Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 48 Rempong


__ADS_3

Hari ini Xana bangun sedikit lebih pagi dari biasanya. Jam handphonenya menunjukkan jam 5:37 am. Ia tidak biasa bangun pagi, tetapi ia bangga bangun sendiri. Ia bangun dan duduk di atas kasurnya lalu menatap Lea yang masih terlelap. Makan apa ya hari ini?


Xana segera mandi dan berganti pakaian. Wangi tubuhnya semerbak menyerbu ke seluruh sudut kamar. Ia mengeringkan rambutmya sekaligus berskincare. Masih saja dipikirkannya apakah Esra sudah bangun? Tapi kemungkinan tidak, terlalu dini untuk seorang anak kecil bangun di pagi hari.


"Ah, aku mau makan di kantin deh, males banget! Mending beres-beres packagingku kemarin!" Xana segera menghampiri sebuah koper yang masih berisikan baju. Ada pula tas besar dengan perlengkapan tubuhnya. Adapula storage box didalam tas tersebut. Xana menyusun semua barangnya seperti dahulu dia tidur di kamar itu.


"Aku harus bangunin si Lea dulu deh! Ntar ngamuk lagi kalau ga dibangunin!" Xana segera berdiri dan menghampiri ranjang Lea.


"Woii!! Bangun-!!! Is dasar kebo!" Xana membuka selimut Lea.


"Ya ampun Xana, dingin.... Masih pagi banget lagi!" Lea membuka mata dan menghadap jendela kamar mereka.


"Iya! Ini udah jam 6, kalo lo mau telat sih gua ga ikutan ya...." Xana mengancam.


"Hem? Kita masuk pagi?" Lea bingung.


"Lo lupa? Astaga, iya masuk pagi besok sampai kamis baru masuk siang!" Xana menepuk jidat.


"Hah? Waduh! Kudu mandi nih!" Lea segera bangun dan bersiap.


Tak terasa jam sudah menunjukkan jam 6:25 am. Kegiatan Xana sudah selesai dan Xana pun sudah siap dengan pakaian seragam sekolahnya bersama Lea. Mereka keluar dan mengunci kamar. Saatnya berangkat ke sekolah.


Memasuki ruangan gedung yang besar dan bersifat umum, Xana dan Lea sangat menarik perhatian. Seragam yang rapi dan selalu baru jika usam disertai dandanan yang begitu menawan membuat mereka semakin bersinar. Semua mata memandang.


"Wah, dia adalah junior yang dulu kita jahili. Gua takut dia inget kita!"


"Mending jadi temennya ga sih, gua pengen banget di traktir orang kaya~"


"Bisa-bisa nya cewe secantik Xana ga kita ketahui! Dia bahkan kena bully oleh senior lain, sayang sekali aku tidak bisa melihatnya karena belum masuk"


"Aku sangat ingin melihat Nona Xana dan musuhnya beradu mulut!"


Setiap orang berbisik dengan topik yang berbeda. Sangat senang mengurusi hidup orang lain ya?


Mereka duduk di barisan depan. Dari dulu Xana kurang senang duduk paling belakang meski tinggi sekalipun itu. Baginya itu tidak menyenangkan.


Pelajaran dimulai, semua murid mengeluarkan buku adapula yang mengeluarkan handphonenya untuk merekam. Ketika semua orang sibuk pada pelajaran dan hal lain kecuali Xana dan Lea, mereka sibuk membicarakan soal anak. Terutama Lea, ia seru sendiri membahas hal tentang bayi ini. Ia berpikir betapa lucunya bayi dan betapa menyenangkan membesarkannya.


"Aku sangat ingin memiliki anak yang cantik dan tampan! Kau beruntung bisa belajar dari membesarkan Esra." Puji Lea.


"Haha lo yakin? Tiap malem dengerin dia nangis terus nidurin berkali-kali, mampu memenuhi segala kebutuhannya." Xana meledek Lea.

__ADS_1


"Hei, dengar... Aku memang orang yang tak terlalu kaya. Tetapi, aku yakin aku akan bisa memberikan yang terbaik buat anakku nanti..." Lea memerkan ototnya.


"Seriously? So sweet..."


"Lea gitu loh!"


Jam pelajaran terakhir hari ini telah selesai. Semua siswi keluar kelas dan makan siang ke kantin. Sherly di sisi lain sedang berpikir bagaimana mencengkeram Xana seperti dulu lagi. Ia ditemani trio sejoli nakal mengonsumsi rokok di wc umum.


"Ga bisa dibiarin! Meskipun dia orang tersohor sekalipun, tetep aja dia terlalu sombong dan pede! Gua ga setuju! Kita harus beri dia pelajaran dan buat dia jadi bullyan kita!" Sella memberi ide.


"Heh, lo yakin? Xana bukan orang sembarangan yang bisa lo taklukin. Apalagi dia keluarga Wijaya yang paling ditakuti" timbal lainnya.


"Kenapa ga yakin? Gua ga takut tuh dia keluarga kerajaan sekalipun. Lagian ya, kalau rencana kita tuh mulus dan ga cacat, pasti bakal berhasil!" Sherly percaya diri. Ia yakin karena ingin bermain licik dan sedikit sembunyi. Sebelumnya dia sudah bodoh membully Xana terang-terangan.


"Yaudah, semua rencana gua serahin ke lo," ujar Sella.


"Oke, gua kasih tahu...." Sherly menyuruh mereka mendekatkan telinga. Ia pun membisikkan sebuah rencana yang akan dilakukan trio sejoli.


Mereka akhirnya tampak setuju dan mengangguk. Kali ini tidak ada yang bisa menghalangi kehendak Sherly untuk menghancurkan Xana.


"Xana wijaya, kali ini..... Hancurlah kau!" Batin Sherly dengan rasa puas sendiri.


(Author*. Awokawok maap time skipp, betewe ini bakal selesai y Xana sekolah nya :")


"Lo yakin mau beli baju lagi Xana? Ya ampun kan kemaren udah banyak banget kita belanja! Masa belanja lagiii??" Lea terkejut karena Xana mengajaknya ke toko baju.


"Astaga, ya kali Lea! Ini gua mau beliin my boy baju couple biar kaya orang-orang gitu!" Xana berdecik.


"Ohhh, enak banget sih~ punya cowok yang idaman dan dambaan semua wanita di muka bumi?" Ledek Lea dengan sengaja menyenggol pundak Xana.


"Apaan si, lagian nih ya semua orang boleh menyukainya dan mengidamkannya, tapi pawangnya tetaplah aku!" Xana mengacungkan jari jempolnya ke arah wajahnya.


"Widih, iya deh... Tapi emang lo ga kasian ama temen lo yang jomblo gini? Cariin dong biar sama..."


"Ntar gua kasih spek alay tapi ganteng ga mau lagi!" ejek Xana balik.


"Yaelah, jangan alay juga kali, seenggaknya pintar kek lo gitu!"


"Ga ada dong, gua mah ga ada tandingannya HAHHAHAHAH" tawa Xana lepas bahkan ketika ia sudah keluar pintu gerbang.


Mereka berdua menaiki taksi untuk pergi ke toko baju tersebut. Awalnya, Lea merajuk dan tidak mau menemani Xana. Tapi lama kelamaan Lea pun tergoda hanya dengan iming iming cuci mata lihat cowok ganteng.

__ADS_1


Gedung toko baju pria wanita itu besar juga. Di sini segala varian dapat dibeli. Bahkan hampir lengkap semua model jenis dan tipe bak baju yang ada di online shop. Harganya pun terjangkau menurut Lea.


"Apaan nih! Dikit amat cowok gantengnya," Lea meledek Xana.


"Iya, lagian si lo nurut aja udah!" Xana segera memilih baju di bagian couple romantic.


"Yaudah deh, lo cari baju couple di sini, gue liat-liat baju cantik di sana, oke?" pinta Lea.


"Oke"


Mereka pun berpisah dan mencari kebutuhannya masing-masing. Lea mencari pakaian yang menarik perhatiannya. Sedangkan Xana sudah memilih beberapa baju couple yang bagus.


"Kira-kira ukuran baju Leon berapa ya? Haduhhh bingung...." Xana baru ingat bahwa ia tidak tahu ukuran baju Leon.


"Masa iya gua nanya.... Ntar diledek lagi sama tu bocah, ahh ngira-ngira aja deh!" Xana menepis khayalannya.


Ia pun mmebandingkan baju Leon dengan pakaiannya. Leon tubuhnya agak besar dan lebar, juga tinggi. Jadi gampang saja menurut Xana untuk memilihnya. Ketika hendak melebarkannya, Xana berpikir ingin memeluk baju itu dan beranggapan Leon memeluknya.


"Udah pas kayaknya,....." Xana melepas pelukan dirinya sendiri dan membungkus pakaian itu.


Hendak beranjak dari tempatnya menuju kasir, betapa terkejutnya dia melihat Lea yang terpaku dengan kelakuan Xana barusan. Bagaimana tidak, shabatnya yang terkenal judes dan dingin itu sedang berhalu?!


"Gua ga salah lihat kan? Itu tadi beneran lo Xana?" tanya Lea seakan ga percaya ketika Xana menghindar hendak ke kasir.


"Bukan! Hantu kali!" Bentak Xana tanpa menghentikan langkahnya.


"Aduuuhhh, tempera mental banget sih~ aku kan cuma nanya apa yang aku liat~ hehe" goda Lea. Ia suka melihat Xana tersipu malu dengan kelakuannya sendiri.


"Apaan si!" Gerutu Xana keluar dari toko.


Tampaknya Xana masih kesal karena ketahuan sahabatnya sendiri.


-BERSAMBUNG.......


Holaa, saya kembali dari libur panjang💓


Mulai sekarang, semoga bisa up 2 bab sehari hehe, kalau ga sibuk aja ya~


Love you all,


Mortoon.

__ADS_1


__ADS_2