Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Bekerja


__ADS_3

Keesokan paginya, suasana dimeja makan terasa sangat suram, biasanya Putri selalu meramaikan suasana dengan ocehannya yang tiada henti, namun pagi ini ia hanya diam


Dewa menatap Putri yang sedang melahap sarapannya dengan tatapan kosong dan sendu, Dewa tahu apa yang sedang Putri pikirkan, Tahta


Mengingat semalam Putri bercerita sambil menangis karena telah membuat Tahta marah, Putri merasa bersalah. Dan pagi ini, sosok Tahta tidak menampakkan batang hidungnya dimeja makan. Mungkinkah Tahta sedang menghindari Putri?


Tap tap tap


Langkah kaki cepat terdengar dari arah tangga. Ketiganya kompak menoleh, menatap Tahta yang berlari kecil menuruni tangga menuju pintu utama


"Sarapan dulu". Ucap Dewa


"Ngga usah". Jawab Tahta tanpa menghentikan langkahnya


Sosok Tahta pun menghilang dari pandangan mereka, dan entah mengapa Putri merasa sesak didadanya. Sangat dipastikan kalau Tahta memang marah


Dewa kembali menatap Putri yang kini sedang menunduk, Dewa berfirasat kalau Putri sedang menahan tangisannya


"Raja, gue boleh nganter Putri ngga?". Tanya Dewa


"Eum, boleh-boleh aja". Jawab Raja


Dengan gerakan cepat Putri menghapus air dipelupuk matanya tanpa sepengetahuan kedua laki-laki itu


"Gapapa aku dianter kak Dewa?". Tanya Putri pada Raja


"Gapapa dong sayang, nanti pulangnya aku yang jemput. Janji". Ucap Raja sambil mengusap kepala Putri


"Hehe yaudah". Ucap Putri


Setelah sarapan, mereka bertiga berjalan menuju garasi, mengeluarkan mobil masing-masing dan pergi bersama meninggalkan rumah


Diperjalan, Putri terus memandang kearah jendela, pikirannya masih tertuju pada Tahta. Dewa pun menyentuh tangan Putri, membuat Putri tersentak


"Mikirin Tahta?". Tanya Dewa yang diangguki oleh Putri


"Pulang magang temui Tahta, minta maaf". Ucap Dewa


"Takut". Ucap Putri


"Takut kenapa?". Tanya Dewa


"Aku baru pertama kali liat kak Tahta marah dan itu lebih serem dari kak Raja". Ucap Putri


"Apanya yang serem?". Tanya Dewa


"Mu...muka...nya". Jawab Putri


"Hahahahahaha". Dewa tertawa keras


"Sabar...wajar Tahta marah gitu karna kamu bersikeras pengen pisah, suami mana yang ngga sedih istrinya minta pisah demi laki-laki lain". Ucap Dewa dengan lembut


"Iya, ini salah aku". Ucap Putri


"Intinya Put, kalian ini suami istri, saling jaga perasaan aja. Mungkin kamu ngga cinta sama Tahta, tapi Tahta cinta sama kamu, dia bahagia kamu jadi istrinya, jadi jangan ngerusak kebahagiaannya dengan mengungkit laki-laki lain didepannya". Ucap Dewa, Putri mengangguk pelan


"Kakak bukan belain Tahta, tapi kakak ngeliat dari posisi Tahta, dia seorang suami, dia ngerasa ngga dihargai kalo kamu bahas laki-laki lain, dia ngerasa ngga bernilai dimata kamu". Ucap Dewa


"Gitu ya". Gumam Putri


"Iya sayang. Nanti minta maaf ya. Kakak yakin semalem itu Tahta cuma emosi sesaat". Ucap Dewa


"Tapi kenapa dia ngga ikut sarapan tadi? Udah jelas dia ngehindarin aku". Ucap Putri


"Kata siapa? Bisa aja dia lagi buru-buru ke kampus kan". Ucap Dewa


"Iya sih". Ucap Putri


"Jangan dibiasain negatif thinking". Ucap Dewa


"Iya, iya". Ucap Putri sambil mengangguk


"Satu lagi, banyak-banyak belajar soal rumah tangga, baca-baca, biar kamu bisa lebih sabar, lebih tenang dan lebih tau cara menghadapi masalah". Ucap Dewa sambil mengusap tangan Putri


"Iya kak". Ucap Putri


"Oh iya kamu udah tau kalo Tahta diterima kerja di coffee shop Monochrome? Yang didepan SMA kamu". Ucap Dewa


"Kak Tahta diterima kerja? Maksudnya kak Tahta mau kerja?". Tanya Putri


"Iya, kamu ngga tau? Kemarin dia kirim lamaran kerja, bersyukur diterima..."


"Dia kerja buat biayain kamu, hmm istilahnya nafkahin kamu hehe". Ucap Dewa


"Ya ampun, aku ngga tau apa-apa". Ucap Putri


"Mungkin dia belum ngasih tau kamu. Jadi mulai hari ini dia part time, kan pulang ngampus sore. Baliknya langsung kerja..."


"Dia cerita katanya ngga mungkin kalo cuma mengandalkan tabungannya. Jadi dia nyari tambahan buat penuhin kebutuhan kamu". Ucap Dewa


Putri terdiam, ada perasaan terenyuh dibenaknya mendengar penuturan Dewa tentang Tahta. Sudah sampai begini, apa masih pantas untuk Putri meminta pisah dari Tahta? Terlihat sangat jelas kesungguhan Tahta menjalankan pernikahan mereka


"Put, hargai usaha Tahta, dia cari nafkah buat kamu". Ucap Dewa


Putri mengusap kasar wajahnya, muncul perasaan bimbang dan goyah dihatinya, sepertinya ia memang harus belajar membuka hati dan menerima Tahta sebagai suaminya


"Aku harus gimana kak?". Tanya Putri


"Gimana apanya?". Tanya Dewa


"Jujur susah berdiri ditengah-tengah kak Tahta sama kak Raja".


"Hahaha bingung ya pilih suami apa pacar". Ucap Dewa


"Kakaaak, kok aku ngerasa kayak cewek ngga bener ya, punya suami tapi punya pacar, ya ampun". Ucap Putri sambil mencengkram kepalanya

__ADS_1


"Heh jangan kayak gitu, sakit". Ucap Dewa sambil menyingkirkan tangan Putri dari kepalanya


"Bisa stress lama-lama". Ucap Putri


"Hahahahaha ngga gitu juga kali, lebay kamu". Ucap Dewa


---


"Kamu ngga mau mampir dulu?". Tanya Putri


"Kapan-kapan ya sayang, aku mau ke bengkel dulu, salam aja buat ayah sama ibu". Ucap Raja sambil mengusap pipi Putri


"Hmm yaudah deh". Ucap Putri


Cup, Raja melu-mat lembut bibir Putri, meresapi aroma strawberry yang selalu menjadi favoritenya itu


"Aku masuk ya, kamu hati-hati". Ucap Putri


"Iya cintaku". Ucap Raja sambil mencium punggung tangan Putri


Pukul sembilan malam, Putri baru menutup laptopnya setelah mengunduh beberapa film yang akan ia tonton dengan Nindi dihari libur nanti


Setelah merapihkan laptopnya ke tempat semula, Putri meraih ponselnya untuk menghubungi Dewa


"Tahta belum pulang, kayaknya masih kerja".


"Oh, yaudah, makasih kak"


"Iya sayang"


Setelah memutus sambungan telfonnya, Putri melirik kearah jam dinding


"Udah jam segini masih kerja? Belum nanti ngerjain skripsi, apa ngga capek? Bikin khawatir aja".


Putri bangun dari kursinya, menuju lemari dan berganti pakaian, ia berniat untuk mengunjungi Tahta, setidaknya ia ingin mengetahui keadaan sang suami meski nanti harus diusir lagi, Putri sudah siap untuk itu


Lima belas menit perjalanan, Putri tiba disebuah kedai kopi yang terlihat sudah sepi pengunjung, sepertinya akan tutup


Setelah membayar argo taksinya, kaki kecil Putri melangkah kearah kedai kopi tersebut, terlihat beberapa pekerja terlihat sibuk kesana-kesana kemari membersihkan tempat kerja mereka


Dari depan, Putri dapat melihat Tahta dibalik meja pelayanan, layaknya seorang barista, ia menggunakan apron bertuliskan nama kedai kopi tersebut


"Maaf kak, sudah tutup". Ucap salah satu pekerja saat melihat Putri masuk, membuat Tahta menoleh


"Mput?".


Tahta beranjak dari posisinya, sambil melepas apron, ia berjalan menghampiri Putri


"Siapa?". Tanya salah satu pekerja pada Tahta


"Istri gue". Jawab Tahta


"Mput, kamu kok disini? Sama siapa? Naik apa?". Tanya Tahta


"Sendiri, naik taksi". Jawab Putri


"Dah sana cabut, biar gue yang lanjutin kasian istri lu nungguin". Ucap teman Tahta


"Serius lu?". Tanya Tahta


"Iya, dah sana". Jawabnya


"Ok, thanks". Ucap Tahta


"Yoi, santai aja". Ucapnya


"Kakak ambil tas dulu ya". Ucap Tahta diangguki oleh Putri


---


"Kok kamu tau kakak ada disana?". Tanya Tahta


"Dari kak Dewa, kakak kenapa ngga ngasih tau aku kalo kakak kerja?". Tanya Putri


"Belum sempet ngasih tau, eh kamu udah tau duluan".


"Hmmm".


"Terus kamu ngapain nyamperin kakak? Kan kakak udah sering bilang jangan kemana-mana sendiri, takut kenapa-napa dijalan".


"Aku mau minta maaf".


"Minta maaf?".


"Iya, soal semalem. Aku udah bikin kakak marah".


"Oh haha gapapa, harusnya kakak yang minta maaf karna udah bentak kamu..."


"Maafin kakak ya. Harusnya kakak ngga kayak gitu". Ucap Tahta sambil mengusap tangan Putri


"Kakak ngga salah, aku yang bikin kakak marah duluan".


"Yaudah jangan dibahas lagi. Mau pulang kemana?".


"Kerumah ayah".


"Yaudah".


Mereka sudah tiba dirumah, setelah menyiapkan air hangat untuk Tahta membersihkan diri, Putri mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sementara Tahta segera masuk kedalam kamar mandi


Hampir sepuluh menit berlalu, Tahta sudah selesai dengan kegiatannya. Ia menghampiri Putri yang sedang berdiri didepan meja belajar sambil mencepol rambutnya keatas


Grep, Tahta memeluk Putri dari belakang, membuat Putri sedikit tersentak


"Sayang, celana aku mana?". Tanya Tahta sambil sesekali mengecup tengkuk Putri,

__ADS_1


"Celana? Kakak belum pake celana?". Tanya Putri


"Belum, liat nih". Ucap Tahta, Putri menggeleng cepat


"Ngga mau". Ucap Putri


"Hahaha ditutup pake handuk sayang, kamu sih ngga nyiapin celananya". Ucap Tahta


"Oh iya lupa, aku ambil dulu". Ucap Putri sambil berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian Tahta


"Kakak udah makan?". Tanya Putri


"Belum". Jawab Tahta


"Yaudah pake bajunya, aku mau kebawah ambil makanan". Ucap Putri sambil menaruh pakaian Tahta diatas ranjang


"Hehe makasih istriku". Ucap Tahta


"Iyaaa". Ucap Putri


Putri menyuapi Tahta makan malam sambil menemaninya mengerjakan tugas akhir kuliahnya, sesekali mereka juga mengobrol disela-sela fokus Tahta mengerjakan skripsinya


Putri menatap sendu wajah Tahta, terlihat guratan kelelahan di wajah tampan sang pemilik


Tentunya ada rasa kasihan dan tidak tega melihat suaminya ini, disaat harus menyelesaikan kuliahnya, justru Tahta menambah kegiatannya dengan bekerja,


Padahal menurut Putri, menghabiskan waktu seharian untuk kuliah ditambah mengerjakan skripsi saja sudah sangat menguras pikiran dan energi. Apalagi masih harus ditambah bekerja meski paruh waktu


Tidak terbayang bagaimana lelahnya sosok laki-laki dihadapannya ini dalam beberapa waktu kedepan jika baru satu hari mencari nafkah saja sudah membuatnya khawatir, Putri hanya takut kesehatan Tahta akan terganggu


"Kak, aku boleh nanya ngga?". Tanya Putri


"Kenapa sayang?". Tanya Tahta


"Kenapa kakak kerja?".


Pertanyaan Putri membuatnya menoleh


"Kenapa kakak kerja?". Tanya Tahta


"Iya, kenapa?".


"Kenapa ya? Hmm, karna sekarang kakak punya tanggung jawab, ada seseorang yang harus kakak biayai kebutuhannya".


"Hmm, karna itu?".


"Iya, karna sejatinya suami itu harus bekerja, cari nafkah buat keluarga..."


"Kakak ada tabungan, tapi tetap harus cari penghasilan. Buat kamu, buat masa depan kita". Ucap Tahta


Putri tersenyum mendengar jawaban Tahta yang terdengar serius di telinganya. Tahta menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dengan baik meski sedang menanggung beban sebagai mahasiswa tingkat akhir


Cup, Tahta mengecup singkat pipi halus Putri


"Ih, kaget". Ucap Putri sambil menepuk lengan Tahta


"Lagian senyum-senyum sendiri, kenapa?". Tanya Tahta


"Kepo". Jawab Putri


"Hmm gitu ya..."


"Oh iya sayang, ada satu alasan lagi kenapa kakak harus kerja". Ucap Tahta


"Apa?". Tanya Putri


"Karna kakak ngga mau liat kamu terima uang atau apapun lagi dari Raja". Jawab Tahta


"Maksud...nya?".


"Kakak tau Raja yang selalu ngasih kamu uang dan dia yang selalu penuhi kebutuhan kamu. Dan karna sekarang kamu istri kakak, itu jadi tanggung jawab kakak, bukan Raja..."


"Jadi berhenti terima apapun lagi dari Raja. Karna kakak kerja buat kamu, kakak mau buktiin kalo kakak lebih baik dari Raja". Ucap Tahta


"Hargai usaha Tahta, dia cari nafkah buat kamu".


Seketika kalimat yang Dewa ucapkan tadi pagi terngiang-ngiang di kepalanya, Dewa benar, ia harus menghargai usaha yang telah Tahta lakukan untuknya


Terlebih ini adalah pertama kalinya bagi Tahta bekerja, jika saja mereka tidak menikah, mungkin Tahta akan lebih senang menghabiskan waktunya untuk bermain bersama teman-temannya, dibanding harus banting tulang mencari nafkah


Putri harus menghargai itu, statusnya sebagai suami membuat Tahta berubah menjadi lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab


"Iya kak, aku ngerti". Ucap Putri


"Pinter. Yaudah bobo gih, istirahat". Ucap Tahta


"Engga. Mau nemenin kakak". Ucap Putri


"Emang ngga capek?". Tanya Tahta


"Harusnya aku yang nanya itu ke kakak".


"Hehe kakak gapapa kok".


"Tapi harus istirahat kak, skripsinya dilanjut besok".


"Nanggung sayang".


"Hmm, kalo kakak kecapekan nanti sakit".


"Yaudah, sebentar ya, sepuluh menit lagi".


"Bener? Aku tungguin loh".


"Hehe iya sayangku". Ucap Tahta sambil mencubit hidung Putri

__ADS_1


---


Jangan lupa like, vote dan hadiahnya😘


__ADS_2