Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 22 KAMBING HITAM (END)


__ADS_3

"Anakku katakan pada Ayah,kenapa kau bilang mereka berbohong?" Kepala Sekolah berbicara lembut pada anaknya.


"Ayah,si Xana ini berusaha untuk mengadu domba Lea dan ketiga temannya ini," Sherly menatap sinis ke Xana.


"Heh? Aku juga?" Xana mengcape.


"Kenapa?" Lea angkat bicara.


"Lea, Xana lah pelakunya. Dia sengaja membuat ini seolah-olah ketiga temanmu yang melakukannya. Temanmu ini ingin mengecek ke kamarmu tetapi sayang sekali tidak ada kau di sana." Sherly menjelaskan.


"Lalu?" Ujar Lea lagi.


"Lalu,Xana memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatakan bahwa mereka pelakunya.Asal usul Xana pun kau tak tahu kan? Entah bagaimana ia bisa menyewa bagian kelas atas itu!" Sherly kesal.


"Ya, sayang sekali Sherly tidak ada bukti," Xana mulai tersenyum.


"Hiiihhh!!! Ayah,lihat aku tidak menyukainya!" Ujar Sherly menunjuk Xana.


"Xana,apa kau tidak punya sopan santun?" Kepsek bodoh itu menegur.


"Wah wah ingin membela anakmu?" Xana sontak kaget.


"Pak KepSek. Saha bisa pastikan bukan Xana pelakunya," kesal Lea.


"Ayah,percaya padaku,ini tipu muslihat Xana!" Kesal Sherly.


"Pak Kepsek,saya ingin bicara empat mata denganmu,"ajak Xana.


Pak KepSek membawa Xana keruangan Kosong lain.Pak KepSek mesum itu mungkin berpikir bahwa Xana ingin membujuk dirinya dengan tubuh Xana yang seksi.


"Xana aku bisa membantumu,hehe" Pak KepSek mulai meraba bokong Xana.


"Pak,berhenti saya harus menelpon dulu." Ujar Xana.


"Baik,menelpon sambil mengelus dadamu juga ya?" Pak KepSek mulai meraba dada Xana.


"Tolong berhenti!!" Xana mulai kesal.


"Xana,kau gadis yang manis harusnya..." belum selesai pria tua itu bicara Xana sudah menamparnya.


PLAAAKKKK!!!!


"Halo Ayah,..."Ayah Xana mengangkat teleponnya.


Kikiki saatnya Akting~


"Huwaaaaaa Papaaaaa Aku di cabuli kepala sekolah ku barusaannnnn bahkan anaknya menuduhku mencuri barang yang tak seberapa," Xana menangis sejadi-jadinya.


"Apa?! Kepala Sekolahmu? Apa kau yakin?" Ayah memastikan.


"Iyaaa dia ada di sebelahku sekarang!!" Xana berteriak.


"hmmm....berikan telepon padanya," Ayah meminta.


Kepala Sekolah cengar cengir mengambil HP itu,"Haloo...Tuan Anakmu benar-benar nakal ya~" godanya.


"Sial! Apa kau tahu siapa aku?" Kesal Papa.

__ADS_1


"Tuan,semua akan selesai tenanglah aku hanya butuh..."


"Xana Wijaya,itu namanya." Papa menegaskan.


"Apa?! Wi-Wijaya? i-ini tuan Wijaya?" Tangan Pria itu gemetar.


"sentuh dia kau berhadapan denganku," suara datar Ayah yang khas.


"Ma-Maafkan saya tuan Lant Wijaya,sa-saya tidak tahu!" Sambil membungkuk-bungkukkan badannya.


"Jika bocor,baik ke anakmu atau ke satu orang pun,Keluargamu taruhannya," ancaman handal Papa Xana.


"Saya Mengerti!"


"Berikan pada putriku,"


"Halo,pa." Aku hanya melihat wajah kepsek yang sudah keringat dinginan itu.


Selesai menutup telepon aku mendekati Kepsek itu."Kau pikir siapa dirimu? membunuhmu saja mudah bagiku"Xana keluar.


Akhirnya Xana dan Kepala Sekolah kembali dan duduk. Lea menatap Xana mengode apa yang baru mereka bicarakan.


"Xana dan Lea,saya minta maaf saya percaya akan rekaman CCTV itu,dan ganti nya saya akan hukum ketiga anak ini," Kepala Sekolah bodoh itu menjelaskan tergesa-gesa.


"Hukuman apa?" Lea penasaran.


"Anu,Bersihkan WC seminggu!" jelasnya.


"Baguslah," balas Xana.


Terlihat jelas bahwa ketiganya benar-benar Kesal. Seseorang berani berbuat harus berani tanggung jawab. Lucu jika mereka hanya memanfaatkan orang-orang hebat dan besar.


"Kita bicara nanti," Ayahnya menenangkan sherly.


"Tsk! kasian banget mau jerumusin orang tapi gagal!" Ejek Lea.


"Sial! emang gua takut sama lo?!" Sherly mulai maju seakan ingin menyerang Lea.


"Apa lo?! berani sama gua?" Lea sombong.


"Hiiiiiihhhh!!! Awas lu!!!" Dendam Sherly begitu terlihat jelas.


Kami kembali ke kamar dan rebahan. Tentu saja itu yang kami lakukan karena bingung mau ngapain lagi,toh masalahnya udah selesai. Tentu saja Lea penasaran bagaimana Kepala Sekolah langsung percaya.


"Eh,Xana Lo apain tu kepsek kok bisa tunduk gitu?" Lea bertanya.


"Gue dukunin,Hahah" Xana mengejek.


"Wkwkwk seriusan Xana,ya kali efektif gitu," Lea mulai serius.


"Yaaa gua ajak ngomong baik-baik lah!" Xana mengelak.


"Gila si,bisa takluk gitu,ga sampe 5 menit lagi wkwkwk," Lea akan mandi duluan.


Selama Lea mandi,Xana sibuk bermain game di hp nya. Ia bosan dengan apa yang terjadi,karena menurutnya tidak ada yang menarik


×××

__ADS_1


Sementara di rumah Keluarga Wijaya,Kak Petra sudah heboh akan kasus pencabulan KepSek Xana. Kak Petra malah hendak pergi ke Sekolah Asrama Xana yang tidak terlalu jauh. Ayah melarangnya karena Xana tidak ingin identitasnya terbongkar.


Kenapa Xana begitu menjaga ketat indentitasnya? Karena jika Xana diketahui dari keluarga Kaya raya dan Terhormat bahkan terpandang, Xana akan didekati para penjilat menjijikkan dan dia tidak suka itu.


"Bukankah lebih bagus terlihat normal gini?" Pikiran Xana soal itu.


Kak Petra menjadi Putra seorang diri dirumah bersama ibu. Tentu saja Kak Petra bosan karena Saudara saudarinya sekolah jauh dan Asrama.


"Hahhhh,seharusnya aku ikut sekolahan Xana saja," Keluh Kak Petra.


"Kak Petra si,ga mau ngajak ke London biar bisa sekolah sana." Keluhnya lagi.


"Aku bahkan sangat merindukan adik perempuanku,AAAAKKKKHHHH!!!" Kak Petra mulai menggila.


Semua akan Gila jika keinginannya tidak terturuti. Kak Petra begitu sangat merindukan Xana. Hubungan kami renggang karena sekolah.


"Ketika kalian sudah lulus dan bekerja,barulah bisa berkumpul dan bersenang-senang,"imbuh Ibu menasehati Kak Petra.


"Ma,kangen ga si sama Xana begeitu." Kak Petra iseng nanya.


"Tentu saja,Mama merindukan Putriku satu-satunya." Ibu menjawab.


"Kita kunjungi sekolah Xana yuk!!" bujuk Kak Petra yang langsung semangat.


"No, Xana sedang menutupi identitasnya,kita ga boleh ganggu selagi tanpa izin." Mama emang paling pengertian.


Kak Petra pun lemas kembali. Ia begitu bosan dengan siklus kehidupannya tanpa Saudara-saudarinya itu.


"Tau gini waktu itu aku mending ikut sekolah Asrama bareng Xana!!" Kak Petra manyun.


Ah!! benar juga!


"Ma,Petra pindah sekolah aja ya ke sekolahan Xana?" Kak Petra membujuk.


"Gak,Kamu itu susah jaga rahasia!" Mama menggoda kakakku yang sedang berkeinginan itu.


"Petra janji! petra jaga rahasia identitas diri Petra!!" Yeah keyakinannya ini sedikit meragukan.


"Kenapa kau ikut-ikutan sembunyikan identitas?" Mama menyeruput teh nya.


"E-Eh? Aku....aku..." Kak Petra bingung.


"Tunjukkan Identitasmu dan hanya harus dekat dengan Xana,Mandiri dan dewasa,Pandai memilih teman,dan no pacaran dengan gadis sana." Mama kemudian tersenyum.


Kak Petra beranjak,"Loh? Boleh Ma?".


"Iya,tapi syaratnya kaya tadi," Mama dengan senyum anggunnya.


Saking bahagianya Kak Petra memeluk Mama dengan erat,"Yes!!".


-Bersambung


PERHATIAN!!


KARYA INI DIBUAT MURNI DARI IDE DAN PIKIRAN AUTHOR DAN TIDAK ADA MAKSUD MENIRU KARYA ATAU PLAGIAT KARYA LAIN!!! JIKA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH,TEMPAT,ATAU SEDIKIT ALUR,ITU ADALAH TINDAK KETIDAKSENGAJAAN DARI SAYA DAN MOHON MAAF!!


-MORTOON

__ADS_1


Yuk,dukung penulis dengan Like,Vote,Favorite dan Komen apa saja tentang cerita ini~!!(人 •͈ᴗ•͈)


__ADS_2