
Setelah menerima kabar tadi pagi Xana langsung pergi ke Rumah sakit. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir, isakannya tidak terhenti, d*danya pun terasa sesak.
"Mengapa?! Kenapa harus dia sih? Apa engkau tak mendengar doaku? Ya Tuhan..."
Sesampainya di rumah sakit, segera Xana masuk dan menaiki lift bersama ajudannya. Xana segera mencari kamar di mana Melisa di rawat.
BRAAAKKK!!
"MELISAA!!" pekik Xana tak tertahankan.
Di sana, ia melihat sendiri seorang wanita muda dengan paras mungil terbaring. Wajahnya yang pucat pun di tutup oleh kain putih. Seluruh tubuhnya telah tertutup oleh kain putih.
Melisa telah pergi untuk selamanya. Ia meninggalkan seorang Putra untuk dirawat Xana.
"Dok, B-Bagaimana adik saya bisa begini?!" histeris Xana yang mengguncang satu ruangan.
"Nona, tenang dulu saya harap anda bisa menerima kenyataan ini. Sebelum nya saya sudah tidak yakin akan kepulihannya karena usia rahimnya," Dokter berusaha menenangkannya.
"Anda Nona Xana bukan?.." lanjut dokter itu.
"Iya, saya sendiri..."
"Tadi Pagi dia menitipkan sepucuk surat kepada saya, ini saya berikan kepada anda..." Dokter itu memberi selembar kertas yang di lipat.
"Terima kasih, Saya sangat berterima kasih..." Xana berterimakasih hingga meneteskan setetes air mata.
Sekarang Xana harus menyiapkan pemakaman Melisa. Jarak dari Negara Xana ke Amerika rasanya sangatlah jauh. Tidak memungkin kan untuk membawa jasad Melisa kembali.
Karena terpaksa, Xana akan memakamkan Melisa di Amerika dan tidak jauh dari Villa yang sempat Melisa huni. Demi menenangkan dirinya pun Xana akan segera kembali ke Rumah nya dengan sang bayi. Ia tak sanggup jika berlama-lama di sini karena hanya akan menimbulkan kesedihan mendalam.
Karena usia bayi itu masih terlalu muda, ia tidak bisa segera membawa Esra pulang. Xana harus menunggu beberapa bulan lagi untuk dapat melakukan perjalanan.
Selama beberapa Bulan di Amerika, Xana banyak menghabiskan waktu dengan Esra. Xana berusaha untuk menjadi seorang Ibu bagi Esra.
Mulai dari membuatkan susu untuk Esra hingga membeli peralatan yang menurut Xana sangat diperlukan untuk Baby pertamanya. Meskipun bukan anak kandungnya sendiri tetapi Xana memperlakukan Esra layaknya seorang anak. Semua kegiatan seorang Ibu di pelajari Xana.
"Acara kelulusan semakin dekat, aku udah ga bisa datang pas pembagian Rapot. Di acara kelulusan ini, aku harus memberi pelajaran ke anak-anak itu!" Xana mengoceh pada saat membuat susu.
Dari jauh, tampak jelas sesosok tubuh mungil nan kecil sedang menggerakkan kakinya ke sana kemari dan memainkan tangannya. Xana sering kali merasa gemas sendiri menatap Esra yang begitu lucu.
__ADS_1
"Haloo, anak Mami udah haus? Iya? Yaudah ini Mami kasih susu tapi senyum dulu~" goda Xana.
Bayi itu seperti mengerti saja apa yang Xana katakan padanya hingga tersenyum dan tertawa. Xana menyusui Esra penuh kasih sayang. Saking sayangnya, Xana membeli semua pakaian yang menurutnya begitu lucu dan keren jika dipakai Esra.
×××××××××××××××××××××××××
Beberapa bulan setelahnya, Xana melangsungkan keberangkatannya ke rumah. Menaiki pesawat selama berjam-jam bukanlah waktu yang singkat. Ia pun harus berhenti dulu dari satu bandara ke bandara lain.
Selama perjalanan, Xana di iringi oleh kedua ajudannya yang membawakan koper dan peralatan Esra serta 3 pelayan wanita khusus Xana dan Esra. Jadi, Xana tidak terlalu repot.
"Mike, tolong kamu pesankan dulu hotel untuk kita semua buat sehari aja, saya cape banget," perintah Xana.
"Baik, Nona."
Menjadi seorang Ibu tidaklah mudah, terlebih lagi dia harus sigap dalam keadaan tertentu.
"Saya masih berharap kalau kelak anak ini dapat menerima kenyataan." gumam Xana.
Pelayan di belakangnya hanya mengangguk hormat. Mereka tidak berani menjawab.
Di hotel, Xana membersihkan Esra dan memakaikan piyama. Esra kecil tampak semakin gemas, semakin sayang pula Xana padanya.
Sesekali Xana meneteskan air mata, bukan karena kematian Melisa, melainkan malangnya hidup Esra. Jika tidak ada Xana, siapa yang akan merawatnya?
DRRRRRRRTTTT..... DRRRRRRRTTT.....
Ada yang menelpon Xana, segera ia meraih ponselnya. Itu adalah panggilan suara dari Leon, selama ini Leon tidak pernah luput untuk menyemangati Xana melalui media virtual. Leon sendiri turut berduka akan kematian Melisa.
"Hallo, Sayang..." sapa Leon melalui Telepon.
"Haloo, iya kenapa? dah jam segini kamu nelpon ga sekolah?" tanya Xana.
"Iya, aku ga sekolah, hari ini kampus libur sehari, kamu sendiri udah makan?" tanya pria itu penuh perhatian.
"Ini mau makan, baru juga mandiin Esra, seakarang lagi main jadi bisa ditinggal bentar." jawab Xana sembari membuka bungkusan masi yang telah dibeli pelayannya.
"Yaudah, selamat makan~ makan yang banyak, aku mau ke toko belanja peralatan dapur. Aku pergi dulu ya, Bye~ Muach...." ciuman renyah Leon melelehkam hati Xana.
"Iyaaa, byee muahhh," balas Xana yang sedikit tidak bersemangat.
__ADS_1
Xana segera memakan makanannya sembari memperhatikan Esra dari kejauhan. Xana sebelumnya sudah memberitahu Ibu dan Ayahnya. Tentu mereka setuju saja karena Xana yang meminta dan membawanya sendiri. Tetapi bagaimana dengan ketiga Kakaknya? Besok ia akan sampai, jadi harus mempersiapkan diri.
...****************...
Xana sampai di Rumahnya dan disambut oleh Mamanya dengan hangat. Jam segini tentu Ayah sudah berangkat kerja dan hanya menitipkan salam kepada Ibu.
"Ma, Kakak ada di dalam semua?" tanya Xana sembari membenahi gendongan Esra.
"Ada, mereka menunggumu Lhooo Xana, Udah Kangen katanya!" Mamanya tersenyum dengan bahagia.
"Haha, mereka lebay banget" Xana tertawa kecil.
Xana memasuki rumah yang sudah lama ia tinggalkan itu. Dalam hatinya ia sudah menyambut diri "Apa kabar rumah?". Menjadi Seorang anak perempuan sekaligus si bungsu di rumah ini adalah anugerah bagi Xana.
"Kakak~ Siapa nih yang kangen aku," tanya Xana dengan riang.
Pertama yang kulihat adalah ekspresi Kak Petra yang sedikit terkejut tetapi senang melihatku. Kemudian diikuti Kak Albert yang mengerutkan dahinya entah itu pertanda tidak senang atau sebaliknya. Dan Kak Sean dengan wajah datarnya yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Astaga Baby~ itu bocah dimana Ibunya??" tanya Kak Petra sedikit terbata-bata tetapi sambil memelukku.
"Udah gak ada, makanya ku bawa pulang!" jawab Xana sedikit emosi.
"Kok marah-marah gitu sayang?" tanya Ibu di dekatnya.
"Ya habis gimana.... aku tanya siapa yang kangen aku eh ga ada yang jawab!" jawab Xana.
"KANGEENNN!" Jawab ketiga kakaknya dengan nada panjang.
Hal itu membuat Xana tersenyum kecil meski mungkin mereka tidak ikhlas mengatakannya.
"Baby, Besok acara kelulusan ku nih, yakin ga mau dateng?" tanya Kak Petra yang kemudian mengajak Ibu duduk.
"Siapa bilang gak mau datang? justru aku pulang secepatnya demi menghadiri acara itu. Ya kalian kan udah tau rencanaku?" Xana duduk dan memangku Esra.
"Apa posisiku sudah digantikan oleh anak kecil itu?" potong Kak Sean. Kak Sean tampak dari tadi memandangi Esra dan seperti menunggu sesuatu.
Xana menyadarinya, Kak Sean cemburu akan keberadaan Esra yang membuat dirinya lupa memeluk kakaknya satu persatu, itu adalah hal yang biasa di lakukan Xana. Xana tertawa kecil karena tingkah Kak Sean.
-Bersambung...
__ADS_1