Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 27 Ujian H-2


__ADS_3

Pagiku Cerah~ Matahari bersinar~ Kugendong Tas merahku, Di pundak~


Xana bernyanyi menyambut hari kedua Ujiannya dengan lagu horor.


"Ni kamar jadi horor deh gara-gara lagu lo," Protes Lea yang sedang mengeringkan rambutnya.


Xana mendekati Lea sambil berkaca di kaca milik Lea," Ayoo Semangat! Kan semalem udah belajar, pasti ada dong yang masuk nanti?" Seru Xana.


"Yaahhhhh.... Semoga aja," Lea lemas.


"Cupp cuppp gua percaya kok sama lo," Xana mengelus rambut Lea.


Singkat cerita mereka pergi ke sekolah dengan mood yang bagus dan wajah riang tiada tanding. Mereka merasa puas akan apa yang ia kerjakan semalam. Ya, meski hasil menghianati usaha tetapi setidaknya Usaha tidak akan menghianati hasil.


-Omong Kosong-


Ujian Pertama adalah Ujian menyeramkan, yaitu Matematika. Tidak terlalu menakutkan, hanya sedikit menyeramkan dengan sebuah soal beranak ini.


"Xana, kok gue jadi gugup si... ntar kalo lupa rumus gimana? atau gue tiba-tiba lupa...??" Lea semakin gugup.


"Selooww yang penting yakin," Xana meyakinkan.


Lea yang selalu terkagum akan ke tenangan dari wajah dan sikap Xana sering kali merasa takjub. Sangat jarang di dunia ini ada wanita sesantai Xana bahkan di eksekusi ujian seperti ini.


"Beruntung banget ya gue... dikasih temen kayak Xana. Bisa belajar banyak banget dari dia... gua bisa rasain perubahan besar dalam diri gua..." Lea berpikir sejenak untung memikirkan ketenangan.


Klotakan sepatu yang menaung itu mulai terdengar. Hari kedua ujian telah tiba, Semua siswi diberi lembar ujian dengan jumlah soal 40. Mereka hanya disuruh menyilang mana jawaban yang benar.


Karena ini adalah Ujian Matematika, jadi mereka harus mengorek dulu di kertas lain. Tentu mereka membawa buku kosong khusus untuk mengorek.


"Ingat, mau berapapun soalnya, selama kalian hapal rumus maka itu akan mudah!" Guru Matematika Wanita dengan rambut di sanggul ke samping itu memberi semangat horor.


seluruh siswi hanya bisa menjawab,"Iya Buu...".


Hari ini hanya ada Ujian Matematika dan Pengetahuan Sosial. Tidak mudah tetapi juga tidak sulit. Bagi Xana, sebuah tantangan adalah hal paling seru di dalam hidupnya.


"Aku udah ga sabar buat ujian selanjutnya!" Xana bergumam di dalam hatinya.


Lea yang memperhatikan Xana sejak tadi mengetahui bahwa sahabatnya sedang membara dalam Ujian yang ia kerjakan.


"Weww... lihat tangannya yang gesit dan jari jemarinya yang menghitung itu, Bahkan matanya yang tak berkedip pun masih berkesan mengerikan..." Lea yang sudah ngeri sendiri melihat sahabatnya.


"Ehh..." Lea yang sedari tadi belum ngapa-ngapain bengong ketika melihat kertas soalnya.

__ADS_1


"Lohh..? ini soalnya hampir mirip sama soal yang Xana kasih semalem, cuma beda angka doang?? kalo gini berarti aku bisa kerjain kan??" Lea girang melihat kertas ujiannya.


Bergegas ia mengambil buku korekannya dan menghitung dengan teliti satu persatu. Semua soal benar-benar hampir sama persis dengan apa uang Xana berikan. Lea merasa bersyukur karena Xana telah memberi kemudahan seperti ini.


"makasih banget ya Xana," Lea terharu.


Beberapa menit kemudian.....


"Ayo anak-anak! kumpul kan sekarang, sebentar lagi waktunya istirahat makan siang." Perintah guru.


"Baik Buuu..." serempak semua siswi mengantri mengumpulkan ujian.


"Ayo Xana," ajak Lea.


"Wuiiihh tumben banget lo yang ajak," Xana tersenyum ke Lea.


"Eazy!" tukas Lea dengan PD.


"Oke okee..." Xana segera beranjak mengantri mengumpul ujian.


Setelah selesai, Xana dan Lea segera keluar kelas dan menuju kantin. Kali ini merasa aneh karena ga biasanya dunia mereka seanteng ini. Dimana trio sejoli sama si cewe kepsek itu?


"Ehh... Aneh ga si ga ada si 'pengganggu' itu?" Lea mulai menyadari.


"Cari tahu ga? gue penasaran niiihhh..." Lea kepo.


"Yaudah, kita beli cemilan dulu sambil cari tahu kan bisa sambil makan nanti." Xana yang tidak bisa menutupi rasa laparnya.


"Okeee, gaskeunn...." Lea hanya menuruti Xana.


Selesai membeli camilan, mereka bergegas mencari tahu ke kelas Sherly. Benar saja di sana sudah ada Sherly. Tetapi hanya ada dia seorang, lalu di mana Trio Sejoli?


"Tanya ah, Kepo gw" Lea mulai menerobos masuk kelas yang ada guru nya dan hanya Sherly.


Sherly sedang mengerjakan sesuatu dengan diawasi guru, itu yang membuat Lea penasaran.


"Siang Bu~ Kalo boleh tau ini ada apa ya pak? Bukannya ini jam makan siang?" Lea tanpa basa basi bertanya langsung.


"Pagi, iya memang jam istirahat. Tetapi Sherly belum selesai mengerjakan soalnya, jadi harus mengulang dan sampai selesai..." Guru itu menjelaskan.


"Ouhh.... jadi harus sampai bener dulu ya,Bu?" tanya Xana.


"Iya,benar...." Gurunya mengatakan hal itu tanpa menatap mata mereka.

__ADS_1


Lea yang awalnya tidak paham pun akhirnya tahu, ternyata gurunya sengaja menyuruh Sherly mengulang lagi sampai benar. Kemungkinan ini suruhan dari Kepala Sekolah karena Nilai Sherly yang memalukan.


"Yaudah, permisi ya Bu..."


Mereka berdua keluar dari ruangan. Lea langsung menyergap Xana.


"Wahh... Gila! untung lo paham tadi situasinya! jadi ketahuan deh kedoknya, HAHAHAHAHA!!!" Lea tertawa puas.


"Yaa gitulah..." Xana puas dengan sahabatnya yang terbayarkan rasa keponya.


"Anyway jajan gituan doang kok bisa ya gue kenyang?" Lea yang menyadari sesuatu.


"Iya emang gitu, Cokelat sama makanan gitu tadi gampang ngenyangin, tapi ga boleh terlalu banyak, bisa gemuk!" Xana memberi arahan.


"Jadi dokter kek nya pantes deh," Lea memuji.


"Hahaha, itu ilmu umum kali," Xana menerka pujian Lea.


Ujian Kedua sudah masuk, Xana dan Lea tidak sabar. Memang mereka semalam mempelajari Pengetahuan Sosial tanpa menulis, tetapi merek membaca buku dan tanya jawab sehingga bisa hapal dan mengingat.


" Sekarang Ibu harap kalian konsen dan membaca dengan teliti, anak-anak." Guru dengan rambut urai serta masker itu memberi arahan.


Semua murid menjawab serempak lagi," Iya Buu...".


Benar saja, lekas diberikan kertas soalnya, Lea dan Xana mulai mengetahui bahwa yang mereka tanya jawabkan semalam masuk semua ke soal. Tentu ini akan mudah bagi mereka.


"Coba dari dulu gue gini,pasti dah pinter dari dulu ditambah bisa pinter! Ngga, memang seharusnya dulu aku bertemu Xana saja! jangan trio anak j*l**g itu!" Lea berpikir dalam hati kecilnya.


Setelah Ujian, semua soal dikumpulkan. Guru yang biasanya harus menunggu Lea selesai dengan tugasnya kini justru menerima jawab pertama dari Lea.


"Apa yang membuat anak itu berubah?" heran guru.


"Lea, gua yakin pas lo ga di percayain nilai lo yang anjlok pas hari senin tiba-tiba naik begini bakal di adain Ujian Lisan sama guru deh keknya" Xana menjelaskan.


"Toh tinggal Ujian? gampang!" Lea menganggap enteng.


"Iya sii.... yaudalah serahlu... mending kita pulang mandi,makan, terus skincare an deh!" Xana senang dan menarik Lea pergi ke Asrama.


"Ya tuhan...beruntung banget si gue punya sahabt kayak Xana. Coba aja ketemunya dari dulu.... mungkin dah jadi orang bijak gue!" Lea senang dengan sikap Xana.


-Bersambung...


Setiap gadis punya cara sendiri merawat wajah~

__ADS_1


kalo kamu??


__ADS_2