Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Bab 50 Keluarga Leon


__ADS_3

Selama fitting baju, tak sadar mereka telah memilih baju couple harian yang gaul hingga yang elegan dan mewah. Ada puluhan baju yang siap di chekout. Tanpa basa basi Leon membayar semuanya dan minta di bawa ke rumahnya.


"Wah... Maaf ya, bajunya jadi kebanyakan gini... Pasti mahal banget deh..." Xana merasa tidak enak.


"Hah? Ini doang? Kenapa minta maaf? Kalau perlu kita beli satu toko ini, udah ayo, kita makan bareng." Ajak Leon.


Dari kejauhan dengan mengikuti jalan Leon, Xana dapat melihat Keluarga Leon sedang makan bersama dan berbincang.


'Tuh kan, mereka aja ga panik kami ngilang, emang dasar! Tapi... Ada bagusnya sih, hehe' batin Leon sedikit menahan tawa.


"Ma, Pa...." Sapa Leon.


"Eh, Bagaimana belanjanya? Kalian beli apa aja?" tanya Ibu Leon.


"Itu mah, baju Couple... Ya, maklumlah anak remaja" Xana menjawab dengan sedikit tersendat karena gugup.


"Wahhh... Bagus tuh, Mama sama Papa juga udah beli baju Couple, itung-itung remaja lagi, hehehe" Ibu Leon terkekek mengingat masa mudanya.


'Keluarga Leon... Memang beda' hati Xana berbisik lembut kala mendengar pasangan tua itu ikutan belanja Couplean.


"Setelah ini mau kemana?" Tanya Ayah Leon.


"KUA pah...hehe." jawab Leon santai.


UHUUKKK UHUUKK......


Seketika Xana tersedak mendengar jawaban Leon yang membuatnya berhenti bernafas. Ia sedari tadi sama sekali tidak membicarakan soal pernikahan kepada Xana. Kemudian tiba-tiba begini, Xana menjadi tegang.


"Bercanda...ih." Leon menatap Xana. Ia seakan candu akan wajah Xana.


"Astaga, hampir aja jantungku copot!" Xana mengelus dadanya.


"Nak Xana harus terbiasa dengan Keluarga ini kedepannya. Keluarga kami.... Memang suka bercanda." Jelas Papa Leon dengan lemah lembut.


"Wow... Haha. Ini mengejutkan sekali, saya akan berusaha!" Seru Xana.


'Jujur aku ga habis pikir dengan keluarga ini. Di luar mereka terlihat sangar dan seram, tapi di dalam..... Mereka sangat ramah dan suka bercanda bahkan tertawa begini." Xana merasa sedikit aneh ketika di tengah tawa keluarga Leon.


"Kak! Kak Leon tuh ga pernah pacaran tau! Padahal banyak banget yang naksirin dia!" Clara yang sudah diam dengan hp nya tiba saja bergabung bicara.


"Wajar dong, toh Leon kan tampan?" Xana menjawab santai.


"Apaan! Dulu dia cupu banget! Untung aja ada yang selalu nyelametin dia! Hahah!" Clara bergidik kala ingat kejadian itu.


"Clara, hustt! Ga enak sama Xana." Leon menegur Clara.


"Dih, Kak Xana... Dulu Leon punya pandangan pertama di Inggris, tapi sayang cewe itu ilang ga tau kemana! HAHAHAHA dia kena ghosting tuh!" Clara tak berhenti tertawa.

__ADS_1


"Maafin adikku, dia beneran ngeselin emang." Leon meminta maaf dengan lembut.


DEG!


'Dia ga ngelak dan meminta maaf. Berarti apa yang dikatakan Clara benar? Aku merasa cemburu dan iri pada pandangan pertama nya....' Xana melamun.


'aduuhhh si Clara main ceplas-ceplos aja! Xana kelihatan murung lagi!' Leon panik.


"Tapi denger-denger si cewek itu memang bukan orang situ sih, makanya malas buat cari tahu. Kak Xana juga aslinya keluarga Inggris ya? Cocok dong sama Kak Leon!" Clara kembali membual.


"Ah, Iya. Dari pihak ibu, dulu pernah ke sana ketika umur 6 tahun-an. Tapi aku tak punya teman. Justru aku sering membantu seorang anak cewek yang sering kena bully. Sayang, aku ga tanya namanya di akhir hari ku liburan." Xana kembali sedih mengingat tak bisa menolong kembali orang itu.


"Astaga! Kalian ini hampir sama ya, yg satu kena bully yang satu nyelametin! Beda dimensi aja!" Clara menyelesaikan makanannya.


Selesai makan, Leon mengantar Xana dengan sebuah mobil berdua. Leon berhenti sebentar.


"Apa aku boleh tau... Ciri-ciri orang yang kau selamatkan ketika umur 6 tahun lalu?" tanya Leon.


"Dia berambut gelap dan pendek se leher gitu. Kadang matanya tertutup sehingga aku ga jelas mengingat warna matanya. Tapi yang pasti dia suka kalung bergambar kucing!" jelas Xana.


"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan nya kembali, Xana?" tanya Leon lagi.


"Apa ya? Hemmm.... Ah, aku akan memeluknya!" Jawab Xana tukas.


"Cium? Kau mau menciumnya?" tanya Leon dengan wajah berharap.


"Kalau begitu.....-"


Leon ******* bibir Xana dengan cepat. Ini, seperti pertama kali Xana merasakan sensasi panas. Tubuhnya bergema dan berasa ingin terhempas ke atas.


Setelah puas, Leon menatap tajam Xana.


"Apa yang kau lakukan, Leon?" tanya Xana dengan wajah memerah.


"Pria yang kau sebut wanita ketika 6 tahun lalu yang kau selamatkan adalah aku ketika kecil. Saat itu, ..... Ah intinya itu aku!" Leon tak melanjutkan kata-kata tadi.


"Saat itu? Kenapa? Kau yakin itu kau? Atau.... Cuma alesan biar di sun?" Ledek Xana.


"Beneran aku! Dulu memang begitu dan lanjutannya kau ga perlu tau! Intinya itu aku ya aku!" Leon memaksa kehendak.


"Iya, baik Nona Leon." Ledek Xana lagi.


"N-Nona....??" Leon merasa geli dan jijik.


"Pfffttt maksudku Tuan Leon, mukanya kalem dong!" Xana geleng-geleng dengan sikap kenakan Leon.


"Tunggu, bagaimana kau bisa yakin kalau itu aku?" Xana balik nanya. Aneh saja, ia baru ingat hari ini dan langsung mendapat pengakuan dari Leon.

__ADS_1


"Aku ingat dengan mata cantikmu! Apalagi keluargamu yang overprotektif, setiap hari aku mengingat marga keluargamu agar aku ga lupa dan menemukanmu!" Leon menjelaskan sembari menyupir.


"Wah, udah ada yang diem-diem suka duluan nih!" Xana justru meledek Leon. Ia suka ekspresi Leon karena hanya Xana yang dapat melihat sisi Leon yang seperti ini.


"Uuuhhh ya udah dong! Udahan ngeledeknya, malu tau...." Leon tersipu.


"AAAAAAHHHHH GEMEEESSSSSHHHHH" Xana memeluk dan mencubit gemas pipi Leon.


'yeah... Kedepannya kita ga bakal terpisah lagi.' doa Xana dalam diamnya. Ia tahu, tidak enak rasanya memendam rindu sendiri.


Di rumah, Ibu dan Ayah Xana menyambut dengan hangat. Betapa beruntungnya Xana memiliki keluarga seperti mereka yang penuh pengertian serta kasih sayang.


"Gimana keluarga Leon? Berani macem-macem ga?" Sergap Papa.


"Macem-macem gimana?" Xana memicingkan matanya.


"Dia kan keluarga bangsawan juga, siapa tahu dia nyinyirin kamu." Jawab Papa tanpa ekspresi.


"Hem! Salah banget! Mereka pada pelawak semua! Seru deh pokoknya, GA BAKAL BOSEN!!" Jelas Xana dan duduk melepas penat.


"Wah bagus dong? Ada hiburan terus tiap hari" imbuh Mama dengan menyuguhkan camilan untuk putrinya.


Bukan apa, tetapi memang Mama Xana sangat menyayangi putrinya sehingga tak mau putrinya kesulitan atau sedikit saja kelaparan.


"Eumm, pasti dong! Sama mereka ga bakal mati topik! Hahahaha!!" Xana tertawa kala ingat beberapa lelucon dari keluarga Leon.


"Oh ya,Esra udah tidur?" tanya Xana melihat jam sudah sedikit malam.


"Baru aja tidur, sekarang kamu mandi air hangat terus ganti baju sana." Suruh mama Xana dengan penuh perhatian.


"Udah mandi tadi, mampir bentar di villa numpang mandi." Xana menjelaskan.


"Wow... Mereka peduli juga sama kebersihan. Beruntung dong anak Papa, dapet keluarga mertua modelan begitu, jadi ga sabar punya cucu" ceplos Papa.


UHUKK UHUK!


Kedua kalinya Xana tersedak kali ini karena Ayahnya sendiri.


'Astaga, aku lulus aja belum! Dasar Papa! Sama aja kayak Kak Petra' batin Xana di hati kecilnya.


"Pah... Biarin Xana mengejar apa yang dia inginkan dulu. Toh Xana masih sangat muda dan belajar banyak dari merawat Esra, ya kan nak?" Mama membesarkan hati Xana.


"Iya dong, dengan adanya Esra.... Xana belajar banyak bahkan secara spiritual!"jawab Xana antusias.


Obrolan mereka di akhiri oleh tangisan Esra. Xana segera ke atas dan menyusul Esra. Sejak tahu bahwa bayi sangat mudah menangis kapan dan dimana saja, Xana menjadi lebih sigap.


--Bersambung

__ADS_1


Lope sekebon buat yang udah nungguin lama banget TwT


__ADS_2