Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Bab 54 Lulus Sekolah!


__ADS_3

"Esraaa~ Mama pulang!! " Xana mencari keseluruh sudut Rumahnya. Ia tak sabar ingin menemui Putranya yang kini sudah berusia 2 tahun kurang lebih.


"Mamaaa- Pullaangg?? " Esra yang masih berjalan tertatih-tatih itu datang menghampiriku dengan kaki kecil nan mungilnya.


"Iyaaa, Esra kangen gak? " Tanyaku mencium seluruh wajahnya.


"AAAA, Jangan di cium telus! Esla susah liat mama! " Dia menggerutu.


Aduh manisnya! Giginya sudah nambah lagi ya? sekarang ada 5 kemarin baru 2 astagaaa..


"Ezra sudah makan? " Tanya Xana penuh perhatian.


"Suudaaahh" Ezra mengangkat kedua tangannya dengan riang.


Beneran deh, Anak segini tuh lagi imut-imutnya!!


"Yaudah, ayuk kita lihat Oma? " Xana menggendong Putranya lalu bergegas untuk menemui Ibunya.


Yah, Ia sebenarnya memang sudah lama tak berkomunikasi dengan keluarga nya karena sibuk akan ujian kelulusan.


Kak Sean pun seharusnya dirumah, tetapi karena pekerjaan dia belum pulang.


"Mama~ Aku pulaaanngg!! " Xana segera saja mendobrak pintu kamar Ibunya.


"Astaga! Kamu ini! Ketok dulu sayang... " Ibu sedang menyulam baju, yah, Hobinya memang suka berubah-rubah.


"Hehe, kalau di ketok dulu bukan surprise namanya. " Xana tertawa kecil.


"Esla mau sama Ommaa" Ezra meminta turun dan segera berlari ke arah Ibunya.


"Loh? Mah? Kok dia malah nempel sama Mama si? Kan aku Mamanya??! " Xana tak terima putranya justru lari ke pelukan Ibunya.


"Ya dong, kan selama kamu sekolah, mama terus yang sam Ezra, Ya kan? " Mama menyentil hidung Ezra.


"Iyyaaaa.... " Ezra menjawab dengan panjang dan gembira.


Ibu segera meletakkan peralatan sulamnya dan memangku Ezra. Aku pun duduk di kursi tepat dihadapan Ibu. Yah, sudah lama kami tidak begini, bedanya kali ini ada Ezra bersama kami.


"Haaaahhh.... Akhirnya aku lulus juga dari belenggu bermerek sekolah. Aku bisa bebas sekarang! " Xana senang dan menutup mata menyenderkan tubuhnya.


"Lho? Siapa bilang? Kan masuh ada Kuliah yang harus ditempuh ? " Mama membuyarkan suasana senang itu.


"Aduuuhh Mama! Kan bisa nanti-nanti. Toh, aku ga bakal mati kalau ga kuliah! " Xana mencibir.


"Hehehe... Liat tuh Ibumu Zra.... Kayak gitu mau jadi Ibu? Haduuhh... " Ledek Ibunya pada Xana.


"Mamaaaaaa..... " Xana mengeluh manja.


Sudah lama sekali aku tak bermanja seperti ini. Yah, ini juga tak buruk.


Seketika aku pun sudah di kamar dan merebahkan diri. Ezra berada di sampingku dan bermain dengan mainan yang sempat ku beli tadi. Gemasnya!


"Hemmm... Leon lagi apa ya? Duhhh, aku jadi kangen.... " Xana memandang Ponselnya.


Biasanya Leon lah yang meneleponnya duluan, tapi kok ga ada? Aduuuhh membuatku Melting doang.


"Aku telpon duluan aja kali ya? " Xana berpikir keras, ia tertutup gengsi.


"Hemmm, yaudah deh, aku coba telpon, tapi mau ngambek karena ga ditelpon duluan! " Rencana Xana.

__ADS_1


Yah, gadis itu tak mau mengatakan dirinya rindu dan ingin mencari masalah untuk menghempaskan kerinduannya.


TUUUUTTTTTTT.......


Berdering.......


Yah, tandanya sudah masuk kan? lama banget angkatnya.


"Halo? Lagi apa? "


"Ekhem.... Oh gitu.... jadi sekarang udah ga mau telpon aku lagi ya? Sibuk banget kek nya? " Xana mulai melancarkan aksinya.


"Hehe... maaf ya... baru selesai Kelas soalnya. "


"Kelas apaan, libur gini jugak. " Xana manyun, ia tak suka alasan yang membuatnya memaklumi hal itu.


"Iya dehh iyaa... aku salah. maaf yaaa... Sudah makan belum sayang? " Yah, satu kata itu berhasil membuatnya lunak kembali.


Sayang.....


Sudah lama ia merindukannya...


"... Ekhemm..... Yah, udah. " Xana masih mencerna dan tak mau terbawa suasana begitu cepat.


"Masih ngambek? "


"Siapa yang ngambek? " Xana mengalihkan diri menjadi bermain dengan Ezra agar tak salting.


"Cupp Cupppp.... Aku beneran ada kelas tadi, dan juga ada beberapa masalah waktu di jalan. Tapi beneran deh, aku tuh baru mau telpon kamu. " Leon memberi penjelasan.


Yah, benar. Wanita butuh penjelasan yang pasti, meski belum tahu kebenarannya.


Leon tahu sikap kekasihnya memang semenyebalkan itu. Tapi, ia juga tahu bahwa sebenarnya hati Xana itu baik di matanya.


" Oh iya, nanti kan seminggu lagi aku libur. Mau nya pas aku pulang kita kemana? " Leon mengganti Topik.


"Kemana aja deh, asalkan ga ngebosenin. " Xana pun mulai terikut suasana.


Leon tersenyum. Ia pun segera mengakhiri telponnya karena punya janji dengan teman.


"Haaahhh... Dasar orang sibuk! " Xana mengumpat.


"Ciapa? Kakak?" Ezra bertanya.


Aduuuh!! Aku lupa ada Ezra!


Xana menepuk Jidat.


"Bukan siapa-siapa. Ezra nanti mau jalan-jalan keluar ga? " Tanya Xana dengan mengalihkan pembicaraan.


"Mauuuuuu" Jawab Ezra.


Begitulah akhirnya mereka menemukan cara agar tidak suntuk di rumah.


...----------------...


Leon


Haaaa....

__ADS_1


Aku bohong lagi.


Sebenarnya, dia tak ada janji dengan temannya. Ia hanya perlu waktu untuk sendiri.


Ia memikirkan betapa bermasalahnya jika Anjani kembali. Xana pasti akan marah dan sensitif jika ada Anjani di sekitarnya.


"Lagian kenapa dia disini si? Kalau dia ikut pulang juga gimana? aduuuhh.... Anjani.... Anjani.. .. " Leon mengusap wajahnya dan menengadah ke atas. Ia tak habis pikir bahwa masalahnya kini ialah masa lalunya.


Ia pun pulang ketika hari menjelang Sore. Yah, seharian ia habiskan hanya untuk berpikir dan merenung. Sungguh buang-buang waktu!


"Leon! " Anjani tiba-tiba menghadangnya di tengah jalan taman.


Ah, sial banget si.


"Ngapain lo? ngikutin gue? " Leon cuek.


"Iiihhhh, Leon mah! Ngga dong, itu tandanya kita memang jodoh! Toh dari dulu juga begitu, hehe. " Anjani tertawa lepas. Yah, siapapun yang melihatnya pasti akan menganggapnya manis.


"Ga usah ganggu gue. Gue sibuk! " Leon segera pergi.


"Siapa yang ganggu? Sebenarnya nih ya, Aku mau kasih kamu tau sesuatu! " Anjani tersenyum.


".... " Leon tak menjawab dan meneruskan perjalanannya.


"Aduuuhhh dingin banget si! Bentar lagi Ayahku bakal di lantik jadi Wali Kota di Xxx itu lhooo~" Anjani menggodanya dengan mengikuti langkahnya dari belakang.


Leon tertegun, itu kan.... Kota Xana.


Apa maksudnya?


"Hihihi, kamu kaget ya? Yah, aku tau kok kalau Cewekmu orang sana... Aku ga tau si dia dimana dan siapa, tapi yang jelas aku bakal geser dia tuh! HEHEHE... " Anjani tersenyum.


Beneran deh, senyumnya tuh bikin kesal.


"Stop ngikutin gue. " Leon berbicara agar Anjani tak melanjutkan Kata-katanya.


"Leon ih, Kita tuh emang lagi se arah aja.... Nanti juga kalau waktunya aku bakal pisah kok! " Anjani tersenyum.


"Haaahh, Serah lu dah. " Leon menghela nafas.


Ia memanggil Taksi dan meninggalkan Anjani sendiri. Ia sudah muak berada di dekatnya terus.


"Fufufufu~ Leooonn.... Leon..... Kamu tuh punya aku.... Siapapun ga bakal bisa milikin kamu, Sayang. " Anjani tersenyum licik. Yah, sikap dan sosok manisnya benar-benar hanya ditunjukkan pada Leon.


"Halo, Crizz.... Aku butuh bantuanmu.... " Leon segera menelpon seseorang.


"Wowowowo..... Tuan muda kita yang terhormat dan sibuk ini tiba-tiba menelepon dan meminta bantuan? Wahhh, ada apa yaa? " suara pria dengan logat yang santai.


"Aku mengirimkan data dan informasi pada mail mu. Cek semua itu, dan lindungi data yang kukirim setelahnya. " perintah Leon mengabaikan perkataan Crizz.


"Hemmm, hal yang mudah. Tapi tumben-tumbennya seorang Leon ini menyelidiki seseorang." Crizz tertawa kecil. Ia berada di ruang gelap.


"Bukan urusanmu. "


Tuuuuuttt......


Ia segera mematikan teleponnya. Yah, dia memang orang yang kejam kalau sudah menyangkut Xana sekarang.


-BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2