
Hari ini adalah 5 hari sebelum Xana kembali masuk sekolah. Ia akan membeli perlengkapan sekolah dengan Lea nanti siang. Tentu dengan membawa putranya Esra.
Xana menuruni tangga lalu meletakkan Esra dan menjemput Kak Sean. Di kamar Kak Sean Xana melihat ada album terbuka. Ia hampiri buku yang ternganga itu dan melihat ada foto dirinya dan Kak Sean. Tidak ada foto selain mereka, adapun orang lain di fotonya tapi seperti di potong dan hanya tersisa Xana dan Kak Sean.
"Wah, Kak Sean lagi mengenang masa lalu nih? Tapi masa cuma Xana doang si Kak?" Tanya Xana sedikit bingung.
"Ya karena Xana satu-satunya cewe yang ada di hidup Kakak Selama ini selain Mama." Jawab Kak Sean mengeringkan rambutnya.
"Oh gitu? Yaudah yuk turun!" Xana segera menarik tangan Kak Sean ke bawah.
Di meja makan semua orang menyantap hidangan yang lezat. Setelah makan, seperti biasa Xana dan keluarganya berbincang di ruang keluarga. Kali ini Ayah segera pergi bekerja ke kantor.
"Ma, nanti siang Xana izin main keluar ya?" Xana memulai percakapan.
"Mau kemana? Sama siapa?" tanya Mama yang baru saja hendak menyantap hidangan penutup mulut.
"Belanja kebutuhan sekolah nanti, yaa sekalian jalan-jalan lahh kan bentar lagi masuk sekolah. Bareng sama Lea si, nanti juga ajak supir" Xana menikmati camilan.
"Kakak yang anter," Kak Sean memotong.
"Ha?"
"Kalo ga aku ga ada izin!" hardik Kak Sean.
"Iya deh iya! Pak supir!" ejek Xana padanya.
Semua tertawa mendengar ejekan baru Xana. Esra yang masih kecil hanya ikut senang dan riang pada irama tawa mereka.
Sekitar jam sebelas, Xana dan Esra segera bersiap-siap akan pergi. Keduanya pergi mandi lagi dan memakai pakaian oblong dingin agar tidak kepanasan nantinya. Mana cuacanya panas terik lagi!
"Kak Sean? Udah siap belum?" Xana mengetuk pintu Kamar Kak Sean.
"Bentar lagi, kamu udah?"
"Udah nih."
__ADS_1
Selesai mereka bersiap dan meminta izin, akhirnya mereka pergi ke tempat bertemu Lea. Lea diantar memakai mobil dan diturunkan di dekat taman kota agar dapat bertemu Xana. Rencananya mereka ingin keliling dulu melihat-lihat pemandangan kota gedung cakrawala.
"Wah, Esra ikut mulu nih sama Mama nya!" Lea langsung tertuju pada Xana.
"Ya dong, nanti kan Mama bakal balik lagi sekolah dan jarang ada di rumah~" Xana memainkan tangan Esra.
Akhirnya mereka pun sampai di sebuah Mall yang cukup besar dan ramai. Mereka suka pada toko ini karena menurut mereka perlengkapan sekolahnya benar-benar lengkap.
"Katanya lo mau bawa mobil sendiri sama Esra? Kok ga jadi?" tanya Lea dengan polos.
"Astaga! Lea.... Jangan diomongin bisa-bisa aku kena omel sama kakek sihir ini!" Xana melotot dan mengarahkan bola matanya ke Kakaknya yang sudah menunggu jawaban selanjutnya.
"Oh! Maksudku dengan supir! Jadi kok ya gitu?? Hehehe...." Lea kebigungan sendiri.
"Oh itu, anu... Dia bakal jadi tukang bawain barangku nanti, ya kan kak?" Xana menjawab dan berusaha tenang.
Kak Sean pun tidak membahasnya, memang benar kalo Xana ingin mengendarai mobil itu sendiri karena tidak mau diikuti. Tapi nyatanya, tetap saja ada Kakak seperti Kak Sean.
Toko pertama yang mereka masuki ialah toko buku. Banyak buku dengan aneka ragam bentuk dan motif. Ada pula beberapa sampul yang memiliki gambar cute. Beralih ke Toko Sepatu dan Tas, ada banyak varian di sana. Sangat menawan dan rupawan. Tas dengan segala ukuran di pajang disana, Sepatu dengan berbagai ukuran ikut menjadi tontonan.
Esra di bawa dengan kereta dorong. Kedua Babysitter nya membawa kebutuhan Esra. Saat semuanya makan Esra di asuh oleh kedua Baby sitternya.
"Setelah ini ke toko mainan yuk! Pengen jajanin Esra nih," bujuk Xana.
"Mulai deh, sifat keibuannya dateng lagi. Yaudah deh kutemenin, sekalian mau beliin adekku mainan," Lea membalas.
"Wah, ada ayuk cantik Kece nih!" Olok Xana.
Selama perjalanan ke Toko Mainan, Lea tertidur karena kelelahan. Xana pun ikut menidurkan Esra yang juga terlihat lelah. Karena keduanya tertidur, Xana menyuruh Kak Sean pelan-pelan saja membawa mobil.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka segera masuk dan mencari mainan yang menarik. Xana memilih mainan yang menurutnya menarik dan keren, sementara Lea memperhitungkan mana yang bermanfaat dan berguna. Kak Sean dengan kedua Baby Sitternya menunggu di cafe tepat sebelah toko mainan tersebut.
"Hemm, berhubung kita bareng... Aku mau beliin mainan juga deh buat Esra junior!" Lea memberi ide.
"Hmmm, aunty rich nya mulai lagi deh... Mau kasih mainan apa sih aunty" ledek Xana.
__ADS_1
"Ini, kasih beberapa mainan yang mengasah otak, biar ntar pas udh gede dia pinter kaya mamanya!" usul Les menggebu-gebu.
"Ditunggu! Esra ga sabar mau tahu mainan apa nanti" Xana penasaran dan mulai mendorong kereta ranjangnya.
Setelah berpisah beberapa menit dengan Lea karena beda tipe mainan. Xana tidak sengaja menyenggol bahu seseorang. Ia lantas terkejut dan menunduk meminta maaf.
"Aduhh... Maaf... Maaf.... Saya ga sengaja!" Xana panik dan memeriksa orang tersebut.
"Loh? Leon?" Xana segera mengenali wajah pacarnya itu.
"Xana? Kamu kok di sini? sama siapa?" Leon segera memegang kedua bahu Xana.
"Aku mau beliin Esra mainan, kamu sendiri ngapain disini?" Xana menoleh ke sekelilingnya, tidak ada ranjang belanja kecuali miliknya sendiri.
"Aku.... Ehm... Ya, tadinya mau kasih kado mainan ke Esra, tapi rupanya udah belanja. Yaudah deh, aku cari yang limited edition," Leon beranjak pergi. Wajah datarnya memang tidaklah berekspresi apapun, tetapi sikap gelisah mengatakan segalanya.
"Ih lebay banget! Gapapa...justru bagus kita bisa milih-milih belanjaan anak buat Esra" ajak Xana yang menarik tangan Esra dan menebar senyuman manisnya.
"Hah, kenapa susah sekali sih pilih mainan?! Tadi udah keliling sana keliling sini ga tau bahasanya apa dan ga ngerti mainan khusus umur berapa!" Leon segera protes.
"Hahaha! Ngapain marah-marah gitu sih? Yaudah ayuk, kalau mau tau beberapa mainan untuk anak laki-laki." Xana membujuk Leon.
Pada akhirnya di saat yang tidak terduga itu keduanya bertemu dan bermesraan. Lea sudah memilih beberapa mainan dan segera mencari Xana. Mengetahui sahabatnya sedang berduaan, Lea ingin mengganggunya. Entah kenapa dan darimana rasa jahil itu datang.
"Eh, Xana... Ayuk makan, udah waktunya nih! Eh ada kakak pangeran Leon!" Tiba-tiba saja Lea tampak segar.
"Yaudah yuk, kita makan bareng?" ajak Xana yang masih belum ada penerimaan.
"Y-yaudah deh! Tapi bilangin kakakmu kalau natap jangan serem-serem!" Pria itu pun memberi keyakinan.
Singkat cerita mereka pun makan siang dan memakan camilan di Cafe yang sama. Leon pun segera memberikan kotak hadiah yang tadi di pilih bersama Xana.
Benar saja, tatapan Kak Sean tidak berhenti menuju ke arah Xana. Mata tajam Kak Sean membuat Leon sedikit grogi.
-BERSMABUNG.....
__ADS_1