Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
BAB 36 Bertemu...


__ADS_3

Xana naik ke atas tangga dan menjemput Kak Sean.


Tokkk.... Tokkk....


"Masuk,"


"Kakak~ Kenapa jam segini belum turun?" tanya Xana dengan nada manja.


"Aku sendiri tidak tahu sejak kapan posisiku di ambil," jawab Kak Sean.


"Astaga, jadi Kakak cemburu? Utuutututu sinii sayang~" Xana membujuk Kak Sean dan memeluk erat Kak Sean.


"Heum°^° Aku di abaikan," Kak Sean mulai bernada manja.


"Ayo ayo! Kakakku sayang~ kita makan bersama~" ajak Xana menarik tangan Kak Sean.


Kak Sean menuruti Xana dan turun ke bawah. Seperti biasa, dia selalu turun ke bawah berdua sembari bergandengan tangan. Dengan logat Sombong Kak Sean menyombongkan dirinya kepada Kak Petra dan Kak Albert.


"Wah, Kau sepertinya sangat suka dengan julukan 'manten' ya kak! Xana tuh adik aku juga kali," Kak Petra membalas tatapan Kak Sean.


"Kak, lain kali aku yang akan di gandeng Xana! Lihat saja nanti!" Teriak Kak Albert tidak terima kalah.


"Ya! Ya! Terserah deh.... Emang kalian siapa Adik-adik?" Singgung Kak Sean.


Dengan sekali sindiran Kedua Kakaknya itu langsung diam tanpa bahasa. Mereka tidak berkutik jika sudah menyangkut siapa yang paling tua diantara mereka.


Lea yang sedari tadi melihat drama pagi keluarga Wijaya yang menyenangkan menjadi senyum-senyum sendiri. Ia menjadi sangat senang dan bahagia hanya dengan menyaksikan keramaian keluarga mereka.


"Beruntung banget sih Xana, punya keluarga yang hangat begini. Kakaknya pada romantis banget lagi, behhhh beruntung banget pokoknya!" Lea memuji Xana dalam hati kecilnya.


Sarapan dimulai, Esra di suapi oleh Baby sitter yang sudah di pesan Xana sebelumnya. Xana sibuk main suap-suapan dengan ketiga Kakaknya. Dan Lea sibuk makan dengan Esra. Ayah Ibu pun memiliki kehidupan sendiri.


Pagi ini mereka akan Liburan ke pantai. Selesai sarapan setiap orang segera bersiap-siap mengganti pakaian dan membawa peralatan penting. Xana yang biasanya heboh sendiri untuk menasehati kakaknya membawa apa saja sekarang harus mengurusi Esra dan keperluannya. Mulai dari popok, susu, air mineral, pakaian ganti, hingga camilan Esra. Tentu saja itu semua di bawa oleh Baby Sitter Esra.


"Semuanya sudah siap?" tanya Ayah.


"SIAP!!!!" jawab Semua orang kecuali Esra.


Jarak Pantai dari Kota lumayan jauh dan membutuhkan waktu selama 2 setengah jam. Jadi selama perjalanan mereka bercerita dan bernyanyi-nyanyi dan bersuka ria. Xana tidak lupa merawat Esra dan menyusuinya. Ia semobil dengan ketiga Kakaknya. Xana dan Lea duduk di kursi tengah dan Kak Sean di dekat pintu untuk menjaga Xana. Kak Albert menyetir dan Kak Petra duduk disampingnya. Kedua Baby Sitter dan perlengkapan Esra ada di bangku paling belakang.


Merawat Esra dengan Paten membuat Lea takjub karena di umur segitu Xana sudah berpengalaman. Ia sedikit iri pada sikap kedewasaan yang dimiliki Xana. Ia berpikir suatu saat nanti pasti akan ada di posisi itu.


Kak Sean sendiri membantu Xana mendiamkan sang bayi yang kadang menangis. Kak Sean yang dingin itu tersentuh untuk membantu Xana dengan cara menepuk dan menggendong Esra.


"Wah! Xana, Esra seneng banget deh kayaknya kalau di gendong Kak Esra!" Seru Lea yang gemas sendiri menyaksikan kelucuan ini.

__ADS_1


"Iya dong, tapi ini bukan Kakak Esra, panggil dia paman! Paman Sean ya sayang~" jawab Xana.


"Paman? Ga ah, ga setua itu kali," Kak Sean menolak.


"Kenapa? Kan Kakak itu punyaku! Bukan punya Esra?" Xana bertanya-tanya.


"Makanya, cuman adik-adik Kakak yang boleh panggil 'Kakak'!" jawab Kak Sean.


"Yaudah deh, Kakak mau dipanggil apa?" tanya Xana sembari memberi camilan pada Esra.


"Uncle (Angkel)," jawab Kak Sean sedikit malu-malu.


"Hmmm.... Iya Uncle Sean...." jawab Xana dengan nada mengejek.


"Kami juga," pinta Kak Petra dan Kak Albert.


"Iya para Uncle tampan," seru Xana menyenangkan Kakak-Kakaknya.


...****************...


Sesampainya, mereka semua pun turun dari mobil dan segera menggelar tikar. Membuka payung dan segera menata makanannya. Liburan pun dimulai!


"Woahh! Pemandangan pantainya bagus juga ya Esra!" Seru Xana dengan Esra yang ia pangku.


Xana asyik bergurau dengan Kakaknya dan Lea. Terkadang Lea memangku Esra di pangkuannya sembari bermain mainan kecik yang mereka bawa.


Di tengah serunya mereka berbincang, tiba-tiba ada suara yang memanggil Xana dari jauh.


"XANA?!" Seru suara pria itu.


Xana sontak menoleh ke belakang dan melihat siapa sosok yang memanggilnya itu. Ia melihat sosok pria gagah dengan kemeja biru laut dan kacamata hitam yang keren. Sebentar saja Xana sudah mengenali siapa pria itu dan segera berdiri.


"Leon?!" Seru Xana.


Kedua kekasih yang sudah cukup lama berpisah itu berpelukan dan melepas rindu. Keduanya saling menyayangi dan mencintai.


"Sayang, kok kamu bisa di sini?" tanya Xana melepas pelukan.


Lea menyipitkan matanya dan berusaha mengenali pria itu. Dia berpikir bahwa itu adalah pacar Xana yang sesungguhnya.


"Aku lagi liburan, kamu?" tanya Leon.


"Aku juga liburan!" Seru Xana senang.


"Ekhem! Ingat, ini tempat umum!" tegur Kak Petra.

__ADS_1


Tanpa disadari mereka lupa bahwa ini di tempat yang ramai. Lea pun baru mengingat siapa pria itu dan langsung berseru.


"Pangeran Leon? Eh Tuan Muda Leon?! Yang mana yang bener sih?" Lea menjadi bingung sendiri.


"Bener semua kok," Xana dan Leon duduk.


Keduanya makan bersama dan saling menyuapi. Ketiga Kakak Xana sebenarnya kesal karena posisi mereka digantikan begitu saja di depan mata mereka.


"Aku kangen banget sama kamu, Xana." Ujar Leon di tengah acara.


"Iya, Aku juga kok. Akhirnya kita bertemu juga kan?" Xana tersenyum manis pada Leon.


"Gila sih, lo Xana yang gue kenal kan? Yang biasanya pasang muka masem tapi juga kadang pasang muka dingin kek kulkas 16 pintu?!" Lea terbelalak.


Leon tampak senyum dan menjadi senang dengan ucapan Lea barusan. Ternyata senyuman manis Xana hanya untuk dirinya. Ia senang hanya dengan berita itu.


"Ya kali sama pacar kudu cemberut, Lea" jawab Xana sedikit malu-malu.


"Yahh ga juga sih, gue juga udah mau diabetes sama senyuman adik gue," Kak Sean menyela.


Xana sebenarnya sedikit terkejut Karena Kak Sean tidak biasanya menyela pembicaraan orang lain apalagi orang asing seperti Leon.


"Ga tau tuh, lebay banget! Padahal kan kasur empuk Kak Sean hampir setiap hari di pake si bayi gede" jawab Kak Petra yang juga mengejek.


"Oh ya? Ternyata hanya untuk orang-orang yang penting saja ya, Xana?" Leom tersenyum mempesona dan menggoyahkan hati Xana.


"Iya.... Iya! Hanya untuk orang-orang yang penting dan akrab!" Jawab Xana tiba-tiba menaikkan nadanya ke tingi.


"Ma-....... Ta ta ma!" Esra menjulurkan tangannya ke Xana seolah ingin digendong.


"Eh sayang mau digendong Mama?" Tanya Xana.


Xana segera meraih tubuh mungil Esra dari tangan Lea dan memopongnya. Esra yang menggemaskan selalu berhasil meluluhkan hati Xana.


"Woi, dia tuh saingan baru kita!" Seru Kak Petra menunjuk Esra yang sedang digendong Xana.


Leon langsung mengetahui apa maksud Kak Petra. Leon juga sedikit cemburu dengan anak yang digendong Xana karena bukan anak kandungnya.


"Wah, saingan kecil ini terlalu imut untukku! Bagaimana mungkin aku bisa menyingkirkannya?" tanya Leon.


"Hemmm.... Sok sok an mau nyingkirin Esra, hadapin dulu emaknya!" Jawab Xana dengan lagak sok gagah.


Sekarang Lea tahu, bagaimana hubungan Xana dengan Kakaknya bahkan dengan pacarnya yang sangat keren. Esra lah yang lebih beruntung karena telah dirawat oleh Xana sebagai ibunya. Xana begitu baik dan perhatian.


-Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2