
Belajar terus menerus dan sedikit mulai sedikit mengerti, Lea terus memiliki semangat membara untuk Belajar. Xana yang merupakan sahabat sekaligus gurunya sendiri pun Bangga karena Lea cepat paham dengan sekali dua kali penjelasan.
Hari demi hari di sekolah yang begitu melelahkan ini pun mencapai tahap akhir. Hari ini adalah hari terakhir Ujian.
"Hoam~ Hari ini udah terakhir ujian aja," Lea menguap.
"Tetep harus semangat dan jangan anggap enteng Lea," Xana mengingatkan.
Lea menatap Xana dan mulai mengerutkan dahinya, " Tentu Saja! jangan panggil aku Lea kalau aku tidak semangat bahkan di akhir Ujian!".
Bell berbunyi, semua siswi memasuki kelas dengan jadwal ujian masing-masing. Dari pada hari-hari biasanya, hari ini tampak cukup tenang dengan muridnya yang entah kenapa kalem.
"Xana, aneh ga si tiba-tiba semua siswi jadi kalem terus santai gitu?" Lea mengajak ngobrol di tengah ujian.
"Hahaha, efek Ujian Lea," Xana tertawa kecil.
"Waahhh~ Bagaimana bisa jadi kalem begitu? ternyata karena tegang sehabis ujian!" Lea tampak girang.
Lea orang yang mudah dibujuk bahkan dengan kata-kata. Tetapi itu hanya berlaku untuk Xana.
Ujian terakhir....
Sudah Kuduga, setelah memberi soal pertama yang mudah soal yang kedua ketiga pun mulai rumit.
"Waahhh Sejarah memang pakem, tapi IPA lebih serem." Lea mengeluh dengan gaya logatnya.
"Tetep konsen dan ingat apa aja rumusnya," Xana mengingatkan terus menerus.
Akhirnya jam pelajaran terakhir pun selesai. Semua siswi bisa langsung kembali ke kamarnya masing-masing.
Di kamar Asrama Xana & Lea
"huffttt~ cape banget." Xana merebahkan tubuhnya.
Setelah direbahkan, ia merasa sedikit lega. Selain Ujiannya telah selesai, ia bisa segera menemui Melisa.
"Aku bakalan secepatnya pergi Ke Amerika." Xana menggumam.
"Secepat itu?" Lea langsung duduk dan menatapi Xana dari kasurnya.
Xana duduk perlahan,"Tentu, Adikku akan segera lahiran,Sudah ga nemenin dia, setidaknya nemenin lahiran kan gapapa."
"Yeah,..... Oh! Bisakah kau kirim alamat rumahmu atau adikmu yang di Amerika padaku nanti?" tanya Lea sedikit terbata-bata.
"Untuk Apa?" Xana bingung.
Lea berdiri dan membuka laci,ia mengambil sebuah buku kecil dengan pena lucu," Buat nyusul kamu liburan dong!".
"Pffftttt~ aku ga bakal lama kok di Amerika. Cuma nemenin adikku lahiran terus bawa dia pulang deh. Aku juga dah siapin rumah buat adikku sendiri." Xana menjelaskan.
__ADS_1
"Gila! Saking sayangnya lu bisa hamburin duit gitu ya! Ah, iri gw sama adek lu." Lea tampak sedikit kaget.
"Memangnya ini hal baru? toh kau juga bisa beli rumah + buka bisnis dengan duit lo sendiri?" Xana bertanya.
Lea duduk di samping Xana dan memiringkan kepalanya,"Bagaimana caranya?".
"Nabung," Jawab Xana singkat padat dan jelas.
"Oh.... Aku tahu." Lea mengangguk.
Lea dulu sering menabung ketika SD. Tetapi menurutnya itu membosankan karena harus jajan sedikit. Lalu Bagaimana bisa ia tidak memikirkan masa depannya nanti?
"Thanks ya Xana, gue bakal berubah banget deh kayaknya berkat lo," Lea senang dan tersenyum manis.
"Sama-sama, dah kewajiban gue ngingetin lo," Xana bersiap mandi.
"Soal Amerika.... kapan berangkat?" Lea menarik tangan Xana.
"Besok, secepatnya."
"Owh, Okey."
Besok,
Xana sudah dijemput dengan mobil yang bisa memuat cukup banyak barang, jadi Xana tenang-tenang saja dengan barangnya yang sudah cukup banyak.
"Gue tebak lo pasti sengaja bawa mobil yang mereknya aja ga mencolok dan ruang nya banyak," Lea berbisik pada Xana.
Setelahnya pun keduanya berpisah, Xana akan mengunjungi adiknya lahiran dan pulang hingga ia sembuh. Sedangkan Lea, ia harus stay di Asrama dan menunggu pengumuman ujian serta selalu mengawasi Sherly dan temannya.
Xana sampai bandara dan mulai memasuki ruangan pesawat yang sudah hampir penuh itu.
"Kukira bakal terlambat," Xana dengan suara lirih mencari bangku.
Setelah menemukan bangkunya, ia pun duduk. Ia duduk sebangku dengan seorang pria asing yang kayaknya seorang bule.
"Apa peduliku? toh masih gantengan mas pacarku yang setahun ga ada kabar!" batin Xana yang kemudian duduk dengan nyaman.
Pesawat pun lepas landas dan mulai terbang. Menjadi suatu kegugupan tersendiri karena sendiri tanpa orang tua.
"Bisa ga si gausah tremor gitu kakiku?!" Xana tak nyaman.
Xana begitu takut, dia tidak terlalu takut jika ada mamanya yang menemaninya.
Sesampainya, Xana seakan mabok perjalanan. Tetapi ga ada waktu buat drama mabuk-mabukan.
"Aku harus segera tiba," Xana bergegas mencari taksi dan meminta bantuan Taksi.
"Huffttt, Aku akan mampir ke toko makanan dan membeli camilan dahulu kemudian makan. Apa bapak bisa menunggu selama itu?" Xana berdiskusi dengan sopir itu.
__ADS_1
"Saya mau jika ada bayaran lebih," bahasa inggris yang fasih dan suara tinggi.
"Saya akan bayar 2 kali lipat," Xana menawarkan lagi.
"Baik, setuju!" Sopir itu tampak senang dan girang.
Wajar saja begini hukumnya, karena ini kota dan mereka mencari uang dengan banyak sebanyaknya.
Xana makan dulu di sebuah Cafe dan langsung membeli hadiah untuk calon bayi. Selain perlengkapan, Xana juga membeli banyak camilan untuk Melisa. Makanan Bumil pun tak lupa ia beli.
Setelah semuanya terasa sudah lengkap, Xana langsung menuju ke Asrama Melisa.
Sesampainya, Xana ditagih 200 Dollar oleh sopir itu. Karena menurut Xana sedikit, xana pun memberinya 1000 Dollar sebagai Chips.
"Terimakasih banyak, Nona!" Sopir tambah senang.
Yeah, Xana datang kemari tanpa penyamaran ke sekolah Melisa. Jadi Guru pun tahu dan menyambut Xana dengan meriah. Namun, mereka tidak tahu bahwa Xana datang untuk mengunjungi Melisa.
Xana menggunakan Kacamatanya dan menggeret koper bersama Sopir taksi tadi yang membawakan belanjaan Xana di belakang.
"Nona Xana Wijaya, Selamat Datang di Sekolahan Asrama Girl Octavia Khusus Wanita ini," Sambut seorang guru dengan senyuman Ramah.
Guru lain pun ikut menyapa dengan ramah. Sebelumnya Xana pernah kesini, Melisa hanya perlu menyebut nomor kamarnya dan Xana akan datang sendiri.
"Nona Xana, kemari saya buatkan teh," Ajak guru lain yang telah menyiapkan tempat duduk.
"Kalau begitu aku perlu seorang pelayan menjaga barangku dan menolong membawakannya,"
"Tentu, saya akan panggilkan siswi lain nanti,"Jawab lagi seorang guru.
Xana pun duduk dan menunggu suguhan teh. Sopir tadi telah pergi. Semua guru menundukkan kepalanya dan terus menerus memuji Xana.
Tak kalah lebih mencolok lagi siswi lainnya yang menatapi Xana dan memuji kecantikannya.
Alasan mengapa ia begitu dihormati begini adalah karena ia adalah pemilik dari Sekolah ini. 3 Bulan lalu, Xana meminta Ayahnya untuk membelikan ini agar bisa ia datangi sesuka hati.
Xana sendiri sengaja menambah bonus penghasilan pada guru di sekolah itu. Maka dari itu ia sangat dihormati.
"Ah, tehnya telah datang. Silahkan di nikmati Nona," Seorang guru sudah berdiri.
Seorang wanita dengan pakaian sekolah datang dan memberikan teh itu. Xana terkejut nya bukan main ketika melihat bahwa si pembawa teh sedang hamil.
Xana berdiri dan melihat wajah itu, Melisa. Melisa di suruh membuat teh.
"Ada apa Nona?" tanya seorang guru.
"Sudah berapa lama dia bekerja seperti ini?" tanya Xana dengan nada berubah.
"S-sudah 2 Bulan Nona," jawab guru lain.
__ADS_1
"Gaji kalian di potong selama 2 Bulan." Xana mengerutkan alisnya dan menatap tajam seorang kepala sekolah di sampingnya.
-Bersambung