
"Gue emang ngga ada gunanya". Tahta sambil menghapus air matanya
Setelah mendengar seluruh cerita dari kejadian malam itu, Tahta semakin membenci dirinya sendiri karena merasa tidak berguna untuk Putri
Tahta telah memutuskan sesuatu, ia berharap keputusannya itu adalah jalan terbaik untuk dirinya dan Putri
"Udah cukup aku nyusahin kamu, jadi beban buat kamu ditambah aku ngga bisa ngelindungin kamu, suami macam apa sih aku?..."
"Aku ngga bernilai, aku ngga ada apa-apanya. Kalo kamu ragu sama aku, aku akan kasih kamu kebebasan, kamu bebas cari laki-laki lain atau balikan sama Raja..."
"Dan aku akan turutin kalo kamu masih mau cerai-"
"KAK!". Bentak Putri sambil membungkam mulut Tahta
"Kakak ngomong apa sih! Ngga ada laki-laki lain apalagi cerai. Aku ngga mau".
"Buat apa masih jadi istri aku, Mput? Ngelindungin kamu aja aku ngga bisa".
"Tapi bukan itu yang aku mau! Kamu jahat ya. Aku udah nerima kamu jadi suami aku, aku udah cinta sama kamu, tapi kamu malah ngomong gitu".
"Karena aku sadar diri, kamu bisa dapetin yang lebih dari aku".
"Ngga mau!".
Putri dan Tahta sama-sama mendongak saat hujan turun dengan sangat deras. Seketika tubuh mereka basah kuyup
"Langit aja nangis denger kamu ngomong gitu". Ucap Putri
"Ngga ada hubungannya. Ayo pulang". Ucap Tahta
"Ngga mau". Ucap Putri
"Jangan hujan-hujanan sayang, nanti sakit". Ucap Tahta
"Udah terlanjur. Kamu jujur sama aku. Kamu mau kita cerai?".
"Engga".
"Terus kenapa ngomong gitu?".
"Aku cuma ngasih kamu kesempatan, tapi kalo ngga mau yaudah".
"Ish, enteng banget jawabannya". Putri mendengus kesal
"Hehe, makasih ya karna mau tetap jadi istri aku". Ucap Tahta sambil mengusap air yang membasahi wajah Putri
"Tapi please, jangan ngomong kayak gitu lagi". Ucap Putri
"Iya, aku janji".
Cup, Tahta melabuhkan kecupannya pada bibir Putri
"Ck, liat adik lu sama istrinya, romantis banget ciuman dibawah hujan". Ucap Raja
"Cemburu?". Tanya Dewa
"Lu udah tau jawabannya. Ayo turun". Ucap Raja sambil membuka pintu mobil
Raja dan Dewa keluar dari sambil memegang payung ditangan mereka. Mereka datang untuk menjemput Putri dan Tahta atas perintah Ibrahim yang khawatir karena anak dan menantunya belum juga pulang disaat hujan semakin deras
"Ehem". Raja memecah suasana romantis antara Putri dan Tahta
"Kak Raja? Kak Dewa? Ngapain kesini?". Tanya Putri sambil bangun dari posisinya
"Jemput kamu, bukannya pulang malah hujan-hujanan, nanti sakit loh". Ucap Raja memayungi tubuh Putri
"Ngga mau kak, aku udah basah ngapain pake payung". Putri menjauh dari Raja
"Ayo balik". Ucap Dewa
"Ntar dulu, ada yang mau gue omongin sama dia". Ucap Tahta menatap Raja
"Gue? Kenapa?". Tanya Raja
"Stop. Gue ngga tau ada masalah apa lagi diantara lu berdua, tapi seenggaknya kita pulang dulu, kasihan Putri". Ucap Dewa
"Yaudah". Tahta menerima saran sang kakak pertama, mereka pun segera meninggalkan taman
---
"Mereka lagi ngobrolin apa sih sayang? Kayaknya serius banget". Tanya Melly
"Ngga tau bu". Ucap Putri sambil mengunyah makanannya
"Sudah, kita ngga perlu tau. Mungkin itu urusan keluarga mereka". Ucap Ibrahim, Melly mengangguk paham
Disisi lain, ketiga kakak beradik itu sedang berada didalam kamar Putri. Mereka membicarakan soal permasalah baru yang muncul semalam. Disana, Tahta menceritakan seluruh kejadiannya persis yang diceritakan Putri
"Jadi karna itu kaca mobil gue pecah?". Tanya Dewa diangguki oleh Raja
"Bodoh". Ucap Dewa
"Emang bodoh! Dia itu obsesi sama Mput. Udah tau Mput istri gue, masih aja ngedeketin". Ucap Tahta
"Masalah buat lu?". Ucap Raja
"Ck, kalo gue ngga lumpuh, gue udah bangun buat tonjok muka lu". Ucap Tahta
"Terus aja! Lu berdua ngga ada puasnya kalo belum saling tonjok". Ucap Dewa
"Gue bisa puas kalo dia koma dan lumpuh kayak gue". Ucap Tahta
"Hahaha, ngarep". Ucap Raja
__ADS_1
"Gini deh, Raja, udah lah lu relain Putri sama Tahta". Ucap Dewa menatap Raja
"Kalo ngomong emang gampang, coba lu rasain jadi gue". Ucap Raja
"Udah, lu tau kan gue yang lebih dulu cinta sama Putri, lu juga tau kan, Ta?". Tanya Dewa diangguki oleh Tahta
"Tapi waktu gue tau Putri cinta sama lu, gue relain Putri kok, gue ngga ganggu hubungan lu sama Putri, jadi kenapa lu ngga bisa kayak gitu juga?". Ucap Dewa
"Ya beda bang, cinta lu bertepuk sebelah tangan-"
"Pfftt, bertepuk sebelah tangan". Tahta menahan tawa mendengar ucapan Raja, membuat Raja menghentikan ucapannya
"Ngga usah ketawa". Ucap Dewa
"Hehe sorry". Ucap Tahta
"Gue sama Putri saling cinta, punya komitmen mau nikah, tapi ujung-ujungnya dihianatin kayak gini. Gue ngga terima lah". Ucap Raja
"Terus mau sampai kapan lu ganggu mereka?". Tanya Dewa
"Kalo bisa sampai cerai". Jawab Raja tersenyum menatap Tahta
"Anjing". Gumam Tahta menatap Raja
Dewa menghela nafas sambil memijat pelipisnya
"Gue rasa orang lain ngga ada yang sanggup punya adek kayak lu berdua". Ucap Dewa
"Makanya lu bilangin tuh ke adek lu, jangan ngarepin istri orang, suruh tau diri". Ucap Tahta
"Harusnya lu yang tau diri". Ucap Raja
"Iya gue tau diri kok, gue suaminya Mput, lu siapa nya?". Tanya Tahta sambil tertawa kecil
"Bangsat". Gumam Raja
"Argh!". Dewa mengerang cukup kencang, ia mulai kesal menanggapi kedua adiknya
"Gue udah muak liat lu berdua ngerebutin Putri terus. Lu, Raja! Lu lebih tua dari Tahta, harusnya lu lebih dewasa, jangan kayak anak kecil, lu harus terima kenyataan, ngapain ngerusak rumah tangga adik lu, buat apa sih?". Tanya Dewa
"Susah ngomong sama orang yang obsesi sama sesuatu. Istri gue dipaksa ciuman, otaknya dimana? Kalo didiemin terus lama-lama Mput dipaksa tidur sama dia". Ucap Tahta
"Jangan gitu ya, Ja. Putri masih adek lu, inget, Putri anak papa mama juga, jangan sampai lu kecewain mereka". Ucap Dewa menatap Raja
"Intinya gini bang, kalo lu berani kayak gitu lagi ke Mput, gue bakal bawa Mput pergi dari sini, gue ngga akan biarin lu ketemu lagi sama Mput..."
"Selama ini gue masih tahan, karna lu masih kakaknya Mput, tapi sekali lagi kayak gitu, inget aja omongan gue". Ucap Tahta pada Raja
"Udah lah sekarang aja lu bawa Putri pergi yang jauh dari sini, jangan kasih tau Raja". Ucap Dewa pada Tahta
"Bener juga kata lu". Ucap Tahta
"Ngga bisa, ya!". Ucap Raja
"Ck, ini semua gara-gara lu". Ucap Raja menunjuk Dewa
"Percuma lu nyalahin gue, ngga akan ngerubah apapun". Ucap Raja
Klek, pintu kamar terbuka, ketiganya kompak menoleh kearah pintu
"Hehe, belum selesai ya kak?". Tanya Putri menatap ketiganya secara bergantian
"Kenapa Put?". Tanya Dewa
"Ayah nyuruh kak Dewa sama kak Raja turun". Jawab Putri
Dewa dan Raja saling melempar pandangan
"Udah sana, mertua gue pengen ngasih gue waktu buat berduaan sama Mput". Ucap Tahta sambil tersenyum
"Ih, bukan itu tujuan ayah, kayaknya ada yang mau diomongin". Ucap Putri
"Yaudah". Ucap Dewa mengangguk sambil bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar
"Heh, lu ngga turun? Atau mau liat gue sama Mput pacaran?". Tanya Tahta pada Raja
"Ck, awas lu ya". Ucap Raja sambil bangun dari duduknya dan menyusul Dewa
"Sini sayang". Ucap Tahta meminta Putri mendekat
"Kakak ribut lagi sama kak Raja?". Tanya Putri sambil berjalan kearah Tahta
"Mungkin kalo cuma berdua kita ribut, tapi kan ada Dewa, nanti kita yang ditonjokin hahahaha". Ucap Tahta
"Dih, lucu gitu?". Ucap Putri
"Hehe kenapa sih? Khawatir ya sama aku?".
"Ngga".
"Sok jutek". Ucap Tahta mencubit pipi Putri
"Kepalaku pusing kak".
"Tuh kan, pasti karna hujan-hujanan tadi, minum obat dulu sayang". Ucap Tahta
"Ngga mau, cium aku kak". Pinta Putri
"Hah? Ngga ah, nanti kamu cerita ke ayah sama ibu, malu aku".
"Hahahahahaha". Putri tertawa geli
"Bisa-bisa nanti malam pertama juga kamu ceritain". Ucap Tahta
__ADS_1
"Eh? Malam pertama? Ngomong-ngomong kita belum malam pertama ya?". Tanya Putri
"Udah lah ngga usah diomongin". Ucap Tahta
Putri tersenyum dan berjongkok didepan kaki Tahta
"Kalo kamu mau, aku udah siap". Ucap Putri
"Serius?". Tanya Tahta, Putri mengangguk sambil tersenyum
"Ck". Tahta berdecak sambil memalingkan wajahnya
"Gimana caranya, aku aja ngga bisa gerak". Ucap Tahta
"Kan aku bisa. Toh punya kamu normal-normal aja kan? Tiap hari aku liat bereaksi terus. Gimana? Mau ngga?". Tanya Putri sambil tersenyum
"Dih, kesambet apa ni anak..."
"Nanti aja deh tunggu aku sembuh". Ucap Tahta
"Hahaha yaudah terserah kamu aja. Tapi aku minta cium dulu". Ucap Putri
"Sini, duduk". Ucap Tahta menepuk kedua pahanya
Putri mengangguk lalu melebarkan kedua kakinya untuk duduk dipangkuan Tahta
"Kamu ngerasa berat ngga?". Tanya Putri
"Sedikit. Apa karna badan kamu yang enteng atau kaki aku yang baru sembuh sepuluh persen ya? Jadi ngga terlalu berat". Ucap Tahta
"Kayaknya karna kaki kamu, gapapa, seenggaknya kaki kamu udah bisa ngerasain sesuatu..."
"Mana ciumnya?". Ucap Putri merengek manja
"Ini, cium aja". Ucap Tahta sambil menyentuh bibirnya
"Sepuasnya aku ya?".
"Iya, sepuasnya kamu".
"Hihi asik".
Cup, Putri melancarkan aksinya
---
"Ayah, ibu, Tahta udah ngobrol sama Putri, dan Tahta putusin mulai besok kita udah ngga tinggal disini lagi". Ucap Tahta disela-sela makan malam mereka
"Loh, kenapa sayang? Kamu ngga betah ya dirumah ibu?". Tanya Melly
"Bukan gitu bu. Jujur ini karena Raja, Tahta ngga mau Raja deketin Putri terus..."
"Tujuan Tahta bawa Putri keluar dari sini, biar Raja ngga tau keberadaan Putri, Tahta pengen jauhin Putri dari Raja". Jawab Tahta
"Emang nak Raja masih deketin Putri?". Tanya Ibrahim
"Iya Yah, Tahta bingung harus gimana selain pergi dari sini. Karena kondisi Tahta sekarang ngga bisa ngelindungin Putri". Ucap Tahta
"Ya ampun, nanti ibu kesepian ngga ada kalian". Ucap Melly dengan mata berkaca-kaca
"Tahta ngga akan pisahin Putri dari ibu, sesekali Tahta akan bawa Putri kesini ketemu ibu". Ucap Tahta mengusap tangan Melly
"Yasudah, ayah hargai keputusan kamu, ayah tau niat kamu hanya ingin menjaga pernikahan kalian dan menjaga Putri dari laki-laki lain". Ucap Ibrahim
"Makasih Yah". Ucap Tahta tersenyum
"Ibu maunya kalian sering-sering kesini". Ucap Melly menyentuh tangan Tahta
"Yaudah, iya bu". Jawab Tahta
"Kayaknya ibu lebih sedih pisah sama kak Tahta daripada sama aku". Ucap Putri
"Hehe ibu sedih pisah sama kalian berdua, tapi ngga apa-apa. Demi kebaikan kalian ibu ngga bisa larang" Ucap Melly
"Jadi kalian mau tinggal dimana?". Tanya Ibrahim
"Sebenarnya Tahta ada unit apartment Yah, ngga jauh dari kampusnya Putri, dan belum ada yang tau soal itu..."
"Tapi setelah Tahta pikir lagi lebih baik cari tempat tinggal yang jauh dari sini". Ucap Tahta
"Jangan jauh-jauh, nanti kuliah aku gimana?". Tanya Putri
"Kamu mau tetap tinggal di apartment itu? Kalo mau pindah ke tempat lain ngomong aja". Ucap Tahta
"Disitu aja deh, lagian kak Raja ngga tau kok, kak Dewa juga, kak Dewa cuma tau kamu beli unit tapi aku ngga kasih tau dimana lokasinya, jadi aman-aman aja". Ucap Putri
"Yaudah kalo kamu mau tetap disitu. Aku mau Aris ikut sampai aku sembuh, nanti aku sewain unit disebelah kita". Ucap Tahta
"Iya benar itu nak, biar ada yang bantu kalau kamu mau kemana-mana". Ucap Ibrahim
"Hmm, ibu ngga rela kalian pergi dari sini". Ucap Melly
"Nanti Putri sama kak Tahta sering-sering kesini bu". Ucap Putri
"Bawa cucu ibu, ya?". Ucap Melly
"Aamiin, doain aja bu". Ucap Putri, Tahta pun menyunggingkan senyumannya
---
Bersambung yagesya
Jangan lupa like, vote dan hadiahnya biar aku semangat update🐣
__ADS_1