
"Hahaha lu serius? Emang Vano ngasih apa?". Tanya Nindi
"Nih, boneka sama bunga". Jawab Putri sambil menunjukkan paper bag ditangannya
"Dia ngasihnya di kantin waktu makan siang, heboh banget lagi pake nyanyi happy birthday segala, malu-maluin gue". Ucap Putri
"Hahahaha Vano, Vano. Kelakuannya masih konyol, ya..."
"Jangan-jangan dia masih usaha buat deketin lu?". Tanya Nindi
"Engga, dia tau kok gue istrinya kak Tahta. Jadi ya...temenan aja".
Tin tin, Putri dan Nindi kompak menoleh kearah mobil yang berhenti tidak jauh dari mereka
"Siapa Put?". Tanya Nindi
"My lovely husband". Jawab Putri
"Loh, ganti mobil?".
"Iya, mobilnya yang lama kan hancur".
"Oh iya ya. Wait, itu beneran kak Tahta?". Kedua mata Nindi terbelalak saat melihat Tahta berjalan menghampiri mereka yang sedang duduk di sebuah warung
"Ya iya lah, lu lupa muka kak Tahta?".
"Hah? Ini gue baru liat kak Tahta lagi setelah sembuh, dan gue boleh jujur ngga? Kak Tahta tambah ganteng ya".
"Emang ganteng sih, tapi gue cemburu lu puji-puji kak Tahta".
"Hehe gue cuma mengagumi ciptaan Tuhan kok".
"Nin, tumben kamu kesini". Ucap Tahta menatap Nindi
"Iya kak, pulang magang langsung kesini, mau ngasih kado sekalian ngobrol hehe..."
"Sini kak, duduk". Ucap Nindi sambil bangun dari kursinya
"Ngga usah, kamu aja". Ucap Tahta
"Mau pulang sekarang?". Tanya Tahta sambil merapihkan anak rambut Putri
"Yuk, aku agak pusing nih, pengen istirahat". Ucap Putri
"Kenapa sayang? Ngga enak badan?". Tanya Tahta
"Engga, kak. Kecapekan aja..."
"Gue duluan ya Nin, thanks kadonya". Ucap Putri memeluk Nindi
"Iya sama-sama, hati-hati". Ucap Nindi
---
"Kak, tadi kak Aris chat aku, dia nanyain kondisi kaki kakak, katanya cuma mau pastiin aja..."
"Terus aku jawab udah baik, udah bisa jalan normal".
"Hehe, kayaknya dia kangen sama kakak".
"Dih? Kakak sehat?".
"Hahaha, maksudnya kangen ngobrol, dia sering curhat tentang ceweknya, tentang keluarganya, tentang kerjaannya..."
"Katanya kalo dirumah sakit dia ngga punya teman akrab, ya akrabnya cuma sama kakak, dia terbuka banget sama kakak". Ucap Tahta
"Oh gitu. Terus kakak udah bisa gendong aku belum?".
"Udah dong. Mau gendong? Sini". Ucap Tahta, Putri mengangguk semangat dan segera menghampiri Tahta yang sudah berdiri didepan meja belajarnya
Hap, Putri telah naik keatas gendongan suaminya selayaknya koala. Ia lingkarkan tangannya pada leher Tahta dengan erat
"Kuat ngga? Aku takut jatoh". Tanya Putri
"Kuat sayang, kamu aja enteng begini". Jawab Tahta
"Hehe, yaudah kita mandi yuk, sambil gendong".
"Ada-ada aja, ngga mau ah. Kasihan kamu nya kalo aku kepeleset".
"Jangan kepeleset dong, jalannya pelan-pelan, ayo, mandi".
"Iya, iya, mau berendam dulu apa langsung mandi aja?".
"Berendam dulu deh".
"Ok, let's go".
Setelah melepas seluruh pakaian masing-masing, mereka masuk kedalam jacuzzi yang sudah diisi dengan air hangat dan ditetesi minyak aromaterapi
Putri duduk membelakangi Tahta, menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya, sangat nyaman. Ditambah suasana di dalam kamar mandi saat itu cukup membuatnya merasa rileks
"Sayang, kita belum pernah nyoba di kamar mandi kan, kamu mau ngga?". Tanya Putri
"Nyoba apa?". Tanya Tahta
"Ih sebel, pura-pura ngga tau".
"Haha, kamu ngga salah ngomong? Mau nyoba disini?".
"Iya, di air, kayaknya enak".
"Beneran mau nyoba disini?".
"Iya sayang, aku pengen".
Putri segera berbalik dan duduk dengan kaki yang ia lebarkan diatas pangkuan Tahta
"Haduh, kalo posisinya kayak gini tinggal kamu masukin aja, sayang". Ucap Tahta
"Nanti dong, buru-buru banget..."
"Mau pacaran dulu sama kamu, mau romantis-romantisan". Ucap Putri
"Kayak gimana, hmm?". Tanya Tahta sambil mengusap lembut pipi Putri
"Ih, kamu ngga pernah pacaran ya?".
__ADS_1
"Ngga pernah, aku langsung punya istri. Berarti kamu cinta pertama dan terakhir aku".
"Duh, jadi tersipu".
Tahta tersenyum simpul, ia mengangkat tangannya untuk mengusap-usap lembut ceruk leher Putri
"Itu makanya kenapa aku cemburuan banget, posesif banget. Karna ini pertama kalinya aku jatuh cinta, pertama kalinya aku punya seseorang yang spesial, pertama kalinya aku ngerasa takut kehilangan... "
"Jadi apapun akan aku lakukan buat kamu, apapun yang bikin kamu bahagia". Ucap Tahta
"Hmm, terharuuu". Ucap Putri sambil memeluk leher Tahta, Tahta pun melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Putri
"Romantis banget sih". Ucap Putri
"Tadi katanya mau romantis-romantis dulu..."
"Jadi boleh dimulai sekarang ngga? Udah ngga tahan". Ucap Tahta dengan tatapan memohon
"Hehe iya, iya. Kerasa kok dibawah ada yang berontak minta masuk". Ucap Putri
Tahta menangkup wajah Putri, ia berikan ciumannya tepat dibibir tipis milik istrinya itu
Tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, Putri sedikit bangun dari posisinya, tangannya terulur kebawah untuk meraih benda tumpul yang sedari tadi sudah tegak menyentuh area intinya
"AAHHH"
Putri dan Tahta mende sah keras bersama saat Putri berhasil memasukkan seluruh milik Tahta kedalam miliknya
😝
Keesokan paginya, Tahta bangun lebih dulu dari Putri, setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Tahta berjalan menuju dapur, ia ingin membuat nasi goreng untuk sarapan sesuai permintaan Putri semalam
Lima belas menit berlalu, Tahta menyajikan sarapannya diatas piring setelah itu kembali ke kamar untuk membangunkan Putri
"Kok ngga ada?"
"Hoek-hoek"
Tahta menoleh kekamar mandi saat mendengar suara Putri yang seperti sedang memuntahkan isi perutnya
"Mput kenapa?". Batin Tahta sambil berjalan cepat memasuki kamar mandi
"Hoek-hoek"
"Muntah?"
Putri masih menundukkan kepalanya kearah wastafel, Tahta pun memijat-mijat tengkuk Putri dengan teratur, membuat Putri semakin memuntahkan isi perutnya
"Ya ampun, kamu kenapa sih, sayang". Ucap Tahta
"Ngga tau kak, kayaknya..."
"Hoek..."
"Masuk angin". Ucap Putri sambil membasuh mulutnya dengan air
"Perut aku rasanya ngga enak. Kepala ku juga pusing". Ucap Putri
"Kamu juga pucat, sayang. Hari ini ngga usah ke kantor ya, kita periksa ke rumah sakit".
"Kamu yakin? Kuat?".
"Kuat kok. Aku mau mandi air hangat, kak".
"Yaudah, aku siapin". Ucap Tahta diangguki oleh Putri
Pukul sembilan pagi, Putri meminta izin untuk pergi ke toilet. Sudah sejak tadi ia merasakan sakit di kepalanya, rasa mual juga kembali ia rasakan diperutnya
Sambil mengoleskan minyak angin dikedua pelipisnya. Putri berjalan menuju toilet yang ada disudut koridor. Sesekali tangannya berpegangan pada tembok, menahan tubuhnya agar tidak jatuh karena berjalan sedikit sempoyongan
"Ya ampun...gue kenapa, ya"
Putri berhenti sejenak, kepalanya menengadah keatas langit-langit saat matanya mulai berkunang-kunang
"Ngga kuat...lagi"
"Putri? Dia kenapa?"
Adrian, yang saat itu baru tiba di kantor untuk keperluan meeting, segera berlari menghampiri Putri yang sudah bersandar pada tembok
"Putri!"
Grep, Adrian merengkuh tubuh Putri yang tiba-tiba saja tumbang
"Panas". Batin Adrian sambil menyentuh dahi Putri
Adrian segera membopong Putri menuju ruang kerjanya
"Aksa!".
"Loh, pak Ad-"
"Kamu gimana sih? Ini Putri sakit sampai pingsan gini kamu ngga tau?". Tanya Adrian
"Maaf pak, saya ngga tau kalau Putri sakit". Ucap Aksa sambil menunduk
"Ck, ambilin tas Putri, saya mau bawa Putri kerumah sakit". Ucap Adrian, Aksa mengangguk patuh dan segera menjalankan perintah Adrian
"Undur jadwal meeting hari ini". Ucap Adrian sambil berjalan keluar ruangan
"Baik pak". Ucap Aksa
Adrian segera menuruni lift dan membawa Putri masuk kedalam mobilnya
"Woy, Dewa"
"Kenapa?"
"Putri pingsan, sakit nih anak, mau gue bawa kerumah sakit B"
"Kok bisa sih?"
"Mana gue tau"
"Yaudah gue kesana"
"Kasih tau suaminya"
__ADS_1
"Hmm, thanks"
Setelah memberitahu Dewa kondisi Putri, Adrian segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit sambil sesekali ia oleskan minyak angin disekitar hidung berharap Putri segera sadar dari pingsannya
Dua puluh menit berlalu, Dewa sudah tiba dirumah sakit. Bersama Adrian, Dewa menemani Putri yang sedang terbaring dengan selang infus ditangannya
"Suaminya mana sih? Udah lu kasih tau belum?". Tanya Adrian
"Udah, lagi dijalan".
"Lama banget perasaan?".
"Sibuk, ngurus persiapan wisuda". Jawab Dewa
"Hah? Wisuda? Jadi suaminya itu masih kuliah?". Tanya Adrian
"Ya gitu. Emang lu pernah ketemu?". Tanya Dewa
"Pernah, sekali. Dan gue di tonjok sama dia".
"Hahaha. Kok bisa?".
"Biasa, mulut gue ngga bisa dijaga. Kalo gue cerita ke lu, yang ada lu tonjok gue juga".
"Haha, kebiasaan".
Klek, Dewa dan Adrian kompak menoleh saat mendengar suara pintu terbuka
"Mput, mput". Tahta berlari dan langsung menggenggam tangan Putri dengan erat
"Mput kenapa bang?". Tanya Tahta pada Dewa
"Kecapekan, masuk angin". Jawab Dewa
"Dehidrasi juga itu, terus asam lambungnya naik makanya pingsan". Sambung Adrian
"Ya ampun, sayaang". Ucap Tahta sambil mengusap kepala Putri
"Emang tadi pagi ngga sarapan?". Tanya Dewa
"Sarapan, tapi cuma dua sendok. Katanya perutnya ngga enak..."
"Bangun tidur juga muntah banyak". Jawab Tahta
"Hmm, pantesan". Ucap Dewa
"Harusnya istirahat dulu dirumah". Ucap Adrian
"Iya, udah gue suruh izin, tapi dia maksa minta masuk". Ucap Tahta
"Emang keras kepala anaknya". Ucap Dewa
"Yaudah gue balik ke kantor ya, masih ada meeting". Ucap Adrian
"Thanks udah bawa Putri kerumah sakit". Ucap Tahta pada Adrian
"Yoi, sama-sama brother". Ucap Adrian sambil menepuk bahu Tahta
Sepuluh menit sudah berlalu, Putri baru membuka kedua matanya, ia menolehkan kepalanya ke samping memperhatikan Dewa dan Tahta yang sedang duduk berdampingan diatas sofa sambil memainkan ponselnya masing-masing
"Kak?". Panggil Putri pada keduanya yang kompak menoleh dan langsung bangun menghampirinya
"Sayang, syukur lah kamu udah bangun". Ucap Tahta
"Gimana keadaan kamu? Perutnya udah enakan belum? Kepala kamu pusing ngga?". Tanya Dewa
"Udah enakan, kepala ku ngga pusing kok, kak..."
"Oh iya siapa yang bawa aku ke rumah sakit, kak? Aku kan tadi di kantor?". Tanya Putri
"Adrian, dia yang bawa kamu kesini". Jawab Dewa
"Ya ampun, terus kak Adrian mana? Aku belum bilang makasih, aku pasti ngerepotin". Ucap Putri
"Dia balik ke kantor. Gapapa, dia ngerti kok kalo kamu sakit dan harus segera ditolong". Ucap Dewa
"Makan dulu ya sayang, mau makan apa? Biar aku beliin". Ucap Tahta
"Bubur ayam aja". Ucap Putri
"Yaudah, tunggu sebentar". Ucap Tahta mengusap kepala Putri
"Gue aja yang beli". Ucap Dewa
"Gue aja, lu jagain Mput". Ucap Tahta sambil berjalan keluar ruangan Putri.
"Kak, aku pulangnya kapan?". Tanya Putri
"Nanti ya, kata dokter tunggu cairan infus kamu habis baru boleh pulang". Jawab Dewa diangguki oleh Putri
Beberapa jam kemudian, Putri sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, kondisinya sudah membaik seperti sebelumnya
Saat ini Putri, sedang berjalan menuju parkiran mobil bersama Tahta dan Dewa. Namun langkah mereka berhenti saat Dewa menerima sebuah panggilan masuk dari Raja
Putri dan Tahta pun mengamati Dewa yang sedang berbincang dengan Raja, terlihat raut wajah Dewa mendadak serius, seperti sedang membicarakan hal penting dengan Raja
"Ada apa?". Tanya Tahta
"Kak Raja kenapa, kak?". Tanya Putri
"Kita pulang ya, Raja nungguin dirumah". Ucap Dewa
"Ada apa sih? Kak Raja ngga kenapa-napa kan, kak?". Tanya Putri sambil memegang lengan Dewa
"Raja ngga kenapa-napa, sayang. Tapi kita harus pulang dulu, biar Raja yang jelasin semuanya..."
"Kakak bingung harus jelasin gimana". Ucap Dewa
"Ck, bikin orang penasaran aja. Dah lah, ayo balik". Ucap Tahta
---
Maaf baru update, kemarin-kemarin lagi ngga enak badan guys
Sekarang aku up double chapter ya, kita lanjut besok
Ayo di support lagi biar aku semangat update, terimakasih banyak♥
__ADS_1