cincin, satu untuknya dan satu untuk Tahta


Putri tersenyum, ia ambil cincin itu dan ia pasangkan di jari manis tangan kanan suaminya


"Yeay, udah kayak suami istri beneran kan". Ucap Tahta sambil menatap cincin ditangannya


Putri tersenyum lagi, perasaannya dibuat semakin haru saat melihat Tahta tersenyum sambil menatap cincinnya, terlihat ia sangat mendambakan sebuah pernikahan selayaknya suami istri pada umumnya


Putri menaruh kotak itu, ia peluk Tahta yang masih berlutut dibawahnya. Tahta sedikit bangun, menyeimbangkan tubuhnya agar bisa membalas pelukan istri kecilnya itu


"Maafin aku kak, aku banyak salah, aku ngga pernah mikirin perasaan kakak, aku egois, aku udah nyakitin kakak, aku ngga pernah liat ketulusan kakak-"


"Ssst, jangan ngomong gitu". Ucap Tahta sambil melepas pelukan mereka


"Jangan nangis, kakak kan maunya ini jadi momen bahagia, saling tukar cincin, bukan sedih gini". Ucap Tahta sambil mengusap air dipelupuk mata Putri


"Maaf, aku sedih, sekaligus, terharu, hehehe". Ucap Putri sambil tertawa kecil


"Bentar, kakak bangun dulu, lama-lama kesemutan". Ucap Tahta


"Hahahaha kakak ih". Ucap Putri sambil memukul lengan Tahta


"Aduh, sakit sayang".


---

__ADS_1


Gimana chapter kali ini? bikin kapal Putri Tahta senyum-senyum ngga?


Seperti biasanya, minta jempolnya biar aku up lagi😍 tengkyuuuuu


__ADS_2