
Beberapa bulan telah berlalu, Putri dan Tahta melewati hari-hari mereka sebagai sepasang suami istri dengan harmonis dan bahagia. Kini mereka pun sudah mendapatkan buku nikah, yang artinya pernikahan mereka sudah diakui dan sah secara hukum. Dan ini merupakan salah satu impian mereka yang terwujud
Saat ini, Putri sedang berada di dapur, ia sedang membuat dua gelas kopi untuk Tahta dan Dewa yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing
Setelah mengantar kopi untuk Dewa diruang kerjanya, Putri membawa gelas kopi untuk Tahta menuju kamar mereka, Putri menghampiri sosok bertubuh tinggi dan tegap itu yang sedang fokus menatap layar laptopnya
"Kak, ini kopinya". Ucap Putri sambil menaruh gelas kopinya diatas meja
"Makasih, sayang". Ucap Tahta diangguki oleh Putri
Putri berjalan menuju sofa yang ada di pinggir jendela, ia dudukkan bokongnya disana sambil bersandar dan memainkan ponselnya
Tahta menoleh, ia memperhatikan raut wajah Putri yang tidak ceria seperti biasanya, wajah istrinya kali ini terlihat lesu dan tidak bersemangat
"Kenapa, bete ya?". Tanya Tahta
"Kangen kak Raja". Jawab Putri
"Video call aja, sayang".
"Udah. Dari pagi aku video call tapi ngga diangkat-angkat, chat aku belum dibaca".
"Hmm, sibuk kali. Nanti juga ngabarin".
Putri menghela nafas panjang dan menaruh ponselnya diatas permukaan sofa
"Satu jam lagi kakak mau ke coffee shop, ada janji sama orang". Ucap Tahta
"Siapa? Cewek?". Tanya Putri
"Cowok, sayang. Katanya mau join bisnis coffee shop kita. Ya, semacam franchise. Dia mau liat-liat coffee shop dulu".
"Hmm, aku boleh ikut ngga? Bosen di rumah, kak".
"Yaudah. Ajak Nindi aja buat nemenin kamu disana, kan bisa ngopi bareng".
"Boleh?".
"Boleh, cinta".
"Yaudah. Nanti aku kabarin Nindi".
Drrt drrrt, Putri menoleh kearah ponselnya yang bergetar, senyum sumringah seketika muncul dibibirnya
"Kak Raja! Yeay, kak Raja video call!".
Tanpa pikir panjang, Putri segera menerima panggilan masuk dari kakaknya itu. Tahta tersenyum melihat istrinya kembali ceria, ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya
Satu jam telah berlalu, Putri dan Tahta sudah tiba di kedai kopi milik mereka. Tahta menyalurkan kemampuannya meracik kopi untuk membuka bisnis yang sudah berjalan selama beberapa bulan terakhir. Bisnis yang semula hanya dibantu oleh Putri, kini Tahta sudah memiliki cukup banyak pekerja yang mumpuni
Berbagai tawaran kerja sama pun mulai berdatangan, melihat cukup banyak keuntungan yang didapat dari bisnisnya tersebut, mengingat kedai kopi memang tempat yang sangat di gandrungi berbagai kalangan,
Seperti saat ini, Tahta sedang menemui tamu yang digadang-gadang akan menjadi partner bisnisnya. Di salah satu meja, Tahta terlihat sedang berbincang dengan laki-laki yang terlihat sebaya dengannya. Laki-laki itu tertarik dengan bisnis yang berkaitan dengan kopi tersebut. Tahta pun dengan senang hati menjabarkan keseluruhan dari bisnis yang dijalaninya itu
Seusai pertemuan, Tahta menghampiri sosok yang memiliki tubuh paling kecil diantara pekerja kedai lainnya, siapa lagi kalau bukan istrinya. Putri terlihat sedang meracik kopi pesanan pengunjung. Tahta menyunggingkan senyumannya melihat Putri yang begitu cekatan melakukan pekerjaannya
Padahal ia sudah melarang Putri melakukan pekerjaan itu karena ia tidak mau istrinya kelelahan, namun Putri tetap lah wanita keras kepala yang tidak suka dilarang tentang apa yang ia suka. Tahta pun memilih untuk mengalah dan membiarkan istrinya
Merasa ada yang memperhatikan, Putri menghentikan kegiatannya dan menoleh ke samping, menatap laki-laki bertubuh tinggi yang menurutnya semakin hari semakin tampan di matanya
"Mau pesan apa?". Tanya Putri
"Cintanya satu". Jawab Tahta
"Maaf kak, cintanya ngga dijual, cuma buat suami saya". Ucap Putri
"Haaa gemeees pengen cium". Ucap Tahta sambil mendekatkan wajahnya
"Hush, kebiasaan. Diliat orang tau". Putri menyingkirkan wajah Tahta dengan telapak tangannya
"Hehe, jangan capek-capek ya, sayang. Aku keruangan dulu".
__ADS_1
"Siap, bos".
Tahta pergi meninggalkan meja barista, Putri pun melanjutkan kegiatannya
"Caramel macchiato satu ya".
"Dine in atau take away, kak?".
"Dine in".
"Baik, ditunggu kak".
Putri terdiam saat mendengar percakapan salah satu pekerja dengan laki-laki dari balik meja barista di belakangnya, suara yang sudah tidak asing di telinganya membuatnya menoleh untuk memastikan pemilik dari suara tersebut
"Kak Adrian". Gumam Putri
Adrian tercengang sesaat melihat Putri, kemudian tertawa kecil sambil menutup mulut dengan punggung tangannya
"Riki, tolong anter ini ke meja delapan ya". Ucap Putri pada salah satu pekerja kedai
"Siap, kak".
Putri pun melepas apronnya sambil berjalan menghampiri Adrian
"Ya ampun, udah lama ngga ketemu, kak". Ucap Putri
"Iya, ya. Apa kabar?". Tanya Adrian sambil mengacak puncak kepala Putri
"Baik. Kak Adrian gimana?".
"I'm fine. Lu kerja disini?".
"Eum, ngobrolnya sambil duduk aja kak". Ucap Putri sambil berjalan menuju salah satu meja diikuti Adrian di belakangnya
"Lu ngga berubah ya, masih cantik, eum, makin cantik sih". Ucap Adrian
"Hahaha, bisa aja". Ucap Putri sambil tersenyum
"Engga, cuma bantu-bantu aja".
"Bantu-bantu gimana?".
"Coffee shop ini punya suami gue, kak. Kadang gue kesini buat bantu-bantu, daripada suntuk dirumah".
"Loh, gue baru tau ini punya suami lu, padahal gue termasuk yang sering kesini sejak ini dibuka".
"Hehe, alhamdulillah kak. Dia buka coffee shop ini sambil lanjutin S2".
"Wah? Jadinya lanjut S2? Yang gue denger dari Dewa katanya dia mau jadi lawyer atau konsultan gitu?".
"Iya, itu rencana awalnya".
"Oh. Trus lu sendiri gimana, udah mulai skripsi kan?".
"Iya bener, hehe. Masih nyari bahan".
"Woy". Ucap Nindi sambil menepuk bahu Putri dari belakang
"Ih, lama banget". Ucap Putri
"Hehe, maap. Macet". Ucap Nindi
"Alesan, sini duduk". Ucap Putri melirik kursi disebelahnya
"Eum, gapapa?". Tanya Nindi
"Gapapa, duduk aja". Ucap Adrian diangguki oleh Nindi
"Ini...Nindi kan? Tunangannya Dewa?". Tanya Adrian pada Nindi
"Iya kak, hehe". Jawab Nindi
__ADS_1
"Oh iya Put, gue udah bawa jamu bikinan oma gue, yang waktu itu gue omongin". Ucap Nindi sambil mengeluarkan dua botol kaca dari tas nya
"Gue jamin jamu ini bisa bikin lu hamil". Ucap Nindi melanjutkan ucapannya
"Ssst, Nindi. Gue malu". Ucap Putri bersuara pelan sambil menatap tajam pada Nindi
"Hehe, malu kenapa? Itu kan usaha lu buat cepet punya anak". Ucap Adrian
"Nah bener tuh. Gue cuma bisa bantu ini. Semoga ada hasilnya. Nih, ambil". Ucap Nindi sambil memberikan botolnya untuk Putri
"Lu sama kak Tahta minum ini setiap pagi, sampai habis". Sambung Nindi
"Terus? Lu yakin berhasil?".
"Eum, gini, gini. Awal mula oma gue bikin jamu ini tuh buat mantu-mantu perempuannya, dan sejauh ini berhasil. Mereka hamil..."
"Gue ngga tau ya itu efek dari jamu ini atau bukan, tapi menurut gue sih gitu. Yang jelas lu sama kak Tahta harus tetap usaha juga". Ucap Nindi
"Hmm, iya gue ngerti. Thanks Nin. Salam buat oma lu, ya".
"Ok. Gue doain semoga lu segera hamil, gue sebagai cewek, sebagai sahabat lu, ikut sedih tiap denger hasil tespack lu negatif terus..."
"Jadi semoga jamu ini punya efek bagus buat lu". Ucap Nindi mengusap tangan Putri
"Aamiin". Ucap Adrian sambil tersenyum
"Aah, terharu, thanks banget, Nin". Ucap Putri dengan mata yang berkaca-kaca
"It's okay, babe".
Pukul dua siang, Putri dan Tahta baru tiba dirumah setelah makan siang bersama Luna di restoran langganan mereka. Mereka segera berganti pakaian dengan baju rumahan lalu menjatuhkan diri diatas ranjang untuk beristirahat
"Kok Nindi ngga ikut pulang? Katanya mau jalan sama bang Dewa?". Tanya Tahta
"Mau pulang dulu sebentar, mamanya minta dianter arisan". Jawab Putri
"Hmm, oh iya sayang, kamu yakin ngga mau adain resepsi buat pernikahan kita?". Tanya Tahta dengan hati-hati
"Ya ampun, kok nanya itu lagi sih, kak? Buat apa resepsi segala?". Tanya Putri
"Jujur, kakak takut kamu iri sama Nindi".
"Hah? Iri kenapa?".
"Bang Dewa mau siapin pernikahan megah buat Nindi, kakak takut kamu iri dan sedih karna kita menikah sederhana banget..."
"Kakak juga mau siapin resepsi pernikahan impian buat kamu". Ucap Tahta
Putri tersenyum dan menangkup wajah Tahta dengan kedua tangannya
"Aku ngga butuh itu ya, ganteng. Yang terpenting aku udah jadi istri kamu dan itu udah cukup buat aku..."
"Lagian aku bukan anak kecil yang gampang iri, apalagi itu Nindi, sahabat yang udah aku anggap saudara aku sendiri. Dan sebentar lagi kita bakal jadi keluarga..."
"Justru aku senang kalo kak Dewa mau siapin pernikahan megah buat Nindi karena Nindi pantas dapetin itu". Ucap Putri
"Kamu juga pantas dapetin itu, sayang. Kakak bisa-"
Cup, Putri menghentikan ucapan Tahta dengan mengecup singkat tepat dibibirnya
"Udah, jangan bahas itu lagi. Aku mau ngabarin ibu kalo dua minggu lagi kak Raja pulang". Ucap Putri sambil meraih ponselnya diatas meja
"Hah? Kamu serius? Kata siapa?". Tanya Tahta
"Kata kak Raja. Ibu pasti senang kalo aku kabarin ini". Ucap Putri sambil tersenyum menatap layar ponselnya
---
Bersambung yages
Alurnya aku cepetin biar gak terlalu bertele-tele guys, karna mau aku selesain cepet-cepet.
__ADS_1
Dukung terus ya sampai cerita ini tamat, terimakasih banyaaak lopyuuu guys😘