Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Membayar Ganti Rugi


__ADS_3

"Kak, aku udah nyampe, aku di toilet, kakak dimana?".


"Gue di pintu belakang, cepet kesini".


"Takut kak, tadi ada cowok-"


"Namanya juga club, cuekin aja, cepet kesini gue tunggu"


"Yaudah deh"


Putri menghela nafas berat setelah memutus sambungan telfonnya


"Semoga tu cowok ngga ada".


Dengan hati-hati, Putri membuka pintu toilet, ia sedikit mengeluarkan kepalanya untuk melihat keadaan disekitar


"Sepi"


Putri pun keluar dari toilet dan melangkahkan kakinya menuju posisi Siska


"Lewat sini kali ya".


Grep!


"Hmpph!"


"Gila! Cowok ini lagi?!"


"AKH". Lelaki itu meringis saat tangannya digigit oleh Putri karena telah membungkam mulutnya


Setelah lepas dari pelukan lelaki itu, Putri menjauh, ia memundurkan langkahnya kembali kearah toilet


"Lu mau apa sih?!". Tanya Putri


"Gue mau lu". Jawabnya dengan enteng sambil tersenyum miring


"Stress". Ucap Putri


Lelaki itu tertawa kecil


"Ayo lah, c'mon baby, have fun, gue penasaran banget sama lu". Ucapnya


"Udah gila ni orang".


"Minggir, gue kesini mau nyari kakak gue". Ucap Putri


"Hahahahaha..."


"Lu pikir gue anak kecil bisa lu tipu? Gimana tawaran gue tadi? Sepuluh juta, kurang?".


"Murah banget kayak harga diri lu". Ucap Putri


"Wih, gue suka nih cewek belagu kayak gini, sok jual mahal..."


"Ok, dua puluh juta, lu harus jadi milik gue". Ucap lelaki itu


"Ngga tertarik, cowok gue lebih menggoda". Ucap Putri


"Oh ya? Lu bikin gue makin penasaran". Ucapnya sambil berjalan mendekat kearah Putri


Putri kembali memundurkan langkahnya, semakin mendekat ke pintu toilet


"Lu cantik, body lu ok banget, sayangnya lu belagu, biasa dibayar berapa?". Tanya lelaki itu


Tangan lelaki itu terangkat, meraih dan menghirup aroma rambut Putri yang terurai kedepan, membuat Putri bergidik ngeri


"Jangan macem-macem". Ucap Putri dengan penuh penekanan


"Naif, ini tempat maksiat, jelas gue bakal macem-macem baby". Ucapnya


Setelah puas bermain dengan rambut Putri, tangan lelaki itu bergerak meraih satu paha Putri yang hanya berbalut celana pendek, ia usap dengan lembut paha itu sebelum Putri memberinya tendangan kencang ditengah-tengah kedua kaki lelaki tersebut


"ARGH!". Lelaki itu kembali meringis, ia memegangi area intinya sambil berjongkok


"Cewek sialan!". Umpatnya


Putri berhasil meloloskan diri, sekarang tujuannya adalah menemui sang kakak dipintu belakang tempat tersebut


"Put! Putri!".


"Kakak!".


Putri berlari kecil menghampiri sang kakak yang terlihat sedang bersama seorang wanita dan laki-laki setengah paruh baya


"Pelac*r dari mana lagi ini?". Ucap wanita paruh baya itu sambil menatap tajam Putri


"Dia adik saya!". Ucap Siska


"Oh pantesan, kakak adik kerjaannya sama, pelac*r". Sindir wanita itu


"Kak, ada apa?". Tanya Putri pada Siska


"Denger ya, saya tau kerjaan kalian itu jual diri, tapi tolong, jangan goda suami orang, jangan jual diri ke suami orang..."


"Tiga kali saya pergoki pelac*r ini tidur dengan suami saya". Ucap wanita itu sambil menunjuk Siska


Putri termangu, ia ingin tidak percaya dengan ucapan wanita paruh baya dihadapannya ini, namun ia pun tahu kalau faktanya pekerjaan sang kakak memang seperti itu


"Dan kali ini, kakak kamu udah rusakin kalung saya, kakak kamu ngga terima saya pergoki! Saya minta ganti rugi sekarang!". Ucap wanita itu


"Ganti rugi?". Tanya Putri


"Ya! Bayaran yang diterima dari suami saya tidak cukup untuk mengganti kerusakan kalung saya!". Ucapnya


Putri menatap sang kakak seolah meminta penjelasan. Namun Siska seolah tidak peduli, ia membuang muka. Putri pun berfikir, apa Siska memintanya datang kesini untuk membayar ganti rugi dari kalung yang dimaksud?


"Cepat ganti rugi! Kata pelac*r ini kamu yang akan bayar ganti rugi nya! ". Ucap wanita itu lagi


Putri menghela nafas berat, sepertinya ia harus mengeluarkan biaya kerugian yang dibuat sang kakak. Meski terpaksa, ia harus melakukannya, ia fikir lebih baik untuk menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu


"Berapa?". Tanya Putri


"Empat puluh juta!". Jawabnya


"Hah?". Putri memijit pelipisnya sesaat kemudian menatap Siska dengan tatapan kecewa


"Saya ngga bawa uang cash sebanyak itu, ibu bisa masukin nomer rekening ibu disini". Ucap Putri sambil memberikan ponselnya kepada wanita itu


Setelah menuliskan nomer rekeningnya, Putri mengirimkan nominal uang tersebut ke rekening wanita itu


"Udah ya bu, masalah selesai". Ucap Putri sambil menunjukkan layar ponselnya


"Waw, pelac*r banyak juga duitnya, langganan boss ya?". Tanya wanita itu pada Putri

__ADS_1


"Berisik, bisa pergi ngga?!". Titah Siska


"Cih, pelac*r aja belagu. Awas ya kalo sampe saya pergoki kamu dengan suami saya lagi!..."


"Ayo pah! Pulang!". Bentak wanita itu kepada suaminya sebelum meninggalkan Putri dan Siska


Putri berjongkok, ia memijat pelipisnya yang terasa sakit


"Ya ampun kak, kakak kenapa sampe rusakin kalung ibu itu?". Tanya Putri


"Ngga sengaja. Lagian gue kesel, dia tarik gue dari kamar sampe ke ruang tengah, gue ngga terima lah. Gue ajak ribut disitu dan ngga sengaja gue tarik kalungnya". Ucap Siska


Putri terdiam, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Kelakuan kakaknya kini sukses membuatnya sakit kepala


"Yaudah lah, Putri mau pulang". Ucap Putri sambil bangun dari posisinya


"Oh iya Azzam dimana kak?". Tanya Putri


"Dirumah neneknya". Jawab Siska


Putri mengangguk paham


"Put, sorry udah ngerepotin lu, gue ngga tau harus minta tolong ke siapa lagi..."


"Gue udah telfon ayahnya Azzam tapi dia ngga peduli, ya lu tau kan gue udah cerai sama dia. Jadi gue bener-bener bingung". Ucap Siska


"Iya, gapapa kak". Ucap Putri


"Gue janji bakal ganti uang lu, tapi gue cicil dikit-dikit ya". Ucap Siska


"Ngga usah, Putri ngerti kondisi kakak, Putri ngga mau nambah beban kakak". Ucap Putri


Siska terdiam, ia merasa terharu dengan ucapan Putri, meski ia sudah menyusahkan sang adik, Putri tidak keberatan dengan hal tersebut, Putri masih peduli dan memikirkan kondisinya


"Thanks". Ucap Siska sambil mengusap lengan Putri, Putri pun mengangguk


"Putri pulang ya kak, Putri kesini ngga izin ke ayah sama ibu, takut mereka nyariin". Ucap Putri


"Yaudah, hati-hati". Ucap Siska


Putri mengangguk dan beranjak dari posisinya. Sementara Siska terlihat kembali masuk kedalam tempat tersebut


"Sekarang gue bingung pulang naik apa".


Putri berjalan meninggalkan tempat tabu yang baru pertama kali ia datangi itu, sambil berharap mendapatkan taksi yang akan mengantarnya pulang


Tin Tin Tin


Putri menoleh ke suara klakson mobil yang berada disisi kanannya


"Kak Tahta?".


Putri berdiam diri diposisinya, sementara Tahta terlihat buru-buru turun dari mobil dan berlari kecil menghampiri Putri


"Ya ampun, jadi bener kamu disini". Ucap Tahta sambil memegang kedua bahu Putri


"Kakak ngapain disini?". Tanya Putri


"Harusnya kakak yang tanya sama kamu, kamu ngapain disini? Pake baju kayak gini lagi, astaga Mput". Ucap Tahta dengan tatapan keheranan melihat penampilan sang adik yang hanya memakai baju tidur pendek dan berbalut cardigan


"Aku-"


"Masuk dulu, dingin". Ucap Tahta sambil mendorong Putri masuk kedalam mobilnya


"Jelasin ke kakak, kamu ngapain disini? Mau jadi anak nakal?". Tanya Tahta


"Ngapain?".


"Tadi dia nelfon aku, katanya dia ada masalah sama istri dari pelanggannya".


"Istri dari pelanggan? Maksudnya, kakak kamu ketemuan sama suami orang?".


"Iya, katanya mereka di pergokin lagi didalam kamar, dan mereka ribut disitu, terus kak Siska ngga sengaja ngerusakin kalung istrinya itu. Karna kak Siska ngga punya uang buat ganti rugi, jadi kak Siska minta aku dateng kesini, buat ganti rugi". Ucap Putri


"Ya ampun". Ucap Tahta sambil mengusap kasar wajahnya


"Udah beres masalahnya?". Tanya Tahta


"Udah. Oh iya, kok kakak tau aku disini? Kakak dari rumah?". Tanya Putri


"Kakak lagi di tongkrongan. Dan temen kakak ada disini, dia nelfon katanya ngeliat kamu lagi sama cowok, siapa cowok itu?". Tanya Tahta


Putri terdiam sejenak, ia mencoba mengingat sosok lelaki yang dimaksud sang kakak


"Oh itu, aku ngga tau dia siapa. Tapi dia ngajak aku ke kamar". Ucap Putri


"Kurang ajar". Gumam Tahta


"Dengerin kakak, jangan dateng ke tempat kayak gini lagi, bahaya. Apalagi baju kamu ini mengundang nafsu laki-laki brengs*k. Ngerti kan?".


"Iya, aku ngerti. Aku kan terpaksa kak". Ucap Putri


"Dan lagi, kalo mau kemana-mana tuh telfon kakak, Raja atau Dewa, biar dianterin, jangan pergi sendiri". Ucap Tahta


"Iya, iya". Ucap Putri


Tahta tersenyum simpul dan mengusap lembut puncak kepala Putri


"Kakak anterin pulang ya". Ucap Tahta, Putri pun mengangguk setuju


---


Pukul sebelas siang, Putri dan Raja baru tiba dirumah setelah berjalan-jalan, membeli makanan, sekaligus membeli beberapa perlengkapan untuk persiapan hari bahagia mereka.


"Kak Dewa!". Jerit Putri saat melihat Dewa sedang berdiri didepan meja makan


"Jangan lari, nanti jatuh". Ucap Dewa


Bruk, Putri menubruk tubuh Dewa dan memeluknya seerat mungkin, Dewa pun terkekeh dan membalas pelukan adik perempuan satu-satunya itu


"Kenapa sih? Kayaknya seneng banget". Ucap Dewa sambil mengusap puncak kepala Putri


"Iya aku seneng ketemu kakak. Kangen banget". Ucap Putri


Dewa tersenyum. Ia mengangkat Putri keatas gendongannya seperti koala,


"Enteng banget kayak gendong angin". Ucap Dewa


"Iiihh kak Dewaaaa". Ucap Putri sambil menggoyangkan kedua kakinya


"Manja". Sindir Raja


"Biarin". Ucap Putri

__ADS_1


"Udah makan belum?". Tanya Dewa


"Udah, kakak udah makan?". Tanya Putri


"Belum, baru mau makan". Jawab Dewa


"Tuh, turun turun, Dewa mau makan dulu". Ucap Raja pada Putri dengan maksud agar Putri turun dari gendongan Dewa, namun Putri menggeleng kuat


"Ngga mau, mau digendong kakak". Ucap Putri sambil mengeratkan pelukannya pada leher Dewa


"Haha yaudah kakak gendong". Ucap Dewa


"Yeay". Putri bersorak senang, sementara Raja memasang ekspresi masam, ia sangat cemburu melihat Putri begitu dekat dengan Dewa


"Oh iya kak, nanti malem aku bobo disini ya, boleh ngga?". Tanya Putri pada Dewa


"Boleh sayang, kan ini rumah kamu. Tapi udah izin ayah sama ibu belum?". Tanya Dewa


"Udah". Jawab Putri


"Yaudah nanti malem bobo disini". Ucap Dewa


"Turun, turun, tadi katanya capek mau istirahat". Ucap Raja sambil menarik Putri turun dari gendongan Dewa


"Ih nyebelin". Ucap Putri


"Bodo, ke kamar sana, ganti baju, istirahat". Ucap Raja


"Hmmm". Putri berdehem sambil melangkah menaiki tangga, meninggalkan Raja dan Dewa di meja makan


"Seminggu lagi lu sidang ya?". Tanya Dewa


"Iya, doain biar tesis gue ngga revisi mulu, biar cepet selesai". Ucap Raja


"Pasti. Terus rencana lu nikahin Putri kapan? Setelah sidang?". Tanya Dewa


"Pengennya sih pas ulang tahunnya, tiga hari setelah sidang". Jawab Raja


"Boleh juga, kalo butuh apa-apa jangan sungkan buat minta tolong ke gue". Ucap Dewa


Raja menggeleng-gelengkan kepalanya pelan


"Gue bisa sendiri. Lagian gue ngga mau ngerepotin lu. Lu kan lagi fokus ngurus perusahaan baru". Ucap Raja membuat Dewa tersenyum simpul


---


"Put, heh bangun Put".


Putri terusik dari tidur nyenyaknya saat tubuhnya merasa diguncang oleh seseorang. Dengan kondisi masih setengah sadar, Putri mengerjapkan kedua matanya, melihat siapakah sosok yang membangunkan ia dari tidurnya


"Kok kayak Nindi".


"Heh, bangun lu".


"NINDI!".


Putri terkejut, ternyata sosok itu benar Nindi. Putri pun segera mendudukkan bokongnya


"Gila lu, susah banget dibanguninnya". Ucap Nindi


"Hehe sorry, gue ngantuk banget". Ucap Putri sambil tertawa kecil


"Lu ngapain kesini?". Tanya Putri


"Ngapain? Ngapain kata lu?". Tanya Nindi


"Ya emang kenapa?". Tanya Putri


"Ya Tuhan, kita kan udah janjian mau badminton Putriiiii". Ucap Nindi


"Eh? Masa sih?". Tanya Putri sambil mengucir rambutnya


"Ya! Lu lupa? Lu liat deh chatan kita kemarin sore, lu yang nyuruh gue nyamper lu-"


Ucapan Nindi terhenti saat kedua matanya mendadak salah fokus pada leher dan bagian atas dada Putri yang memperlihatkan kontrasnya warna merah gelap diatas kulit yang seputih susu itu


"Wait, itu, leher lu, dada lu, kok merah-merah?". Tanya Nindi


Putri tersentak, Putri menunduk untuk memastikan ucapan Nindi


"Ya ampun, ini". Batin Putri sambil menutup mulut dengan tangannya


Nindi tersenyum jahil, ia pun berencana untuk menggoda sahabatnya ini


"Hayo, semalem abis ngapain sama kak Raja?".


"Apaan sih, ini tuh digigit nyamuk".


"Hmm gigitan nyamuknya gede gede ya bun, ada banyak lagi hahaha..."


"Gue yakin dibalik tank top lu lebih banyak merahnya hahaha".


"Berisik deh".


"Hahahaha by the way, bentar lagi gue punya ponakan dong?".


"Iya, doain aja". Ucap Putri ngasal


"Hah? Serius? Cie cie udah malam pertama nih". Ucap Nindi sambil menggoda


"Gila. Sana balik, ngga jadi badminton gue masih ngantuk". Ucap Putri


"Yaaah, gue bela-belain loh kesini pagi-pagi". Ucap Nindi dengan nada kecewa


"Main sama kak Dewa aja didepan garasi hahaha".


"Pengen sih haha, tapi kayaknya belum bangun".


"Udah, dia selalu bangun subuh, ke kamarnya aja".


"Gak ah, emang gue siapa masuk masuk ke kamarnya".


"Yaudah, karna gue ngga mau ngecewain lu, gue anterin lu ke kamar kak Dewa, abis itu gue tidur lagi. Sumpah masih ngantuk banget". Ucap Putri sambil mengucek sebelah matanya


"Emang berapa ronde sih semalem? Digempur sampe subuh sama kak Raja?". Tanya Nindi


"Iya, dia kalo urusan jatah ngga mau berhenti". Ucap Putri sambil tertawa singkat


"Really? Agresif banget, kak Dewa kayak gitu ngga ya?". Tanya Nindi


"Kayak gitu gimana?". Tanya Dewa dari ambang pintu kamar Putri


"Hah?". Putri dan Nindi kompak terkejut saat mendengar suara berat dari arah pintu

__ADS_1


---


maaf baru up. Jangan lupa like, vote dan hadiahnya biar semangat update^^


__ADS_2