
Pagi ini Kak Sean mengantar Xana hingga depan kelas.Semua orang melihat Xana pergu dengan cowok tinggi rambut hitam keren dengan poni menutup mata dan mata buru samar-samar.Tentu saja itu mengundang perhatian banyak orang.Setelah kakak Xana pergi mereka semua bertanya kepada Xana siapa Kak Sean?
"Dia kakakku,"jawab Xana singkat dengan wajah dingin.
"Kakakmu ganteng-ganteng banget Gilaaa!!"Ucap salah satu siswi di kerumunan itu.
"Of Course,dia anak orang terpandang dan kaya uangnya banyak untuk perawatan."jelas Xana.
Mereka terdiam mengingat mereka bukan siapa-siapa di mata Xana ataupun Kakaknya.
"Ah,Xana aku menyesal saat itu ikut mengejekmu dengan Jihan.Kita berteman aja,yuk!"Ajak seorang gadis.Xana ingat ia pernah merendahkan Xana ketika kelas 8.
"Ga,makasi,"Xana pergi meninggalkan kelas.
"Sial! kalau tahu Xana sehebat itu aku ga bakal tuh ngikutin Jihan."ucap siswi lain.
Xana pergi meninggalkan kelas dan keluar sekolah.Ia tidak suka di kelilingi seperti tadi.Apalagi mencoba mengajaknya berteman dengan alasan menyesal.Ia hendak menyeberrang jalan untuk berbelanja.Tiba-tiba saja ada mobil warna hitam yang menggadang jalannya.Ada beberapa pria berpakaian hitam dengan masker keluar.Mereka memegang tangan Xana dan menariknya ke mobil.
"B*j*ngan!Kalian siapa?! ingin menculikku?! apa kalian tahu siapa aku!Ah,Lepas B*bi apa kau tuli?! Aku akan teriak jika kau...."Belum selesai Xana mengoceh mereka sudah membiusnya dengan suntikan.
×××××××××××××××××××××××××××××××××
Xana terbangun dan merasa pusing.Ia melihat sekeliling,ia tidak melihat apa-apa karena cukup gelap.Tiba-tiba ada yang menyentuh kakinya.Ia kaget dan berteriak.
"A--!!!!"satu tangan besar menutup mulutnya.
"Apa kau bodoh?jangan teriak."Suara seorang pria berasal daru belakang Xana.Suara itu terdengar jelas dan cukup dekat.
"Si-siapa kamu?kamu manusia?"Xana bertanya dengan gugup.
"Memang nya apa kalau bukan manusia?Vampir? bodoh," ucap pria itu lagi.
"Bagaimana aku bisa ada di sini?"Xana gemetar karena tempat itu gelap.Xana takut akan gelap meski ia adalah orang dingin.
"Kau gemetar,ya?Apa kau takut?Jangan takut ada aku disini."Ucap pria itu sambil memeluj Xana.
"Namaku Xana,siapa namamu?"Xana mulai tenang dan bertanya.
__ADS_1
"Leon," jawab pria itu.
"Kau masih belum menjawabku,Bagaimana aku bisa berada disini?"Xana kembali gugup.
"Mana ku tahu,aku sendiri bingung.Tapi aku punya firasat mereka ada masalah dengan Ayahku di urusan bisnis sehingga menculik kita," jawabnya.
Karena gelap,Xana tidak bisa meluhat wajahnya dengan cukup jelas.Tetapi dia memegang tangan kanan pria itu,ada gelang tali tetapi seperti ada dua yang menyatu jadi satu.
"Dengar,hanya ada kita berdua."Leon berkata sambil memegang tangan kanannya seakan akan melepas gelang itu.
"Ini untukmu,"dia memberi salah satu gelangnya.
"untuk ap-?"belum selesai Xana bicara sudah ada suara orang akan masuk.Suaea sepatu mereka terdengar jelas.
Kami berpura-pura pingsan.Aku tetap menahan rasa sesak di dadaku karena ruangan tersebut tertutup.Sial,mereka tidak keluar.
"Kata bos kita harus menjaga mereka sampai keluarga mereka datang,"kata salah satu dari mereka.
Mereka akan meninggalkan kami,Namun kemudian Leon Menusuk seorang dari mereka dengan pisau dan menyerang satu persatu.
"Jika kau takut,tutup matamu dan sembunyi di belakangku."Ucap Leon sambil was-was melihat kiri kanan pintu berjaga-jaga.
Xana melihat tongkat yang cukup berat dan menyerang mereka satu persatu.Berkelahi seperti ini bukan hal baru bagi Xana.Ia sering membantai Lawan perusahaan yang membuat ayah tidak senang.Sekitar ada 10 orang di depannya.Ia memegang Tongkat dan membulatkan tekadnya.
"Xana,jangan sampai kalah pada pencundang-pecundang ini,"Leon berseru dari belakang Xana.
"Para B*j*ngan yang beraninya keroyokan ini harus diberi tahu apa itu duel bukan,Leon?"Xana Kembali berseru.
"Aku akui nyalimu"Setelah Leon berkata demikian,mereka mulai berkelahi.
Xana memukul belakang leher merejka satu demi satu dan melayangkan tendangan kuat dari kakinya ke kepala dan kaki mereka.
Sedangkan Leon,entah darimana ia mendapatkan pisau itu,ia membunuh mereka satu persatu.Ada yang tertusuk di bagian mata,ada pula bagian perut,bahkan di bagian ********.
Selama mereka berkelahi rupanya membuat jarak antara mereka menjauh.Dan tiba-tiba...
DUUUAAARRRRRRR!!!!!!!
__ADS_1
Ada Bom yang diledakkan.Ledakannya masuh di dalam gedung tetapi menimbulkan asap untuk area Xana berkelahi.Sehingga ia tidak bisa melihat apapun.
Xana pingsan akibat gas beracun yang di keluarkan bom tersebut.Begitu Pula dengan Leon.
×××××××××××××××××××××××××××××××
Xana membuka matanya,kini ia merasa kesilauan karena dekat dengan jendela.Ia melihat sekeliling dan melihat ketiga kakak dan ayah ibunya sudah ada di sampingnya.
"Xana,Maafkan Kakak,seharusnya tadi aku menunggu sedikit lama di sekitar sekolahmu,"Kak Sean memeluk Xana yang terbaring lemah dan menangis.
"Ini salah Papa,harusnya Papa memberimu pengawalan saja,maafkan Papa,Sayang."Ayah merasa bersalah dan mencoba untuk tidak terlihat sedih.
"Kak,Dimana Cowo itu?apa dia baik-baik saja? bagaimana keadaannya?" Xana bertanya.
"Cowo?Siapa?"Ibu Xana bertanya kembali.
"Tidak,tidak mungkin dia ga selamat?! dia yang selamatin Xana!!GAKKKK!!! Dia pasti selamat!"Xana kembali tidak tenang.
"Xana,tenang Kakak akan panggil dokter sebentar," Kak Sean mengajak semua keluar selain ibu.
Kak Sean membicarakan pada Ayah dan adik-adiknya bahwa mungkin memang ada orang bersamanya,tapi sayang bos yang menculik Xana sudah mereka bunuh.Ketika insiden bom mereka sudah mempersiapkannya dan sengaja agar Xana pingsan dan tidak ditemukan.
Rupanya,ketika Xana hendak diculik,ia sengaja
mengoceh tidak jelas agar Xana bisa menempelkan GPS ke baju salah satu orang-orang itu.Sean tahu saat membuka handphonenya dan ingin menghubungi Xana.
"Huufftt~ ini akan rumit,Dokter sudah bilang,Xana pasti akan mendapat Trauma pada kegelapan.Ia bahkan sesak napas hanya sebentar saja dalam ruangan gelap."Kak Albert menjelaskan.
Xana trauma akan gelap mengingat ia takut akan film horor.Ia harus dirawar mentalnya agar tidak terjadi apa-apa.
Sementara di dalam kamar rawat nya,Xana tetap meminta ibunya mencari pria itu.Xana lupa sekejap akan namanya.Dia tahu namanya tapi dia melupakannya.
"Ibu,Xana berhutang nyawa dengannya,ibu Xana ingin berterima kasih,kumohon biarkan Xana bertemu dengannya,bu."Xana tetap meminta.
"Putriku Xana,dengar sayang ketika Papa dan Kakakmu datang ke sana untuk menyelamatkanmu,tidak ada siapapun sayang"ibunya menjelaskan.
--Bersambung
__ADS_1
PERHATIAN!!!
Yuk,dukung Penulis dengan Like,Favorite dan Vote agar author semangat!(・∀・)