
Setelah berganti pakaian, Tahta segera menuju rumah sakit untuk mengetahui kondisi terkini dari Putri. Namun setibanya disana, kedatangannya tidak diinginkan oleh kedua kakanya, Dewa mendorongnya keluar dari ruangan Putri, Nindi pun menyusul mereka
"Kak, jangan marah, aku yang ngasih tau kak Tahta". Ucap Nindi menatap Dewa
"Ck, kenapa? Dia yang bikin Putri kayak gini, buat apa kamu kasih tau dia?".
"Tapi kak Tahta suaminya Putri, kak Tahta harus tau kondisi Putri".
"Masuk!". Titah Dewa, Nindi mengangguk pelan dan kembali masuk keruangan Putri
"Bang, gue mau ketemu Mput". Ucap Tahta
"Buat apa? Mau nyakitin dia lagi?". Tanya Dewa
"Ini semua ngga akan terjadi kalo Mput gak berduaan sama Raja, gue kesal liat mereka sedekat itu". Ucap Tahta
"Heh, gue lu tau kesal dan lu boleh ribut sama Raja, tapi jangan nyakitin Putri kayak gini!". Ucap Dewa sedikit berteriak
"Gue ngga sengaja, gue ngga tau kalo Mput bakal celaka..."
"Gue nyesel, bang, gue nyesel. Izinin gue ketemu sama Mput, please". Ucap Tahta dengan tatapan memohon
"Bagus kalo lu nyesel. Bersyukur bayi diperutnya baik-baik aja".
"Apa? Bayi? Mput hamil?".
"Iya".
Tahta tercengang, seketika matanya berkaca-kaca, ia pun segera menerobos bahu Dewa dan masuk kedalam ruangan Putri. Ia hampiri istrinya yang sedang berbaring ditempat tidurnya
"Mput, sayang, aku minta maaf udah bikin kamu sakit, aku ngga sengaja, aku nyesel. Maafin aku". Ucap Tahta sambil mengusap kepala Putri
"Gapapa, kak. Aku baik-baik aja kok..."
"Oh iya kak, aku hamil. Kita akan punya anak". Ucap Putri, Tahta mengangguk sambil tersenyum
"Alhamdulillah, sayang. Aku senang banget dengarnya". Ucap Tahta sambil menggenggam tangan Putri
"Terimakasih Ya Tuhan"
---
"Pokoknya setelah ini gue ngga mau liat lu berdua ribut lagi". Ucap Dewa menatap kedua adik laki-lakinya
"Jangan bikin Putri kepikiran sama tingkah lu berdua". Sambung Dewa, Tahta mengangguk, sementara Raja hanya berdehem
"Udah, udah. Gimana kalo kita makan-makan?..."
"Aku laper banget, makanan rumah sakit kurang enak". Ucap Putri
"Yaudah, mau makan apa?". Tanya Dewa
"Apa aja, hehe". Jawab Putri
"Ke tempat biasa aja, yuk? Mau ngga?". Tanya Dewa, Putri mengangguk semangat
"Sayang banget Nindi pulang duluan, pasti seru kalo ada Nindi". Ucap Putri
"Next time makan sama Nindi, ya". Ucap Dewa mengusap kepala Putri
Pukul sembilan malam, keempat kakak beradik tersebut baru tiba dirumah setelah menghabiskan waktu untuk makan malam bersama di tempat makan langganan mereka
Putri dan Tahta segera membersihkan diri lalu berganti pakaian tidur mereka. Putri menatap Tahta, ia sadar kalau sejak kepulangannya dari rumah sakit suaminya itu tidak banyak bicara, bahkan ditempat makan pun Tahta lebih banyak diam
Setelah mengikat rambutnya, Putri menghampiri Tahta yang sedang duduk ditepi ranjang
"Kenapa? Kok dari tadi diem aja?". Tanya Putri sambil menyisir rambut Tahta dengan jarinya
Tahta mendongak, ia menatap Putri dengan tatapan sendu, seperti sedang menahan air mata
"Loh, mata kamu merah? Ngantuk, ya?". Tanya Putri sambil mendudukan bokongnya disamping Tahta
Grep, Tahta memeluk Putri, seketika tangisnya pecah, membuat Putri bingung dan bertanya-tanya. Apa yang membuat suaminya mendadak seperti ini?
"Aku bodoh, Mput, aku bodoh..."
"Kalo aja aku ngga bertindak bodoh kayak tadi, mungkin kamu ngga akan masuk rumah sakit". Ucap Tahta disela tangisannya, Putri mengangguk pelan. Ia baru memahami, ternyata Tahta sedang menyesali perbuatannya
"Tapi aku kan ngga kenapa-napa, kak. Cuma lebam, kok. Nanti juga sembuh".
"Tetap aja, kamu lebam karna aku. Aku udah nyakitin kamu..."
"Demi Tuhan, aku marah sama diri aku sendiri. Rasanya nonjok diri sendiri pun ngga akan bisa membayar penyesalan aku..."
"Aku udah jahat sama kamu, udah kasar sama kamu". Ucap Tahta disela tangisannya yang semakin kencang,
"Gapapa, kak. Aku ngerti kok, mungkin kakak udah marah banget, jadi wajar".
Tahta melepas pelukannya dan menatap Putri
"Disini ada anak kita". Ucap Tahta sambil menyentuh perut Putri
"Aku ngga bisa maafin diri aku sendiri kalo tadi anak kita sampai kenapa-napa". Sambung Tahta
"Aku bener-bener bodoh". Gumam Tahta sambil mengusap kasar wajahnya
"Udah, udah. Jangan dibahas lagi, ya. Kan semuanya baik-baik aja, aku gapapa kok, kak". Ucap Putri mengusap tangan Tahta
"Aku janji, itu pertama dan terakhir aku nyakitin kamu dan anak kita. Kedepannya aku akan ngelindungin kalian".
"Iya, terimakasih, papa". Ucap Putri sambil tersenyum
Tahta kembali memeluk Putri sebelum membungkuk untuk mencium perut Putri yang masih terlihat rata
"Hey, akhirnya kamu datang juga, ya..."
"Cepat besar, ya. Biar kita cepat ketemu". Ucap Tahta sambil mengusap perut Putri
Putri tersenyum haru, ia merasa bahagia melihat pemadangan yang membuat hatinya merasa hangat. Akhirnya penantiannya menunggu kehamilan sudah terwujud, buah dari doa dan kerja kerasnya dengan Tahta
---
"Tapi faktanya Putri itu lebih beruntung dibanding Siska, Yah, bu". Ucap Siska sambil menatap kedua orang tuanya
"Dari kecil Putri hidup enak, ngga pernah kesusahan. Sekarang, Putri hamil, anaknya terjamin karena dia punya suami tajir..."
__ADS_1
"Sedangkan Siska? Cowok itu ngga mau tanggung jawab dengan alasan Siska janda dan punya anak. Ditambah ayahnya Azzam lepas tanggung jawab ke Azzam..."
"Wajar dong kalo Siska iri sama Putri karna cuma Siska yang hidupnya miris". Ucap Siska
"Terus gunanya kamu iri itu apa, Sis? Itu kan jalan hidup yang kamu pilih". Ucap Ibrahim
"Kebiasaan, bisanya hanya iri dengan adiknya sendiri". Sambung Melly
"Ibu ngomong gitu karna hidup ibu enak, ibu dimanja sama Putri, sama Tahta..."
"Hidup ibu berubah sejak ketemu Putri dan punya menantu kaya. Bikin ibu lupa daratan, lupa asal usul ibu yang dulunya cuma orang miskin ngga punya apa-apa". Ucap Siska dengan tatapan angkuh pada sang ibu
Ucapan Siska membuat Putri dan Tahta saling memandang satu sama lain, mereka tidak habis fikir, bisa-bisanya Siska berkata tidak pantas pada ibunya sendiri, Tahta menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan kakak iparnya itu
"Bisa gitu ya, kakak adik sifatnya beda jauh". Batin Tahta sambil menatap Putri yang kembali menyuapi Azzam sarapannya
"Ayah, ibu sama aja. Mentang-mentang udah hidup enak, semua ngebela Putri, ngga berubah, ya. Udah keenakan makan harta anak, mantu, sih. Jadi gelap mata". Ucap Siska
"Heh, kalo ngomong sama orang tua yang sopan". Ucap Tahta menatap Siska
"Masa bodo, ini orang tua gue, apa urusannya sama lu?". Ucap Siska
"Justru karna ayah sama ibu orang tua lu, harusnya lu bisa jaga sikap..."
"Lu ngehina ibu yang jelas-jelas udah ngebesarin lu susah payah dengan kondisi ibu yang kesulitan..."
"Sekarang malah ngga tau diri". Ucap Tahta
"Lu tau apa sih? Lu itu ngga ngerasain hidup kayak gue". Ucap Siska
"Kak, udah". Ucap Putri sambil mengusap lengan Tahta saat Tahta hendak membuka mulutnya untuk membalas ucapan Siska
"Nak, sudah, biarkan saja. Siska ini ngga mempan untuk dibilangin". Ucap Ibrahim pada Tahta
Siska mengambil paksa Azzam dari Putri dan membawanya pergi meninggalkan ruang keluarga
"Yaudah, Yah, bu, Putri pamit ya, mau ke kampus". Ucap Putri
"Loh, sekarang, nak?". Tanya Ibrahim
"Iya, Yah. Putri pengen mampir dulu, hehe. Lagi pengen sesuatu". Jawab Putri
"Hmm, udah mulai ngidam, nih?..."
"Yaudah, hati-hati ya, sayang. Makannya jangan sembarangan, banyakin minum air putih, dan jangan capek-capek". Ucap Melly
"Siap, bu". Ucap Putri sambil tersenyum
Putri dan Tahta segera berpamitan dan meninggalkan rumah Ibrahim menuju kampus Putri
"Gue seneng deh liat lo makannya lahap gini". Ucap Nindi sambil tersenyum
"Haha, lu itu mirip orang tua yang lagi mantau anaknya makan tau ngga". Ucap Putri sambil mengunyah makanannya
"Serius, gue sebahagia itu sama kehamilan lo".
Putri tersenyum mendengar ucapan Nindi
"Thanks ya, Nin. Lu emang sahabat terbaik gue". Ucap Putri
"Makan yang banyak, gue tungguin". Ucap Nindi diangguki oleh Putri
"Putri hamil? Syukur, lah. Ikut seneng dengernya". Batin Vano yang duduk tepat dibelakang Nindi, ia tidak sengaja mendengar percakapan Putri dan sahabatnya itu
"Lu dijemput siapa?". Tanya Nindi
"Kak Dewa, hehe. Soalnya kak Tahta ada meeting sama calon rekan bisnisnya. Gapapa kan gue bareng kak Dewa?". Tanya Putri
"Ya gapapa lah, dia kan kakak lu. Nanti malem gue kerumah ya, nyokap gue bikin kue buat lu..."
"Katanya spesial buat calon mama muda, hehe". Ucap Nindi sambil tertawa kecil
"Nin?". Panggil Putri dengan pelan
"Hmm?".
"Kenapa sih keluarga lu baik banget sama gue? Oma lu, nyokap lu, semua care ke gue..."
"Gue jadi ngga enak, lu kan tau gue ngga mau ngerepotin orang".
"Yaelah, santai. Nyokap gue emang sengaja bikin spesial buat lu, kok. Dia ngga ngerasa direpotin".
"Aaah, thank you". Ucap Putri memeluk bahu Nindi
"Yoi. Yaudah lanjutin makannya".
Setelah menghabiskan makanannya, Putri dan Nindi beranjak dari kantin menuju parkiran mobil sambil bercerita seputar kehamilan Putri yang membuat Nindi antusias mendengarnya
"Ngga kebayang nanti anak lu sama anak gue main bareng, pasti lucu banget". Ucap Putri
"Hahaha, jujur gue juga pernah halu kayak gitu. Ya, semoga aja semuanya berjalan lancar". Ucap Nindi
"Aamiin, Ya Allah". Ucap Putri sambil tersenyum
Tin tin tin
Putri dan Nindi kompak menoleh kearah gerbang fakultas mereka saat mendengar suara klakson mobil yang berhenti disisi gerbang
"Vivi". Ucap Putri dan Nindi kompak
"Ck, biang kerok. Mau ngapain lagi dia". Ucap Nindi
"Eh, eh. Ngga usah disamperin, biarin aja". Ucap Putri saat menahan Nindi yang hendak menghampiri Vivi
"Gapapa, apa salahnya ketemu mantan bestie? Silaturahmi, hehe". Ucap Nindi sebelum meninggalkan Putri yang masih mematung ditempat
"Silaturahmi?"
Putri pun memutuskan untuk menghampiri Nindi dan Vivi
"Hai? Penyakit kulit lu belum sembuh, ya?". Tanya Nindi sambil tertawa kecil saat melihat beberapa luka dikulit wajah serta tangan Vivi
Vivi hanya terdiam dengan raut wajah datar dan sorot mata yang tajam
"Pfftt, kenapa nanyain penyakit kulit?". Tanya Putri menatap Nindi
__ADS_1
"Habisnya gue salah fokus. BTW lu pasti kesini mau ketemu kita kan?". Tanya Nindi
"Gue mau ngomong sama dia". Jawab Vivi menatap Putri
"Kenapa?". Tanya Putri
"Kapan lu ketemuan sama Nagita?". Tanya Vivi
"Hmm? Ngga pernah ketemuan secara sengaja. Terakhir ketemu waktu lu sama dia nyamperin gue kesini". Jawab Putri
"Bohong. Kenapa Nagita terus-terusan nuduh gue kalo gue suka sama kak Raja?". Tanya Vivi
"Loh? Bukannya itu fakta, ya? Kok tuduhan sih? Nyatanya lu emang suka sama kak Raja, kan". Ucap Putri
"Tapi gue ngga mau Nagita tau, dia ngancam gue karna gue ketauan suka sama kak Raja". Ucap Vivi
"Derita lu". Ucap Nindi
"Ck, gunanya lu ngomong ke gue apa, Vi? Itu kan urusan lu sama Nagita. Ngga ada hubungannya sama gue". Ucap Putri
"Jelas ada hubungannya sama lu!". Ucap Vivi sambil melangkah maju mendekati Putri
"Lu ngga pernah setuju kalo gue deketin kak Raja, jadi lu ngadu ke Nagita, bikin Nagita ngancam gue, bahkan dia benci sama gue, iya kan!..."
"Lu itu egois, Put!". Bentak Vivi
Bruk,
"Vivi?!". Bentak Vano saat dirinya berhasil menahan tubuh Putri yang tiba-tiba didorong oleh Vivi
"Lu jangan sentuh-sentuh Putri, ya! Dia lagi hamil, kalo dia kenapa-napa gue pastiin lu terima balesannya". Ucap Nindi
"Apa? Putri hamil?"
"Lu liat aja, gue ngga akan tinggal diem!". Ucap Vivi menatap Putri
"Mending lu pergi, Vi. Ngga malu masih muncul disini?". Tanya Vano
"Ck, lu belain mantan pacar lu ini?! Liat aja, gue aduin ke nyokap lu!". Ucap Vivi
"Aduin aja, gue juga bisa ngadu soal kelakuan lu, biar nyokap gue sadar dan ngga salah pilih". Ucap Vano
Putri dan Nindi kompak mengernyitkan dahi mendengar percakapan Vano dan Vivi. Mereka berdua tidak memahami apa maksud ucapan dua orang didepan mereka ini
"Awas lu, ya!". Ucap Vivi menatap Vano, ia pun segera memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Putri, Nindi dan Vano
"Lu gapapa, kan?". Tanya Nindi sambil menyentuh bahu Putri
"Gapapa". Jawab Putri
"Thanks, Van. Kalo ngga ada lu mungkin gue udah nabrak pagar, gue kaget Vivi dorong gue kayak gitu ". Ucap Putri
"Sama-sama, Put". Jawab Vano
"Eum, sorry Van, tadi itu Vivi ngomongin apa? Jangan bilang...". Putri menghentikan ucapannya, ia tidak mau mengungkapkan apa yang ada dipikirannya
"Orang tua aku sama orang tua Vivi ngejodohin aku sama Vivi". Ucap Vano
"Apa?!". Putri dan Nindi kompak terkejut
---
Sore hari, Putri sedang menikmati makanan ringan sambil menonton TV bersama Dewa diruang keluarga. Sedang asik-asik menertawakan acara komedi yang berlangsung, kegiatan mereka harus terganggu saat mendengar suara seorang wanita yang sedang marah-marah didepan pintu utama rumah mereka
Putri dan Dewa saling bertatapan sejenak sebelum Dewa bangun untuk menghampiri pemilik suara tersebut
"Nagita?"
"Den, maaf. Mbak ini maksa masuk". Ucap bi Ida dengan tatapan takut
"Biar saya yang urus bi, bibi masuk aja". Ucap Dewa, bi Ida mengangguk patuh dan beranjak meninggalkan pintu
"Kenapa gue ngga boleh masuk? Gue ceweknya Raja!".
"Iya, saya tau. Tapi Raja yang melarang kamu untuk masuk".
"Ck, takut banget mantan kesayangannya gue apa-apain?". Sindir Nagita dengan tatapan sinis
"Maksud kamu apa?".
"Udah lah, gue ngga mau basa-basi. Gue mau ketemu Putri, ada yang mau gue tanyain sama dia".
"Putri ngga bisa diganggu, dia lagi istirahat".
"Bodo amat, bangunin deh. Gue harus selesain secepatnya".
"Ngga bisa, mungkin lain kali kamu bisa kesini lagi".
Nagita mulai kesal, Dewa terus saja mengulur waktunya untuk bertemu Putri. Nagita terlihat menarik nafas panjang, membuat Dewa menatap heran kearahnya
"Hey!". Dewa terkejut saat Nagita menerobos masuk kedalam rumah dengan tiba-tiba
Nagita memanggil-manggil nama Putri berulang kali dengan suara lantang, membuat Putri menoleh lalu bangun dari duduknya
"Oh, lu disini". Ucap Nagita dengan tatapan tajam kearah Putri
"Cukup, kamu udah keterlaluan menerobos masuk seenaknya, lebih baik sekarang kamu pergi". Ucap Dewa
"Gue bakal pergi kalo urusan gue sama dia udah selesai". Jawab Nagita sambil menunjuk Putri
"Kenapa lagi sih? Perasaan gue ngga pernah nyari masalah sama lu..."
"Ngga lu, ngga Vivi, sama aja. Cari perhatian". Ucap Putri
"Gue langsung intinya aja. Lu hamil anaknya Raja kan?".
Plak, Putri menampar keras pipi Nagita
---
aku double update sebagai ganti karena udah bolong beberapa hari hehehhehehe
Jangan lupa dukungannya...
nextâž¡
__ADS_1